Keraton kesultanan Surakarta Hadiningrat / prov. Jawa Tengah – Surakarta

Keraton kesultanan Surakarta Hadiningrat terletak di kota Surakarta (Solo), prov. Jawa Tengah.
Keraton Surakarta Hadiningrat adalah Istana resmi Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang terletak di Kota Surakarta. Keraton ini didirikan oleh Sri Susuhunan Pakubuwana II pada tahun 1744 sebagai pengganti Keraton Kartasura

Lokasi Surakarta


Foto Keraton Surakarta: di bawah


Kesultanan dan Kadipaten sekarang di Jawa Tengah

* Kesultanan Yogyakarta: link
* Kesultanan Surakarta
* Kadipaten Mangkunegaran: link
* Kadipaten Paku Alaman: link


Kesultanan Mataram, 1586 – 1755

Kesultanan Mataram: link


Keraton bekas kesultanan Mataram

– Keraton Kota Gede: link
Keraton Karta: link
Keraton Plered: link
Keraton Kartasura: link


Keraton sekarang di Surakarta dan Yogyakarta

– Keraton kesultanan Yogyakarta: link
Keraton kesultanan Surakarta
– Keraton kadipaten Mangkunegaran: link
– Keraton kadipaten Paku Alaman: link


KERATON SURAKARTA HADININGRAT

Umum

Keraton Surakarta Hadiningrat atau Keraton Surakarta adalah Istana resmi Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang terletak di Kota Surakarta. Keraton ini didirikan oleh Sri Susuhunan Pakubuwana II pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan pada tahun 1743.

Keraton ini mempunyai pecahan yakni Keraton Yogyakarta Hadiningrat dari kesultanan Yogyakarta. Sehingga dinasti Mataram diteruskan oleh 2 Kerajaan yakni Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Total luas wilayah keseluruhan keraton surakarta mencapai 147 hektar, yakni meliputi seluruh area di dalam benteng Baluwarti, alun-alun Lor, alun-alun Kidul, gapura Gladak, dan kompleks Masjid Agung Surakarta. Sementara luas dari kedhaton (inti keraton) mencapai 15 hektar.

Walaupun Kesunanan Surakarta secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1945, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sunan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesunanan hingga saat ini.

Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Surakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kasunanan, termasuk berbagai pemberian atau hadiah dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.


Sejarah berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat

Kesultanan Mataram Islam resmi berdiri pada tahun 1586.

Ibu kota kesultanan Mataram kemudian berpindah beberapa kali:
* Keraton Kotagede: 1587–1613
* Keraton Karta: 1613–1645
* Keraton Plered: 1646–1680
* Keraton Kartasura: 1680–1745

Secara garis besar isi Perjanjian Giyanti (1755) adalah membagi Mataram menjadi dua bagian, yakni:
* Kesunanan Surakarta di bawah kepemimpinan Pakubuwana III dan
* Kesultanan Yogyakarta di bawah kepemimpinan Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Hamengkubuwana I.

Kesultanan Mataram yang kacau akibat pemberontakan Trunajaya tahun 1677 ibukotanya oleh Susuhunan Amangkurat II dipindahkan di Kartasura. Pada masa Susuhunan Pakubuwana II memegang tampuk pemerintahan, Mataram mendapat serbuan dari pemberontakan orang-orang Tionghoa yang mendapat dukungan dari orang-orang Jawa anti VOC tahun 1742, dan Mataram yang berpusat di Kartasura saat itu (1742) mengalami keruntuhannya.
Kota Kartasura berhasil direbut kembali berkat bantuan Adipati Cakraningrat IV, penguasa Madura Barat yang merupakan sekutu VOC, namun keadaannya sudah rusak parah. Susuhunan Pakubuwana II yang menyingkir ke Ponorogo, kemudian memutuskan untuk membangun istana baru di Desa Sala sebagai ibukota Mataram yang baru.

Bangunan Keraton Kartasura yang sudah hancur dan dianggap “tercemar”. Susuhunan Pakubuwana II lalu memerintahkan Tumenggung Hanggawangsa bersama Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, untuk mencari lokasi ibu kota/keraton yang baru. Untuk itu dibangunlah keraton baru berjarak 20 km ke arah tenggara dari Kartasura, tepatnya di Desa Sala, tidak jauh dari Bengawan Solo.

Untuk pembangunan keraton ini, Susuhunan Pakubuwana II membeli tanah seharga selaksa keping emas yang diberikan kepada akuwu (lurah) Desa Sala yang dikenal sebagai Ki Gede Sala. Saat keraton dibangun, Ki Gede Sala meninggal dan dimakamkan di area keraton.

Setelah istana kerajaan selesai dibangun, nama Desa Sala kemudian diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kesultanan Mataram oleh Susuhunan Pakubuwana II kepada VOC pada tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta.


Arsitektur

Keraton Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya. Salah satu arsitek istana ini adalah KGPH. Mangkubumi (kelak bergelar Sri Sultan Hamengkubuwana I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut (Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum.
Keraton Surakarta sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang ini tidaklah dibangun serentak pada 1744-1745, namun dibangun secara bertahap dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dengan awalnya. Pembangunan dan restorasi secara besar-besaran terakhir dilakukan oleh Sri Susuhunan Pakubuwana X yang bertakhta 1893-1939. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitektur gaya campuran Jawa-Eropa.

Secara umum pembagian keraton meliputi:
Kompleks Alun-Alun Lor/Utara,
Kompleks Pagelaran Sasana Sumewa,
Kompleks Siti Hinggil Lor/Utara,
Kompleks Kamandungan Lor/Utara,
Kompleks Sri Manganti Lor/Utara,
Kompleks Kedhaton,
Kompleks Kamagangan dan Sri Manganti Kidul/Selatan,
Kompleks Kamandungan Kidul/Selatan, serta
Kompleks Siti Hinggil Kidul/Selatan dan Alun-Alun Kidul/Selatan.

Kompleks keraton ini juga dikelilingi dengan baluwarti, sebuah dinding pertahanan dengan tinggi sekitar tiga sampai lima meter dan tebal sekitar satu meter tanpa anjungan. Dinding ini melingkungi sebuah daerah dengan bentuk persegi panjang. Daerah itu berukuran lebar sekitar lima ratus meter dan panjang sekitar tujuh ratus meter. Kompleks keraton yang berada di dalam dinding adalah dari Kamandungan Lor/Utara sampai Kamandungan Kidul/Selatan.


Sumber

Keraton Surakarta lengkap: https://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Surakarta_Hadiningrat
– Keraton Surakarta: https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/keraton-surakarta-pusat-pemerintahan-di-masa-lalu/


Foto keraton Surakarta


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: