Wajo, kerajaan / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Wajo

Kerajaan  Wajo (1399–1957), adalah kerajaan Suku Bugis, terletak di Sulawesi, Kab. Wajo, prov. Sulawesi Selatan.
Kerajaan ini adalah sebuah kerajaan yang didirikan sekitar tahun 1399. Penguasanya disebut “Raja Wajo”. Wajo adalah kelanjutan dari kerajaan sebelumnya yaitu kerajaan Cinnotabi.

The kingdom of Wajo (1399-1957) was a kingdom of the Bugis People,  founded in 1399. South Sulawesi.
The title of the king is Arung.
For english, click here

Lokasi kab. Wajo


* Foto kerajaan Wajo: link
* Foto istana “Saoraja Mallangga” istana kerajaan Wajo: link

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link

* Foto kerajaan2 di wilayah Poso: link
* Foto suku Bugis: link
* Foto suku Toraja: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


1 Tentang Raja / About the king
2 Sejarah / History
3 Daftar Raja / list of kings
4 Persekutuan Tellumpoccoe
5 Tentang mahkota raja Wajo
6 Skema silsilah para raja di Sulawesi Selatan
7 Struktur Kerajaan Wajo
8 Sistem pemerintahan kerajaan Wajo
9 Istana / Palace
10 Peta-peta Sulawesi masa dulu
11 Sumber / Source


1) Tentang Arung (Raja)

Tidak ada info tentang raja atau keturunan sekarang.


2) Sejarah kerajaan Wajo, 1399–1957

Kerajaan Wajo terbentuk dari komune-komune atau komunitas yang terdiri dari berbagai arah yang berada di sekitar Tappareng Karaja. Terbetuknya kerajaan Wajo berawal dari danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulungeng. Setelah puangnge ri lampulungeng, komune lampulungeng berpindah ke Boli yang kemudian dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural.
Kedatangan Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana) adalah pendiri (Founding Father) kerajaan Cinnongtabi, Kerajaan ini terbentuk dari banyaknya komunitas di sekitar tappareng karaja. Selama lima generasi kerajaan Cinnongtabi Berdaulat, yang kemudian kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo.

Kerajaan Wajo didirikan sekitar tahun 1399, di wilayah yang menjadi Kabupaten Wajo saat ini di Sulawesi Selatan. Penguasanya disebut “Raja Wajo”. Wajo adalah kelanjutan dari kerajaan sebelumnya yaitu kerajaan Cinnotabi. Ada tradisi lisan yakni pau-pau rikadong dianggap sebagai kisah terbentuknya Wajo. Yaitu putri dari Luwu, We Tadampali yang mengidap sakit kulit kemudian diasingkan dan terdampar di Tosora.
Selanjutnya beliau bertemu dengan putra Arumpone Bone yang sedang berburu. Akhirnya mereka menikah dan membentuk dinasti di Wajo. Ada juga tradisi lisan lain yaitu kisah La Banra, seorang pangeran Soppeng yang merantau ke Sajoanging dan membuka tanah di Cinnotabi.

Wajo mengalami perubahan struktural pasca Perjanjian Lapadeppa yang berisi tentang pengakuan hak-hak kemerdekaan orang Wajo. Posisi Batara Wajo yang bersifat monarki absolut diganti menjadi Arung Matowa yang bersifat monarki konstitusional. Masa keemasan Wajo adalah pada pemerintahan La Tadampare Puangrimaggalatung. Wajo menjadi anggota persekutuan Tellumpoccoe sebagai saudara tengah bersama Bone sebagai saudara tua dan Soppeng sebagai saudara bungsu.
Wajo memeluk Islam secara resmi pada tahun 1610 pada pemerintahan La Sangkuru Patau Mulajaji Sultan Abdurahman.

Wajo dibawah Republik Indonesia Serikat, atau tepatnya Negara Indonesia Timur, berbentuk swapraja pada tahun 1945-1949. Setelah Konferensi Meja Bundar, Wajo bersama swapraja lain akhirnya menjadi kabupaten pada tahun 1957. Antara tahun 1950-1957 pemerintahan tidak berjalan secara maksimal disebabkan gejolak pemberontakan DI/TII. Setelah 1957, pemimpin di Wajo adalah seorang Bupati. Wajo yang dulunya kerajaan, kemudian menjadi Onderafdeling, selanjutnya Swapraja, dan akhirnya menjadi kabupaten.
– Sumber: Wiki

La Tenri Oddang ( La Oddang PEro ) Datu Larompong Arung Matoa Wajo XLIV, 1926–1933


3) Daftar Raja

No. Nama Masa jabatan Keterangan
Batara Wajo
1 La Tenribali
2 La Mataesso
3 La Pateddungi To Samallangiʼ Batara Wajo terakhir, diturunkan dari takhta.
Arung Matoa Wajo
1 La Paléwo To Palippu (1474–1481) Pemimpin Wajo pertama yang diangkat melalui pemilihan.
2 La Obbi Settiriwareʼ (1481–1486)
3 La Tenritumpuʼ To Langiʼ (1486–1481)
4 La Tadampareʼ Puang ri Maggalatung (1491–1521)
5 La Tenripakado To Nampé (1524–1535)
6 La Temassongé (1535–1538)
7 La Warani To Temmagiang (1538–1547)
8 La Mallageni (1547)
9 La Mappapuli To Appademmeng (1547–1564)
10 La Pakoko To Pabbéleʼ (1564–1567)
11 La Mungkaceʼ To Uddamang (1567–1607) Arung matoa yang menandatangani Perjanjian Timurung.
12 La Sangkuru Patauʼ Mulajaji (1607–1610) Arung matoa pertama yang memluk agama Islam.
13 La Mappepulu To Appamolé (1612–1616)
14 La Samaléwa To Appakiung (1616–1621)
15 La Pakallongi To Alinrungi (1621–1626)
16 To Mappassaungngé (1627–1628)
17 La Pakallongi To Alinrungi (1628–1636)
18 La Tenrilai To Uddamang (1636–1639)
19 La Sigajang To Bunne (1639–1643)
20 La Makkaraka To Patemmui (1643–1648)
21 La Temmassongeʼ Puanna Daéli (1648–1651)
22 La Parammaʼ To Réwo (1651–1658)
23 La Tenrilai To Sengngeng (1658–1670) Memimpin Wajo dalam Perang Makassar. Gugur dalam Pengepungan Tosora.
24 La Paliliʼ To Malu (1670–1679) Menandatangani perjanjian yang membatasi kekuatan politik, ekonomi dan militer Wajo; awal mula dominasi Bone di tanah Wajo.
25 La Pariusi Daéng Manyampaʼ (1679–1699)
26 La Tenrisessu To Timoé (1699–1702)
27 La Mattoneʼ To Sakkeʼ (1702–1703)
28 La Galigo To Sunia (1703–1712)
29 La Tenriwerrung Puanna Sangngaji (1712–1715)
30 La Saléwangeng To Tenrirua (1715–1736) Memajukan Wajo secara ekonomi dan militer dengan mendukung perdagangan internasional dan membangun gudang senjata di ibukota Tosora.
31 La Maddukelleng (1736–1754) Membebaskan Wajo dari dominasi Bone dan berupaya untuk mengusir Belanda dari Makassar.
32 La Maddanaca (1754–1755)
33 La Passaung Puanna La Omoʼ (1758–1761)
34 La Mappajung Puanna Salowo (1761–1767)
35 La Malliungeng To Alléong (1767–1770)
36 La Mallalengeng (1795–1817)
37 La Manang To Appamadeng (1821–1825)
38 La Paddengngeng Puanna Pallaguna (1839–1845)
39 La Pawellangi Pajumpéroé (1854–1859)
40 La Cincing Akil Ali (1859–1885)
41 La Koro (1885–1891)
42 La Passamulaʼ (1892–1897)
43 Ishak Manggabarani (1900–1916) Menandatangani Korte Verklaring; awal mula penjajahan tidak langsung Belanda atas Wajo
44 La Tenrioddang (1926–1933)
45 Andiʼ Mangkonaʼ (1933–1949) Arung matoa terakhir; Wajo tidak lagi mengangkat arung matoa baru walaupun masih bertahan sebagai swapraja di bawah pemerintahan Indonesia hingga tahun 1957, ketika Wajo diubah menjadi kabupaten.

Resepsi saat Idoel Fitri 1938. Di tangga dari kiri ke kanan: kotak W. M. Remeeus dari Wadjo, Ms Wesseling, calon inspektur Mr JJ Wesseling dari Wadjo dan Aroeng Matowa Wadjo Andi Mangkona


4) Persekutuan Tellumpoccoe

Persekutuan Tellumpoccoe adalah suatu aliansi penting antara tiga kerajaan Bugis di Sulawesi Selatan, yaitu kerajaan Bone, kerajaan Wajo, dan kerajaan Soppeng; dalam menghadapi kekuatan dua kerajaan kembar Makassar, yaitu Gowa-Tallo.
Persekutuan ini dikukuhkan dalam perjanjian pada tahun 1582 di Bunne, Timurung, Bone utara, berupa upacara sumpah disertai menghancurkan telur dengan batu. Bone diakui sebagai saudara tua, Wajo saudara tengah, dan Soppeng saudara muda, yang diurutkan berdasarkan luas masing-masing kerajaan. Ketiga kerajaan akan saling melindungi satu sama lain, dan ekspansi hanya akan diadakan ke luar wilayah tiga kerajaan tersebut. Wajo juga akan dibela apabila Gowa memperlakukannya sebagai budak.

– Untuk lengkap, lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Persekutuan_Tellumpoccoe


5) Tentang mahkota raja Wajo

Kemanakah rimbahnya mahkota dan lontara Raja Wajo ke-41, La Koro Batara Wajo, 1885 – 1889.

Telah di ceritrakan kepada saya oleh Mendiang Almarhum Ayah Sy … Ayah merupakan turun ke-3 dari Raja ke 41. Dalam ceritanya bahwa Mahkota Raja La Koro (Batara Wajo ) di kenal dengan nama “Songko Kaddaro Ulawennna Batara Wajo” yakni satu mahkota itu yang berukir dan menyerupai bentuk Tempurung Kelapa, terbuat dar emas yang tidak menutup kemungkinan ada kemiripan dari mahkota yang di foto ini.

Dalam kisah yang diceritrakan Ayah bahwa Mahkota itu, pernah di simpan di Saoraja Denra Manu Ugi, bahkan pula ada yang mengatakan pernah juga di simpan oleh putranya pertamanya bernama Jendral I Gusti Andi Jalantek di Tempe, entah manakah yang dualan menyimpan itu barang. Tapi bukti kuat beberapa benda peninggalan beliau masih kita simpan rapih sebagai bagian harta warisan ke kakek kami atau anak ke duanya bernama Bau juncu Arung Tancung.

Selain Mahkota dan ada juga Lontra, menurut Ayahanda di mana lontra itu berisi Sistim Pemerintahan Kerajaan Wajo, Tata aturan pelaksanaan pemerintahan dan tata aturan pengankatan pejabat Kerajaan.
Menurut Ayah Lontra itu di ambil oleh orang belanda di bawah ke negeri Belanda dengan Alasan hendak mempelajari dan menggadakannya,

Menurut Ayahanda Lontra itu pun dilepaskan dari tangannya karna desakan dari petinggi Kerajaan pada masa itu. Isi dari Lontra itu hy sebagaian Ayah mengetahui terutama pada ttg aturan pengangkatan pejabat kerajaan yg secara demokrasinya yg pernah Ayah di ceritakan ke pada sy.
Mahkota dan Lontra masa Raja ke 41 ini, apakah di bawa juga ke negeri belanda, Wallahuwalam …. rimbahnya kita tdk tau lagi.
– Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=976951582666917&set=a.551527368542676&type=3&theater


7) Struktur pemerintahan Kerajaan Wajo

Untuk struktur pemerintahan kerajaan Wajo, klik di sini.

Bendera kerajaan Wajo


9) Istana: Saoraja Mallangga

Pembangunan istana ini dilakukan pada sekitar tahun 1933.
Pada awal pembangunannya istana ini berfungsi untuk tempat tinggal raja Arung Bettempola dan tidak dikelilingi pagar dan bangunannya tidak terlalu tinggi. Agar setiap warga Wajo yang datang tidak segan dalam menyampaikan pendapatnya pada Arung Matoa saat itu.
Seiring perkembangan zaman, karena istana ini banyak menyimpan benda-benda peninggalan Kerajaan Wajo makanya istana itu diperbaharui dengan memasang pagar di sekelilingnya.
Di dalam istana ini terdapat beberapa lemari-lemari besar berisikan naskah lontara, tombak, keris, buku-buku, bossara atau nampan kue berkaki yang saat ini berfungsi sebagai tempat songkok di atasnya.

– Foto istana “Saoraja Mallangga”: link


10) Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


11) Sumber

Sejarah kerajaan Wajo:  https://www.facebook.com/sayaberdarahbugis/posts/1386713788296691:0
Sejarah kerajaan Wajo di Wiki: link
Sejarah singkat terbentuknya kerajaan Wajo:  http://sempugi.org/sejarah-singkat-terbentuknya-kerajaan-wajo/
– Pembentukan kerajaan Wajo: http://wajokab.go.id/index.php/tentang-wajo/profil/profil-kab-wajo/13-profil
– Struktur Kerajaan Wajo: 
https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Wajo#Struktur_Kerajaan_Wajo
– Suku Bugis di Wiki: link


Sulawesi Selatan tahun 1590. Biru: persekutuan Tellumpoccoe

————————–

Peta kerajaan Wajo akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: