Anak Sungai, kerajaan / Sumatera – Prov. Bengkulu

Kerajaan Anak Sungai terletak di bagian utara wilayah Bengkulu, prov. Bengkulu,  sekarang wilayahnya terdiri dari lembah-lembah Sungai Menjunto di utara sampai Air Urai di Selatan.

Kingdom of Anak Sungai is located in the northern part of province of Bengkulu; now its territory consists of the valleys of the Menjunto River in the north to the Water of Urai in the South.
For english, click here

Provinsi Bengkulu


* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link

* Foto raja-raja di Simalungun dulu: link
* Foto raja-raja kerajaan kecil di Aceh dulu: link
* Foto suku Minangkabau: link
* Foto suku Batak: link
* Foto situs kuno di Sumatera: link


Sejarah kerajaan Anak Sungai

Secara tradisional Kerajaan Anak Sungai dianggap sebagai rantau dari Kerajaan Minangkabau, dan pada permulaan abad ke-17 merupakan provinsi dari Kerajaan Indrapura di bawah Sultan Muzaffar Syah (1620-1660). Rakyatnya terdiri dari penduduk asli dusun yang terkenal dengan sebutan Suku Anak Sungai, anak pesisir yang menetap disitu membuka ladang padi sambil berkebun lada, yaitu sejumlah kecil orang Palembang dan Jambi. Adapun mayoritasnya adalah orang-orang Padang Darat yang banyak berdiam di pasar sebagai pedagang.

Pada tahun 1663 Kerajaan Indrapura membuat perjanjian dagang dengan VOC. Pada pertengahan abad ke-17, Kerajaan Anak Sungai masih di bawah Kerajaan Indrapura, yang wakilnya berkedudukan di Manjuto dengan menyandang gelar Raja Adil, yaitu Tuanku Sungut, kemenakan laki-laki Sultan Muhammad Syah.

Selama abad ke-17 timbul hasrat pada rakyat Kerajaan Anak Sungai untuk memisahkan diri dari kekuasan Sultan Indrapura. Keinginan ini disokong Raja Adil. Maka timbullah kerusuhan politik di wilayah Anak Sungai yaitu gerakan memisahkan diri dari kekuasaan Indrapura yang dipimpin kerabat Sultan Muhammad Syah yang mewakilinya di wilayah Anak Sungai. Yaitu Tuanku Sungut dan Tuanku Di Bawa Pauk (Raja Kecil Besar).

– Sumber dan sejarah lengkap: http://blogkasihpunya.blogspot.nl/2017/01/kerajaan-anak-sungai-bengkulu.html


Sejarah kerajaan-kerajaan di Bengkulu

Di Bengkulu dahulunya pernah berdiri kerajaan – kerajaan yang berdasarkan etnis/suku, seperti:

Kerajaan Anak Sungai
Kerajaan Sungai Serut,
Kerajaan Selebar,
Kerajaan Pat Petulai,
Kerajaan Balai Buntar,
Kerajaan Sungai Lemau,
Kerajaan Sekiris,
Kerajaan Gedung Agung,
Kerajaan Marau Riang.
Kerajaan Kaur
Kerajaan Muko Muko
Kerajaan Pepinau
Kerajaan Serawai
Kerajaan Sungai Hitam

Wilayah Bengkulu pernah menjadi sasaran kerajaan Budha Sriwijaya pada abad ke-8. Kerajaan Shailendra dan Kerajaan Singosari menggantikan Sriwijaya tetapi tidak jelas apakah mereka menyebarkan pengaruhnya atas Bengkulu. Majapahit juga memiliki sedikit pengaruh atas Bengkulu.

Sampai pada akhir abad ke-15 kerajaan-kerajaan di daerah Bengkulu berada di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit yang mengalahkan Sriwijaya pada abad ke-13. Dalam periode ini kerajaan-kerajaan di daerah Bengkulu, khususnya di daerah Rejang Lebong, dipimpin oleh para biksu (pimpinan agama Budha) yang datang dari kerajaan Sriwijaya. Setelah kekuasaan Kerajaan Majapahit mundur pada pertengahan abad ke-16 kerajaan-kerajaan di daerah Bengkulu masuk ke dalam pengaruh Kesultanan Banten.

Di sebagian daerah Bengkulu ini, juga pernah berada dibawah kekuasaan Kerajaan Inderapura semenjak abad ke-17.
British East India Company (EIC) sejak 1685 mendirikan pusat perdagangan lada Bencoolen/Coolen yang berasal dari bahasa inggris “Cut Land” yang berarti tanah patah, karena daerah bengkulu ini merupakan daerah patahan gempa bumi yang paling aktif di dunia dan kemudian gudang penyimpanan di tempat yang sekarang menjadi Kota Bengkulu.

Pada waktu itu, ekspedisi EIC dipimpin oleh Ralph Ord dan William Cowley untuk mencari pengganti pusat perdagnagn lada setelah Pelabuhan Banten jatuh ke tangan VOC, dan EIC dilarang berdagang di sana. Traktat dengan Kerajaan Selebar pada tanggal 12 Juli 1685 mengizinkan Inggris untuk mendirikan benteng dan berbagai gedung perdagangan. Benteng York didirikan pada tahun 1685 di sekitar muara Sungai Serut.

Sejak 1714, dibangunlah sebuah benteng yang bernama Marlborough dan selesai dibangun pada tanun 1719 yang hingga sekarang masih berdiri. Namun, perusahaan ini lama kelamaan menyadari tempat itu tidak menguntungkan karena tidak menghasilkan lada dalam jumlah yang mencukupi.

Sejak dilaksanakannya Perjanjian London pada tahun 1824, Bengkulu diserahkan ke Belanda dengan imbalan Malaka sekaligus penegasan atas kepemilikan Tumasik/Singapura dan Pulau Belitung. Sejak perjanjian itu Bengkulu menjadi bagian dari Hindia Belanda.

Penemuan deposit emas didaerah Rejang Lebong pada paruh kedua abad ke-19 menjadikan tempat itu sebagai pusat penambangan emas hingga abad ke-20. Sekarang, kegiatan penambangan komersial telah dihentikan semenjak habisnya deposit.

– Sumber dan lengkap: https://id.wikipedia.org/wiki/Bengkulu


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (abad ke-16, 1522, 1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


Lihat juga

Tentang kerajaan kerajaan di Bengkulu: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumatera/bengkulu-tentang-kerajaan-kerajaan-di-bengkulu-sumatera-prov-bengkulu/

– Daftar kerajaan kerajaan di Bengkulu: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumatera/bengkulu-kerajaan-kerajaan-di-bengkulu-sumatera-prov-bengkulu/

Sumber

– Sejarah kerajaan Anak Sungai: http://blogkasihpunya.blogspot.nl/2017/01/kerajaan-anak-sungai-bengkulu.html
– Sejarah Bengkulu: http://juragansejarah.blogspot.nl/2011/12/sejarah-kota-bengkulu.html