Janggala, kerajaan / Jawa Timur

Kerajaan Janggala: 1045 – 1136.
Kahuripan adalah nama sebuah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Airlangga pada tahun 1009.
Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membagi kerajaannya menjadi dua, yaitu:
bagian barat bernama Kadiri beribu kota di Daha, dan
bagian timur bernama Janggala beribu kota di Kahuripan.
Setelah turun takhta, Airlangga menjalani hidup sebagai pertapa sampai meninggal sekitar tahun 1049.

The kingdom of Janggala: 1045 – 1136. Located on east Java. Airlangga split the kingdom of Kahuripan into 2 kingdoms: Janggala and Kadiri.
For english, click here

Lokasi provinsi Jawa Timur


Garis kerajaan-kerajaan di Jawa: link


Foto sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

* Foto sultan dan raja, yang masih ada di Jawa: link
* Foto keraton di Jawa, yang masih ada: link
* Foto Batavia (Jakarta) masa dulu: link
* Foto Jawa masa dulu: link
* Penyerbuan Batavia oleh Sultan Agung, 1628/1628: link
* Foto perang Diponegoro, 1825: link
* Foto situs kuno di Jawa: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

– Video Penguasa Monarki kesultanan Jawa Mataram, 1556 – 2020: link
– Video sejarah kesultanan Mataram, 1576-2020: link
– Video sejarah kerajaan Medang Mataram Hindu: link
– Video sejarah kerajaan Majapahit, 1293 sampai 1527: link
– Video raja-raja Majapahit hingga ke Mataram, 1293 – 1587: link
– Video sejarah kerajaan Jawa, 10.000 SM – 2017: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Timur, 1.5jt SM sampai 2020: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Barat, 3000 SM sampai 2020: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Tengah, 1.5jt SM sampai 2020: link


KERAJAAN JANGGALA

Sejarah kerajaan Janggala, 1045 – 1136

Sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2021/06/18/130000179/kerajaan-jenggala-sejarah-raja-raja-keruntuhan-dan-peninggalan?page=all

Kerajaan Jenggala adalah kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang pernah berdiri di Jawa Timur. Kerajaan ini merupakan salah satu dari dua pecahan kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh Airlangga. Ibu kota kerajaan Jenggala adalah Kahuripan, yang terletak di lembah Gunung Penanggungan, sekitar Sidoarjo, Pasuruan, dan Mojokerto, Jawa Timur.
Kerajaan Jenggala berdiri pada 1042 M, setelah Airlangga membagi wilayah kekuasannya untuk kedua putranya. Kerajaan Jenggala yang ibu kotanya terletak di Kahuripan diberikan kepada Mapanji Garasakan, sementara kerajaan Panjalu atau Kediri yang berpusat di Daha diberikan kepada Sri Samarawijaya. Kendati demikian, selama berdiri, dua kerajaan tersebut terus berselisih. Inilah yang membuat usia kerajaan Jenggala terbilang singkat, yakni hanya sekitar 90 tahun saja, karena harus menerima kekalahan dari kerajaan Kediri.

Sejarah berdirinya kerajaan Jenggala

Kerajaan Jenggala memiliki kaitan erat dengan kerajaan Kahuripan dan Mataram Kuno periode Jawa Timur atau kerajaan Medang. Kahuripan adalah kerajaan turunan kerajaan Medang yang diperintah oleh Raja Airlangga antara 1009-1042 M.
Sejarah berdirinya kerajaan Jenggala bermula saat Raja Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua kekuasaan, yaitu kerajaan Jenggala untuk Mapanji Garasakan dan kerajaan Panjalu atau Kediri untuk Sri Samarawijaya. Hal ini dilakukan oleh Airlangga agar kedua putranya tersebut tidak berselisih. Dengan begitu, kerajaan Jenggala resmi berdiri pada 1042 M dengan Mapanji Garasakan sebagai raja pertamanya.

Perkembangan kerajaan Jenggala

Pada awal berdirinya, kerajaan Jenggala mengalami pertumbuhan pesat dibandingkan dengan kerajaan Panjalu. Kesuksesan tersebut tidak terlepas dari peran Mapanji Garasakan, yang pandai mengatur pemerintahan dan aktif melakukan diplomasi ke berbagai wilayah. Perkembangan kerajaan Jenggala dapat dilihat dari berbagai bidang, seperti pemerintahan, ekonomi, dan budaya. Dalam bidang ekonomi, kerajaan ini pernah menguasai jalur-jalur perdagangan sungai.

Keruntuhan kerajaan Jenggala

Pembagian kerajaan oleh Airlangga agar kedua putranya tidak berebut kekuasaan ternyata sia-sia. Pasalnya, Jenggala dan Kediri terus terlibat perang saudara karena sama-sama ingin menguasai.
Pada tahun 1130-an, Jenggala harus menyerah dan mengakui keunggulan Panjalu. Berdasarkan Prasasti Ngantang, kerajaan Jenggala ditaklukkan oleh kerajaan Panjalu ketika berada di bawah kekuasaan Raja Jayabaya. Sejak saat itu, kerajaan Jenggala menjadi bawahan Panjalu atau Kediri.

Lokasi kerajaan Janggala


Daftar Raja

Pembagian kerajaan sepeninggal Airlangga terkesan sia-sia, karena antara kedua putranya tetap saja terlibat perang saudara untuk saling menguasai.

Pada awal berdirinya, Kerajaan Janggala lebih banyak meninggalkan bukti sejarah daripada Kerajaan Kadiri. Beberapa orang raja yang diketahui memerintah Janggala antara lain:

1) Mapanji Garasakan
Bergelar Sri Maharaja Mapanji Garasakan. Pada tahun 1044 M, Beliau menetapkan desa Turun Hyang sebagai daerah perdikan, karena para pemuka desa tersebut setia membantu Jenggala melawan Panjalu. (Prasasti Turun Hyang II, 1044 M)
Pada tahun 1052 M, Garasakan memberikan anugerah untuk desa Malenga karena telah membantu Jenggala mengalahkan raja Aji Linggajaya dari Tanjung. Linggajaya ini merupakan raja bawahan Panjalu. (Prasasti Malenga, 1052 M)
Namun pada akhir tahun 1052 M, kerajaan Panjalu berhasil mengalahkan raja Garasakan, dan merebut ibukota Kerajaan Jenggala, yaitu Kahuripan.

2) Alanjung Ahyes (1052)
Pada tahun 1052 M, ibukota Kerajaan Jenggala di serang oleh Kerajaan Panjalu. Dalam penyerangan itu, putra mahkota Jenggala yang bernama Alanjung Ahyes berhasil melarikan diri ke hutan Marsma, daerah Lamongan.
Disanalah, Alanjung Ahyes diangkat menjadi raja dengan gelar Sri Maharaja Mapanji Alanjung Ahyes Makoputadhanu Sri Ajnajabharitamawakana. Setelah menjadi raja, Beliau mendirikan ibukota baru di daerah Lamongan.
Selain itu, Alanjung Ahyes juga gencar melancarkan serangan terhadap Kerajaan Panjalu. Dalam serangan tersebut, Beliau berhasil merebut kembali tahta Jenggala berkat bantuan para pemuka desa Banjaran. (Prasasti Banjaran, 1052 M)

3) Samarotsaha (1059)
Bergelar Sri Maharaja Sri Samarotsaha Karnnakeshana Ratnasangkha Kirttisingha Jayantaka Tunggadewa.
Pada masa pemerintahannya, seorang pedagang cina bernama Chou Ku Fei pernah datang ke Jenggala pada tahun 1060 M, dan menuliskan dalam buku catatannya bahwa Negara penghasil lumbung padi terbesar saat itu adalah Jung-ga-luh (Jenggala) dan San-fo-tsi (Sriwijaya).

– Sumber / Source: Wiki


Peninggalan kerajaan Janggala

Candi Prada

Candi Prada berada di dusun Reno Pencil kabupaten Sidoarjo, namun sayang sekali chandi tersebut telah dirusak oleh penduduk di tahun 1965. Hanya sedikit yang diketahui mengenai peninggalan situs kerajaan Jenggala, apalagi ada yang sudah hancur seperti candi ini. Sangat disayangkan peninggalan chandi Prada ini sudah tidak ada karena rusak.

———————

Situs batu bata

Belum lama ini di daerah persawahan Desa Urang Agung Sidoarjo ditemukan sebuah situs bersejarah yang konon merupakan bekas peninggalan dari Kerajaan Janggala. Situs yang ditemukan tersebut berupa tumpukan batu bata seluas sekitar 4 meter persegi yang ditemukan oleh penduduk desa area sawah saat menggali.
Diduga batu bata ini merupakan selah satu tembok bngunan pemukiman warga  yang pernah berdiri ke 12, sebelum Kerajaan Majapahit.

———————

Prasasti Turun Hyang

Peninggalan berupa prasasti ini menceritakan tentang adanya peperangan antara Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Jenggala. Sejak awal mula pemisahan kedua kerajaan tersebut dari Kerajaan Airlangga memang tidak pernah akur. Prasasti yang ditulis pada tahun 1104 ini menceritakanmengenai kalahnya Kerajaan Jenggala pada peperangan yang dipimpin oleh Sri Jayabhaya.

———————

Sumor Kuno

Peninggalan dari Kerajaan Jenggala Sidoarjo yaitu Sumor Kuno yang digunakan untuk berbuat klenik. Benda tersebut berada di tengah area tambak, tepatnya di desa Pepe Tambak, Sedari, Sudoarjo. Banyak orang dari berbagai wilayah mengunjungi tempat keberadaan Sumor Kuno ini.

Pengunjung biasanya datang pada malam Jumat atau malam suro untuk melakukan sesuatu karena peninggalan tersebut masih dikeramatkan. Penduduk sekitar menceritakan bahwa biasanya pengunjung yang mendatangi sumor kuno guna untuk mencari batu mustika atau benda kuno seperti keris berukuran kecil. Pengakuan dari penduduk sekitar memang sering benda-benda kuno di Sumor Kuno, tapi tidak banyak yang berani membawa pulang. Menariknya, sumur tersebut masih bersih dan tetap segar sehingga masih bisa digunakan sebagaimana sumur pada umumnya.


Peta kuno Jawa

Klik di sini untuk peta kuno Jawa tahun 1598, 1612, 1614, 1659, 1660, 1706, 1800-an, awal abad ke-18, 1840.

Jawa, awal abad ke-18

1234


Sumber / Source

– Sejarah kerajaan Janggala: http://pangerankalang-pangerankalang.blogspot.co.id/2008/10/kadiri-dan-jenggala.html
Sejarah kerajaan Janggala: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Janggala
– Sejarah kerajaan Janggala: http://www.bimbie.com/sejarah-kerajaan-janggala.htm
Daftar Raja Janggala: https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_raja_di_Jawa#Janggala


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: