Sejarah lengkap kerajaan Nita

Sejarah lengkap diambil dari: http://orinbao.blogspot.com/2018/02/n-ita-mempunyai-leluhur-sama-dengan.html


Nita mempunyai leluhur sama dengan Sikka, yaitu pada tiga Bapak Pengasal Tanah Ata Teri Niang Era Tana atau Ata Bekor yakni Mo’ang Ria, Mo’ang Ragha, dan Mo’ang Guneng. Moang Ragha yang berdiam di Iling Newa, akhirnya bersama istrinya Du’a Guer dan seorang putranya Mo’ang Desa pindah ke Romanduru.

Mo’ang Desa mempunyai keturunan, yakni Mo’ang Sisa Mitang dan Mo’ang Hila Bura. Mo’ang Rile Bura menetap di Romanduru/Eha menurunkan suku Wewe Niur. Sedangkan Mo’ang Desa akhirnya berpindah dan menguasai wilayah bagian tengah utara Nuhang Ular Tana ‘Loran. Pusat wilayah di Uma Ili Wair Woga Gete.
Putera Mo’ang Sisa Mitang, dua saudara yang disebut Mo’ang Lolo-Jong yang menurunkan suku/puak Orin Bao Nata Ulu.

Ketika Portugis mendiami Kerajaan Sikka di Bola, Sikka dan Paga di Uma Ili Wair Woga Gete dan sekitarnya diperintah oleh seorang Ina Gete Ama Gahar yakni Mo’ang Juang Ngaris. Raja Mo’ang Juang Ngaris kemudian menurunkan Raja Maudong. Dan ketika Raja Maudong wafat, putranya Emanuel menggantikannya sebagai Raja Nita.

Ketika kolonial Belanda mengangkat Mo’ang Jatti Ximenes da Silva sebagai Raja Kerajaan Sikka (1871-1898) di Alok-Sikka (Maumere), ditempatkannya pejabat posthouder secara berturut-turut hingga 13 orang: Mereka adalah
GA van Siek 1879-1880, De Suter 1880-1881, JC Nyendorf 1881-1882, CC Smissaert 1882-1884, BL Kailola (Ambon) 1884-1885, Nordhorn 1885-1886, YH Scenk 1886, R Franse 1886-1887, M Teffer 1887-1889, ER Th. Sutherland 1889-1892, RC Baumgarte 1692-1896, KL Barberaux 1896-1898, BL Kailola (kedua kali) 1898-1907.

Kolonial Belanda mengadakan politik devide et impera atas Kerajaan Sikka. Oleh karena itu, Belanda mengangkat seorang keturunan Raja Emanuel, Mo’ang Fransiskus Digung da Silva menjadi Raja Kerajaan Nita pertama pada tanggal 12 September 1885. Beliau memerintah lengkap dengan Ngawung Ratu/Ngawung Gung-Regalia Kerajaarn yang amat mahal.

Ketika beliau wafat pada tanggal 5 November 18 M, Belanda mengangkat penggantinya yakni putranya Don Philipus da Silva (Don Silipi alias Nong Kesik atau Ratu Makasar) menjadi raja kedua. Sampai disebut Ratu Makasar karena beliau menjalani pengobatan ke Makasar sampai dua kali dan wafat lalu dimakamkan di Makasar pada tahun 1909. Pengganti berikutnya, Belanda mengangkat putera mahkota Don Yuan da Silva (1909- 1926) sebagai raja ketiga.
Pada tahun 1920 Raja Sikka Yosep Nong Moak dipensiunkan Belanda karena tua, maka Kerajaan Sikka berada dalam kekuasaan Mo’ang Thomas da Silva, putera Raja Yosep Mbako II. Raja Mo’ang Thomas da Silva dibenumkan menjadi Raja Sikka dengan sebuah Besluit Gouvenur General di Betawi No. 50 Mei 1923. Ia dilantik di Maumere tanggal 21 November 1923.

Kemudian Kolonial Belanda memberikan pensiun kepada Raja Nita, Don Yuan da Silva pada tahun 1926 secara sepihak, tanpa bermusyawarah. Lalu wilayah Kerajaan Nita digabungkan (bersama Kerajaan Kangae) ke dalam wilayah Kerajaan Sikka dibawah Raja Don Thomas Ximenes da Silva.

Pada tanggal 14 November 1925, Assisten Resident Kupang bersama Assisten Resident Flores dan Controleur Maumere, HH Mennes, telah mengumumkan menyatunya ketiga kerajaan (Sikka, Nita, Kangae) menjadi satu struktur baru yang disebut landschap. Dengan demikian, wilayah Kerajaan Nita lalu menjadi wilayah ke-Kapitan-an (Kapitanschaap sebanyak 12 buah) dengan kapitan pertama, Don Pendriku da Silva berikut Don Philipus Muds Meak da Silva sebagai kapitan kedua yang meninggal pada tanggal 21 Oktober 1987.

Ngawung Ratu atau Ngawung Gung -harta Regalia Nita- adalah barang-barang bernilai sejarah yang tinggi. Harta-harta itu seperti Bala Ngeng perlengkapan perhiasan pria (Peket pendo gete satu utas, Pendo Bahar gete tiga utas, Rondo bahar kesik dua utas, Tudi bahar satu buah, Mone Bahar satu pasang (dua buah), Mone Bala satu pasang (dua buah), Lodang Tua Wulir dua utas, Lodang Tua Wonang seutas, Lodang Bao Wuang Gate dua utas, Lodang Bao Wuang Kesik satu utas, Kila lemo-lemo bahar tiga bentuk, Loeng Peran Gai Ratu satu buah, Kroa Songko Loang Bahar satu buah, Lodang Gaer Nenang dua utas, Ledang Kaleng dua utas; perlengkapan perhiasan pria dan wanita (Bahar Gebe satu keping, Bahar Wulang Nitang dua keping, Kila Matang dua butir); perlengkapan perhiasan wanita (Labu Nujing satu helai, Kimang satu helai, Ala Gadeja’ satu buah, Soking Bahar tiga buah, Kaleng Bahar satu buah, Taroe Bahar Bertingkat dua buah, Bahar Riti (tiga pasang) enam buah, Bahar Habi satu buah, Lodang Opa satu utas; Perlengkapan lainnya (Rutung Laka Niung satu buah, hiasan/ mainan dua buah, Tuir Paser Luk Kesik tiga buah).

Harta Ngawung Ratu itu dipercayakan penyimpanan dan pemeliharaan kepada Ibu Janda Dona Gertrudis Dua Goleng da Silva dan Don Hubertus Emanuel Nang Baba da Silva.
Harta Regalia Nita sekaligus melukiskan kebanggaan-kebesaran para pemimpin/raja Nita seperti Mo’ang Raga atau Raga ‘Wori Balik’; Mo’ang Desa yang oleh orang Wewe Niur Romanduru/Eha dijuluki Desa Gaur,Moang Sisa dan Moang Hila (Moang Sisa disebut Sisa Mitang Niang Nita dan Moang Hila disebut Hila Bura Romandaru, Moang Lolo-Jong (ini adalah panduan dua nama bersaudara), Raja Juang Ngaris, Raja Maudong, Raja Manue, Raja Fransiskus Digung Noko, Raja Don Slipi yang juga menyandang nama Nong Kesik dan Ratu Makasar karena wafat dan dimakamkan di Makasar); dan Raja Don Juang.

Sejarah Kerajaan Nita mencatat, Raja Dong Juang adalah raja fungsional terakhir dari Kerajaan Nita (yang dipensiunkan Belanda tahun 1926) turunan Orin Bao Nata Ulun yang dijuluki nama Nata Ubun Parak Bura, Woga Wai Liri Ratu yang kemudian menyandang gelar Portugis, da Silva (da Silva Nita).

Selanjutnya, Kerajaan Nita diserahkan menjadi bagian integral Kerajaan Sikka. Cara penyerahan aneh, malah dengan pemaksaan. Mo’ang Dagang Marang yaitu Don Dominikus Dagang da Silva di Waidoko menceritakan:
“Pada suatu hari pasar yaitu Regang Alok (hari Selasa), Don Yuan diperintahkan menghadap ke kantor Gezaghebber di Maumere dan dipaksa menandatangani Surat Keputusan Residen di Kupang, bahwa Kerajaan Nita sudah dibubarkan untuk diserahkan kepada Raja Sikka. Dalam keadaan terjepit itu Don Yuan sempat menyuruh seorang pengiringnya mencari kepala-kepala kampung Kerajaan Nita untuk mendampingi. Lalu ditarik kepala Kampung Magepanda yaitu Kepala Woda serta kepala kampung Natarweru yaitu Kepala Kupok yang kebetulan datang ke pasar di saat itu. Dalam keadaan dipaksakan, dengan sangat dongkol, Don Yuan menandatangani Surat Keputusan Residen di Kupang tentang pembubaran dan penyerahan kerajaan kepada Sikka”.

Sejak saat itu Raja Sikka dianggap biang keladi peristiwa malang itu, tidak setia kawan, sekalipun pelaku sebenarnya adalah Belanda. Mulailah sentimen-sentimen politik dan perasaan tidak puas terhadap Kerajaan Sikka. Dengan peristiwa itu, Kerajaan Nita kehilangan kedudukan sebagai kerajaan dinasti asal-usul dan beralih status menjadi Haminte dalam Kerajaan Sikka dengan Kapitan Besar Don Pedriku da Silva. Wilayah Napung Pitu Wolon Walu tetap utuh sampai masa pemerintahan Don Philipus Muda Meak da Silva dan Don Fransiskus Nong Sina da Silva. Juga sejak memperoleh status kecamatan dengan dua camat pertama yaitu kedua tokoh tersebut.