Kui, kerajaan / P. Alor – Prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Kui terletak di pulau Alor. Kab. Alor, Prov. Nusa Tenggara Timur. Kerajaan ini sudah berdiri abad ke-14.
Kerajaan Kui termasuk aliansi Galiau.

The Kingdom of Kui is located on the island of Alor. District of  Alor, province of Nusa Tenggara Timor.
For english, click here

Lokasi pulau Alor

————————-
Lokasi Pulau Alor


* Foto kerajaan Kui: link

* Foto raja raja sekarang dan dulu di pulau Alor: link
*
Foto suku suku di pulau Alor: link


Tentang Raja kerajaan Kui

2019. Raja ke-9 kerajaan Kui: Banla Yuan Permata Kinanggi.


Sejarah kerajaan Kui

– Sejarah lengkap kerajaan Kui: klik di sini

Kerajaan Kui adalah kerajaan di pulau Alor.
Dinasti ini adalah dinasti Alor khas di saat ini, karena beberapa anggota adalah anggota pemerintah lokal, atau pemerintah provinsi. PenjagaRaja adalah pejabat pemerintah. Raja hari ini sangat tinggi di pemerintah provinsi. Seorang saudara dia adalah pejabat tinggi pemerintah lokal setempat.
Kediaman Raja tidak jauh dari ibukota Alor Kalabahi: Lerabaing. Orang-orang Kui juga banyak melekat pada dinasti Raja.
Kerajaan Kui termasuk aliansi Galiau yang terdiri dari 5 kerajaan, yaitu:
* Kui dan Bunga Bali dari P. Alor serta
* Blagar, Pandai dan Baranua (Barnusa) dari P. Pantar.

Lokasi “The landschappen” di pulau Alor tahun 1918. Sumber: Stokhof 1984. Landschap adalah distrik saat pemerintahan colonial belanda. Distrik ini sering ikut perbatasan kerajaan sebelumnya


Daftar raja kerajaan Kui

(Sumber: De Indische Gids 1925, vol. 47, 534; van Galen 1946; Donald Tick 2020; Banla Yuan Permata Kinanggi 2020)
# Name Notes
1 Maleikili or Malikili The founder of the ruling dynasty of Kui who is thought to have sailed from Ende to Lerabaing
2 Maleilok
3 Gaw Amalei Possibly aka Tar Soma?
4 Atamalei Converted to Islam by Kimales Gogo in the late 1500s or early 1600s. One oral narrative claims that he ruled from 1619 to 1638 and founded the Al-Taqwa mosque in 1633. There is no evidence for these dates.
5 Maleilok
6 Banla
7 Pa Soma
8 Maleikili
9 Kinanggi
10 Maleilok
11 Pa Soma
12 Gaw Amale
13 Banla
14 Atamalei
15 Gaw Amalei
16 Maleilok
17 Banla
18 Kinanggi
19 Banla
20 Pasoma
21 Atamalei
22 Maleikili
23 Atamalei
24 Pasoma
25 Kinanggi
26 Atsom
27 Pasoma
28 Kinanggi
29 Banla
30 Gaw Amalei
31 Banla Ruled from 1851 to 1855. Also known as Raja Gesi or Gessie, he opposed the transfer of Alor from Portuguese to Dutch control and was deposed in 1855
32 Pui Soma or Pasoma The first Raja of Kui. The son of Banla who ruled from 1855 to 1891. His elder brother was Atamalei, whose son Kinanggi was the father of three subsequent Rajas: Taru Soma I, Go Amalei and Katang Koli. Referred to as Pui Soma Ata Meley of Kui by Gomang (1993, 78)
33 Taru Soma I The second Raja of Kui who ruled from 1892 to 1897. The grandson of Atamalei, Pasoma’s elder brother. Sometimes written Tara Soma
34 Gaw Amalei The third Raja of Kui who ruled from 1897 to 1914. He was one of the younger brothers of Taru Soma I
35 Taru Soma II The fourth Raja of Kui who ruled from 1914 to 1917. He was the second son of Taru Soma I
36 Daeng or Dain Soma The fifth Raja of Kui. The third son of Taru Soma I who ruled from 1917 until he committed suicide in 1920. Stokhof (1984) refers to him as TaEng Soma and states his term of reign as from 1918 to 1922.
37 Katang Koli The sixth Raja of Kui. The youngest brother of Taru Soma I and Go Amalei. Ruled from 1921 to 1939, when he was removed. He was too young to be Raja during the reign of Taru Soma II. He died in 1942
Banla Kinanggi Appointed caretaker Raja Muda from 1939 to 1946, serving under the Japanese from 19442 to 1945
38 Banla Kinanggi Appointed the seventh Raja of Kui from 1946 until his death on 20 December 1959. He was poisoned because he was too closely linked to the Dutch. He was the last official Raja of Kui
39 Mochammad Kinanggi The eighth Raja of Kui who ruled from 1959 to 2018. The first son of Banla Kinanngi, he was only 10-years-old when his father died. He was already the head of parliament for the Province of NTT in Kupang in 2003. He died in Kupang in 2018
40 Banla Yuan Permata Kinanggi The ninth Raja of Kui and the eldest son of Mochammad Kinanggi, born in 1985. He became the Raja of Kui in 2018 following the death of Raja Mochammad

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, mengunjungi pulau Alor dan berkunjung ke Moru, ibu kota bekas Kerajaan Kui, untuk meresmikan Istana Kerajaan Kui, yaitu Kompleks Istana II.
Di sini dia berfoto di depan istana dengan mengenakan kostum upacara Kui dan diapit oleh Raja Muda Nasruddin Kinanggi dan istrinya Asih Prastiwi. 2020


Aliansi Galiau

Kerajaan Kui termasuk aliansi Galiau yang terdiri dari 5 kerajaan, yaitu:
* Kui dan Bunga Bali dari P. Alor serta
* Blagar, Pandai dan Baranua (Barnusa) dari P. Pantar.

Aliansi 5 kerajaan di pesisir pantai ini diyakini memiliki hubungan dekat antara satu dengan lainnya, bahkan raja-raja mereka mengaku memiliki leluhur yang sama.
Untuk lengkap, klik di sini


Kerajaan kerajaan di pulau Alor

* Kerajaan Abui,
* Kerajaan Alor,
* Kerajaan Batulolong,
* Kerajaan Bungabali,
* Kerajaan Kolana,
* Kerajaan Kui,
* Kerajaan Mataru,
* Kerajaan Pureman.


Sejarah kerajaan-kerajaan di pulau Alor

Menurut ceritra yang beredar di masyarakat Alor, kerajaan tertua di Kabupaten Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaan Munaseli di ujung timur pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerajaan ini terlibat dalam sebuah Perang Magic. Mereka menggunakan kekuatan-kekuatan gaib untuk saling menghancurkan. Munaseli mengirim lebah ke Abui sebaliknya Abui mengirim angin topan dan api ke Munaseli. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Munaseli.

Konon, tengkorak raja Abui yang memimpin perang tersebut saat ini masih tersimpan dalam sebuah goa di Mataru. Kerajaan berikutnya yang didirikan adalah kerajaan Pandai yang terletak dekat kerajaan Munaseli dan Kerajaan Bunga Bali yang berpusat di Alor Besar. Munaseli dan Pandai yang bertetangga, pada akhirnya juga terlibat dalam sebuah perang yang menyebabkan Munaseli meminta bantuan kepada raja kerajaan Majapahit, mengingat sebelumnya telah kalah perang melawan Abui.

Sekitar awal tahun 1300-an, detasmen tentara bantuan kerajaan Majapahit tiba di Munaseli, tetapi yang mereka temukan hanyalah puing-puing kerajaan Munaseli, sedangkan penduduknya telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alo. Para tentara Majapahit ini akhirnya banyak yang memutuskan untuk menetap di Munaseli, sehingga tidak heran jika saat ini banyak orang Munaseli yang bertampang Jawa. Peristiwa pengiriman tentara Majapahit ke Munaseli inilah yang melatarbelakangi disebutnya Galiau (Pantar) dalam buku Negarakartagama karya Empu Prapanca yang ditulisnya pada masa jaya kejayaan Majapahit (1367). Buku yang sama juga menyebut Galiau Watang Lema atau daerah-daerah pesisir pantai kepulauan.
Galiau yang terdiri dari 5 kerajaan, yaitu Kui dan Bunga Bali di Alor serta Blagar, Pandai dan Baranua di Pantar. Aliansi 5 kerajaan di pesisir pantai ini diyakini memiliki hubungan dekat antara satu dengan lainnya. Bahkan raja-raja mereka mengaku memiliki leluhur yang sama.
Pendiri ke 5 kerajaan daerah pantai tersebut adalah 5 Putra Mau Wolang dari Majapahit dan mereka dibesarkan di Pandai. Yang tertua diantara mereka memerintah daerah tersebut. Pada masa ini ada sebuah perjanjian yang disepakati,dimana perjanjian itu dinamakan perjanjian Lisabon pada tahun 1851.

Berdasarkan catatan Antonio Pigafetta, seorang ilmuwan dan penjelajah asal Venesia, pada 9 sampai 25 Januari 1522, pulau Alor-Pantar dikunjungi oleh kapal Victoria, yakni sisa terakhir dari armada Magellan. Antonio menulis bahwa ketika sampai ke Alor-Pantar, ia menemukan penduduk pulau ini buas seperti hewan dan makan daging manusia. Mereka tidak mempunyai raja dan tidak berpakaian. Mereka hanya memakai kulit kayu, kecuali kalau pergi ke medan perang.

Raja Kaharuddin Kinanggi of Kui.

Berdasarkan sejarah, pada masa kekuasaan Portugis, Portugis di Alor hanya terbatas pada pengibaran bendera pada beberapa daerah pesisir, seperti di Kui, Mataru, Batulolong, Kolana, dan Blagar. Begitu pula pada masa awal pendudukan Belanda, hanya terbatas pada pengakuan atas penguasa-penguasa yang berada di pesisir dan pada penempatan seorang Posthouder di Alor Kecil, tepatnya di pintu teluk Kabola pada tahun 1861.

Dengan Perjanjian Lisabon pada tahun 1851, kepulauan Alor diserahkan kepada Belanda dan pulau Atauru diserahkan kepada Portugis. Orang-orang Portugis sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar menduduki Alor, walaupun masih ada sisa-sisa dari zaman Portugis seperti sebuah jangkar besar di Alor Kecil.

Pada tahun 1911, Pemerintah colonial Belanda memindahkan pelabuhan laut utama dan pusat Pemerintahan Alor dari Alor Kecil ke Kalabahi. Kalabahi dipilih karena datarannya lebih luas dan lautnya lebih teduh. Kota Kalabahi artinya pohon kusambi, yang mana dulunya memang menghutani dataran ini. Dengan pemindahan pusat kekuasaan ke Kalabahi, Pemerintah colonial Belanda menempatkan Mr. Bouman sebagai Kontroler pertama di Alor. Sebelumnya tanda kehadiran colonial belanda di Alor, hanya terdiri dari seorang penjaga pos dan seorang serdadu berpangkat letnan.

Pada masa kontroler Bouman, beberapa pegawai pemerintah Belanda didatangkan. Upaya-upaya mengkristenkan para penganut animismepun mulai dilakukan. Baptisan pertama dilakukan pada tahun 1908 di pantai Dulolong. Pada masa ini Alor terdiri dari 5 kerajaan, yaitu Kui, Batulolong, Kolana, Baranusa dan Alor. Kerajaan Alor wilayahnya meliputi seluruh jasirah Kabola (bagian utara pulau Alor).

Pada tahun 1912 terjadi pengalihan kekuasaan raja dari dinasti Tulimau di Alor Besar kepada dinasti Nampira di Dulolong. Pemerintah colonial Belanda lebih cenderung memilih Nampira Bukang menjadi raja Alor sebab beliau berpendidikan dan fasih berbahasa belanda. Sebagai kompensasi, putra mahkota Tulimau ditunjuk sebagai kapitan Lembur. Pengalihan kekuasaan ini menyebabkan terjadinya beberapa pemberontakan namun dapat diredam dengan bantuan Belanda, sehingga sehingga secara tidak langsung pengalihan kekuasaan ini telah menjadi bibit salah satu lembaran hitam sejarah Alor dengan terbunuhnya Bala Nampira.

Di masa pendudukan Belanda di tahun 1910 -1916, Belanda banyak mendapat tantangan dari rakyat Alor-Pantar. Kerajaan-kerajaan yang terkenal sering melakukan perlawanan adalah Kerajaan Bunga Bali, Kerajaan Kui, Kerajaan Kolana, Kerajaan Pureman, Kerajaan Mataru, Kerajaan Batulolong, Kerajaan Baranusa, Kerajaan Pandai, dan Kerajaan Blagar. Namun, Belanda dengan devide et impera (Politik pecah belah atau politik adu domba) dan Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) akhirnya berhasil menaklukkan para raja tersebut. Dari 9 kerajaan yang sering melakukan perlawanan, Belanda akhirnya melakukan perampingan hingga tertinggal 4 kerajaan, yakni Kerajaan Kui, Kerajaan Alor Pantar, Kerajaan Kolana, dan Kerajaan Batulolong. Dengan demikian, Belanda semakin mudah melakukan pengawasan.

Kepaulauan Sunda Kecil 1602

———————————

Kepaulauan Sunda Kecil 1748 (Alor = I. Omba)


Sumber kerajaan-kerajaan di P. Alor (incl. Kui)

– Sejarah kerajaan2 P. Alor: http://inihari.co/blog/2019/03/03/sekilas-tentang-sejarah-alor/
– Sejarah kerajaan2 P. Alor: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Alor#Sejarah
– Sejarah kerajaan2 P. Alor: http://alorkab.go.id/new/index.php/profil/sejarah1

– Suku Alor: http://suku-dunia.blogspot.nl/2014/08/sejarah-suku-alor-di-nusa-tenggara.html

– Aliansi Galiau: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/pantar-island/galiau-5-lima-kerajaan-pantar-dan-alor-p-pantar-dan-p-alor-nusa-tenggara-timur/


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: