Dompu, kesultanan / P. Sumbawa – Prov. Nusa Tenggara Barat

Kesultanan Dompu terletak di P. Sumbawa, Kab. Dompu, Prov. Nusa Tenggara Barat.
Kerajaan Dompu yang kini menjadi Kabupaten Dompu merupakan sebuah kerajaan kuno di Indonesia. Mayoritas penduduk kini beragama Islam, dengan tradisi dan budaya yang juga mayoritas Islam.
Bangsawan Dompu atau keturuan raja-raja hingga kini masih ada. mereka dipanggil “Ruma” atau “Dae”. Istana Dompu, sebagai lambang kebesaran telah lama lenyap. Konon bangunan istana itu sudah diubah menjadi masjid raya Dompu saat ini. Namun rumah kediaman raja masih ada hingga sekarang dan terletak di Kelurahan Bada.

The sultanate of Dompu is located on the island of Sumbawa, in the district of Dompu.
For english, click here

Lokasi pulau Sumbawa

———————-
Lokasi kab. Dompu di P. Sumbawa


————————-
Peta lokasi kerajaan-kerajaan di pulau Sumbawa


* Foto kesultanan Dompu: link
* Foto istana kesultanan Dompu: link

* Foto raja-raja dulu di P. Sumbawa: link
* Foto raja-raja yang masih ada di P. Sumbawa: link

* Foto foto situs kuno di P. Sumbawa: link
* Foto foto istana di P. Sumbawa: link


Tentang Sultan / About the Sultan
Sejarah / History
Daftar Raja / List of Kings
Istana, sejarah istana kerajaan Dompu
Istana, bekas istana kerajaan Dompu
Istana, revitalisasi istana kerajaan Dompu
Sejarah singkat pulau Sumbawa
Peta kuno pulau Sumbawa

Sumber / Source


Tentang sultan / About the sultan

8 maret 2020
Sultan Dompu, YM Ayahanda Kahrul Zaman meninggal 8 Maret 2020 di Mataram NTB.
Putera beliau, Ama Ka’u Diwantara Aruzziqi, akan dilantik habis waktu berkabung.

Sultan baru, Ama Ka’u Diwantara Aruzziqi, setelah Sultan Dompu, Kahrul Zaman, wafat 8 maret 2020

—————-

Sultan Dompu, YM Kahrul Zaman, wafat 8 maret 2020


Sejarah kesultanan Dompu

Dalam sejarah Dompu disebutkan, kelahiran Dompu sebagai cikal bakal kerajaan telah dimulai sejak abad ke-7 yaitu pada zaman Sriwijaya. Sebab, dalam cerita rakyat yang berkembang di Dompu disebut-sebut bahwa Sang Kula (cikal bakal Raja Dompu) yang juga dikenal dengan sebutan Ncuhi Patikula mempunyai seorang putri yang ia kawinkan dengan putra Raja dari Tulang Bawang dan atas kesepakatan para Ncuhi ia dinobatkan sebagai raja Dompu yang berkedudukan di Negeri Tonda — sekitar 10 km arah selatan Dompu. Sampai kini, jejak budaya Majapahit masih tersebar di kawasan ini.
Gunung Tambora yang meletus pada 10 – 11 April 1815, dalam catatan sejarah Dompu, mengakibatkan tiga kerajaan kecil (Pekat, Tambora, dan Sanggar) yang terletak di sekitar Tambora tersebut musnah. Ketiga wilayah kerajaan kecil itu pun kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Dompu.
Tahun 1958 Kesultanan Dompu yang saat itu dipimpin oleh Sultan Dompu terakhir yakni Sultan Muhammad Tajul Arifin (Ruma To,i), sistim pemerintahan di Dompu dirubah menjadi suatu daerah swapraja Dompu dan Kepala daerah Swatantra tingkat II Dompu tahun 1958-1960.
Sumber: link
– Kekuasaan Belanda di Dompu, berdasarkan Kontrak 1886 (Oleh : Fahrurizki): klik di sini

Foto Sultan Dompu Terakhir Muhammad Tadjul Arifin (duduk), ia adalah cucu dari Sultan Sirajuddin (foto tertanggal 09-08-1953).


Daftar Raja

Skema silsilah raja dan sultan Dompu: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumbawa/sultan-of-dompo/skema-silsilah-raja-dan-sultan-dompu/

Kerajaan Dompu sebelum menjadi kesultanan

Dari sumber tutur lisan tersebut silsilah raja Dompu, sebelum menjadi kesultanan, adalah sebagai berikut:

1. Dewa Bat. Dompu Indera Kumala
2. Dewa Ind. Dompu
3. Dewa Mbora Dompu
4. Dewa Mbora Balada
5. Dewa yang punya kuda
6. Dewa yang mati di Bima (diasingkan karena zalim)
7. Dewa Mawaa La Patu (Raja Bima bergelar Mawaa Laba)
8. Dewa Mawaa Taho Dadela Nata Joharmani

Kerajaan Dompu setelah berubah menjadi kesultanan

Berikut ini adalah  silsilah Sangaji (Sultan) setelah kerajaan Dompu berubah menjadi kesultanan, karena masuknya pegaruh agama Islam, sehingga sebutan raja pun berubah menjadi Sultan. Namun dalam keseharian raja ataupun sultan tetap disebut sebagai Sangaji.
– Sumber: https://kambalidompumantoi.wordpress.com/2015/05/15/silsilah-sultan-dompu-kambali-dompu-mantoi/

1545-1590: Syamsuddin
1590-1627: Jamaluddin
1627-1667: Siradjuddin, (Jeneli Dea, Tureli Bolo)
1667-1697: Abdul Hamid Ahmad
1697-1718: Abdul Rasul, Bumi So Rowo

1718-1727: Usman Daeng Manabang
1727-1732: Abdul Yusuf Usman
1732: Kamaludin Ali Akbar
1732-1749: Abdul Kahar Daeng Mamu
1749-1765: Ahmad Alaudin Johansyah

1765-1774: Abdul Kadir (Jeneli Hu’u)
1774-1787 dan 1793-1798:  Abdurrahman
1787-1793: Abdul Wahab, (Tureli Dompu)
1798: Yacub Daeng Pabela
1798-1799 dan 1799-1805:  Abdullah I

1805-1809: Muhammad Tadjul Arifin I
1809-1857: Abdul Rasul II(Dae Hau) Mawaa Bata Bou
1857-1870: Muhammad Salahuddin
1870-1882: Abdullah II
1882-1934: Muhammad Siradjuddin
Turun Tahta: 11– 9-1934
Wafat: 14 – 2- 1937

1947-1955: Muhammad Tadjul Arifin II

Putra dari Sultan Muhammad Sirajuddin tidak ada yang diangkat menjadi sultan pengganti Muhammad Sirajuddin, karena pemerintahan  diambil alih oleh Belanda dan Sultan Muhammad Sirajuddin termasuk raja Muda (Ruma To’i) Abdul Wahab diungsikan ke Kupang
Pada saat pemulihan kembali kesultanan, yang diangkat menjadi sultan adalah cucu dari Muhammad Sirajuddin, Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin, anak dari raja Muda Abdul Wahab (Ruma To’i).
– Sumber: http://dompunyasejarah.blogspot.co.id/2016/02/leluhur-sangaji-dompu-dan-silsilah.html
Skema silsilah raja dan sultan Dompu: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumbawa/sultan-of-dompo/skema-silsilah-raja-dan-sultan-dompu/
Kiri: sultan Dompu tahun ca 1925 bersama petugas

Istana, sejarah istana kerajaan Dompu

Istana pertama. Istana Dompu pertama kali dibangun berlokasi di Negeri Tonda (dusun Tonda, desa Mumbu, kecamatan Woja sekarang).
Istana ini sudah dibongkar ketika ibu kota kerajaan Dompu dipindah ke Negeri Bata.

Istana kedua dibangun di Negeri Bata (lingkungan Doro Bata, Kandai Satu, kecamatan Dompu). Istana ini sudah rusak akibat letusan Gunung Tambora tahun 1815, lalu dipindahkan ke Negeri Rato.

Istana ketiga (Asi Bou) dibangun tahun 1815 di Negeri Rato (lingkungan Rato, kelurahan Karijawa, kecamatan Dompu sekarang). Pada tahun 1942 Jepang menghapus kerajaan Dompu dan menggabungkannya dengan kerajaan Bima.
Kerajaan Dompu menolak digabung ke Bima, istana ini dihancurkan oleh tentara Jepang pada tahun 1942.

Kerajaan Dompu kembali memisahkan diri dari Bima setelah 5 tahun bergabung. Diangkat kembali raja Dompu dan dibangunlah istana bergaya belanda pada tahun 1947. Istana Dompu bergaya belanda ini sebagai istana Dompu ke empat.
Pada tahun 1980-an istana bergaya belanda dibonkar untuk perluasan bangunan RSUD Dompu.
Berlokasi di Bada di dekat jembatan Raba Laju.

* Foto istana kesultanan Dompu: link
* Sumber: http://www.koranlensapos.com/2021/02/istana-kerajaan-dompu-jejak-sejarah.html

Asi atau istana Dompu diprediksi dibangun oleh sultan Abdullah II, dan terakhir dibongkar oleh Jepang tahun 1942

————————-

Asi atau istana Dompu, foto yang diambil tanggal 5 Agustus 1932, dua tahun sebelum Sultan M. Sirajuddin diasingkan ke Kupang, NTT. Istana ini terakhir dibongkar oleh Jepang tahun 1942


Istana, bekas istana kerajaan Dompu

Istana ketiga (Asi Bou) dibangun tahun 1815 di Negeri Rato (lingkungan Rato, kelurahan Karijawa, kecamatan Dompu sekarang). Pada tahun 1942 Jepang menghapus kerajaan Dompu dan menggabungkannya dengan kerajaan Bima.
Kerajaan Dompu menolak digabung ke Bima, istana ini dihancurkan oleh tentara Jepang pada tahun 1942.
Masa pendudukan Jepang di Dompu bangunan istana ini dijadikan tempat untuk tentara Jepang, sebelum akhirnya dihancurkan oleh Jepang sendiri. Kemudian pihak keluarga kesultanan Dompu memindahkan bangunan istananya ke tempat yang sekarang, yaitu berlokasi di Kelurahan Karijawa, Kecamatan Dompu.

Saat ini anak tangga untuk naik ke atas istana berada di sisi utara, dan sebagian ruangan yang ada di sisi utara dan sisi selatan bangunan istana ini telah dipotong. Dimana pada awalnya pada sisi utara bangunan bekas Istana Dompu ini merupakan ruangan tamu dan ruangan yang mengalami pemotongan di sisi selatan awalnya adalah dapur.

– Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/bekas-istana-raja-dompu/


Istana, revitalisasi istana kesultanan Dompu

Di ambil dari dan lengkap: https://www.kitabisa.com/istanadompu

Istana Kesultanan Dompu dihancurkan Jepang untuk keperluan membuat bunker (benteng bawah tanah) sebagai sarana pertahanan menghadapi serangan Sekutu. Istana ini serupa dengan istana tua Kesultanan Bima dan Kesultanan Sumbawa, semua rangka dan dindingnya terbuat dari bahan kayu jati. Lokasi tempat berdirinya di lahan sekitar satu hektar yang kini menjadi areal tegaknya masjid raya Dompu, Baiturahman.

Pada masa sultan terakhir, Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin, kegiatan pemerintahan menggunakan bangunan parmanen bekas peninggalan Pemerintah Hindia Belanda, yang telah pula dihancurkan dan kini di lokasi itu berdiri Rumah Sakit Umum Daerah Dompu.

Sekarang, terkait dengan kesepakatan keluarga besar keturunan kesultanan Dompu yang menyatu dalam naungan Yayasan Kesultanan Dompu, berupa adanya keinginan membangkitkan kembali dan merevitalisasi tradisi kesultanan Dompu, maka kebutuhan akan istana kesultanan Dompu menjadi target penting dan mutlak untuk diwujudkan.

Berdasarkan paparan di atas, perlu dilakukan langkah-langkah mulai dari perencanaan hingga berdirinya replika istana kesultanan Dompu yang berlokasi di Kota Dompu, dalam rangka merealisasi pengadaan istana kesultanan Dompu.

Bangkitkan Istana Kesultanan Dompu


Sejarah singkat pulau Sumbawa

Nagarakretagama abad ke-14 menyebutkan beberapa kerajaan yang berada di Sumbawa: Dompu, Bima, Sape dan Sang Hyang Api. Empat kerajaan kecil di Sumbawa barat merupakan ketergantungan Kekaisaran Majapahit di Jawa Timur. Karena sumber daya alam, Sumbawa sering  diserang oleh kekuatan luar – dari Jawa, Bali, Makassar, Belanda dan Jepang.
Belanda pertama kali tiba di Sumbawa pada tahun 1605, namun tidak secara efektif memerintah Sumbawa sampai awal abad ke-20.

Kerajaan Gelgel  di Bali memerintah Sumbawa barat untuk waktu yang singkat juga. Bagian timur pulau itu juga merupakan rumah bagi Kesultanan Bima, sebuah pemerintahan Islam yang memiliki hubungan dengan orang Bugis dan Makasar di Sulawesi Selatan, serta kepolisian Melayu-Islam lainnya di nusantara.
Bukti sejarah menunjukkan bahwa orang-orang di pulau Sumbawa dikenal di Hindia Belanda karena madu, kuda, kayu sappan mereka untuk memproduksi pewarna merah, dan kayu cendana digunakan untuk dupa dan obat-obatan. Kawasan itu dianggap sangat produktif secara pertanian.

Pada abad ke-18, Belanda mengenalkan perkebunan kopi di lereng barat Gunung Tambora, sebuah gunung berapi di sisi utara Sumbawa, sehingga menciptakan varian kopi Tambora.
Letusan Kolosal Tambora pada tahun 1815 adalah salah satu yang paling kuat sepanjang masa, mendepak 150 kilometer kubik  abu dan puing ke atmosfer. Letusan tersebut menewaskan hingga 71.000 orang dan memicu periode pendinginan global yang dikenal sebagai “Tahun Tanpa Musim Panas” pada tahun 1816. Ini juga tampaknya menghancurkan budaya kecil afinitas Asia Tenggara, yang dikenal oleh para arkeolog sebagai “budaya Tambora”.
Akibat letusan Gunung Tambora 3 kerjaan di Sumbawa dihancur: kerajaan Sanggar, kerajaan Tambora dan kerajaan Pekat.

Lambang kesultanan Dompu


Peta kuno pulau Sumbawa (Cambaua)

Klik di sini untuk peta pulau Sumbawa tahun 1598, 1606 Sumbawa / Nusantara, 1614, 1615, 1697 Sumbawa / Nusantara 1800-an, 1856, 1856, 1910.

Pulau Sumbawa 1615


Sumber / Source

– Sejarah kesultanan Dompu di Wiki:
https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Dompu
Sejarah kesultanan Dompu: https://amarlubai.wordpress.com/kesultanan-dompu/
– Terbentuknya kerajaan Dompu: http://dompunyasejarah.blogspot.co.id/2015/11/terbentuknya-kerajaan-dompu.html
– Sejarah Kab. Dompu: http://donialf.blogspot.co.id/
– Daftar raja dan Sultan Dompu: https://kambalidompumantoi.wordpress.com/2015/05/15/silsilah-sultan-dompu-kambali-dompu-mantoi/
– Istana Dompu: https://kambalidompumantoi.wordpress.com/tag/istana-kerajaan-dompu/
– Biografi Sultan pertama Dompu, Sultan Syamsuddin: https://kambalidompumantoi.wordpress.com/2015/06/27/biografi-sultan-pertama-dompu-sultan-syamsuddin/
Suku Dompu: http://protomalayans.blogspot.co.id/2012/11/suku-dompu-nusa-tenggara-barat.html


Sultan Kahrul Zaman Mts bersama istri Mira Endah Yuliani dari Kesultanan Dompu. 2014 at @ FKN IX Bima
Sumber: Fahru Rizki, FB. Sultan wafat 8 maret 2020.

Sultan Kahrul Zaman Mts bersama istri Mira Endah Yuliani dari Kesultanan Dompu @ FKN IX Bima Sumber: Fahru Rizki, FB.


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: