Bugis – Gelar masyarakat Bugis Makassar Konjo

Dalam kemasyarakatan Bugis Makassar Konjo di kenal dengan adanya tradisi, kebudayaan dan adat istiadat dimana budaya dan adat itu berasal dari para leluhur mereka dimasa kerajaan dahulu kala yang merupakan kebiasaan serta tradisi dalam hubungan kemasyarakatan yang dapat mengikat sekelompok manusia untuk dapat berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, dengan saling menghargai dan saling menghormati. Dalam budaya ini dan tradisi atau kebiasaan ini ada aturan tertentu yang telah diatur oleh dewan adat kerajaan atau biasa disebut sebagai PANGNGADAKKAN. Dengan salah satu contoh mengenai Gelar atau panggilan khusus bagi para kaum bangsawan serta orang-orang biasa. Ada beberapa sebutan atau gelar yang biasa dilekatkan pada para kaum bangsawan.

– Sumber: http://mynewblogpuangta.blogspot.com/2017/04/beberapa-nama-gelar-bangsawan-bugis_18.html

Puang

Gelar puang ini lahir dari masyarakat bugis dengan konjo yang merupakan bentuk penghormatan kepada Tuhan yang maha kuasa Allah SWT yang biasa kita sebut Puang Allahu SWT atau Puatta marajae, Puang artinya penguasa, pemimpin serta pelindung.
Selain kata puang ini di pakai kepada sang pencipta dapat juga dilekatkan kepada manusia-manusia yang dimuliakan oleh Allah SWT, baik itu nabi raja serta yang lainnya yang merupakan Khalifah diatas muka bumi dengan memperlihatkan sifat-sifat yang baik, bijak, dan adil terhadap yang lainnya. Bila menyandang gelar puang ini tentunya mampu di jaga gelarnya dengan kata lain reputasi kepuangannya apalah arti gelar puang bila tidak bisa dijaga dengan baik. Puang adalah panutan yang mulia, pemimpin, serta pelindung Sang Puangta yang dipertuan agung bagi orang makassar sederajat dengan Karaeng kemudian dari puang-lah lahir kata punggawa, pungkaha yang artinya pemimpin dalam satu rombongan atau kelompok orang.

Datu’ (datuk) dato’

Gelar datu’ ini adalah biasanya dilekatkan pada kakek bangsawan yang telah menjadi raja dan juga sebagian daerah yang ada di sulawesi selatan datu’ dapat di jadikan sebagai simbol kesultanan yang dikuasai oleh seorang datu’ tergantung dari Adat daerah masing-masing. Selain itu gelar datu’ juga biasa dilekatkan pada seorang guru besar atau para ulama besar di era penyebaran islam, seperti gelar para ulama dari minangkabau yang menyiarkan Islam di bumi CELEBES yaitu Datu’ ri Tiro, Datu’ Bandang dan Datu’ Patimang.

Karaeng

Gelar ini biasa digunakan oleh para kaum bangsawan orang-orang makassar diperuntukkan khusus panggilan kepada raja beserta para turunannya gelar karaeng ini sederajat dengan gelar Puang dimana gelar karaeng ini juga biasa digunakan untuk kepada yang maha kuasa yaitu karaeng Allahu SWT dan juga kepada orang-orang yang mendapat kemulian dari Allah SWT. Hanya raja dan turunannya yang biasa memakai gelar ini (orang bangsawan).

Tetta, Petta, (etta)

Gelar ini biasa disebut atau diartikan sebagai gelar kerabat bangsawan panggilan khusus bagi kerabat bangsawan bugis, konjo, makassar. Panggilan Tetta/Petta atau biasa dipendekkan menjadi sebutan Etta adalah gelar yang segolongan atau semarga satu arti yang sama gelar tetta biasanya digunakan oleh orang makassar dan sebagian orang konjo bagi kalangan bangsawan. Tetta biasa dilekatkan pada sang ayah atau paman bangsawan bukan untuk perempuan dan jika digunakan perpendekan kata menjadi etta maka kedua-

nya bisa berlaku yaitu pada ibu serta ayah dan seluruh keturunannya, sedang Petta dapat digunakan seluruh kerabat bangsawan mulai dari sang ayah serta sampai anggota keluarga lainnya (kerabatnya).
Gelar petta biasanya digunakan oleh orang-orang bangsawan bugis dan juga sebagian orang konjo.

Opu dan Bau

Gelar opu biasanya digunakan oleh orang bangsawan luwu dan selayar dan juga sebagian daerah lainnya. Kata Opu lahir dari kata puang yang dapat dipanggil menjadi Opuang. Kata O menunjukkan panggilan dan kata puang menunjukkan orang yang dipanggil atau yang disebut kata opuang ini kemudian dipendekkan dengan kata Opu. Kata Bau ini dapat disamakan atau diartikan dengan kata opu suatu kata atau sebutan yang menandakan bahwa orang tersebut dari kaum bangsawan.

Daeng Pa’daenganna

Sebutan daeng ini bisa dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tua atau panggilan kepada kakak kita atau seusia kita dan juga biasa digunakan kepada orang-orang yang dianggap sebagai kakak kandung kita. Kata daeng ini sebagai bentuk penghalusan kata yang tadinya dipanggil Si Anu atau Si tukang atau Si sopir serta yang lainnya dan dapat diganti dengan kata Daeng itu.
Daeng ini jadi kata Daeng adalah suatu bentuk penghalusan panggilan yang mengandung rasa sopan menghargai serta menghormati orang tersebut. Walaupun orang itu kerjaannya di bawah dari kita, selain itu kata daeng ini juga dipakai sebagai panggilan umum bagi orang-orang makassar sama halnya orang jawa dengan panggilan Mas dan orang sumatera dengan panggilan Abang.
Daeng inilah yang menjadi simbol atau ciri khas suku makassar. Daeng dapat digunakan oleh para kaum orang-orang to maradeka sampai pada para turunan raja atau kaum bangsawan, daeng dapat digunakan dengan istilah nama pa’daengan, nama yang terdapat unsur Do’a di dalamnya atau suatu julukan serta sifat yang baik dan julukan keberanian dalam nama nya itu, seperti pahlawan dari Makassar Sultan Hasanuddin nama daengnya adalah Karaeng Mallombasi Daeng Mattawan serta yang lainnya Karaeng I Makkulau Daeng Serang, Kr Ranggong Daeng Romo.

Andi

Gelar atau sebutan ini baru dibudayakan di masa kekuasaan pemerintahan colonial Belanda atau PKB, dimana pada masa itu sekitar abad ke-19 dimasa peralihan kekusaan era kejayaan La Mappanyukki, para bangsa penjajah atau belanda menginginkan agar orang-orang bangsawan bugis makassar konjo dapat diberi tanda ata gelar kebangsawanannya dan diberilah dengan kata andi yang ada di depan nama bagi semua turunan bangsawan, pada masa itu, sebagai bentuk penandaan bahwa orang tersebut berasal dari turunan bangsawan yang lahir dari para Puan serta Karaeng yang selaku dipertuan Agung. Namun arti sesungguhnya Andi adalah adik atau adinda atau dengan kata lain bangsawan muda.


 

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: