Kaimana, kerajaan / Prov. Papua Barat – kab. Kaimana

Kerajaan Kaimana terletak di Kab. Kaimana, prov. Papua Barat.

The kingdom of Kaimana is located in District Kaimana, prov. Papua Barat.
For english, click here

Lokasi prov. Papua Barat

————————
Lokasi kab. Kaimana


* Foto foto kerajaan Kaimana: di bawah

* Foto raja-raja di Papua yang masih ada: link
* Foto kerajaan Papua dulu: link
* Foto situs kuno di Papua: link
* Foto suku suku Papua: link


Tentang Raja

Raja sekarang (2009): Rat Umis Abdul Hakim Achmad Aituarauw dari Kaimana.


Sejarah kerajaan Kaimana / Raja Komisi

Sejarah 1

Seorang Putera Mahkota Raja Komisi bernama Hakim Achmad Aituararauw menyebutkan bahwa kerajaan Islam pertama didirikan di Pulau Adi pada tahun 1626 dengan nama Eraam Moon, yang diambil dari bahasa Adi Jaya yang artinya “Tanah Haram”. Raja pertamanya bernama Woran.
Namun jauh sebelumnya pada abad ke XV (1460-1541) penguasa pertama di pulau Adi, Ade Aria Way, telah menerima Islam yang dibawa oleh Syarif Muaz yang mendapat gelar Syekh Jubah Biru, yang menyebarkan Islam di utara dan kawasan itu.
Namun sambutan positif lebih banyak diterima di pulau Adi dalam hal ini di daerah kekuasaan Ade Aria Way. Setelah masuk Islam Ade Aria Way berganti nama menjadi Samai. Kemudian Samai mencatat bahwa pada tahun 1760 Ndovin yang merupakan generasi kelima dari Samai mendirikan kerajaan Kaimana dan bertahta di sana dengan gelar Rat Umis As Tuararauw yang kemudian dikenal dengan nama Raja Komisi.
.
Sejarah 2
.
Kerajaan Kaimana dipimpin oleh Rat Sran, berarti Raja Sran atau Raja Komisi.
Kata Rat, dalam bahasa Indonesia berarti Raja. Sedangkan Sran adalah  nama   kerajaan dan wilayah kekuasaannya di Kaimana.Awalnya kerajaan ini cukup eksis, namun lambat laun memudar pengaruhnya, bahkan semakin terlupakan. Penelitian dengan metode sejarah mengungkapkan bahwa Kerajaan Sran berdiri tahun 1309. Raja pertama bernama Imaga yang bergelar Rat Sran Nati Patimunin I. Kerajaan ini berpindah tempat sebanyak tiga kali, yaitu dari Patimunin, Pulau Adi, dan Kota Kaimana. Kerajaan Sran hingga tahun 1440 mengalami perkembangan cukup pesat, namun selanjutnya mengalami degradasi kekuasaan akibat masuknya Tidore, konflik diantara keluarga kerajaan, serta perubahan sistim pemerintahan setelah masuknya pemerintah Belanda.

Sebelum masuknya Belanda, kekuasaan raja adalah mutlak. Namun ketika Tidore mulai melebarkan kekuasaannya dan melakukan hongi hingga ke  daerah ini, kekuasaan raja semakin menurun karena berada dalam bayang-bayang Tidore. Terlebih setelah terjadi perang saudara diantara keluarga  raja. Selama beberapa lama kerajaan ini vakum karena tidak ada raja. Raja  yang diangkat oleh Sultan Tidore pun tidak bertahan dan akhirnya vakum juga.

Tahun 1808, kerajaan ini bangkit kembali. Untuk sementara waktu dapat  berjalan dengan baik. Namun pada tahun 1898 setelah Nieuw Guinea    dinyatakan sebagai milik Belanda, terjadi berbagai perubahan politik yang   menyebabkan banyak terjadi perubahan dalam tatanan wilayah kekuasaan raja Kaimana yang  berdampak semakin mundurnya kekuasaan raja. Raja berkuasa atas rakyatnya namun bukan raja sendiri yang berkuasa atas rakyat tersebut karena raja maupun rakyatnya berada di bawah kekuasaan Belanda dan harus tunduk pada aturan Belanda.


Daftar raja Kaimana

Penguasa / Rulers (title Rat, from c.1898 Raja)

* …. – ….:  Umis I Imaga
* …. – ….:  Umis II Basir Onin
* …. – ….:  Umis III Woran
* 18..    – 1898: Umis IV Nduvin
* 1898 – 1923:  Umis V Naro’E
* 1923 – 1966:  Umis VI Achmad Aituarauw
* 1966 – 1980:  Umis VII Muh Achmad Rais Aituarauw (+1980)
* 1980 – …:       Umis VIII Abdul Hakim Achmad Aituarauw

– Sumber: http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states2.html
– Penjelasan raja Kaimana: http://aituarauw-kaimana.blogspot.co.id/2009/03/pasang-surut-para-raja-kaimana.html


Kerajaan kerajaan di Papua Barat

1) Kabupaten Kaimana

Kerajaan Aiduma
Kerajaan Kaimana
Kerajaan Kowiai/kerajaan Namatota

2) Kabupaten Fak Fak

Kerajaan Fatagar (marga Uswanas)
Kerajaan Rumbati (marga Bauw)
Kerajaan Atiati (marga Kerewaindżai)
Kerajaan Patipi
Kerajaan Sekar (marga Rumgesan)
Kerajaan Wertuar (marga Heremba)
Kerajaan Arguni

3) Kabupaten Raja Empat

Kerajaan Waigeo
Kerajaan Misool/Lilinta (marga Dekamboe)
Kerajaan Salawati (marga Arfan)
Kerajaan Sailolof/Waigama (marga Tafalas)
Kerajaan Waigama


Sejarah kerajaan-kerajaan di Papua

Menurut Kakawin Nagarakretagama yang ditulis antara bulan September-Oktober tahun 1365, daerah Wwanin/Onin (Kabupaten Fakfak) merupakan daerah pengaruh mandala Kerajaan Majapahit, kawasan ini mungkin bagian dari koloni kerajaan Hindu di Kepulauan Maluku yang diakui ditaklukan Majapahit.

Dalam bukunya “Neiuw Guinea”, WC. Klein juga menjelaskan fakta awal mula pengaruh kerajaan Bacan di tanah Papua. Di sana dia menulis: pada tahun 1569 pemimpin-pemimpin Papua mengunjungi kerajaan Bacan di mana dari kunjungan terebut terbentuklah kerajaan-kerajaan). Menurut sejarah lisan orang Biak, dulu ada hubungan dan pernikahan antara para kepala suku mereka dan para sultan Tidore. Suku Biak merupakan suku Melanesia terbanyak yang menyebar di pantai utara Papua, karena itu bahasa Biak juga terbanyak digunakan dan dianggap sebagai bahasa persatuan Papua. Akibat hubungan daerah-daerah pesisir Papua dengan Sultan-Sultan Maluku maka terdapat beberapa kerajaan lokal (pertuanan) di pulau ini, yang menunjukkan masuknya sistem feodalisme yang merupakan bukan budaya asli etnik Papua.

Di Kepulauan Raja Ampat yang terletak di lepas pantai pulau Papua terdapat empat kerajaan tradisional yang termasuk wilayah mandala kesultanan Bacan dan kesultanan Ternate, masing-masing adalah kerajaan Waigeo, dengan pusat kekuasaannya di Wewayai, pulau Waigeo; kerajaan Salawati, dengan pusat kekuasaan di Samate, pulau Salawati Utara; kerajaan Sailolof dengan pusat kekuasaan di Sailolof, pulau Salawati Selatan, dan kerajaan Misol, dengan pusat kekuasaan di Lilinta, pulau Misol.

Tahun 1660, VOC memang sempat menandatangani perjanjian dengan sultan Tidore di mana Tidore mengakui protektorat Belanda atas penduduk Irian barat. Perjanjian ini jelas meliputi penduduk kepulauan antara Maluku dan Irian. Yang jelas juga, Tidore sebenarnya tidak pernah menguasai Irian. Jadi protektorat Belanda hanya merupakan fiksi hukum.

Tidore menganggap dirinya atasan Biak. Pada masa itu, pedagang Melayu mulai mengunjungi pulau Irian. Justru pandangan Tidore ini yang menjadi alasan Belanda menganggap bagian barat pulau ini adalah bagian dari Hindia Belanda.

Sejak abad ke-16, selain di Kepulauan Raja Ampat yang termasuk wilayah kekuasaan Sultan Bacan dan Sultan Ternate, kawasan lain di Papua yaitu daerah pesisir Papua dari pulau Biak (serta daerah sebaran orang Biak) sampai Mimika merupakan bagian dari wilayah mandala Kesultanan Tidore, sebuah kerajaan besar yang berdekatan dengan wilayah Papua. Tidore menganut adat Uli-Siwa (Persekutuan Sembilan), sehingga provinsi-provinsi Tidore seperti Biak, Fakfak dan sebagainya juga dibagi dalam sembilan distrik (pertuanan).

Tahun 1826 Pieter Merkus, gubernur Belanda untuk Maluku, mendengar kabar angin bahwa Inggris mulai masuk pantai Irian di sebelah timur Kepulauan Aru. Dia mengutuskan rombongan untuk menjajagi pantai tersebut sampai Pulau Dolak. Dua tahun kemudian, Belanda membangun Fort Du Bus, yang sekarang menjadi kota Lobo, dengan tujuan utama menghadang kekuatan Eropa lain mendarat di Irian barat. Fort Du Bus ditinggalkan tahun 1836.

Tahun 1872, Tidore mengakui kekuasaan Kerajaan Belanda atasnya.

Belanda baru kembali ke Irian tahun 1898. Irian dibagi antara Belanda, Jerman (bagian utara Irian timur) dan Inggris (bagian selatan Irian timur). Garis busur 141 diakui sebagai batas timur Irian barat. Pada 1898 – 1949, Papua bagian barat dikenal sebagai Nugini Belanda.


Peta-peta kuno Papua

Untuk peta-peta kuno Papua tahun, 1493, 1600, 1699, 1700-an, 1740, 1857 1857, klik di sini

Peta tahun 1493


Sumber

Sejarah kerajaan Kaimana: http://brainly.co.id/tugas/161673
– Sejarah kerajaan Kaimana: https://threadreaderapp.com/thread/1265962921370087424.html

– Sejarah kerajaan Kaimana: https://jurnalarkeologipapua.kemdikbud.go.id/index.php/jpap/article/view/45/43
Daftar Raja Kaimana: http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states2.html
————————–

Sejarah kerajaan2 Papua Barat: https://id.wikipedia.org/wiki/Papua_Barat_%28wilayah%29
– Kerajaan2 Islam di Papua: http://www.gurusejarah.com/2015/01/kerajaan-kerajaan-islam-di-papua.html
– Kerajaan2 di Semenanjung Onin: https://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Onin
– Sistem kerajaan2 tradisional di Papua: http://papuaweb.org/dlib/s123/mansoben/05.pdf
– Sejarah kerajaan2 di Papua Barat: http://marlinapuspita3.blogspot.co.id/2013/11/papua-barat-wilayah_22.html
– Kerajaan2 di Semenanjung Bomberai: https://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Bomberai
Kerajaan2 di kepulauan Raja empat: https://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Raja_Ampat
– Sejarah kepulauan Raja empat: http://www.marikoworld.com/travels/indonesia/raja-ampat/


Foto foto

Marriage in the raja family of Kaimana. A son of the raja of Kaimana marries.

———————
Raja Rat Umis VIII Abdul Hakim Achmad

———————
Raja Rat Umis VII Muhammad Achmad Aituarauw

———————
Raja Rat Umis VI Achmad Aituarauw

———————

Raja Umis Abdul Hakim Achmad Aituarauw of Kaimana


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

<span>%d</span> bloggers like this: