Namatota (Kowiai), kerajaan / Prov. Papua Barat – kab. Kaimana

Kerajaan Namatota, sering disebut juga dengan nama kerajaan Kowiai, terletak di prov. Papua Barat, kab. Kaimana.

The kingdom of Namatota, also called kingdom of Kowiai, is located on prov. Papua Barat, district of Kaimana.
For english, click here

Lokasi prov. Papua Barat

—————-
Lokasi Namatota, kab. Kaimana


* Foto raja-raja di Papua yang masih ada: link
* Foto kerajaan Papua dulu: link
* Foto situs kuno di Papua: link
* Foto suku suku Papua: link


Tentang Raja

Sejak 2014
Raja sekarang: Raja Randi Asnawi Ombaier.

29 april 2013
Raja Hayum Ombaer, raja Namatota meninggal. Lahir pada tahun 1953, dan raja sejak tahun 1973.

Raja Randi Asnawi Ombaier

——————-

Hayum Ombaer raja Namatota / Kowiai, meninggal 29 april 2013


Tentang raja raja Namatota

Dari silsilah Raja Namatota diketahui bahwa Raja Namatota pertama yakni Ulan Tua, telah memeluk Islam hingga sekarang diketahui merupakan generasi kelima. Lamarora merupakan raja kedua kerajaan Namatota diperkirakan hidup pada tahun 1778-1884. Raja Lamarora selanjutnya datang ke daerah Kokas dan disana beliau telah menyebarkan agama Islam dan kawin dengan perempuan bernama Kofiah Batta, selanjutnya pasangan ini merupakan cikal-bakal Raja-raja kerajaan Wertuar.
Salah seorang Raja Wertuar (Kokas) bernama M. Rumandeng al-Amin Umar Sekar 1934, dengan gigih pernah menentang pemerintah Belanda dengan tidak mau menyetor uang tambang minyak kepada mereka. Akibatnya dia dipenjara di Hollandia (Jayapura) sebelum kemudian dibebaskan.

– Sumber: http://rudolphrainer007.blogspot.co.id/2015/02/islam-2.html

Raja Randi Asnawi Ombaier of Namatota. 2017


Sejarah kerajaan Namatota

Sumber dan lengkap: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/, p. 88

Keturunan raja-raja Namatote berasal dari Gunung Baik. Raja Namatote pertama yang diangkat oleh Sultan Tidore adalah Wolangtua. Pengangkatan Wolangtua sebagai raja dari Kerajaan Namatote berlangsung setelah terbentuknya hubungan Namatote dengan Sultan Tidore.
Pengangkatan Wolangtua sebagai raja mengakibatkan kerajaan itu harus tunduk kepada Sultan Tidore. Pada  mulanya, kekuasaan Wolangtua sebagai raja hanya berlaku di Namatote dan daerah sekitarnya. Namun dalam   perkembangannya, kekuasaan Wolangtua semakin meluas karena bantuan Sultan Tidore. Sultan Tidore membantu Wolangtua untuk memperluas lingkup pengaruhnya sampai ke Teluk Arguni dan daerah pantai selatan. Daerah  tersebut hanya dikunjungi oleh pelayaran hongi.
Atas usul raja Namatote kepada Sultan Tidore, di daerah tersebut diangkat para kepala adat oleh Sultan Tidore. Para  kepala adat itu tetap tunduk kepada raja Namatote. Namun, ketundukan para kepala adat itu kepada raja   Namatote hanya ada di atas kertas. Hal ini disebabkan letak dari daerah para kepala adat tersebut yang sangat jauh  dari kedudukan raja  Namatote.
Sultan Tidore mengangkat seorang raja di Pulau Adi dan daerah Karufa, seorang Mayor Wanggita, penguasa yang berpengaruh di Teluk Arguni, seorang raja Aiduma untuk daerah dari Aiduma ke Lakahia dan seorang raja Kapia untuk daerah sebelah timur Lakahia. Setelah penegakan pemerintahan kolonial Belanda,pemerintah kolonial mengakui kedudukan baik raja Namatote maupun para kepala adat yang diangkat oleh Sultan Tidore. Namun,  penerus keturunan raja-raja Adi dan Aiduma tidak dapat mempertahankan eksistensinya sebagai raja. Sedangkan  para kepala adat Wanggita dan Kapia diangkat oleh pemerintah kolonial menjadi kepala kampung. Pemerintah  kolonial memberikan posisi otonom kepada para kepala keluarga dari daerah pengaruh raja Adi dan  Aiduma. Kekuasaan mereka di luar kampungnya sendiri merupakan kekuasaan yang didasarkan pada kekuatan, yang merupakan hasil dari pelayaran hongi.

Setelah penegakan kekuasaan pemerintah kolonial di daerah itu sekitar tahun 1898 dan setela hpemerintah colonial bersepakat dengan raja Namatotte, pemerintah kolonial mengangkat seorang raja Komisi, yakni seorang raja yang  bekerja  “dalam  komisi” raja Namatotte. Raja Komisi bertugas dari daerah Kaimana sampai Gunung Baik, termasuk   teluk Arguni. Pada saat Raja Adi terakhir meninggal, kekosongan kepemimpinan dari seorang kepala di daerah itu  sangat  terasa.
Sehubungan dengan luasnya kerajaan Namatote, seorang yang bernama Naru dari Adi, diajukan untuk diangkat mengagantikan Raja Adi  sebagai kepala daerah itu. Pengajuan itu didasarkan karena Naru dikenal keberaniannya. Naru adalah ayah raja Komisi yang bernama Achmad. Achmad dilahirkan dari perkawinan ayahnya dengan seorang wanita dari daerah Wertuwar. Seorang putri dari perkawinan kedua dengan seorang wanita dari Aiduma, yakni bernama Saati. Saati merupakan ibu dari raja Namatote (Mooi Boeserau). Raja Aiduma terakhir adalah seorang wanita bernama Siambara.
Setelah kematiannya, tidak ada lagi penggantinya yang diangkat.Wolangtua setelah kematiannya digantikan oleh  saudara mudanya yang bernama Sifa. Setelah Sifa meninggal dunia, dia digantikan oleh putranya yang bernama  Lamora.
Lamora menunjukkan tanda-tanda kelemahan dalam kepemimpinannya. Raja Komisi Kaimana yang bernama Naru,  memanfaatkan kekuasaan Lamora yang lemah untuk memperkuat posisinya dengan mengorbankan raja itu, dan akhirnya tampil sebagai penguasa mandiri di daerahnya. Setelah Lamora meninggal, sekitar tahun 1911, putra  sulungnya yang bernama Mooi ditunjuk sebagai penggantinya. Mooi masih sangat muda. Kondisi yang demikian  diperburuk lagi dengan kenyataan yang berkaitan dengan melemahnya pengaruh ayahnya sebagai raja. Akibatnya, posisinya sebagai raja menjadi kurang  berarti.
Sekitar tahun 1912, pemerintah kolonial  berupaya untuk memulihkan kedudukan raja dimaksud. Setelah pembicaraan yang diadakan pemerintah kolonial dengan parakepala adat, pemerintah kolonial bersama para kepala adat mengukuhkan kedudukan raja. Para kepala adat tersebut berjanji untuk mematuhi raja, sedangkan raja Mooi  berjanji untuk selalu berunding dengan para kepala adat sebelum memutuskan sesuatu aturan yang berlaku   dalam kerajaan itu. Pada saat Raja Mooi memimpin pemerintahan adat di daerah itu, raja Komisi Kaimana bernama Achmad.


Daftar Raja kerajaan  Namatota

* Raja pertama: Ulan Tua,
* Raja kedua: Lamarora: hidup 1778-1884.
* 1946 – 2005: Kasim Buseru
* 1973 – 2013: (?) Hayum Ombaier
* 2017: Randi Asnawi Ombaier

– Sumber / Source: http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states2.html


Kerajaan kerajaan di Papua Barat

1) Kabupaten Kaimana

Kerajaan Aiduma
Kerajaan Kaimana / Raja Komisi
Kerajaan Kowiai/ Namatota

2) Kabupaten Fak Fak

Kerajaan Fatagar (marga Uswanas)
Kerajaan Rumbati (marga Bauw)
Kerajaan Atiati (marga Kerewaindżai)
Kerajaan Patipi
Kerajaan Sekar (marga Rumgesan)
Kerajaan Wertuar (marga Heremba)
Kerajaan Arguni

3) Kabupaten Raja Empat

Kerajaan Waigeo
Kerajaan Misool/Lilinta (marga Dekamboe)
Kerajaan Salawati (marga Arfan)
Kerajaan Sailolof/Waigama (marga Tafalas)
Kerajaan Waigama

Raja Namatota Hayum Ombaer, meninggal 29 april 2013


Sejarah kerajaan-kerajaan di Fak Fak, Papua Barat

Di Fakfak, Papua Barat berdiri 7 kerajaan Islam yang dalam bahasa setempat disebut dengan pertuanan. Masing-masing pertuanan (kerajaan) ini dipimpin oleh seorang raja.
Tujuh pertuanan ini yaitu:
Pertuanan Atiati di Werpigan,
Pertuanan Fatagar di Fakfak,
Pertuanan Arguni di Arguni,
Pertuanan Sekar di Kokas,
Pertuanan Wertuar di Kokas,
Pertuanan Rumbati di Rumbati dan
Pertuanan Patipi di Patipi Pasir.
Tujuh pertuanan ini terdiri dari beberapa suku yaitu Suku Mbaham, Suku Ma’ta, Suku Mor, Suku Onim, Suku Irarrutu dan Suku Arguni yang masing-masih memiliki bahasa sendiri.

Wilayah masing-masing pertuanan sangat erat kaitannya dengan adat istiadat pertuanan. Pertuanan Ati-Ati wilayah adatnya di Distrik Fakfak Barat, Distrik Wartutin, Distrik Fakfak Timur, Distrik Karas dan Distrik Fakfak Timur Tengah.
Pertuanan Fatagar wilayah adatnya di Distrik Fakfak dan Distrik Pariwari, Pertuanan Arguni wilayah adatnya mulai dari pesisir Pantai Arguni hingga kawasan Distrik Bomberay.
Pertuanan Sekar dan Wertuar dengan wilayah adatnya di Distrik Kokas, Distrik Kayauni dan Distrik Kramongmongga. Pertuanan Patipi dan Rumbati dengan wilayah adat di Distrik Teluk Patipi dan Distrik Furwage.

Sejarah pertuanan ini terbentuk pada abad ke-16, saat itu tokoh-tokoh penting Semenanjung Onin, di kawasan Teluk Berau mengunjungi Kerajaan Bacan, di Maluku Utara. Dari kunjungan itu terbentuklah kerajaan-kerajaan atau pertuanan di Fakfak.
Pada awalnya, letak pusat-pusat pertuanan tersebut saling berdampingan di ujung barat Semenanjung Onin. Namun, pada tahun 1878, pertuanan Fatagar dan Atiati bergeser ke Pulau Ega.

Dalam perkembangannya selanjutnya, Raja Atiati memindahkan pusat pertuanan ke suatu tempat di Semenanjung Onin, berdekatan dengan Pulau Ega. Pusat pertuanan yang baru ini kemudian disebut dengan Atiati sesuai nama raja. Sedangkan Raja Fatagar memindahkan pusat pertuanannya ke Merapi, sebelah timur Distrik Fakfak sekarang.

– Sejarah lengkap kerajaan di Papua: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/sites/17/2015/03/Kerajaan-Fatagar-Dalam-Sejarah-Kerajaan-Kerajaan-Di-Fakfak-Papua-Barat.pdf

Pernikahan Raja Randi Asnawi Ombaier dari Namatota dengan Ratu Nunung Sirfefa. 2017


Sejarah kerajaan-kerajaan di Raja Empat, Papua Barat

Asal usul Raja Ampat tak bisa dilepaskan dari suku asli yang mendiami pulau terbesar di Raja Ampat, Waigeu, yakni suku Maya. Hingga saat ini suku asli Raja Ampat ini masih berdiam di pulau Waigeu.  Namun mereka tidak tinggal di Waisei yang merupakan Ibukota Kabupaten Raja Ampat, suku Maya memilih tetap tinggal di pedalaman. Menurut Yohanes yang kini menjabat sekretaris dewan adat suku Maya, kisah asal usul Raja Ampat tak bisa dipisahkan dari cerita munculnya raja-raja dari suku Maya.
Terdapat beberapa versi cerita mengenai asal-usul nama Raja Ampat yang diwariskan turun-temurun dari didalam kehidupan masyarakat asli kepulauan Raja Ampat.
Salah satu versi dari cerita ini adalah sebagai berikut. Raja Ampat ditinjau dari sisi sejarah ditinjau dari sisi sejarah, Kepulauan Raja Ampat di abad ke-15 merupakan bagian dari kekuasaan kesultanan Tidore, sebuah kerajaan besar yang berpusat di Kepulauan Maluku.
Untuk menjalankan pemerintahannya, kesultanan Tidore ini menunjuk 4 orang Raja lokal untuk berkuasa di pulau Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool yang merupakan 4 pulau terbesar dalam jajaran kepulauan Raja Ampat sampai sekarang ini. Istilah 4 orang Raja dalam yang memerintah di gugusan kepulauan itulah yang menjadi awal dari nama Raja Ampat.

Berdasarkan sejarah, di Kepulauan Raja Ampat terdapat empat kerajaan tradisional, masing-masing yaitu:
* Kerajaan Waigeo, dengan pusat kekuasaannya di Wewayai, pulau Waigeo; penguasa kerajaan Waigeo (sejak zaman ke-16 bawahan kesultanan Ternate):
– Gandżun (1900-1918)
* Kerajaan Salawati, dengan pusat kekuasaan di Samate, pulau Salawati Utara; penguasa kerajaan Salawati (sejak zaman ke-16 bawahan kesultanan Ternate):
– Abd al-Kasim (1873-1890)
– Muhammad Amin (1900-1918)
– Bahar ad-Din Arfan (1918-1935)
– Abu’l-Kasim Arfan (1935-?)
* kerajaan Waigama/Sailolof dengan pusat kekuasaan di Sailolof, pulau Salawati Selatan; penguasa kerajaan Waigama (sejak zaman ke-16 bawahan kerajaan Bacan):
– Abd ar-Rahman (1872-1891)
– Hasan (1891/1900-1916)
– Syams ad-Din Tafalas (1916-1953)
* kerajaan Misool/Lilinta, dengan pusat kekuasaan di Lilinta, pulau Misol; penguasa kerajaan Lilinta/Misol (sejak zaman ke-16 bawahan kerajaan Bacan):
– Abd al-Majid {1872-1904)
– Jamal ad-Din (1904-1945)
– Bahar ad-Din Dekamboe (1945 – )

– Sejarah lengkap kerajaan di Papua: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/sites/17/2015/03/Kerajaan-Fatagar-Dalam-Sejarah-Kerajaan-Kerajaan-Di-Fakfak-Papua-Barat.pdf

Fort Belanda, du Bus tahun 1828

 


Peta-peta kuno Papua

Untuk peta-peta kuno Papua tahun, 1493, 1600, 1699, 1700-an, 1740, 1857 1857, klik di sini

Peta tahun 1493


Sumber

– Sejarah kerajaan Kowiai: http://rudolphrainer007.blogspot.co.id/2015/02/islam-2.html
Daftar raja Kowiai: http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states2.html

———-

Sejarah kerajaan2 Papua Barat: https://id.wikipedia.org/wiki/Papua_Barat_%28wilayah%29
– Sejarah kerajaan2 di Papua Barat lengkap: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/
– Sejarah kerajaan2 di Semenanjung Onin: https://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Onin
– Sistem kerajaan2 tradisional di Papua: http://papuaweb.org/dlib/s123/mansoben/05.pdf
– Sejarah kerajaan2 di Papua Barat: http://marlinapuspita3.blogspot.co.id/2013/11/papua-barat-wilayah_22.html
– Kerajaan2 di Semenanjung Bomberai: https://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Bomberai
Kerajaan2 di kepulauan Raja empat: https://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Raja_Ampat


Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: