Sejarah kesultanan Jailolo

Sumber: https://kesultananjailolo.wordpress.com/

Kesultanan Jailolo adalah kesultanan yang tertua di Negeri Jaziratul Mulqiah Moloku Kie Raha di kenal dengan sebutan legendaris Gilolo. Berdasarkan catatan sejarah melalui naskah kuno tahun 1518 berakhirnya eksistensi kesultanan jailolo fase I pada tahun 1500an dengan Penguasa Terakhirnya yaitu Kaicil Yusuf. Berakhirnya dinasti jailolo ini akibat terpaan hegamoni serta konflik internal yang melanda pada saat itu.
The King Kata Bruno atau dikenal dengan sebutan lokal Kolano Katarabumi/Katrabun adalah aktor utama runtuhnya dinasti gilolo pada masa itu, dengan ambisi dan haus kekuasaan serta mendapat dukungan penjajah portugis dia berhasil menggulingkan kekuasaan Sah Kaicil Yusuf di usia senjanya sekaligus berhasil membunuh (meracuni) Sultan Muda kesultanan jailolo yaitu Kaicil Fairuz Alauddin.
Maka di akhir hayat Sailillah Kaicil yusuf sang sultan harus terbuang di sepanjang wilayah kekuasaannya sendiri untuk menghindari maut yang setiap saat membayanginya.
Kaicil Yusuf mempunyai 3 orang anak (1 putri dan 2 pangeran). Yang sulung adalah perempuan yang bernama ……… menikah dengan Pangeran dari Kesultanan Tenate, 1 Pangeran (wafat di racun) dan 1 lagi putra bungsu yang bernama ……. (maaf nama2 ini belum dapat di ekspose karna terdapat banyak klaim ini dan itu) dari trah putra bungsu inilah lahirlah para datuk-datuk Sultan Jailolo Al-Hajj Kaicil Muhammad Shiddiq Shah sesuai silsilah nasab keturunan sultan jailolo.
Setelah pergolakan hebat yang terjadi di kesultanan jailolo maka sultan beserta banni sultana menyelamatkan diri meninggalkan jailolo mengelilingi sepanjang pulau halmahera dari ujung barat ke utara di lindungi oleh para hulubalang setianya.
Dengan rentetan peristiwa tragis di atas menyebabkan keturunan sultan jailolo memilih untuk menutup diri sebagai masyarakat biasa demi keberlangsungan dan keselamatan kehidupan untuk generasi penerusnya sehingga menjadi mitos untuk sebagian masyarakat asli Maluku Utara bahwa keturunan sultan jailolo seluruhnya sudah gaib.
Setelah Katarabumi di tumbangkan, kesultanan jailolo memasuki fase ke II yaitu fasal penguasaan wilayah jailolo secara bergantian oleh kesultanan tidore maupun kesultanan ternate sejak tahun 1600an mulailah di tempatkan para wakil-wakil sultan dari kedua kesultanan itu silih berganti mengisi kekosongan di wilayah kesultanan jailolo sampai pada akhir tahun 1800 terjadi kefakuman total dan pada fase ke III. Tahun 1997, Sultan Ternate berkeinginan untuk menghidupkan kembali Pilar Kesultanan Jailolo “baca https://Wordpres Kesultanan Jailolo”
Dan sampai pada tahun 2003 seorang kader golkar purnawirawan ABRI: Sdr. Dul Harjanto diangkat menjadi Wakil Sultan Ternate yang di tempatkan pada Kesultanan Jailolo yang kemudian berganti nama menjadi Abdulah Haryanto dan terakhir berubah lagi menjadi Sdr. Abdulah Sjah. Namun perjalanan wakil sultan ini berakhir dengan pemagzulan dirinya pada tahun 2010 berdasarkan pertimbangan dewan yudikatif klasik (tauraha) kesultanan ternate maka terbitlah surat keputusan Kolano Kesultanan Ternate nomor :177/SKEP-MKR/XI/2010 tentang Pemberhentian Dengan Hormat Wakil Sultan Ternate di Kesultanan Jailolo An. Sdr. Abdulah Sjah (nonaktif). Dan sampai pada tahun 2015 barulah Dewan Tradisional Kesultanan Jailolo Fala Raha melakukan RAT (Rapat Adat) untuk mengangkat sekaligus mengembalikan Hak Keturunan Sulatan Jailolo Terdahulu, maka diputuskan dan ditetapan pada tanggal 27 November 2017 Sultan Al-Hajj Kaicil Muhammad Shiddiq,S.H. di lantik sebagai Sultan Jailolo.


 

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: