Jembrana, kerajaan / Bali

Kerajaan Jembrana, 1705-1960. Terletak di Kab. Jembrana, prov. Bali.
Puri Agung Negara Jembrana adalah pusat pemerintahan raja Jembrana.

The kingdom of Jembrana, 1705-1960. Located in the district of Jembrana, province of Bali.
For english, click here

Lokasi kab. Jembrana

——————
Lokasi pulau Bali


* Foto (Istana) Puri Agung Negara Jembrana: di bawah


* Foto raja-raja Bali, yang masih ada: link
* Foto raja-raja Bali masa dulu: link
* Foto Bali dulu: link
* Foto situs kuno di Bali: link
* Foto puputan Denpasar, 1906: link
* Foto puputan Klungkung, 1908: link


* Video sejarah kerajaan-kerajaan di Bali, 45.000 SM – sekarang: klik


* Garis kerajaan-kerajaan di Bali: klik


KERAJAAN JEMBRANA

Tentang Raja

30-1-3021
Ida Anak Agung Hari Sutedja dipilih sebagai kepala dinasti / penglingsir Jembrana.

4 oktober 2019
Panglingsir Puri Agung Negara, Anak Agung Gde Agung Benny Sutedja, tutup usia. Putra pertama Gubernur Bali Anak Agung Bagus Sutedja, itu berpulang Jumat (4/10/2019) lalu.
– Sumber: bali.tribunnews.com/

30-1-3021: Ida Anak Agung Hari Sutedja dipilih sebagai kepala dinasti / penglingsir Puri Agung Negara, Jembrana.

——————-

4 oktober 2019: Panglingsir Puri Agung Negara, Anak Agung Gde Agung Benny Sutedja, tutup usia


Sejarah kerajaan Jembrana, 1705-1960

– Sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2021/12/08/080000679/kerajaan-jembrana–sejarah-raja-raja-dan-keruntuhan?page=1

Kebudayaan sosial masyarakat di Jembrana telah dimulai sejak 6000 tahun yang lalu. Nama Jembrana sendiri diyakini sebagai sebuah kawasan hutan belantara atau yang dikenal dengan nama Jimbar-Wana yang dihuni oleh Raja Naga/Ular. Dimana seiring berjalannya waktu nama tersebut berubah menjadi Jembrana dan dipergunakan sebagai nama kerajaan.

Kerajaan Jembrana merupakan kerajaan yang pernah berdiri di wilayah Bali bagian barat. Semasa berdiri, kerajaan ini menjadi salah satu kawasan perdagangan utama di Pulai Bali dengan pusat kegiatan berada di Bandar Pancoran. Kala itu, Jembrana membangun hubungan dagang dengan pedagang Muslim yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar. Dalam kehidupan sosial, masyarakat kerajaan Jembrana terdiri dari komunitas Muslim dan Hindu, yang umumnya memiliki mata pencaharian sebagai pedagang dan petani.

Sejarah berdirinya

Pada awalnya, kerajaan Jembrana merupakan bagian dari kerajaan Mengwi, yang kemudian melepaskan diri. Adapun leluhur dari kerajaan Jembrana adalah Gusti Nginte, yang merupakan seorang patih di kerajaan Gelgel. Cucu dari Gusti Nginte, Gusti Agung Basangtamiang, yang merupakan putra Gusti Agung Widya, adalah raja pertama Jembrana. Setelah Basangtamiang, putranya yang bernama Gusti Gede Giri menggantikan sebagai raja Jembrana yang kedua pada awal abad ke-18. Kendati demikian, terdapat beberapa versi tentang raja-raja yang memerintah di Jembrana dan peristiwa yang terjadi di kerajaan.

Peperangan di kerajaan Jembrana

Selama berdiri, kerajaan Jembrana diketahui pernah terlibat konflik dengan kerajaan-kerajaan di Bali, salah satunya adalah Kerajaan Buleleng.
Pada 1828, terjadi konflik antara Buleleng dan Jembrana yang disebabkan oleh kemakmuran di Jembrana. Akibatnya, Raja Jembrana, Anak Agung Putu Seloka, terpaksa mengungsi ke Banyuwangi dengan menggunakan perahu-perahu dari Bugis.
Dalam konflik perebutan wilayah tersebut, pasukan Jembrana dipimpin oleh I Gusti Ngurah Gede, yang berisi orang-orang Muslim, melawan Buleleng yang akhirnya berhasil dipukul mundur setelah rajanya tewas. Setelah itu, panglima perang Buleleng kembali menyerang Jembrana dengan kekuatan yang besar hingga berhasil memenangkan pertempuran. Meski Buleleng mampu mengalahkan Jembrana, namun mereka tidak berani memasuki Puri Agung Negara dan membuat Jembrana mengalami kekosongan kekuasaan dari tahun 1832 hingga 1835.

Kemunduran kerajaan Jembrana

Pada 1835, Buleleng menawarkan perdamaian dan Raja Anak Agung Putu Seloka akhirnya dapat kembali dari Banyuwangi. Karena usianya sudah lanjut, Anak Agung Putu Seloka menyerahkan kekuasaannya kepada putra sulungnya yang bernama Anak Agung Putu Ngurah. Sebagai wakilnya, ditunjuk Anak Agung Putu Raka, yang berkedudukan di Puri Gede Jembrana. Selama menjadi penguasa di Jembrana, Putu Ngurah dianggap bersikap sewenang-wenang. Hal itu kemudian diadukan ke pemerintah Belanda di Banyuwangi olehI Gusti Made Pasek pada 1855.
Akibatnya, pecah perang saudara antara pendukung dan penentang raja. Pada akhirnya, Raja Putu Ngurah menyerahkan diri ke pemerintah Belanda dan diasingkan ke Purwakarta pada 1857. Setelah itu, Jembrana dipimpin oleh I Gusti Made Pasek, yang memegang jabatan sebagai regent atau bupati.

Sebagai imbalan atas jabatannya, I Gusti Made Pasek membuat kesepakatan dengan Belanda yang tidak diketahui para punggawa Jembrana. Pemerintahan I Gusti Made Pasek pun berakhir pada 1866, ketika ia ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah Belanda ke Banyumas. Sebagai gantinya, Jembrana dikuasai oleh I Gusti Agung Made Ra,i yang memerintah pada 1906.

Runtuhnya kerajaan Jembrana

Kerajaan Jembrana juga bernasib sama dengan kerajaan-kerajaan lain yang ada di Bali. Jembrana takluk oleh Belanda dan statusnya dari kerajaan diturunkan menjadi swapraja. Hal ini berlangsung hingga Jepang datang maupun pasca kemerdekaan Indonesia dan masa Pemerintahan Negara Indonesia Timur. Kemudian pada 1958, dikeluarkan UU No. 69 Tahun 1958 yang membuat Jembrana berubah status menjadi daerah tingkat II sejajar dengan kabupaten. Hal ini menegaskan bahwa Jembrana berubah menjadi kabupaten bagian dari pemerintah Indonesia. Adapun salah satu peninggalan dari kerajaan Jembrana adalah Puri Agung Negara Jembrana, yang saat ini keadaannya tidak terurus.


Puri Jembrana: Puri Agung Negara Jembrana

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Raja Jembrana IV Ide I Gusti Agung Sloka membangun Puri Agung Nagari di Negara Jembrana, yang dikenal dengan Puri Agung Negara Jembrana serta memposisikan dan menetapkan Kota Negara sebagai kedudukan Istana atau Puri Agung Raja, Ibu kota Kerajaan, pusat pemerintahan, ekonomi dan budaya sejak Tahun 1830.
– Puri Agung Negara Jembrana, lihat lengkap: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puri-agung-negara-jembrana/

Foto (Istana) Puri Agung Negara Jembrana: link

Puri Agung Negara Jembrana

Puri Agung Negara Jembrana


Daftar raja / list of kings

Wangsa Agung Widya

* Abad ke-17: Gusti Agung Basangtamiang, anak Patih Agung Gelgel Gusti Agung Widya
* Gusti Brangbangmurti, anak Gusti Agung Basangtamiang
* c. 1700: Gusti Gede Giri, anak Gusti Brangbangmurti
* Gusti Ngurah Tapa, anak Gusti Gede Giri
* Gusti Made Yasa, saudara Gusti Ngurah Tapa
* Abad ke-18: Gusti Gede Andul, paruh pertama, anak Gusti Made Yasa

Wangsa Mengwi

* Abad ke-18: Gusti Ngurah Agung Jembrana, cucu Gusti Agung Sakti dari Mengwi
* …–1766: Gusti Ngurah Batu, anak Gusti Ngurah Agung Jembrana
* 1766-.?..: Gusti Gede Jembrana, kemenakan Gusti Ngurah Batu
* 1797-1809: Gusti Putu Andul, anak Gusti Gede Jembrana
* 1805: Gusti Rahi (wali negara untuk Badung, fl. 1805)
* 1805-1808: Kapitan Patimi (wali negara, keturunan Bugis,)
* 1812-1814: Gusti Wayahan Pasekan (wali negara)
* 1812-1814: Gusti Made Pasekan (wali negara), saudara Gusti Wayahan Pasekan
* 1809-1835: Gusti Putu Sloka, anak Gusti Putu Andul
* 1835-1840: Gusti Alit Mas (wali negara)
* 1835-1840: Gusti Putu Dorok (wali negara), cicit Gusti Ngurah Batu
* 1840-1849: Gusti Made Penarungan (wali negara)
* 1840-1849: Gusti Ngurah Made Pasekan (wali negara)

Raja Jembrana Ida Anak Agung Bagus Negara beserta permaisuri Ida Ratu Ayu saat di Pura Besakih

Kecamatan Mendoyo: Sejarah Kerajaan Jembrana

Di bawah perlindungan Belanda 1843-1882

* 1849-1855: Gusti Putu Ngurah Sloka (wafat 1876), anak Gusti Putu Sloka
* 1849-1866: Gusti Ngurah Made Pasekan (patih 1849-1855; raja 1855-1866)
* 1867-1882: Regen, Anak Agung Made Rai (wafat 1905), cucu Gusti Putu Andul

Jembrana di bawah pemerintahan langsung Belanda 1882-1929

* 1929-1950: Anak Agung Bagus Negara (wafat 1967), cucu Anak Agung Made Rai

Jembrana bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia 1950.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Raja_Bali#Raja-raja_Jembrana


Puri (istana) di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.

Gerbang masuk Puri Saren Agung di Ubud


Pura (tempat ibadah) di Bali

Pura adalah istilah untuk tempat ibadat agama Hindu di Indonesia. Pura di Indonesia terutama terkonsentrasi di Bali sebagai pulau yang mempunyai mayoritas penduduk penganut agama Hindu.
Tidak seperti candi atau kuil Hindu di India yang berupa bangunan tertutup, pura di Bali dirancang sebagai tempat ibadah di udara terbuka yang terdiri dari beberapa zona yang dikelilingi tembok. Masing-masing zona ini dihubungkan dengan gerbang atau gapura yang penuh ukiran. Lingkungan atau zonasi yang dikelilingi tembok ini memuat beberapa bangunan seperti pelinggih yaitu tempat suci bersemayam hyang, meru yaitu menara dengan atap bersusun, serta bale (pendopo atau paviliun). Struktur tempat suci pura mengikuti konsep Trimandala, yang memiliki tingkatan pada derajat kesuciannya.

Pura Besakih

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar.


Sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali

Kerajaan Bali merupakan istilah untuk serangkaian kerajaan Hindu-Budha yang pernah memerintah di Bali, di Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan tersebut terbagi dalam beberapa masa sesuai dinasti yang memerintah saat itu. Dengan sejarah kerajaan asli Bali yang terbentang dari awal abad ke-10 hingga awal abad ke-20, kerajaan Bali menunjukkan budaya istana Bali yang canggih di mana unsur-unsur roh dan penghormatan leluhur dikombinasikan dengan pengaruh Hindu, yang diadopsi dari India melalui perantara Jawa kuno, berkembang, memperkaya, dan membentuk budaya Bali.

Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.

Karena kedekatan dan hubungan budaya yang erat dengan pulau Jawa yang berdekatan selama periode Hindu-Budha Indonesia, sejarah Kerajaan Bali sering terjalin dan sangat dipengaruhi oleh kerajaan di Jawa, dari kerajaan Medang pada abad ke-9 sampai ke kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15. Budaya, bahasa, seni, dan arsitektur di pulau Bali dipengaruhi oleh Jawa. Pengaruh dan kehadiran orang Jawa semakin kuat dengan jatuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15.
Setelah kekaisaran jatuh di bawah Kesultanan Muslim Demak, sejumlah abdi dalem Hindu, bangsawan, pendeta, dan pengrajin, menemukan tempat perlindungan di pulau Bali. Akibatnya, Bali menjadi apa yang digambarkan oleh sejarawan Ramesh Chandra Majumdar sebagai benteng terakhir budaya dan peradaban Indo-Jawa.
Kerajaan Bali pada abad-abad berikutnya memperluas pengaruhnya ke pulau-pulau tetangga. Kerajaan Gelgel Bali misalnya memperluas pengaruh mereka ke wilayah Blambangan di ujung timur Jawa, pulau tetangga Lombok, hingga bagian barat pulau Sumbawa, sementara Karangasem mendirikan kekuasaan mereka di Lombok Barat pada periode selanjutnya.

Sejak pertengahan abad ke-19, negara kolonial Hindia Belanda mulai terlibat di Bali, ketika mereka meluncurkan kampanye mereka melawan kerajaan kecil Bali satu per satu. Pada awal abad ke-20, Belanda telah menaklukkan Bali karena kerajaan-kerajaan kecil ini jatuh di bawah kendali mereka, baik dengan kekerasan atau dengan pertempuran, diikuti dengan ritual massal bunuh diri, atau menyerah dengan damai kepada Belanda. Dengan kata lain, meskipun beberapa penerus kerajaan Bali masih hidup, peristiwa-peristiwa ini mengakhiri masa kerajaan independen asli Bali, karena pemerintah daerah berubah menjadi pemerintahan kolonial Belanda, dan kemudian pemerintah Bali di dalam Republik Indonesia.


Peta kuno Bali

Klik di sini untuk peta kuno Bali 1618, 1683, 1700-an, 1750, 1800-an, 1856, abad ke-19.

 Bali abad ke-16 ?


Sumber / Source

– Sejarah kerajaan Jembrana: http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.co.id/2011/02/kerajaan-jembrana.html
Sejarah kerajaan Jembrana: https://ajungar.wordpress.com/2015/01/22/puri-gede-jembrana/
Sejarah kerajaan Jembrana: http://www.contents.gatradewata.com/?Sekilas_Tentang_Puri_Agung_Negara_Jembrana_dan_Pengelingsir_Anak_Agung_Gde_Agung
Sejarah Kab. Jembrana: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Jembrana
Tentang A.A. Gde Agung: link
Puri Agung Negara Jembrana: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puri-agung-negara-jembrana/
.
– Daftar Raja Jembrana di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Raja_Bali#Raja-raja_Jembrana

Intervensi Belanda di Bali, 1846, 1848, 1849, 1906, 1908

– 1846: Perang Bali I: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-i-1846/
– 1848: Perang Bali II: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-ii-1848/
– 1849: Perang Bali III: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-iii-1849/
– 1906: Intervensi belanda di Bali / Puputan 1906: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-bali-1906/
– 1908: Intervensi Belanda di Bali / Puputan 1908: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-klungkung-1908/


Puri Agung Jembrana

———————————

Raja raja Bali, 1938

Berkas:Paruman Agung 1938.jpg


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: