Kabaena, kerajaan / Prov. Sulawesi Tenggara – kab. Bombana

Kerajaan Kabaena adalah kerajaan Suku Moronene, terletak  di Sulawesi, Kab. Bombana (pulau Kabaena), prov. Sulawesi Tenggara.
Raja bergelar Mokole.

The kingdom Kabaena is a kingdom of the Moronene People, located on the island of Kabaena, Kab. Bombana. South east Sulawesi.
The title of the king is Mokole.
For english, click here

Lokasi Kabaena, prov. Sulawesi Tenggara

——————–

Lokasi P. Kabaena


* Foto kerajaan Kabaena: link

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link

* Foto kerajaan2 di wilayah Poso: link
* Foto suku Bugis: link
* Foto suku Toraja: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Tentang Raja sekarang (2020)

15 juli 2018
Kasman resmi menjadi Mokole ke-30 dengan gelar Paduka Yang Mulia (PYM) Apua Mokole Kasman Lanota Sangia dai Bolonangka.

Tentang penobatan Mokole Kabaena, 15 juli 2018

Pulau Kabaena terletak di sebelah selatan provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Refleksi budaya di daratan Kabaena, kabupaten Bombana mulai beraura lagi dengan hadirnya raja baru di Tangkeno. Sebuah desa yang mulai dikenal dengan negeri di atas awan.
Penobatan raja itu juga menjadi simbol penguatan adat istiadat serta kebudayaan masyarakat Tokotu’a di Kabaena. Para raja di negeri jiran ini biasa dikenal dengan sebutan Mokole.
Mokole terkenal sejak dahulu dan hingga kini masih tetap menjadi gelar yang disanjungi oleh masyarakat Kabaena. Mereka adalah Mokole ke-1 Ratu Indaulu, Mokole Tebota Tulanggadi, Mokole Malijani (Maligana) bergelar Rangka Ea (Postur Besar), Mokole Manjawari dengan gelar (Safati/ La Pat) dan biasa dikenal Rampagau, Mokole Muhammad Yasin bergelar Mbue dai Pu,u Roda dan Mokole Muhammad Ali. Saat ini, deretan Mokole sudah berada pada urutan 30.

Kasman (55), anak kandung Mpande dan cucu dari Mbue Lanota Sangia dai Bolonangka telah berhasil dinobatkan sebagai raja Tokotu’a. Penobatannya pula telah digelar di pelataran Desa Tangkeno Kecamatan Kabaena Tengah pada Minggu (15/7/2018).
Saat itu pun Kasman resmi menjadi Mokole ke- 30 dengan gelar Paduka Yang Mulia ( PYM) Apua Mokole Kasman Lanota Sangia dai Bolonangka.
Dinobatkan oleh majelis tinggi adat kerajaan Tokotu’a Abdul Madjid mbue dai Watu Koda. Ia telah benar-benar resmi dengan setelah dilantik di atas batu diiringi kutipan Pehombunia (penganegarahan).
Usai dilantik, Kasman Lanota menjelaskan, kehadirannya sebagai raja di Kabaena tidak melewati batas pimpinan daerah Bombana maupun distrik di Kabaena. Ia hadir sebagai simbol budaya yang harus mampu meningkatkan derajat, adat dan tradisi.

Penobatan raja Kabaena ini pun disaksikan oleh beberapa raja yang hadir dari berbagai wilayah di Sultra. Ada raja Mekongga, Anakia H. Tite, Raja Kulisusu, Ahlul Musafi, Raja Wawonii, Lakino Abdul Salam, Raja Mata Usu, Mokole Herdin Jasa, Sultan Buton ke -40, H. La Ode Muhammad Izat Manarfa sekaligus Ketua Umum Majels Agung Raja Sultan Indonesia (MARSI) Sultra bersama Sapati Kesultanan Buton, La Ode Djabaru.
– Sumber: https://zonasultra.com/penobatan-raja-kabaena-dinamika-negeri-di-atas-awan.html

—————————————

Pewaris Trah Day Tonga Lere: Anakia Kotu’a Day Tonga Lere XVI (Pewaris Trah Day Tonga Lere).


Sejarah lengkap kerajaan Kabaena

Sejarah ini ditulis oleh Mokole Kabaena: Anakia Kotu’a Day Tonga Lere XVI (Pewaris Trah Day Tonga Lere).

Untuk sejarah lengkap,klik di sini
Isi tulisan ini:

1) Penduduk Asli Pulau Kabaena
2) Sejarah Kerajaan Kabaena
3) Hubungan Gowa dan Kabaena
4) Hubungan Kabaena dan Buton
5) Kotu’A sebagai pusat Pemerintahan
6) Struktur pemerintahan Kamokoleá (kerajaan) Kabaena
7) Kesenian dan tarian.


Sejarah singkat kerajaan Kabaena

Kerajaan Kabaena adalah pecahan dari kerajaan Bombana.
Kerajaan Bombana memiliki ikatan sejarah dan kebudayaan dengan Kerajaan Luwu. Raja (Mokole) Bombana Ke-I, Mokole Dendeangi adalah saudara kandung Sawerigading (Raja Luwu). Lalu, Kerajaan Bombana di pecah menjadi tiga kerajaan kecil semasa pemerintahan Mokole Bombana Ke-III, Mokole Nungkulangi. Karena memiliki tiga pewaris, maka Kerajaan Bombana di pecah menjadi tiga kerajaan, yakni:
* Kerajaan Kabaena (diperintah Ratu Indaulu sebagai Mokole Kabaena Ke-I atau Raja Bombana IV),
* Kerajaan Rumbia (diperintah Ratu Tina Sio Ropa sebagai Mokole Rumbia Ke-I atau Raja Bombana IV), dan
* Kerajaan Poleang (diperintah Raja Ririsao sebagai Mokole Poleang Ke-I atau Raja Bombana IV). Pembagian ini sekaligus mengakhiri era hierarki Kerajaan Bombana, dan dimulainya era ketiga kerajaan tadi.

Sepanjang sejarah Kerajaan Kabaena telah memerintah 25 Mokole. Beberapa Mokole yang terkenal adalah Ratu Indaulu, Mokole Maligana bergelar Rangka Ea, Mokole Manjawari bergelar Lapati/Sapati Rampagau, dan Mokole Haji Muhammad Yasin bergelar Dai Pu’u Roda. Namun dari keempat Mokole itu yang paling tersohor adalah Mokole Manjawari. Dalam periode kepemimpinan Mokole Manjawari, beliau berhasil menahan serangan pasukan Tobelo yang hendak menyerang pulau Buton, Muna dan Kabaena. Dalam sejarah Sulawesi Tenggara dikenal kisah tiga ksatria (baca: kisah tiga kesatria), yakni Mokole Manjawari, Murhum putra Raja Sugimanuru Lakilaponto Muna, dan Raja Luwu. Ketiganya berhasil menahan sekaligus memukul mundur pasukan Tobelo.

Karenanya, kekuasaan Mokole Manjawari kian diperkokoh di wilayah Kabaena dan Selayar. Itulah mengapa Mokole Manjawari, Raja Kabaena Ke-7, diberi gelar Sapati Rampagau dan Opu Selayar dengan wilayah kekuasaan meliputi Kabaena dan Selayar.

Olondoro

Olondoro adalah Ibu Negeri Kabaena pada masa pemerintahan district di Kabaena Tahun 1910 sampai Tahun 1938. Namun Ibu Negeri ini di masa lampau di kukuhkan pada tahun 1890 yakni dari periode Mokole/Raja kabaena di bawah pemerintahan i Ntawu Haji Muhammad Yasir Gelar Mbue Salama Hadia.
Sumber: Van Day Tonga Lere, FB

Mokole (raja) Daidama


Kisah Mokole Kabaena XII (Mokanda Haji Djamaluddin i Mbuentama Motu’a)

Kawan, telah kukisahkan padamu bagaimana gebrakan visioner dan reformis yang dijalankan oleh Mbuentama Motu’a sehingga oleh Ratu Wilhelmina menganugerahkan tanda jasa pada beliau.
Tahukah kamu kawan, Prestasi fenomenal beliau:
1. Menyusun sistem adm pemerintahan Kamokole’a sesuai dgn adm sistem pemerintahan belanda, sistem pembukuan dan laporan pertanggungjawaban setiap tahun pada kontroleur.
2.Dalam bidang pajak, beliau langsung membayarkan pajak seluruh masyarakat pulau kabaena/tahun, nanti rakyat yg bayar pajak ke beliau jika mampu.
3. Pembangunan jalan sepulau Kάβάέňã sebagaimana yg kita nikmati hari ini
4. Memajukan sistem pendidikan.

– Untuk seluruh cerita: klik di sini

Di tengah: Mokole Kabaena XII

 


Mokole XIII Kabaena Haji Muhammad Said (1929-1932)

Haji Muhammad Said di tunjuk menjadi Mokole sebagai Sulewatang pada tahun 1929 menggantikan Haji Djamaluddin i Mbue Ntama Motu’a karena i Mbue Ntama Motu’a melaksanakan Rukun islam ke lima yakni ibadah haji dengan jumlah Rombongan 40 orang.
Haji Muhammad Said kala itu berusia 32 tahun. Beliau adalah Mokole Kabaena dari Trah Tangkeno, Haji Muhammad Said bin Umaeya bin Umar bin Intola Watu itulah jalur nasabnya, yang merupakan anak Mantu dari Haji Djamaluddin sendiri.
Kiprahnya selama masa memerintah adalah melanjutkan kebijakan dari i Mbue Ntama Motu’a dalam penataan sistem administrasi pemerintahan dan peningkatan sumber daya ekonomi masyarakat Kabaena.
Beliau mampu mengorganisir tata kemasyarakatan dengan menempatkan beberapa pejabat kamokole’a untuk meningkatkan pendapatan pajak negara serta di satu sisi meningkatkan sistem perdagangan dengan konsolidasi terpadu.
Armada dagang berkat Kabaena membawa muatan dendeng dan kopra ke surabaya, di jalur lain menembus pasaran Timor Deli sehingga kas Kamokole’a meningkat tajam kekayaannya.
Di sisi lain peningkatan sistem pertanian rakyat sehingga hasilnya melimpah ruah di tahun-tahun masa pemerintahannya (ntevali ta’u),
Konon waktu itu hasil peternakan pun meningkat bahkan kerbau pun sekali beranak ada yang langsung dua ekor.
Masa pemerintahannya kurang lebih tiga tahun.
Beliau diberikan gelar Sulewatang Haji Muhammad Said Day Carambau. Wafat 11 januari 1988 dalam usia 91 tahun (1897-1988).


Benteng Kabaena Tawulangi

Benteng Tawulagi ini merupakan tempat pelantikan Mokole atau raja yang menjadi bukti kuat bahwa Kabaena pernah menjadi pusat Kerajaan Moronene. Ada beberapa benteng penunjang Benteng Tawulagi diantaranya yaitu Benteng Doule, Tontowatu, Mataewolangka dan Tuntuntari.

Dulu Benteng Tawulagi ini dijadikan sebagai tempat pelantikan mokole. Sementara Mataewolangka dijadikan sebagai tempat mengintai musuh dari arah selatan. Lalu Benteng Doule merupakan tempat mengintai musuh dari arah barat dan utara, sementara dua benteng penunjang lainnya yakni tuntuntari dan tontowatu dijasikan sebagai tempat mengintai musuh dari arah timur.

Benteng-benteng seperti ini tidak ditemukan di wilayah daratan tenggara Sulawesi yang menjadi tempat asal muasal etnis Moronene Kabaena. Ini membuktikan bahwa pusat Kerajaan Moronene memang ada di Kabaena dan bukan di wilayah daratan. Benteng-benteng di Kabaena ini diperkirakan dibangun pada tahun 1600 yang dimanfaatkan sebagai tempat persembunyian dan tempat bertahan dari musuh atau perampok.

– Untuk sejarah lengkap, klik di sini


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


Sumber

Sejarah kerajaan Kabaena: https://febryaristian.wordpress.com/2015/05/17/kerajaan-kabaena/
– Suku Moronene: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Moronene

Facebook

– Van Day Tonga Lere, Facebook


 

Create a free website or blog at WordPress.com.

<span>%d</span> bloggers like this: