Sejarah lengkap Kedatuan Sakra

Sumber: http://gdefik.blogspot.co.id/2012/10/kerajaan-sakra.html


KERAJAAN SAKRA

LATAR BELAKANG

Terjadi perang Puputan Sabil antara Pejanggik dengan pihak Karangasem. Sedang Pemban Mas Meraja Kusuma mendapatkanhukuman moral tidak diperkenankan ikut puputan sabil oleh ayahandanya, Pemban Mas Komala Kusuma. la tidak berani membantah perintah ayahnya yang marah. la bertugas menyelamatkan apa saja yang masih diselamatkan dan harus menyingkir ke Sumbawa sebagai penerus generasi mendatang agar  pada saatnya nanti dapat merebut kembali tongkat kekuasaannya yang hilang. Beliau diiringi oleh sebagian pengawalnya, dan secarakhusus dilindungi oleh benteng Petak Purwadadi yang kuat. Beliau menetap dan membuka pemukiman baru sebagai perintis imigran Lombok di pulau Sumbawa bagian barat dan mendirikan desa Jelenga di wilayah kecamatan Jereweh sekarang. Merasa telah dilecehkan, beliau sendiri bersumpah tidak akan  menginjakkan kakinya di pulau Lombok. Tetapi beliau mempersiapkan generasi penerusnya, Pemban Penganten Purwadadi sebagai putra mahkota pada generasi ke XI. la dinobatkan sebagai raja dalam pengasingan didampingi oleh adiknya, Deneq Laki MasOrpa, dan saudara dari selir, Rade Nune Ratmaja Tember.
Setelah kerajaan Purwadadi sebagai benteng terakhir Pejanggik dapat dihancurkan oleh Karangasem dan Banjar Getas, para prajurit melarikan diri ke hutan-hutan sekitarnya, sebagian lagi menyusul ke Sumbawa. Merasa sudah mapan, pihak Karangasem merasa curiga atas perkembangan Banjar Getas. Mereka mengetahui bahwa dendam Pejanggik lebih besar kepada Banjar Getas daripada Karangasem sendiri. Maka mereka pun mengirimkan utusan untuk mempersilahkan Pemban Penganten Purwadadi kembali ke Lombok dengan syarat mau menjalin hubungan baik dengan Karangasem dan Bini Ringgit yang nantinya cukup memberikan peranan dalam sejarah Sakra, bahkan Lombok pada umumnya.  Pada tahun 1800 M datanglah rombongan dari Gowa di bawah pimpinan Karaeng Manajai, menapaktilasi dan menilik keadaan bekas wilayah kekuasaan Gowa, Manggarai, Bima, Dompu, Sumbawa dan Lombok. Di Lombok, beliau menemukan Selaparang yang sudah runtuh dan menyaksikan jejak jejak kerajaan Pejanggik yang masih mempunyai hubungan darah dengan Selaparang. Dari Labuan Lombok beliau kemudian berlayar menuju Labuan Tanjung Luar menemui Deneq Laki Mas Orpa. Terjadilah kesepakatan perkawinan yang berbau politik antara Pemban Bini Ringgit, putridari Deneq Laki Mas Opra dengan Karaeng Manajai. Sebelum perkawinan itu dilangsungkan, Karaeng Manajai kembali dulu menyelesaikan urusannya di Goa. Barulah pada tahun 1805 M iakembali untuk menetap di Lombok dan kawin dengan Pemban BiniRinggit. la ditugaskan di wilayah Ganti yang berbatasan denganBanjar Getas. Perkawinan tersebut menghasilkan seorang putra bernama Dewa Mas Panji Komala yang nantinya dalam usia yang sangat muda, memimpin perlawanan pertama Sakra terhadapkekuasaan Karangasem. Seorang lagi putri hasil perkawinan Karaeng Manajai dan Pemban Bini Ringgit bernama Denda Bini Nyanti. Sebagai keturunan seorang pengembara, sejak muda DewaMas Panji Komala sudah memisahkan diri dan tinggal di Beleka. Halitu dilakukan juga atas perasaan kecewanya akibat ketegangan antaraorang tuanya. Ibunda Dewa Mas Panji Komala, Pemban Bini Ringgit, merasa dilecehkan atas pernikahan Karaeng Manajai dengan seorang gadis dari Gelanggang bernama La Bunga. Perkawinan antara Pemban Bini ringgit dengan Karaeng Manajai dari Goa ternyata cukup meresahkan para musuh bebeyutannya, yakni kerajaan-kerajaan di Bali. Mereka resah dan sangat mengkhawatirkan kondisi Karangasem yang sedang dilanda persoalan internal antar puri dan berpotensi terjadi perang saudara antara Mataram, Pagesangan, Pagutan dan Singasari yang dianggap lebih tua. Oleh karena itulah pihak Karangasem segera mendekati Sakra serta menuntut perlakuan yang sama melalui perkawinan  politik. Agaknya yang diincarnya adalah Dende Bini Nyanti. Tetapi pihak Sakra justru hanya mengirimkan puluhan gadis dari kalanganorang biasa saja untuk dipilih, semuanya pun lantas ditolak dan dikembalikan. Raja Karangasem kemudian menyatakan akan datang sendiri dengan segala kehormatan dan kebesarannya. Menyikapi rencana raja Karangasem tersebut, terjadilah silang-pendapat dan pengelompokan. Mereka yang moderat dari kalangan para tetua, terutama Karaeng Manajai sendiri, berpendapat sebaiknya tawaran raja Karangasem tersebut diterima dengan sikap politis juga. Hal itu dilakukan untuk mempersiapkan diri terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Apabila memang sudah waktunya untuk merebut kembali tongkat yang hilang bisa dengan mudah merebutnya dari pihak Karangasem yang terancam perang saudara, bila perlu meminta bantuan Sumbawa dan Goa untuk mencapai tujuan itu. Disamping itu, jika Karangasem benar-benar dilanda perang saudara, siapa tahu melalui perkawinan bisa ditaklukkan tanpa kekerasan.
Di lain piha lk-, terutama di kalangan orang-orang muda,muncul sikap militansi yang justru dluukung oleh Pemban Bini Ringgit yang kecewa terhadap suaminya. Bahkan karena kejengkelannya tersetut, ia menyebut suaminya orang luar yang tidak tahu perasaan rakyat dan kawula bala yang setia dan siap matimembela kehormatan kerajaan Sakra penerus Pejanggik. Menurut Pemban Bini Ringgit, sekaranglah waktu yang tepat memanfaatkan tidak rukunnya puri Singasari dengan para saudaranya.Demikianlah, diam-diam Sakra mempersiapkan diri menghubungi berbagai pihak yang , diharapkan akan memberidukungan. Bahkan untuk bisa menarik dukungan Sumbawa, Gowadan orang-orang pesisir pantai, Dewa Mas Panji Komala bersama ibudan adiknya ditarik masuk , Sakra. Dalam usianya yang sangat muda, sekitar 16 tahun, Dewa Mas Panji Komala diangkat menjadi raja, sebagai lambang pemersatu sekaligus sebagai senopati perang. Gerakan dimulai dengan membersihkan wilayah timur. Desa-desa yang bersikap setengah hati dalam memberikan dukungan,digempur dengan kekerasan, para pemimpin beserta anak¬istrinya disandera dan dibawa ke Sakra. Meskipun kaget, Karangasem bergerak cepat. Mereka berhasil meredam dan menunda perselisihansesama mereka. Jika benar-benar menang, pihak Sakra tidak akan pilih bulu untuk menghancurkan saudara-saudara kerajaan Karangasem yang ada. Pihak Karangasem menduduki Mendana, Mujur dan Kopang. Meskipun Mendana, Mujur dan wilayah selatan berhasil dibersihkan kembali, akan tetapi Kopang dibuat sebagai benteng pertahanan yang sangat kuat, sehingga Raden Bendesa diKopang tidak dapat berkutik. Terlalu muda sebagai pemimpin dan tanpa wawasan sertastrategi perang yang mapan memang sangat berpengaruh terhadapkualitas kepemimpinan Dewa Mas Panji Komala, terutama di dalam pengambilan keputusan. Desa-desa yang telah dibebaskan tidak diduduki, dan ketika gagal menembus Kopang, para pasukan Sakramalah kembali pulang.Konsolidasi kekuatan hanyalah berbentuk mengumpulkanorang sebanyak-banyaknya bertumpuk di desa Sakra tanpa gerakanlanjutan.
Bebasnya wilayah timur dan terkumpulnya kekuatan yang besar membuat mereka puas dan merasa diri telah menang. Nasihatyang tua-tua karena terlanjur bergerak haruslah terus menyerangtidak digubris bahkan dijawab: “Kalau memang benar Bali itu jantan,silahkan dia datang, kita tunggu disini saja”.Pusat desa memang ditata, dilengkapi petak jonggah yangkuat. Puri yang ada sebelumnya diperbaiki, begitupula tempat tinggal ibu suri Pemban Bini Ringgit bersama sang raja Dewa Mas Panji Komala. Memang benar, Dewa Mas Panji Komala mempunyai kharisma yang sangat kuat, berwibawa dan pemberani, namun cenderung nekat tanpa perhitungan. Terpaksalah yang tua-tua bergerak sendiri dengan kekuatan terbatas mengusir kelompok-kelompok kecil prajurit, Karangasem yang masuk mengganggu desa-desa yang telah dibersihkan.Gangguan-gangguan itu merupakan strategi yang tepat agar Sakra terus sibuk, sementara Karangasem mempersiapkan diri untuk serangan balik yang mematikan. Sebaliknya di pihak Sakra malah merasa puas, sibuk berpesta pora mabuk-mabukan. Beberapa kali  serangan besar yang dicoba Karangasem memang selalu dapat dipatahkan, tetapi mereka tidak tahu bahwa pihak Karangasem sedang mempersiapkan diri dengan prajurit yang lebih teratur dan profesional serta dilengkapi dengan taktik dan strategi yang cukup jitu.

KERUNTUHAN SAKRA (SAKRA BEDAH)

Karangasem menyadari, kendati pun Sakra yang semulahanya daerah kecil di wilayah kekuasaannya, akan tetapi memiliki ketangguhan yang lebih dibandingkan Pejanggik. Sakra sangat solid, merupakan pedaleman tunggal dan tidak memiliki pedaleman lain di bawahnya, oleh karena itu wilayahnya sqngat utuh. Maka tidak mudah mengalahkan Sakra dengan kekuatan konvensional. Dengan demikian Karangasem benar-benar mempersipakan diri. Berbagai perlengkapan senjata seperti bedil dan kapal (dengan nama Sri Cakradan Sri Mataram) dibeli dari Singapura. Selain itu, untuk menambah kekuatan didatangkan pasukan dari Karangasem dan Kelungkung.

Karangasem memerlukan persiapan sekitar tiga tahun untuk dapat melawan Sakra sambil melancarkan serangan-serangan kecil kewilayah Sakra. Seolah-olah hanya kekuatan kecil itu yang dimiliki Karangasem, hingga saat itu pun tiba. Serangan balik dilancarkan oleh Raja Muda Mataram A.AGde Karangasem. Satu demi satu desa diserang oleh Karangasem yang dilengkapi senjata bedil. Tiap desa yang dilalui penduduknya dipaksa menjadi tameng. Sebagai prajurit profesional, mereka tidak langsung menusuk ke jantung pertahanan Sakra, melainkan mengggelar strategi Sapit Urang untuk mengepung Sakra. Setelah melalui Rarang, Suradadi, Padamara, maka pangkalan di Kopang dipindahkan ke Masbagik. Setelah itu menaklukan Penede Gandor, mereka pun memasuki wilayah Surabaya. Meskipun PeSiraga Perkanggo Surabaya yang perkasa itu melakukan perlawanan yang gagah berani, akan tetapi tidak berdaya menghadapi pasukanyang lengkap bersenjata bedil. Keadaan itu memaksa Pe Siragamasuk Sakra. Lokasi desa Sakra memang dipilih dengan pertahanan dikelilingi oleh kali yang dalam di sebelah timur, sisi selatan dan barat. Sedangkan di sebelah utara berderet bukit-bukit sebagai benteng alam. Pasukan dari Kelungkung setelah menyapu Mujur, Ganti, dan Beleka maju terus melalui Jerowaru dan Mendana. Lalu berhenti berkemah di sebelah barat sebelah kali Palung yang dalam.Di sebelah timur tepatnya di bukit Selong, berkemah para prajurit Pagutan dan Pagesangan. Barulah kemudian pasukan induk menduduki bukit-bukit di sebelah utara untuk perang urat saraf dimalam hari dengan menggelar pesta dan mendatangkan penari Joget.A.A. Gde Karangasem menerapkan strategi Gelar Perang Garuda Ngelayang. Para prajurit tameng yang terdiri dari orang-orang Sasak, mereka juga ditugaskan untuk terus menerus membuat gangguan dengan serbuan setiap hari. Pengepungan yang berbulan-bulan tanpa serangan besar-besaran benar-benar menyebabkan prajurit Sakramenjadi frustasi. Orang Sakra yang tidak mengerti strategi perang merasa tak habis pikir ketika siang dan malam pihak Bali terus menerus menembakkan bedilnya, Pipian Langit, dan ditertawakan sebagai orang kaya yang membuang-buang mesiu. Mereka tak mengerti strategi perang urat saraf sementara bantuan yang diharapkan dari Goa dan Sumbawa tak kunjung datang karena kurang koordinasi. Akhirnya prajurit Sakra tak punya pilihan lain kecuali keluar mengamuk tanpa aturan melawan prajurit-prajurit Sasak sendiri yang dipergunakan sebagai tameng hidup oleh prajurit Bali. Sementara orang Bali sendiri berada pada barisan belakang mempergunakan senjata lengkap. Pada pertempuran tersebut, Raden Nuna Gede Lancung beserta saudaranya gugur di sisi barat. Sementara di sebelah timur yang dipertahankan oleh Raden Benta, Raden Mombek, dan Raden Bentabonter juga mengalami nasib yang sama. Begitu pula dengan pasukan induk di sebelah utara, meskipun mampu merobohkan begitu banyak prajurit-prajurit Bali akan tetapi juga mengalami nasib yang sama. Setelah banyak prajurit-prajurit tangguh Sakra yang tewas, barulah prajurit-prajurit Bali maju dan memasuki Sakra dengan membawa perlengkapan senjata lengkap. Puri yang hanya tinggal dan dipertahankan oleh Pe’ Siraga juga jebol dan diratakan dengan tanah. Seluruh bangsawan Sakra mati, kecuali para kanak-kanak yang sebelumnya telah diungsikan ke Korleko. Pe Siraga sendiri tewas sementara Raden Bini Ringgit menyiapkan pusakanya danuntuk pertama kalinya meminta ampun kepada suaminya sebelum puputan sabil. Raden Bini Ringgit meminta bantuan pada suaminyauntuk menyelamatkan anaknya yang masih bertempur di dalam desa,akan tetapi Karaeng Manajai menemukan putranya sudah tewas. Pemban Bini Ringgit karena sudah sepuh dan tua gagal puputan sabil, dengan mudah ia ditangkap dan ditahan sebagai sandra yang sangat berharga di Taman Kelepug (Mayura) dan didampingi oleh anak tirinya. Perang Sakra ini berlangsung pada tahun 1824-1828M meluluh lantakkan Sakra. Perang ini disebut”Peresak”. Kerajaan Sakra dianggap runtuh dan hanya berumur 50tahun, terhitung sejak 1780 M hingga dengan 1828M. Setelahkekalahannya, pihak Sakra kemudian menjalin dan membina hubungan baik dengan Kerajaan Karangasem

Diposting oleh aries zulfikri