Boti, kerajaan / P. Timor – prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Boti terletak di pulau Timor, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, prov. Nusa Tenggara timur.

The kingdom of Boti is located on the island of Timor, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, prov. Nusa Tenggara timur.
For english, click here

kab. Timor Tengah Selatan

———————-
Lokasi pulau Timor


* Foto kerajaan Boti: link
* Video Suku Boti: link

* Foto raja-raja sekarang di Timor: link
* Foto raja-raja dulu di Timor: link

* Foto situs kuno pulau Timor: link
* Foto suku Timor: link


Tentang raja kerajaan Boti (2021)

Raja sekarang (2021): Usif Namah Benu; ayahnya Usif Nune Belu wafat maret 2005.
Secara adat, Bapa Raja memimpin 585 kepala keluarga atau 2197 jiwa. Secara keyakinan, pengikutnya hanya 318 jiwa dengan 76 kepala keluarga.

Maret 2005
Raja Boti, Usif Nama Benu, yang menggantikan ayahnya, Usif Nune Benu yang wafat pada bulan Maret 2005 silam. Usif ialah sebutan atau gelar yang diserahkan Suku Boti terhadap raja mereka yang adalah pemimpin adat dan spiritual penduduk Boti.
Sejak meninggalnya Usif Nune Benu, orang Boti menjalani masa berkabung. Selama tiga tahun lamanya, orang Boti tidak menyelenggarakan pesta-pesta adat. Berdasarkan keterangan dari sang Raja baru, Usif Nama Benu, seringkali mereka mengadakan pekerjaan pesta adat seusai panen, tetapi saat-saat masa berkabung ditiadakan untuk memuliakan sang ayah.

2021: Raja Boti, Nama Benu

——————
Almarhum Raja Boti Usif Nune Benu, wafat 2005


Sejarah kerajaan Boti

Boti adalah desa adat yang merupakan kerajaan terakhir di Pulau Timor. Berlokasi di kawasan terpencil Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, membuat desa adat Boti sulit dijangkau dan seolah terpisah dari peradaban.
Masyarakat Boti merupakan keturunan suku Atoni Metu, suku asli Pulau Timor.

Sama halnya dengan suku Baduy, masyarakat Boti juga terbagi menjadi dua bagian, yaitu Suku Boti Dalam dan Suku Boti Luar. Masyarakat Boti Dalam masih memegang teguh nilai-nilai adat leluhur mereka, seperti masih tinggal di area tersendiri yang berpagar kayu, lelaki yang sudah menikah dilarang memotong rambut, hingga aturan adat yang membatasi akses anak-anak mereka belajar di sekolah formal.
Warga Boti Dalam tinggal di areal seluas 3.000 meter persegi yang dikelilingi pagar kayu.

Boti terbagi menjadi dua, yakni Boti Dalam dan Boti Luar. Jumlah penduduk Boti Dalam sekitar 77 Kepala Keluarga atau 319 jiwa, sedangkan Boti Luar sekitar 2.500 jiwa. Hanya Kampung Adat Boti Dalam yang mewarisi dan mempraktikkan tradisi lokal dan agama asli yang disebut Uis Neno Ma Uis Pah, dewa langit dan bumi.

Warga Boti Dalam masih menganut kepercayaan bercorak animism yang disebut Halaika. Mereka percaya pada dua penguasa alam yaitu Uis Pah dan Uis Neno. Uis Pah merupakan mama atau ibu yang mengatur, mengawasi, dan menjaga kehidupan alam semesta beserta isinya termasuk manusia. Uis Pah disebut juga sebagai Dewa Bumi.
Warga Boti Luar beragama Kristen Protestan dan Katolik.

Berdiri di tengah: Raja Boti 


Istana (Sonaf) kerajaan Boti

Istana raja Boti adalah sebuah rumah semi permanen, berbeda dari rumah warga pada umumnya yang tinggal di Ume Kbubu, rumah tradisional Timor  berbentuk kubah, beratap alang-alang. Tak ada kemewahan yang tampak di sana, selayaknya istana raja. Beberapa foto , hiasan dan piagam penghargaan terpasang di dinding.
Kondisi lingkungan istana benar – benar asri, sangat kontras dibandingkan dengan hamparan bukit – bukit gersang yang baru kami lewati. Aturan yang ketat soal menjaga relasi dengan alam, membuat warga Boti menjaga alam mereka tetap asri, dan lingkungan tempat tinggal yang selalu bersih dari sampah.
Istana kerajaan Boti memiliki belasan bangunan yang berdinding pelepah gewang dan beratap ilalang, serta berlantai batu atau tanah. Namun ada satu bangunan istana yang berdinding semen dan dibangun pada tahun 1978 untuk menerima tamu kerajaan.


Sejarah kerajaan-kerajaan di pulau Timor

Pulau Timor dihuni sebagai bagian dari migrasi manusia yang telah membentuk Australasia secara lebih umum. Pada tahun 2011, bukti ditemukan pada manusia di Timor Timur pada 42.000 tahun yang lalu, di lokasi gua Jerimalai.
Sekitar 3000 SM, migrasi kedua membawa orang Melanesia. Orang-orang Veddo-Australoid sebelumnya mengundurkan diri saat ini ke pedalaman pegunungan. Akhirnya, proto-Melayu tiba dari Cina selatan dan Indocina utara.

Catatan sejarah paling awal tentang pulau Timor adalah Nagarakretagama abad ke-14, Canto 14, yang mengidentifikasi Timur sebagai pulau di dalam wilayah Majapahit. Timor dimasukkan ke dalam jaringan perdagangan Jawa, Cina, dan India kuno pada abad ke-14 sebagai pengekspor cendana aromatik, budak, madu dan lilin, dan diselesaikan oleh Portugis, pada akhir abad ke-16, dan Belanda, yang berbasis di Kupang, pada pertengahan abad ke-17.

Pulau Timor dijajah oleh Portugis pada abad ke-16; mengklaim pada tahun 1520. Para pelaut Portugis mungkin pertama kali tiba di Timor Timur sekitar tahun 1514. Penjelajah Eropa menemui beberapa kerajaan kecil di awal abad ke-16. Yang paling penting adalah Wehale di Timor Tengah.  Pada waktu itu, lereng-lereng bukit diliputi hutan kayu cendana. Perdagangan kayu cendana sangat menguntungkan, dan pohon-pohon ini saja sudah cukup menjadi alasan bagi orang Portugis untuk mendirikan pos perdagangan. Gereja Katolik juga berminat pada daerah itu dan ingin mengirim para misionaris untuk menobatkan penduduk pribumi. Kedua faktor ini menggerakkan orang Portugis untuk mulai menjadikan pulau ini jajahan mereka pada tahun 1556.
VOC Belanda tiba pada tahun 1640, mendesak Portugis ke Timor Lorosa’e dan bentuk koloni Belanda-Timor.
Pertengkaran antara Belanda dan Portugal akhirnya menghasilkan sebuah perjanjian tahun 1859 dimana Portugal menyerahkan bagian barat pulau tersebut ke Belanda.

 Zaman kebangkitan nasional (1900-1942)

Pada masa sesudah tahun 1900, kerajaan-kerajaan yang ada di Nusa Tenggara Timur pada umumnya telah berubah status menjadi status menjadi Swapraja. Swapraja-swapraja tersebut, 10 berada di Pulau Timor (Kupang, Amarasi, Fatuleu, Amfoang, Molo, Amanuban, Amanatun, Mio mafo, Biboki, Insana). Swapraja-swapraja tersebut terbagi lagi menjadi bagian-bagian yang wilayahnya lebih kecil. Wilayah-wilayah kecil itu disebut Kafetoran-kafetoran.

Lopo, bangunan tempat warga Boti berkumpul

Zaman pemerintahan Hindia Belanda

Wilayah Nusa Tenggara Timur pada waktu itu merupakan wilayah hukum dari keresidenan Timor dan daerah takluknya. Keresidenan Timor dan daerah bagian barat (Timor Indonesia pada waktu itu, Flores, Sumba, Sumbawa serta pulau-pulau kecil sekitarnya seperti Rote, Sabu, Alor, Pantar, Lomblen, Adonara, Solor).

Keresidenan Timor dan daerah takluknya berpusat di Kupang, yang memiliki wilayah terdiri dari tiga afdeling (Timor, Flores, Sumba dan Sumbawa), 15 onderafdeeling dan 48 Swapraja. Afdeeling Timor dan pulau-pulau terdiri dari 6 onderafdeeling dengan ibukotanya di Kupang. Afdeeling Flores terdiri dari 5 onder afdeeling dengan ibukotanya di Ende. Yang ketiga adalah Afdeeling Sumbawa dan Sumba dengan ibukota di Raba (Bima). Afdeeling Sumbawa dan Sumba ini tediri dari 4 oder afdeeling.

Keresidenan Timor dan daerah takluknya dipimpin oleh seorang residen, sedangkan afdeeling di pimpin oleh seorang asisten residen. Asisten residen ini membawahi Kontrolir atau Controleur dan Gezaghebber sebagai pemimpin Onder afdeeling. Asisten residen, kontrolir dan gezaghebber adalah pamong praja Kolonial Belanda. Para kepala onder afdeling yakni kontrolir dibantu oleh pamong praja bumi putra ber pangkat Bestuurs assistant. (Ch. Kana, 1969,hal . 49-51).

Zaman kemerdekaan (1945-1975).

Setelah Jepang menyerah, Kepala Pemerintahan Jepang (Ken Kanrikan) di Kupang memutuskan untuk menyerahkan pemerintahan atas Kota Kupang kepada tiga orang yakni Dr.A.Gakeler sebagai walikota, Tom Pello dan I.H.Doko. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena pasukan NICA segera mengambil alih pemerintahan sipil di NTT, dimana susunan pemerintahan dan pejabat-pejabatnya sebagian besar adalah pejabat Belanda sebelum perang dunia II.
Dengan demikian NTT menjadi daerah kekuasaan Belanda lagi, sistem pemerintahan sebelum masa perang ditegakkan kembali. Pada tahun 1945 kaum pergerakan secara sembunyi-sembunyi telah mengetahui perjuangan Republik Indonesia melalui radio. Oleh karena itu kaum pegerakan menghidupkan kembali Partai Perserikatan Kebangsaan Timor yang berdiri sejak tahun 1937 dan kemudian berubah menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Perjuangan politik terus berlanjut, sampai pada tahun 1950 dimulai pase baru dengan dihapusnya dewan raja-raja. Pada bulan Mei 1951 Menteri Dalam Negeri NIT mengangkat Y.S. Amalo menjadi Kepala Daerah Timor dan kepulauannya menggantikan H.A.Koroh yang wafat pada tanggal 30 Maret 1951. Pada waktu itu daerah Nusa Tenggara Timur termasuk dalam wilayah Propinsi Sunda Kecil.


Peta-peta kuno P. Timor

Klik di sini untuk peta kuno P. Timor tahun 1521, 1550, 1600, 1650, 1700-an, 1733, 1762, 1900, 1902.

Timor tahun 1521


Sumber

– Tentang kerajaan Boti: http://lifestyle.liputan6.com/read/2277971/kerajaan-boti-di-pulau-timor-yang-diteropong-dari-langit
– Tentang kerajaan Boti: https://travel.tempo.co/read/1151952/mengenal-kerajaan-boti-ntt-yang-memegang-teguh-adat-dan-tradisi/full&view=ok
Tentang kerajaan Boti: http://www.acehkita.com/boti-kerajaan-terakhir-di-timor/
Suku Boti: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Boti
Sejarah Boti dan istana: link


 Kerajaan-kerajaan di Timor tahun 1900

 


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: