Kerajaan Suppa, kerajaan maritim Bugis Kuno

Muhlis Hadrawi/ Editor: Indra J Mae / Photo Illustrasi: colonialvoyage.com
https://www.facebook.com/groups/sejarahsulawesi/permalink/2927187307297248/

———————————

Kerajaan Suppa, kerajaan Maritim Bugis Kuno

Kerajaan Suppa’ adalah salah satu wilayah yang menyimpan sejarah Bugis kuno di daerah Pinrang, Sulawesi Selatan. Suppa’ tercatat dalam sejarah sebagai sebuah kerajaan Bugis maritim di pesisir barat yang hadir lebih awal ketika kerajaan Siang (Kasiwiang Pangkep) adalah sebuah kerajaan maritim pertama di kelompok Makassar kuno. Suppa’ dan Siang keduanya berlokasi di wilayah pesisir Barat Sulawesi Selatan dengan lautan Selat Makassar yang terbuka di hadapan sisi baratnya, pada masa yang sama kerajaan Bantaeng dan Tallo juga mengembangkan diri sebagai kerajaan maritim di pesisir Selatan. Meskipun belum ditemukan teks dalam lontara yang secara khusus menggambarkan secara lengkap mengenai petempatan orang Melayu di Siang dan Suppa’, namun catatan mitos We Tepulinge telah menyampaikan sebuah catatan manuskrip menceritakan kehadiran putri dari tanah Melayu yang mendarat di Suppa’. Putri tersebut menubuhkan Suppa’ menjadi sebuah kerajaan dan memulai kehidupan barunya dengan kekuatan maritim. Kerajaan Suppa’ disebutkan dalam manuskrip mampu berjaya dan lahir sebagai kerajaan yang kuat di pesisir barat Sulawesi Selatan. Wilayah kerajaan Suppa’ meluas hingga ke wilayah Mandar.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa pelabuhan Siang dan Suppa’ berada pada zona yang sama di pesisir barat Sulawesi Selatan. Posisi Suppa’ dan Siang berjiran dan terkoneksi dengan pelayaran dan perdagangan laut di sisi barat Sulawesi Selatan. Dalam kisah La Galigo kedua toponim itu disebutkan berada dan tergabung dalam wilayah kuno yang dipanggil kerajaan “Wewanriu” atau negeri yang banyak angin.

Terjemahan lontara Suppa

Manurungnge ri Bacukiki bernama La Bangengeq, dialah yang turun bersama tujuh istana di Cěmpa. Dialah kahwin dengan Tompoe ri Lawaramparang yang muncul bersama sarung lumutnya, periuk emasnya, sendok nasi emasnya, gerabah emasnya; ialah yang digelar Lollong Sinrangěng (bersama perlengkapan) dan ia pula bernama We Tepulinge yang bertahta di Suppa’. Dia melahirkan tiga orang anak. Seorang bernama La Těddulloppo, dialah yang bertahta di Suppaq. Seorang bernama We Pawawoi, dialah yang bertahta di Bacukiki. Seorang bernama La Botillangi, dialah yang berkuasa di Tanete Langi sebelah utara Bacukiki. We Pawawoi kahwin (bersuami) di Sidenreng dengan Manurungnge ri Loa bernama Sukkumpulawěngnge yang bertahta di Sidenreng. Ia melahirkan anak bernama La Batara yang bertahta di Sidenreng. Dia keluar (pergi) kahwin (beristri) di Bulu Cenrana dengan E Cina, melahirkan tiga orang anak. Seorang bernama La Pasappoi yang bertahta di Sidenreng, seorang bernama We Yabeng, dan seorang beranama La Mariyasěq yang bertahta di Bulu Cenrana…..

Pada teks selanjutnya dikisahkan tentang pendidiran istana Raja Suppa yang kemudian diberikan nama Lamalaka (sang MalakaI):

Inilah surat yang menerangkan pengabdian orang Mandar pada Ajatapparěng. Orang Mandar tukang perahu dan tukang rumah diperintahkan. Tukang perahu dialah yang membuat perahunya Makarai bernama Soena Gading, perahunya Arung Parěkki bernama Lapewajo, dan perahunya Paleteang Sawitto bernama Lapenikkěng. Demikian pula dia yang membuat Langkanae (istana) Suppaq bernama Lamalaka, dia pula yang membuat Salassae (istana) Sawitto bernama Lamancapai, Saworajae (istana) Alitta bernama Labeama, istana di Rappěng, dan Sawolocie (istana) Sidenreng. Adapun sebabnya dinamakan Langkana (istana) di Suppaq Lamalaka karena tiang rumah yang hanyut dari Malaka, dan di Ujullero mendarat dengan mempermimpikan dirinya. Datanglah orang Suppaq mengambilnya dan adapula sengo-nya (tali) dan pahatSnya. Dijadikanlah sebagai tiang pusat istana. (Terjemahan berdasarkan teks lontara Koleksi ARNAS Rol 50. No. 10)

Mitos kemunculan seorang Puteri dari buih lautan yang bernama “We Tepulinge” bermakna sebagai penggasas berdirinya kerajaan Suppa’, menjadi maklumat tentang asal-usul raja dan istana Suppa’ yang dipanggil Lamalaka. Nama istana Raja Suppa’ “Lamalaka” (sang Malaka) mengandung adanya unsur tamadun dan kehadiran pihak Melayu-Melaka dalam penubuhan kerajaan maritim Bugis tersebut. Meskipun kisah mitos ini tidak menyajikan penanda tentang Melayu secara lengkap lebih jelas, namun kehadiran orang Melayu tidak dapat diragukan nuansa dan unsur ke-Melayuan-nya. Tokoh-tokoh yang muncul seperti Tomanurung dan Totompo, selalu tidak diungkap latar belakangnya, akan tetapi latar depannya terdeskripsi secara jelas dan justru sangat faktual, seperti perkawinannya, keturunannya, pemerintahannya, kematiannya, serta peristiwa dan benda-benda sejarahnya. Pola seperti itu nampak dalam teks cerita Wé Tépulingé di Suppa’.

Peta Suppa tahun 1600 periode kemunculan Suppa’ pada abad ke-14 atau paling tidak ke-15 secara arkeologis telah dibuktikan oleh Fadillah dan Mahmud sebagai periode dimana telah terjadi pertumbuhan secara ramai kerajaan-kerajaan lokal di Sulawesi Selatan pada fase tersebut. Pada masa itu kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan belum menerima Islam, namun wilayah ini telah menjadi koloni perdagangan oleh pedagang-pedagang muslim daripada Semenanjung Malaysia dan pesisir Timur Sumatera. Konsentrasi koloni dagang muslim Melayu yaitu kerajaan-kerajaan yang berkedudukan di tepi laut khususnya pesisir bagian barat Sulawesi Selatan. Kerajaan Suppa’ telah masuk dalam zona koloni perdagangan Melayu yang dimaksud dan menjadi pelabuhan pengumpulan hasil-hasil alam dari wilayah pedalaman Bugis: Sidenreng, Sawitto, Soppeng, Rappang dan Nepo.

Kata kunci yang sangat penting dari pada mitos Suppa’ yaitu “Lamalaka” sebagai nama sebuah istana. Mitos We Tepulinge, si Putri Melayu ini adalah sebuah narasi sejarah yang tradisinya meluas pada teks-teks attoriolong kerajaan lainnya seperti pada attoriolong Bone, Barru, Soppeng, Luwu, Sawitto, Barru atau Tanete, dan lain-lain. Membandingkan dengan susunan salasilah raja-raja Suppa’, maka dapat diperkirakan bahwa masa kahadiran We Tepulinge di Suppa’ diperkirakan pada awal abad ke-15 dengan dasar perhitungan empat generasi sebelum Islam masuk di Sulawesi Selatan pada tahun 1605.

Kaedah-kaedah mitos Wé Tépulingé menunjukkan sebuah model yang khasnya ciri mitos Melayu yang menyebar di berbagai rantau atau kepulauan Melayu. Mitos Suppa’ memiliki pola yang mirip dengan mitos asal usul raja Kutai dan beberapa daerah lainnya. Kemunculan sebuah kerajaan khasnya kerajaan di rantau Melayu, pada umumnya diformulasi dengan hadirnya mitos-mitos asal-usul bertipe pra-Islam. Kemunculan puteri We Tépulingé di pesisir Suppa’ serupa dengan mitos kemunculan puteri Johor pada kerajaan Pancana, Barru. Kedua kerajaan ini dikisahkan dalam lontara hadirnya pihak elit Melayu yang mengambil peran dalam penubuhannya. Orang-orang Melayu yang datang berasal dari pada kalangan pedagang, ulama atau santri, serta ahli-ahli diraja atau kelompok bangsawan meningalkan Malaka dan Johor oleh kerana kekisruhan politik yang berketerusan. Penghijraan kelompok-kelompok Melayu dari Tanah Semenanjung ramai memilih arah timur Nusantara, terdapat orang Melayu memilih daratan Sulawesi Selatan sebagai tujuannya. Tujuan kedatangan mereka untuk mengamankan diri dan menolak kerjasama dengan Portugis. Orang Melayu yang datang itu memulakan kehidupannya yang baru kemudian melakukan perdagangan dan perniagaan, serta menguatkan basis kekuatan Islam.