Mangkunegaran, kadipaten / Prov. Jawa Tengah – Surakarta

ꦩꦁꦏꦸꦤ​ꦒꦫ


Kadipaten Mangkunegaran (atau Praja Mangkunegaran)
dibentuk tahun 1757, dan berdiri sampai sekarang. Terletak di prov. Jawa Tengah, kota Surakarta.
Penguasa bergelar “Pangeraan Adipati Arya”.

The principality of Mangkunegaran (or Praja Mangkunegaran) was founded in 1757 and exists untill ttoday.  Located in central Jawa, in the city of Surakarta.
For english, click here

Lokasi Surakarta (Mangkunegaran)


Kadipaten Mangkunegaran

* Foto Kadipaten Mangkunegaran: link
* Foto Keraton (Istana) Mangkunegara: link
* Foto Pemakaman Mangkunegara IX, 15 agustus 2021: link


Garis kerajaan-kerajaan di Jawa: link


Foto sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

* Foto sultan dan raja, yang masih ada di Jawa: link
* Foto keraton di Jawa, yang masih ada: link
* Foto Batavia (Jakarta) masa dulu: link
* Foto Jawa masa dulu: link
* Penyerbuan Batavia oleh Sultan Agung, 1628/1628: link
* Foto perang Diponegoro, 1825: link
* Foto situs kuno di Jawa: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

– Video Penguasa Monarki kesultanan Jawa Mataram, 1556 – 2020: link
– Video sejarah kesultanan Mataram, 1576-2020: link
– Video sejarah kerajaan Medang Mataram Hindu: link
– Video sejarah kerajaan Majapahit, 1293 sampai 1527: link
– Video raja-raja Majapahit hingga ke Mataram, 1293 – 1587: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Timur, 1.5jt SM sampai 2020: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Barat, 3000 SM sampai 2020: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Tengah, 1.5jt SM sampai 2020: link


KADIPATEN MANGKUNEGARAN

1 Tentang Adipati (raja) sekarang
2 Sejarah Kadipaten Mangkunegaran
3 Daftar Adipati
4 Keraton
5 Tempat pemakaman Astana Mangadeg
6 Tempat pemakaman Astana Girilayu

7 Sumber / Source


1) Tentang Adipati sekarang (2021)

12 maret 2022: Gusti Pangeran Haryo Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo dilantik menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X

Gusti Pangeran Haryo (GPH) Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo resmi dilantik menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X, di Pura Mangkunegaran, Surakarta.
Pada pengukuhannya, istri KGPAA Mangkunegara IX tersebut meminta agar putra bungsunya itu selalu memberikan ketenteraman bagi PuraMangkunegaran.
Selanjutnya, piagam tersebut diserahkan pada Mangkunegara X. Dilanjut dengan ucap janji dari Mangkunegara X yang menyatakan berjanji selalu melestarikan budaya yang selama ini berjalan di Pura Mangkunegaran, juga akan menegakkan Pancasila dan UUD 1945.
Setelah dikukuhkan, Mangkunegara X duduk di paringgitan (tahta) dan menyaksikan Bedhoyo Anglir Mendung.
Jumenengan Mangkunegara X juga dihadiri Presiden Joko Widodo, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Sri Sultan HB X beserta permaisuri, PB XIII beserta permaisuri, Paku Alam X, Walikota Surakarta diwakili Wakil Walikota Teguh Prakosa, dan sejumlah tamu terbatas.

————————–

13 agustus 2021: Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IX meninggal dunia.

Raja Mangkunegaran Solo, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IX (atau yang dikenal dengan Mangkunegara IX), meninggal dunia karena sakit jantung pada Jumat (13/8/2021) pukul 02.30 WIB.
Berdasarkan informasi yang diperoleh CNNIndonesia.com jenazah Mangkunegaran IX akan dimakamkan pada hari Minggu (15/8). Namun, pemakaman juga bisa dilangsungkan Sabtu (14/8).
KGPAA lahir di Surakarta (Solo), Jawa Tengah, 18 Agustus 1951. Dia naik takhta sebagai penguasa Pura Mangkunegaran sejak 1988, setahun setelah Mangkunegara VIII wafat.
* Foto Pemakaman Mangkunegara IX, 15 agustus 2021: link

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkoenagoro IX (1988 ...

Adipati (bahasa Sanskerta अधिपति, adhipati: “tuan, kepala, atasan; pangeran, tuan tertinggi, raja”) adalah sebuah gelar kebangsawanan untuk orang yang menjabat sebagai kepala wilayah yang tunduk/bawahan dalam struktur pemerintahan kerajaan di Nusantara, seperti di Jawa dan Kalimantan. Wilayah yang dikepalai oleh seorang Adipati dinamakan Kadipaten.
– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Adipati


2) Sejarah Kadipaten Mangkunegaran, dibentuk 1757

Antara 1757-1946, Mangkunegaran merupakan kerajaan otonom yang berhak memiliki tentara sendiri dan independen dari Kasunanan Surakarta. Sedangkan mulai 1950, statusnya hanya sebuah keraton dengan raja, tanpa kekuasaan politik.

Garis sejarah

* 1755: Perjanjian Giyanti. Kesultanan Mataram dibagi menjadi dua yaitu kesultanan Ngayogyakarta dan kesultanan Kasuhunan Surakarta.
* 1757: Perjanjian Salatiga: kesultanan Mataram dibagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu kesultanan Yogyakarta, Kasuhunan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran.
* 1813: Kesultanan Yogyakarta dipecah lagi menjadi dua yaitu kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman.
* Jadi, sejak 1813 ada 2 Kesultanan dan 2 Kadipaten di Jawa Tengah dan masih ada sampai sekarang:
– Kesultanan Yogyakarta,
– Kesultanan Surakarta,
– Kadipaten Mangkunegaran,
– Kadipaten Paku Alaman.

Sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2021/11/29/090000579/mangkunegaran-sejarah-pendiri-raja-raja-dan-pemerintahan?page=all

Sejarah berdirinya Mangkunegaran

Perebutan takhta pewaris Mataram.
Sejarah berdirinya Mangkunegaran berawal dari konflik perebutan takhta di antara para pewaris Mataram. Sejak penguasa Mataram mulai bekerjasama dengan VOC, pemberontakan dari keluarga kerajaan ataupun pihak luar semakin sering terjadi.

Salah satu yang terkenal adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Mas Said (keponakan Pakubuwono II) dan Mangkubumi. Raden Mas Said adalah putra Pangeran Mangkunegara sekaligus cucu Amangkurat IV. Menurut sumber-sumber dari Mangkunegaran, Pangeran Mangkunegara adalah putra tertua Amangkurat IV yang sebenarnya berhak menggantikan posisi ayahnya sebagai raja.
Namun, dalam kenyataannya justru Pakubuwono II yang naik takhta. Sedangkan Pangeran Mangkunegara diasingkan ke Sri Lanka karena tidak disenangi Belanda.
VOC beberapa kali mengajukan perundingan kepada Raden Mas Said dan Mangkubumi, tetapi ditolak. Bahkan ketika Mangkubumi bersedia mengadakan perundingan, Raden Mas Said tetap tidak mau berkompromi dengan Belanda karena yakin akan kekuatan pasukannya.

Perjanjian Giyanti 1755

Pemberontakan Mangkubumi resmi diakhiri ketika Perjanjian Giyanti ditandatangani pada 13 Februari 1755, yang isinya membagi kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Nagari Kasultanan Ngayogyakarta dan Nagari Kasunanan Surakarta. Kasultanan Ngayogyakarta diberikan kepada Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I, sementara Kasunanan Surakarta menjadi hak Pakubuwono III.

Perjanjian Salatiga, 1757

Raden Mas Said, yang tidak terlibat dalam Perjanjian Giyanti dan merasa belum mendapatkan haknya, semakin gencar melakukan perlawanan terhadap Hamengkubuwono I, Pakubuwono III, dan VOC. Di saat yang sama, VOC terus menawarkan solusi dengan jalan perundingan, yang akhirnya diterima oleh Raden Mas Said.
Pihak-pihak terkait kemudian berkumpul di Salatiga, Jawa Tengah, pada 17 Maret 1757 untuk menyepakati perjanjian. Dalam perjanjian itu, Raden Mas Said diakui sebagai pangeran merdeka dengan wilayah otonom berstatus kadipaten yang disebut Praja Mangkunegaran. Perjanjian Salatiga menandai berdirinya Mangkunegaran. Mangkunegaran merupakan kadipaten yang posisinya dibawah kasunanan dan kasultanan, sehingga penguasanya tidak berhak menyandang gelar Sunan ataupun Sultan.
Gelar para Mangkunegara yang memegang pemerintahan di Mangkunegaran adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA). Raden Mas Said kemudian dinobatkan sebagai pendiri sekaligus penguasa pertama Mangkunegaran yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I.

Kehidupan pemerintahan

Penataan pemerintahan telah dilakukan sejak Mangkunegara I berkuasa, dan diteruskan terutama oleh Mangkunegara IV (1853-1881), VI (1896-1916), dan VII (1916-1944). Pada awalnya, proses penataan birokrasi pemerintahan masih dicampuri kepentingan Belanda dan Kasunanan Surakarta.
Selain kekuasaannya terbatas, Mangkunegara I masih terkait dengan Belanda dan Sunan dalam mengambil keputusan. Pada masa Mangkunegara IV, birokrasi pemerintahan dikembangkan menjadi lebih luas dan fungsional. Mangkunegaran pun mampu membentuk identitasnya sebagai kerajaan Jawa modern.

Meski mulai 1950 statusnya hanya sebuah keraton dengan raja tanpa kekuasaan politik, Mangkunegara dan Pura Mangkunegaran masih tetap menjalankan fungsinya sebagai penjaga budaya hingga saat ini.

 – Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Praja_Mangkunegaran

——————————
Jawa tahun 1757 setelah Perjanjian Giyanti: Surakarta, Yogyakarta dan Mangkunegaran

1 jawa setelah perjanjian gianti 1757

——————————
Jawa tahun 1830: Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran dan Paku Alaman

jawa 1830


3) Daftar Adipati

* 1757-1795: Mangkunegara I, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (nama lahir Raden Mas Said),

* 1975-1835: Mangkunegara II, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II

* 1835-1853: Mangkunegara III, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara III.

* 1853-1881: Mangkunegara IV, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV

* 1881-1896: Mangkunegara V; Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara V

* 1896-1916: Mangkunegara VI, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI

* 1916-1944: Mangkunegara VII; Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya

* 1944-1987: Mangkunegara VIII, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VIII

* 1987-2021: Mangkunegara IX, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX


Click to enlarge

Click to enlarge

– Sumber / Source: Wiki


4) Keraton: Pura (Puro) Mangkunegaran

Keraton Mangkunegaran adalah istana tempat kediaman Sri Paduka Mangkunagara di Surakarta dan dibangun setelah tahun 1757 dengan mengikuti model keraton yang lebih kecil.
* Foto foto Keraton Mangkunegara: link

– Sumber Wiki: link

– About the palace: link
About the palace: link



5) Tempat pemakaman Astana Mangadeg

Astana Mangadeg (mangadeg: berdiri) adalah kompleks pemakaman untuk penguasa awal (“Mangkunagara”) dan kerabat dekat (dalem) Praja Mangkunegaran. Di kompleks ini dimakamkan Mangkunagara I (MN I), MN II, dan MN III; masing-masing dengan mausoleum tersendiri. Selain itu di dalam kompleks ini juga dimakamkan sejumlah kerabat dekat dan para pembantu perjuangan dalam peperangan melawan Kesultanan Mataram dan VOC hingga berakhir dengan disepakatinya Perjanjian Salatiga (1758).
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Astana_Mangadeg

Astana Mangandeg

Astana Mangandeg


6) Pemakaman Astana Girilayu

Astana Girilayu (giri: gunung/bukit, layu=mati) adalah kompleks pemakaman untuk penguasa (“Mangkunagara”) dan kerabat dekat (dhalem) Praja Mangkunegaran. Di kompleks ini dimakamkan Mangkunagara IV, Mangkunagara V, Mangkunagara VII, dan Mangkunagara VIII (penguasa terakhir yang mangkat); masing-masing dengan mausoleum tersendiri.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Astana_Girilayu

Astana Girilayu

Astana Girilayu


7) Sumber / Source

– Sejarah Kadipaten Mangkunegara di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Praja_Mangkunegaran
– Sejarah Kadipaten Mangkunegara: http://www.bimbie.com/sejarah-kerajaan-mangkunegaran.htm
– Tentang Keraton Mangkunegara di Wiki: link
– Tentang Keraton Mangkunegara: https://anisavitri.wordpress.com/2011/06/24/keraton-mangkunegaran-surakarta-kebanggaan-wong-solo-kebanggaan-orang-indonesia-joglo-terbesar/
Tentang Pangeran Mangkunegara IX di Wiki: link
Daftar Pangeran Mangkunegara: Wiki

Perjanjian Giyanti, 1755: link


Pangeran Mangkunegara IX

Sultan Mangkunegara IX———————–

Naskah Perjanjian Giyanti 1755

Naskah Perjanjian Giyanti 1755


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: