Jalan panjang Magau Mpoledo (1855-1880) melawan Belanda

– Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2522222077842496&set=gm.2385953928344201&type=3&theater

———————————————

Magau Mpoledo (1855-1880) sejatinya adalah julukan yang disematkan kepada Raja ke-14 Kerajaan Parigi, yang bernama Radja Lolo. Sebab beliau mendapat julukan tersebut karena dalam kesehariannya beliau menggunakan Bahasa Kaili dielek Ledo, padahal di wilayah Parigi, bahasa Kaili yang digunakan adalah dialek Tara.

Perlawanan Magau Mpoledo berawal dari ketidaksetujannya, terhadap penandatanganan perjanjian dagang antara Kerajaan Parigi dan Hindia Belanda pada tahun 1850-an. Atas perjanjian itu Belanda mempunyai hak yang luas untuk berdagang serta melakukan ekploitasi emas di Kerajaan Parigi.
Raja Parigi yang saat itu dijabat oleh kakaknya I Djali (Sawali@Radja Ali@Magau Bakapalo), seakan tak berdaya berada di bawah bayang- bayang Belanda.

Setelah Raja Ali Mangkat di tahun 1855, didaulatlah Radja Lolo untuk menggantikannya, sikap antipati terhadap Belanda terus bersarang di dalam dadanya, sehingga Belanda secara sepihak memberhentikannya sebagai Raja Parigi, di tahun 1890. Dengan tuduhan tidak becus mengurus Kerajaan karena beliau dicap sebagai seorang Pecandu.
Melepaskan jabatannya Sebagai Raja, Magau Mpoledo hidup dalam pelarian, menghindari kejaran Marsose Belanda yang akan menangkapnya.

Beliau sempat meminta perlindungan terhadap Raja Sigi, akan tetapi Raja Sigi tak kuasa menahan intimidasi pihak Belanda, yang mengancam agar Radja Lolo diserahkan kepada Belanda.
Atas inisiatif Raja Sigi maka dipersilahkan Radja Lolo untuk berlindung Ke Kerajaan Palu, yang saat itu berpusat di Labua(n), karena Rajanya Djala Lemba menetap di Labua (n).
Di Labua(n) Radja Lolo kemudian dinikahkan dengan anak dari Djala Lemba, yang bernama Rone Mpeluru, dan melahirkan Ladjado, Lantigau, Rusapalu, Tanda Mparigi dan Dja Mparigi.
Rupanya, kebencian Magau Mpoledo terhadap Belanda tak pernah pupus, bersama anaknya Lantigau dan Rusa Palu serta Cucunya Hanusu (anak dari Vinono bin Sawali/Radja Ali) juga beberapa keponakannya dari Pelawa, mereka mengobarkan perlawanan di Parigi pada tahun. 1906, pun akhirnya perlawan itu dapat dipadamkan oleh Belanda dan beberapa dari mereka berhasil ditangkap dan diasingkan.

Setelah kejadian itu Magau Mpoledo tak lagi leluasa, selain karena usianya yang telah uzur, juga karena anak , ponakan serta cucunya diasingkan, beliau juga telah menikah kembali di Masigi Parigi dan memiliki keturunan.

Magau Mpoledo menutup usia di Masigi Parigi, dan di makamkan di kompleks pemakaman Raja Parigi di Masigi.