Andi Djemma, Datu Luwu dan Pahlawan Nasional

Sumber: https://daerah.sindonews.com/read/1325638/29/kisah-andi-djemma-raja-luwu-yang-mengultimatum-tentara-sekutu-1532696544

———————————————

Nama Andi Djemma saat dikenal warga Luwu dan Sulawesi Selatan karena dia merupakan seorang Pahlawan Nasional dan juga raja (datu) Kerajaan Luwu. Andi Djemma merupakan teladan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sebagai keturunan raja, Andi Djemma rela mengorbankan kemewahan dan berjuang mengusir penjajah di tanah kelahirannya. Bahkan pada 5 Oktober 1945, Andi Djemma sempat mengultimatum pihak Sekutu agar segera melucuti tentaranya dan kembali ke tangsinya di Palopo.

Afbeeldingsresultaat voor andi Jemma luwuAndi Djemma adalah putera dari Andi Kambo, raja (datu) Kerajaan Luwu. Dia lahir pada Selasa, 23 Februari 1901 di Palopo, Sulawesi Selatan. Andi Djemma memulai pendidikan formal di Inlandsche School (sekolah dasar untuk pribumi selama 5 tahun) pada 1910.
Di dalam lingkungan istana, Andi Djemma sering diajak orang tuanya menghadiri rapat-rapat adat sehingga mendapatkan pengetahuan yang cukup tentang masalah pemerintahan dan kemasyarakatan.

Pada tahun 1906 Kerajaan Luwu ditaklukkan Belanda dan Andi Kambo terpaksa menandatangani kontrak politik yang mengharuskan untuk menjalankan pemerintahan sesuai dengan keinginan Belanda.
Lalu saat Datu Luwu Andi Kambo meninggal dunia pada tahun 1935, nama Andi Djemma masuk dalam daftar pengganti raja. Dimana ada tiga calon yang berhak akan pengganti raja, termasuk Andi Djemma.

Sesuai dengan tradisi calon datu harus dipilih oleh Dewan Adat yang disebut Ade Sappulu Dua, sebab anggotanya berjumlah dua belas orang. Pada mulanya terdapat sepuluh calon. Setelah diseleksi, tinggal tiga calon, termasuk Andi Djemma.

Orang-orang Rangkong dari Tana Toraja, pendukung fanatik Andi Djemma, mengancam akan menjadikan Luwu mandi darah, apabila bukan Andi Djemma yang diangkat sebagai Datu Luwu. Akhirnya, Pemerintah Belanda menetapkan Andi Djemma sebagai Datu Luwu.
Selanjutnya berita tentang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 diketahui Andi Djemma dari anaknya, Andi Ahmad, pada 19 Agustus 1945.

Kemudian Andi Djemma segera memerintahkan agar berita itu disebarluaskan di kalangan masyarakat. Lalu Andi Djemma memprakarsai pembentukan organisasi Soekarno Muda (SM). Lalu Pada 2 September 1945, di bawah pimpinan Andi Ahmad, anggota Soekarno Muda melakukan gerakan merebut senjata Jepang di Palopo. Pada kemudian hari, Soekarno Muda berganti nama menjadi Pemuda Nasional Indonesia (PNI) dipimpin oleh Andi Makkalau dan akhirnya menjadi organisasi kelaskaran dengan nama Pemuda Republik Indonesia (PRI).

Bersama dengan mertuanya, Andi Mappanukki (raja Bone), Andi Djemma memprakarsai pertemuan raja-raja Sulawesi Selatan pada pertengahan Oktober 1945. Dalam pertemuan ini, raja-raja tersebut menyatakan tekad berdiri di belakang Pemerintah RI. Pulang dari pertemuan ini, dalam rapat umum yang diadakan di depan Istana Luwu, Andi Djemma menyatakan bahwa daerah Luwu adalah bagian dari Negara Republik Indonesia dan para pegawai di Luwu adalah pegawai Republik Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Luwu menolak kerja sama dengan aparat Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

Andi Djemma bersama Presiden Soekarno. Foto: Wikipedia

Andi Djemma, Pejuang Luwu yang Kobarkan Perang terhadap Belanda

Menjelang akhir September 1945, pasukan Australia yang mewakili sekutu tiba di Sulawesi Selatan. Mereka bertugas melucuti pasukan Jepang dan membebaskan para tawanan perang. Bersama mereka ikut pula pasukan NICA/Belanda.
Satu kontingen pasukan Australia tiba di Palopo bulan November 1945. Antara komandan Sekutu dan Andi Djemma dicapai kesepakatan bahwa pasukan ini hanya bertugas melucuti tentara Jepang. Sedangkan pemerintahan sipil di Luwu tetap dipimpin oleh Andi Djemma.

Lalu terjadi pergantian komandan Pasukan Australia yang bertugas di Sulawesi Selatan. Dimana komandan yang baru, Brigadir Jenderal Chilton, mengumumkan bahwa NICA adalah bagian dari pasukan Sekutu dan rakyat Sulawesi Selatan, termasuk Luwu, wajib mentaati perintah NICA.
Mulai saat itu, situasi di Luwu mulai memanas karena dengan perlindungan pasukan Australia, pasukan NICA (Belanda) mengadakan patroli ke berbagai tempat dan memancing bentrokan dengan pihak pemuda.

Pada 21 Januari 1946 mereka memasuki masjid di Kampung Bua dan merobek-robek Alquran yang terdapat dalam Masjid. Tindakan ini menyulut kemarahan rakyat. Andi Djemma, atas nama Pemerintah Kerajaan Luwu, serta KH M Ramli (Khadi Luwu) atas nama umat Islam mengirimkan ultimatum kepada Komandan pasukan NICA agar dalam waktu 24 jam pasukanya harus segera meninggalkan Palopo dan menghentikan teror terhadap rakyat. Jika ultimatum itu tidak diindahkan, Pemerintah Kerajaan Luwu tidak lagi bertanggung jawab atas ketertiban dan keamanan yang terjadi.

Ternyata ultimatum itu tidak diindahkan oleh pihak Belanda. Karena itu, pada 23 Januari 1946, setelah batas waktu ultimatum itu berakhir, para pemuda melancarkan serangan serentak terhadap kedudukan pasukan Belanda di Kota Palopo.Dalam pertempuran ini, pihak Australia membantu pasukan Belanda dengan melepaskan tembakan-tembakan ke arah Istana. NICA juga mendatangkan pasukan bantuan dari Makassar, sehingga mereka berhasil menguasai Palopo.
Merasa terjepit, para pemuda mengungsikan Andi Djemma. Namun pada 2 Juni 1946, Andi Djemma dan istri serta semua yang berada di pengusian Batu Pute berhasil ditangkap kolonial Belanda.

Kemudian mereka dibawa kolonial Belanda ke Kolaka, dan pada 6 Juni 1946 dipindahkan lagi ke Makassar. Andi Djemma ditempatkan di tangsi polisi di Jongaya. Dari Jongaya dipindahkan lagi ke Bantaeng, kemudian ke Pulau Selayar.

Pada 4 Juli 1948, sidang Adat Tinggi Luwu yang pro NICA memvonis Andi Djemma dengan hukuman 25 tahun pengasingan di Ternate.
Dalam pengasingan di Ternate, Andi Djemma tidak ditempatkan di penjara, tetapi di sebuah rumah sewaan.
Pengasingan itu tidak lama dijalaninya sehubungan dengan adanya pengakuan kedaulatan oleh Belanda terhadap Indonesia pada akhir Desember 1949.
Dia dibebaskan pada 2 Februari 1950, dan pada 23 Februari 1965 saat berusia 64 tahun, Andi Djemma wafat.
Untuk menghormati jasa-jasanya, pemerintah Republik Indonesia pada 8 November 2002 memberikan gelar kepada Andi Djemma sebagai Pahlawan Nasional.

Datu Andi Djemma (kedua dari kanan) bersama keluarganya di Luwu, Sulawesi Selatan.

Kisah Andi Djemma Raja Luwu yang Mengultimatum Tentara Sekutu