Sejarah lengkap negeri Waai

Info di bawah diambil dari: https://sejaranegeriwaai.wordpress.com/2016/02/05/httpssejaranegeriwaai-files-wordpress-com201602sejarawaai-pdf/

———————————————-

SEJARAH NEGERI WAAI

Menurut cerita tua-tua adat, para leluhur orang Waai berasal dari Seram dan juga dari Jawa (Tuban). Leluhur pertama orang Waai berasal dari Seram kemudian tiba di pesisir timur Pulau Ambon dan mendaki gunung Salahutu yang pada waktu itu tidak berpenduduk dan membentuk pusat-pusat pemukiman. Pemukiman di gunung Salahutu terdiri dari 7 (tujuh) eri atau kampung. Menurut cerita pada waktu dulu Pulau Seram dan Pulau Ambon merupakan sebuah pulau besar.
Alkisah, ada seorang laki-laki bernama Numete (versi lain: Paumete) berasal dari Seram (Nunusaku) tiba di gunung Salahutu untuk pertama kalinya. Ketika itu pulau Ambon dan pulau Seram masih tersambung (bersatu).
Kemudian Pumete kembali pulang ke Seram dan menjemput saudara perempuannya yang bernama Isamete, lalu mereka berdua berjalan menuju Salahutu. Setelah tiba di Salahutu Paumete kemudian mengawini adik perempuannya itu. Setelah lama mencari Isamete, orang tua kedua bersaudara ini mendengar berita bahwa kedua

kakak-beradik ini telah kawin. Hal ini membuat orang tua meraka sangat marah dan menyumpahi keduanya. Akibat dari sumpahan (kutukan) itu Pulau Seram dan Pulau Ambon terputus (terpisah) menjadi dua pulau.
Kedua kakak beradik itu merupakan penduduk pertama di gunung Salahutu. Setelah beranak cucu mereka membangun pemukiman yang diberi nama Simalopu (panah dan tombak). Setelah keturunan mereka bertambah banyak mereka pindah ke tempat baru yang bernama Tuangela (Tuhan hela). Salah satu keluarga berpisah dari keluarga besar dan tinggal di tempat yang bernama Eluhu. Eluhu ini kemudian tumbuh menjadi eri pertama di gunung. Penduduk di Tuangela kemudian lenyap entah kemana.
Setelah itu terbentuk kampong (Eri) kedua yaitu Eri Nani yang dibangun oleh mata rumah Reawaru yang terdiri dari sembilan keluarga dari tiga orang kapitan yaitu: Panta, Masahehe, dan Spatenu. Mereka datang dari Kelawaru (Seram), hanyut dengan sebatang kayu besar dan terdampar di muara sungai pantai Waai. Mereka terharu dan menangis karena selamat tiba di muara sungai di pantai. Sungai itu diberi nama Waimata artinya air mata.
Mereka melanjutkan perjalanan menyusur pantai ke arah selatan sampai munculnya fajar di ufuk timur. Pantai ini mereka namai Putihesi yang artinya cahaya putih. Perjalanan dilanjutkan menyusur hutan, karena kelelahan mereka beristirahat di suatu tempat yang bernama Usmusim. Sementara beristirahat mereka bertemu dengan seorang dari kampong Eluhu yang turun ke pantai mencari bia (siput). Orang ini kembali ke kampungnya dan memberitahukan perjumpaan ini kepada pemimpinnya, Nuhurela. Kemudian orang-orang yang datang dari Kelewaru ini dipanggil dan diberi sebuah tempat untuk bermukim yang dinamai Pauresi. Tempat itu tidak begitu aman, maka mereka berpindah ke Amusala. Dari Amusala mereka berpindah lagi ke tempat yang lebih baik dan aman yang dinamai Eri Nani di sebelah selatan Eri Eluhu. Di Eri Nani mereka menetap untuk seterusnya, dan tempat ini merupakan kampung kedua.
Beberapa waktu kemudian tiba pula pendatang dari Seram yang dikenal sebagai mata rumah Matakupan dengan menaiki sebuah gusepa (rakit). Mereka naik ke gunung dan bertemu dengan tokoh (Upu) Nahurela dari kampong atau Eri Eluhu. Nuhurela menunjuk suatu tempat untuk mereka bermukim yang dinamai Eri Pokingsaung yang merupakan eri atau negeri ketiga. Kemudian muncul lagi pendatang baru dari Seram yang dikenal sebagai mata rumah Pattimukay, tempat pemukiman mereka dinamai Patingsaung. Ini merupakan kampung (eri) yang keempat.

Tidak berapa lama muncul kelompok pendatang lain dari Seram yang dikenal sebagai mata rumah Taihitu yang mendirikan negeri atau Eri kelima yang bernama Hunimua yang terletak di sebelah timur laut Eri Paking Saung. Kemudian Eri keenam yakni Amalaing yang ditunjuk Nuhurela didiami oleh mata rumah Tuanahu yang terletak agak ke selatan dari Eri Hunimua. Yang terakhir yaitu Eri yang ketujuh adalah Eri Amaheru yang didiami mata rumah Tuasela, letaknya agak ke selatan Eri Amaliang. Ketujuh negeri atau Eri di gunung Salahutu ini masing-masing dipimpin oleh seorang pemimpin yang bergelar raja, akan tetapi nama-nama mereka tidak dikenal secara jelas.
Meskipun masing-masing raja berkuasa secara otonom di negeri masing-masing, namun mereka tunduk kepada kuasa Sultan Nuhurela yang pada saat itu berkedudukan di Eri Eluhu. Dengan kepemimpinan sultan ini, dapat disimpulkan bahwa ketujuh negeri di gunung Salahutu telah memeluk agama Islam pada saat itu. Di Eri Nani terdapat sebuah mesjid.
Pada abad ke-17 datanglah orang-orang Belanda, dan negeri-negeri ini menjadi Kristen melalui usaha para zending. Pada saat itu ada seorang pendeta Belanda dari negeri Rumahtiga yang bernama Pendeta Hoeden Horen (informasi lain mengatakan: pendeta van Horen) bersama dua orang pembantunya menjalankan tugas mereka menyebarkan Injil dan mereka menuju pegunungan Salahutu. Yang menunjuk jalan ke Salahutu adalah seorang bernama Loidrikus (informasi lain mengatakan bahwa Lodrikus adalah fam dari kedua pembantu pendeta).
Sebelum berangkat kedua pembantu pendeta itu menyediakan perbekalan, antara lain sebuah bakul besar berisikan ikan dan air, yang akan digunakan sebentar sebagai air baptisan. Mendekati negeri atau Eri Nani, si pendeta dimasukkan dan disembunyikan di dalam bakul bersama-sama dengan ikan dan air baptisan. Pendeta dan air baptisan diletakkan pada dasar bakul, dan ikan-ikan ditaruh menutup di atas bakul. Mereka tiba di kampung Nani tepat hari jumat, di mana penduduk sedang sembahyang di mesjid. Bakul misterius itu telah diletakkan kedua pembantu pendeta di depan mesjid. Pada saat selesai sembahyang dan para jamaah keluar meninggalkan mesjid, para pembantu pendeta itu berteriak menjajakan jualan ikannya itu. Serentak saja mereka telah dikelilingi para jamaah untuk membeli ikan, sebab bagi penduduk yang bermukim di pegunungan, ikan merupakan makanan yang jarang diperoleh. Namun tak terduga si pendeta keluar dari dalam bakul dan segera memercikkan air baptisan ke arah jamaah tersebut. Yang terkena percikan air tinggal di tempatnya, sedangkan yang tidak kena percikan air melarikan diri berhamburan ke segala penjuru. Ada yang lari ke arah timur lalu menyeberang ke Kailolo di Pulau Haruku, lari ke sebelah barat menuju Wakal dan Morela, lari ke utara menuju negeri Liang, dan lari ke selatan menuju negeri Tulehu.
Yang ke utara bersembunyi di dalam gua-gua (liang) dan mencari tempat tinggal mereka yang baru, serta menamai tempat yang baru ini dengan nama Negeri Liang. Mata rumah yang pindah ke Negeri Liang antara lain: mata rumah Tualauruw yang berganti nama menjadi Rehalat, mata rumah Kayadoe menjadi Lessy, mata rumah Talaperuw menjadi Opier.
Sedangkan yang melarikan diri ke arah selatan, mereka berkumpul pada satu tempat di bawah pohon-pohon yang di atasnya banyak sarang burung nuri (toi). Mereka memberi nama tempat itu Tuirehu atau Moirehu (tempat burung toi), dan kemudian berubah nama menjadi Tulehu. Mata rumah yang lari ke Tuirehu adalah mata rumah Tuanahu yang berganti nama dengan Nahumarury dan mata rumah Salamony menjadi Tuasalamony.
Yang lari ke arah barat menuju Wakal dan Morela, terus ke Rumahtiga, Hative dan Wayame. Di Morela, Salamony berubah menjadi Sasole, Renalaiselan menjadi Lauselan, Reawaruw menjadi Sialara, sedangkan di Wakal Reawaruw menjadi Lemaru. Yang lari ke timur menuju Kailolo di Pulau Haruku menurunkan mata rumah Marasabessy. Sedangkan mereka yang terkena air baptisan tetap tinggal di tujuh kampung/ negeri dan menjadi pemeluk agama Kristen.
Setelah tinggal beberapa lama di pegunungan itu, ketujuh kampung/negeri ini dianjurkan oleh pendeta van Horen untuk turun dan berdiam di tepi pantai karena di sanalah semua kebutuhan hidup dapat terpenuhi dengan baik. Mereka kemudian berkumpul di negeri Nani dan bermusyawarah untuk turun ke pantai.
Meskipun bersepakat untuk turun ke pantai, perintisan dan pencarian tempat pemukiman yang baik belum juga ditemukan. Namun ada beberapa tempat yang sudah diincar tapi letaknya tidak strategis karena dikelilingi sungai besar-besar yang sewaktu- waktu bisa banjir dan membahayakan. Sampai Sultan Nuhurela (sumber lain mengatakan: Sultan Nahusela) meninggal, mereka selalu gagal untuk turun ke pantai sebab kondisinya tidak sesuai dengan yang diharapkan mereka.
Sultan Nuhurela digantikan oleh anaknya moyang Johanis Tuhalauruw. Moyang Johanis mulai mengambil prakarsa untuk mencari tempat pemukiman yang baik. Ia mengambil tombak pusakanya dan sebuah kiming (kelopak kering bunga kelapa) diikatkan pada tombak tersebut. Kiming dibakar dan tombak itu dilemparkan menuju sasarannya dan tertancap di sebuah daratan yang agak berbukit karang. Tombak tersebut dicari dan ditemukan, dan pada waktu dicabut oleh Tuhalauruw keluar air yang bening menjadi sebuah mata air yang diberi nama Ula Mata (tanda mata dari Upu Ula) yaitu moyang Johanis. Tombak pusaka itu diberi nama tombak negeri karena tombak itu digunakan dalam mencari tempat untuk mendirikan negeri. Sedangkan air yang keluar itu kemudian namanya menjadi Waiselaka (waai = air; selaka = perak).
Setelah itu mereka kembali ke gunung untuk mengatur proses turun ke pantai. Melalui musyawarah maka raja kampung negeri Nani ditentukan menjadi pemimpin mereka di negeri yang baru nanti. Ia adalah moyang Barnadus Reawaruw, dan negeri baru di tepi pantai ini diberi nama Waai yang artinya negeri yang diapit oleh sungai-sungai besar yang bersumber dari gunung Salahutu.

Pada waktu itu di pantai terdapat 4 keluarga, yakni Matapere, Bakarbessy, Lumasina, dan Tahitu. Ketika Barnadus dan rombongan tiba di pantai, mereka memilih raja untuk memimpin mereka, yakni salah satu dari keempat keluarga ini. Mereka memilih Matapere, tetapi karena saat dipanggil Belanda untuk menghadap, Matapere enggan menghadap, dan sebagai gantinya yang menghadap adalah Bakarbessy, maka kedudukan Raja berpindah ke tangan Bakarbessy. Setelah Bakarbessy memangku jabatan dan memimpin dengan gelar Upu Latu Lehusinaputih, ketujuh eri/negeri dari gunung ini dibagi dalam 3 kelompok soa, yaitu Soa Risama (Eri Eluhu dan Eri Nani), Soa Patihutu (Eri Pokingsaung dan Eri Patingsaung), dan Soa Rumalai (Eri Hunimua, Eri Amalaing dan Eri Amaheru).
Pada masa-masa itu Waai adalah sebuah kampung/negeri Kristen yang tua. Ketika itu Waai sering bermusuhan dengan kampung-kampung Islam, mereka berperang sampai di Baguala. Sejak tahun 1633 mereka diserang Kimelaha Luhu dari Seram dan berperang dengan orang Islam Hitu. Mereka dipaksa untuk tinggal di benteng kota Laha. Pada suatu saat mereka turun dari negeri di gunung dan mendiami pesisir pantai pasir putih yang indah yang diberi nama Putiressi pada daratan dimana mengalir Aer Pera, yang terletak di belakang negeri, dan airnya bersumber dari air terjun yang dingin dan sejuk. Disebut demikian karena air tersebut berkilauan seperti perak.
Pada waktu itu negeri Waai diperintah oleh orang kaya Johan Bakarbessy, yang merupakan tokoh ke 12 yang duduk dalam Landraad. Pada tahun 1656 ia dibuang ke pulau Rossingyu di Banda, karena membuat kerusuhan di pegunungan dengan penyembahan kepada batu Ulisiwa yang dianggap sebagai aliran kepercayaan perserikatan ulisiwa. Dia digantikan oleh orang kaya Manuel Cayado (kayadoe). Orang-orang Waai terlibat peperangan hebat dengan orang-orang Hitu di Potalattu pantai Hunimua.