Arosbaya, kerajaan / Madura

Kerajaan Arosbaya terletak di pulau Madura, Madura barat. Raja Arosbaya berkedudukan di Plakaran

The kingdom of Arosbaya was located on pulau Madura, west Madura.
For english, click here

Lokasi Madura

—————————–
Lokasi Plakaran

Naamloos 111


* Foto foto raja dan penguasa di Madura: link
* Foto foto suku Madura: link


Sejarah kerajaan Arosbaya

Pada masa pra Islam di Madura Barat, adalah sebuah nama kerajaan yang didirikan oleh Panembahan Pragalba (abad ke-16), yang kemudian diislamkan oleh anaknya yang bernama Pangeran Pratanu atau Penambahan Lemah Duwur.
Pragalba masuk Islam di saat menjelang ajalnya. Ketika dituntut membaca syahadat oleh Pratanu, Pragalba menganggukkan kepalanya. Karena itulah kemudian Pragalba juga dikenal sebagai Pangeran Ongguk (angguk atau mengangguk). Dan Islam di Arosbaya, saat itu juga disebut dengan Islam ongguk.
Raja Arosbaya yang berkedudukan di Plakaran kemudian dimakamkan di sebuah komplek pemakaman yang letaknya di sebelah selatan Plakaran, atau sekitar 60 km dari kota Bangkalan. Makam Pangeran Pragalba tersebut disebut dengan Makam Agung.
Di masa pemerintahan Lemah Duwur inilah kerajaan Arosbaya terus meluaskan pengaruh Islamnya ke kerajaan-kerajaan di Sampang dan Blega, bahkan meluas hampir mencapai seluruh Madura.
Dalam catatan Raffles (Raffles, 1817) dikatakan bahwa pada masa itu Lemah Duwur adalah raja yang memegang peranan penting. Bahkan Raffles menyatakan bahwa Lemah Duwur adalah raja paling penting di Jawa Timur. Pasalnya, karena Lemah Duwur dinilai telah berhasil mengembangkan kerajaan Arosbaya menjadi kerajaan yang berperan penting dalam pelayaran, niaga, dan politik di Madura dan Jawa. Pada tahun 1592, Lemah Duwur mangkat. Dia meninggal di Arosbaya dan dikebumikan di komplek Makam Agung. Setelah wafat kekuasaan Lemah Duwur diteruskan adiknya, Pangeran Tengah, yang tak lain ayah Cakraningrat I.

Di Makam Agung inilah Raja Pragalba dan Raja Pratanu, eyang dan kakek Cakraningrat dimakamkan


Perang saudara antara Arosbaya dan Blega

Setelah Panembahan Lemah Duwur meninggal, maka yang menggantikannya adalah puteranya yang bernama Raden Koro dengan gelar Pangeran Tengah. Blega dipimpin oleh saudaranya yang bernama Pangeran Blega dalam hak ini dia tidak mau tunduk kepada Arosbaya, sehingga timbul peperangan antara Arosbaya dengan Blega. Tentara Arosbaya tiga kali menyerang Blega namun serangan tersebut dapat dipatahkan oleh tentara Blega, bahkan tentara Blega dapat memukul mundur pasukan Arosbaya.

Sumber dan lengkap: http://bangkalanmemory.blogspot.co.id/2013/10/perang-saudara-antara-arosbaya-dengan_4233.html

Di Makam Agung inilah Raja Pragalba dan Raja Pratanu, eyang dan kakek Cakraningrat dimakamkan


Komplek Makam Agung

Untuk memasuki komplek Makam Agung, makam pendiri kerajaan Madura Barat tersebut, haruslah melewati dua pintu gerbang berbahan batu padas kuning dari sebuah bukit Desa Buduran. Bentuk gerbangnya sangat sederhana, tanpa ukiran. Namun, pada gerbang kedua, yaitu gerbang untuk menuju makam Pragalba, Pratanu dan Raden Koro, ukiran di pintu gerbang sangat kental sekali nafas Hindunya. Meski saat meninggalnya dan dimakamkannya Pragalba dalam keadaan sudah Islam, namun arsitektur komplek pemakamannya di Makam Agung tetap berarsitektur Hindu.

Sumber: http://penjagagaiba.blogspot.co.id/2013/04/makam-agung-di-kabupaten-bangkalan.html

Di Makam Agung inilah Raja Pragalba dan Raja Pratanu, eyang dan kakek Cakraningrat dimakamkan


Sejarah kerajaan-kerajaan di Madura

Sejarah Madura berawal dari perjalanan Arya Wiraraja sebagai Adipati Madura pertama di abad ke-13. Dalam kitab Nagarakertagama khususnya pada lagu ke-15 dikatakan bahwa Pulau Madura pada mulanya menyatu dengan tanah Jawa, hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 1365-an orang Madura dan Jawa merupakan bagian dari masyarakat, budaya yang sama.

Sekitar tahun 900-1500, pulau ini berada di bawah pengaruh kerajaan Hindu Jawa Timur seperti Kediri, Singhasari dan Majapahit. Antara 1500 dan 1624, penguasa Madura sampai batas tertentu bergantung pada kerajaan Islam di pantai utara Jawa seperti Demak, Gresik dan Surabaya. Pada 1624, Madura ditaklukkan oleh Mataram.

Pada tahun 1624, Sultan Agung dari Mataram menaklukkan Madura dan pemerintahan pulau itu berada di bawah kekuasaan Cakraningrat, satu garis pangeran. Keluarga Cakraningrat menentang kekuasaan Jawa Tengah dan seringkali menaklukkan sebagian besar Mataram.

Setelah Perang Suksesi Jawa Pertama antara Amangkurat III dan pamannya, Pangeran Puger, Belanda menguasai setengah bagian timur Madura pada tahun 1705. Pengakuan Belanda atas Puger dipengaruhi oleh penguasa Madura Barat, Cakraningrat II yang diperkirakan mendukung klaim Puger dengan harapan perang baru di Jawa Tengah akan memberikan kesempatan bagi orang Madura untuk ikut campur. Namun, ketika Amangkurat ditangkap dan diasingkan ke Ceylon, Puger mengambil gelar Pakubuwono I dan menandatangani perjanjian dengan Belanda yang memberi mereka Madura Timur.

Para Cakraningrat setuju untuk membantu Belanda menumpas pemberontakan tahun 1740 di Jawa Tengah setelah pembantaian Cina tahun 1740. Dalam perjanjian tahun 1743 dengan Belanda, Pakubuwono I menyerahkan kedaulatan penuh Madura kepada Belanda, yang diperebutkan oleh Cakraningrat IV. Cakraningrat melarikan diri ke Banjarmasin, berlindung dengan Inggris, dirampok dan dikhianati oleh sultan, dan ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Tanjung Harapan.

Pada abad 19, Pemerintahan Hindia Belanda memberdayakan kelebihan dan kekuatan warga lokal demi mencari keuntungan. Iming-iming gelar kebesaran oleh pihak Hindia Belanda menjadi format legitimatif tersendiri bagi para kolonial. Gelar Sultan diberikan oleh pihak Kolonial kepada Raja Sumenep pada tahun 1825, Raja Pamekasan di tahun 1830, Raja Bangkalan di tahun 1847 diberi gelar Panembahan.

Tahun 1858 , Madura dire-organisasi kembali menjadi dua Karesidenan, Madura timur dengan Ibukota Karesidenan di Pamekasan dan Madura Barat dengan Ibukota Karesidenan di Bangkalan, dengan masing masing Karesidenan dikuasai Oleh Belanda. Dan pada 1858 memutuskan untuk menghapus Kerajaan Pribumi dan Kerajaan Pamekasan menjadi bagian dari Karesidenan dari struktur birokrasi Kolonial, dan pada tahun 1883 dihapuskan Kerajaan Sumenep, dan berikut Kerajaan Bangkalan pada tahun 1885.

Peta lokasi Madura tahun 1616

—————————

Peta lokasi Madura tahun 1660


Sumber

– Sejarah kerajaan Arosbaya: http://arosbaya-in-history.blogspot.co.id/2014/09/makam-agung-arosbaya.html
– Sejarah kerajaan Arosbaya: http://www.duniapusaka.com/blog/kerajaan-madura
– Perang saudara Arosbaya dan Blega: http://bangkalanmemory.blogspot.co.id/2013/10/perang-saudara-antara-arosbaya-dengan_4233.html

Makam Agung: http://penjagagaiba.blogspot.co.id/2013/04/makam-agung-di-kabupaten-bangkalan.html


Create a free website or blog at WordPress.com.

<span>%d</span> bloggers like this: