Sejarah lengkap kerajaan Namatota

Sumber dan lengkap: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/

Keturunan raja-raja Namatote berasal dari  Gunung Baik. Raja Namatote pertama  yang diangkat oleh Sultan Tidore adalah Wolangtua. Pengangkatan Wolangtua sebagai raja dari Kerajaan Namatote berlangsung setelah terbentuknya hubungan Namatote dengan Sultan Tidore.
Pengangkatan Wolangtua sebagai raja mengakibatkan kerajaan itu harus tunduk kepada Sultan Tidore. Pada  mulanya, kekuasaan Wolangtua sebagai raja hanya berlaku di Namatote dan daerah sekitarnya. Namun dalam   perkembangannya, kekuasaan Wolangtua semakin meluas karena bantuan Sultan Tidore. Sultan Tidore membantu Wolangtua untuk memperluas lingkup pengaruhnya sampai ke Teluk Arguni dan daerah pantai selatan. Daerah  tersebut hanya dikunjungi oleh pelayaran hongi.
Atas usul raja Namatote kepada Sultan Tidore, di daerah tersebut diangkat para kepala adat oleh Sultan Tidore. Para  kepala adat itu tetap tunduk kepada raja Namatote. Namun, ketundukan para kepala adat itu kepada raja   Namatote hanya ada di atas kertas. Hal ini disebabkan letak dari daerah para kepala adat tersebut yang sangat jauh  dari kedudukan raja  Namatote.
Sultan Tidore mengangkat seorang raja di Pulau Adi dan daerah Karufa, seorang Mayor Wanggita, penguasa yang berpengaruh di Teluk Arguni, seorang raja Aiduma untuk daerah dari Aiduma ke Lakahia dan seorang raja Kapia untuk daerah sebelah timur Lakahia. Setelah penegakan pemerintahan kolonial Belanda,pemerintah kolonial mengakui kedudukan baik raja Namatote maupun para kepala adat yang diangkat oleh Sultan Tidore. Namun,  penerus keturunan raja-raja Adi dan Aiduma tidak dapat mempertahankan eksistensinya sebagai raja. Sedangkan  para kepala adat Wanggita dan Kapia diangkat oleh pemerintah kolonial menjadi kepala kampung. Pemerintah  kolonial memberikan posisi otonom kepada para kepala keluarga dari daerah pengaruh raja Adi dan  Aiduma. Kekuasaan mereka di luar kampungnya sendiri merupakan kekuasaan yang didasarkan pada kekuatan, yang merupakan hasil dari pelayaran hongi.

Setelah penegakan kekuasaan pemerintah kolonial di daerah itu sekitar tahun 1898 dan setela hpemerintah colonial bersepakat dengan raja Namatotte, pemerintah kolonial mengangkat seorang raja Komisi, yakni seorang raja yang  bekerja  “dalam  komisi” raja Namatotte. Raja Komisi bertugas dari daerah Kaimana sampai Gunung Baik, termasuk   teluk Arguni. Pada saat Raja Adi terakhir meninggal, kekosongan kepemimpinan dari seorang kepala di daerah itu  sangat  terasa.
Sehubungan dengan luasnya kerajaan Namatote, seorang yang bernama Naru dari Adi, diajukan untuk diangkat mengagantikan Raja Adi  sebagai kepala daerah itu. Pengajuan itu didasarkan karena Naru dikenal keberaniannya. Naru adalah ayah raja Komisi yang bernama Achmad. Achmad dilahirkan dari perkawinan ayahnya dengan seorang wanita dari daerah Wertuwar. Seorang putri dari perkawinan kedua dengan seorang wanita dari Aiduma, yakni bernama Saati. Saati merupakan ibu dari raja Namatote (Mooi Boeserau). Raja Aiduma terakhir adalah seorang wanita bernama Siambara.
Setelah kematiannya, tidak ada lagi penggantinya yang diangkat.Wolangtua setelah kematiannya digantikan oleh  saudara mudanya yang bernama Sifa. Setelah Sifa meninggal dunia, dia digantikan oleh putranya yang bernama  Lamora.
Lamora menunjukkan tanda-tanda kelemahan dalam kepemimpinannya. Raja Komisi Kaimana yang bernama Naru,  memanfaatkan kekuasaan Lamora yang lemah untuk memperkuat posisinya dengan mengorbankan raja itu, dan akhirnya tampil sebagai penguasa mandiri di daerahnya. Setelah Lamora meninggal, sekitar tahun 1911, putra  sulungnya yang bernama Mooi ditunjuk sebagai penggantinya. Mooi masih sangat muda. Kondisi yang demikian  diperburuk lagi dengan kenyataan yang berkaitan dengan melemahnya pengaruh ayahnya sebagai raja. Akibatnya, posisinya sebagai raja menjadi kurang  berarti.
Sekitar tahun 1912, pemerintah kolonial  berupaya untuk memulihkan kedudukan raja dimaksud. Setelah pembicaraan yang diadakan pemerintah kolonial dengan parakepala adat, pemerintah kolonial bersama para kepala adat mengukuhkan kedudukan raja. Para kepala adat tersebut berjanji untuk mematuhi raja, sedangkan raja Mooi  berjanji untuk selalu berunding dengan para kepala adat sebelum memutuskan sesuatu aturan yang berlaku   dalam kerajaan itu. Pada saat Raja Mooi memimpin pemerintahan adat di daerah itu, raja Komisi Kaimana bernama Achmad.


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: