Sejarah lengkap kesultanan Siak

Sumber: https://www.facebook.com/1812156209005229/photos/a.1814514595436057/1858815077672675/?type=1&theater

—————————————

Sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura

Kesultanan Siak Sri Indrapura merupakan salah satu kesultanan terbesar di Provinsi Riau. Awalnya Riau merupakan provinsi yang mencakup Riau (Daratan) dan Kepulauan Riau (Kepri). Tetapi sejak 24 September 2004, Provinsi Kepri ditetapkan sebagai daerah otonom di Provinsi Riau dengan ditetapkannya Undang-Undang No. 25 Tahun 2002 tentang pembentukan Provinsi Kepri sebagai pemekaran Pada 1 Juli 2004, secara resmi Provinsi Kepri mengalami pemekaran dan menjadi provinsi ke 32 di Indonesia.

Sebelum menetap di daerah yang dinamakan Kabupaten Siak, Kesultanan Siak Sri Indrapura beberapa kali mengalami perpindahan pusat kekuasaan. pertama kali didirikan, pusat pemerintahan Kesultanan Siak Sri Indrapura berada di Buantan, kemudian berpindah ke Mempura, Senapelan Pekanbaru, kembali lagi ke Mempura, dan ketika diperintah oleh Tengku Said Ismail bergelar Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Syarifuddin (1827-1864) pusat pemerintahan dipindahkan ke kota Siak Sri Indrapura dan akhirnya menetap di sana sampai pemerintahan Sultan Siak Sri Indrapura yang terakhir, Tengku (Putera) Said Kasim II bergelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syarifuddin (1908-1946).

Menurut sejarahnya Kesultanan Siak Sri Indrapura merupakan sebuah kesultanan yang didirikan oleh yang bernama Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rakhmat Syah (13-1746) pada 1723. Raja Kecil merupakan keturunan dari Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (Sultan Johor) dan Encik Pung.

Setelah Malaka kalah dari Portugis pada tahun 1511 Masehi, maka berpindahlah Raja Malaka ke Johor turun-temurun hingga sampai pada Sulthan Mahmud yang tersebut. Sebagai pewaris Kesultanan Johor, Raja Kecil tidak serta merta langsung bisa menggantikan kedudukan sang ayah sebagai Sultan Johor. Kesulitan ini terjadi karena sebelum Raja Kecil dilahirkan, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah dibunuh oleh Megat Sri Rama pada 1699. Istri sang sultan, Encik Pung yang sedang mengandung Raja Kecil, akhirnya dilarikan ke Singapura (Temasik) kemudian ke Jambi. Dalam pelarian inilah, Raja Kecil lahir dan dibesarkan diKerajaan Pagaruyung Minangkabau. Sedangkan tahta Kesultanan Johor diduduki oleh Datuk Bendahara Tun Habib yang bergelar Sultan Abdul Jalil Riayat Shah.

Setelah dewasa Raja Kecil menuntut haknya selaku pewaris tahta Kesultanan Johor. Kesultanan Johor akhirnya diserang dan ditaklukkan pada 21 Maret 1717. Raja Kecil akhirnya ditabalkan sebagai sultan di Kesultanan Johor dengan gelar bergelar Sultan Abdul Jalil Rakhmat Syah. Akan tetapi pada 1722 terjadi perebutan tahta antara Raja Kecil dengan Tengku Sulaiman yang merupakan putera dari Datuk Bendahara Tun Habib. Dalam upaya merebut tahta Kesultanan Johor, Tengku Sulaiman dibantu oleh beberapa bangsawan dari Bugis. Seperti tertulis dalam Hikayat Baginda Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (Raja Kecil) Sultan Siak Pertama, bangsawan Bugis yang membantu Tengku Sulaiman adalah Daeng Relak alias Opu Tandriburung, putera ketiga dari Raja Negeri Luok (Bugis) yang bernama Landu Salat. Dalam membantu Tengku Sulaiman, Daeng Relak mengikut sertakan kelima anaknya yang bernama Daeng Parani (Daeng Berani), Daeng Menambung, Daeng Merewah, Daeng Celak (Daeng Pulai), dan Daeng Kemasi.

Perebutan tahta Kesultanan Johor antara Raja Kecil dan Tengku Sulaiman sebenarnya tidak pernah berakhir. Kedua belah kubu bisa dikatakan sama-sama kuat. Akibat dari perebutan tahta ini, banyak korban yang diderita oleh kedua belah pihak. Akhirnya kedua belah pihak membuat kesepakatan (perjanjian) untuk mengakhiri konflik perebutan tahta. Seperti dikutip dalam Hikayat Baginda Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (Raja Kecil) Sultan Siak Pertama,

Kesepakatan tersebut berbunyi:

“Satu: Kerajaan Riau dibagi dua, yakni Pulau-pulau Riau, Lingga, Negeri Johor serta Negeri Pahang, menjadi Kerajaan Raja Suleman yang ditabalkan dengan seruan: ‘Sultan Suleman Badra‘ Alamsyah‘

Dua: Siak serta jajahan yang di pulau Sumatera dan pulau yang berhampiran mulai dari Karimun, menjadi Kerajaan Siak, pulang kepada Raja Kecik (Sultan Abdul Jalil Rakhmat Syah).

Tiga: Segala alat kebesaran seperti nobat dan lain-lainnya pun dibagi dua, demikian juga orang-orang jadi jawatan adat-adat seperti suku Bintang ada di Siak dan kerjanya memasang meriam nobat, kepalanya bernama Jenang, karena itu orang Bolang dinamakan Bolang Biduanda”.

Berdasarkan kesepakatan inilah, kubu dari Tengku Sulaiman menyingkir ke Pahang, sedangkan kubu Raja Kecil menyingkir ke Buantan. Buantan merupakan daerah pedalaman sungai Siak yang terletak kurang lebih 10 km di hilir kota Siak Sri Indrapura sekarang.
Dari Buantan inilah pada 1723, Kesultanan Siak Sri Indrapura didirikan oleh Raja Kecil sampai menjadi pusat penyebaran agama Islam di Sumatera Timur.

Pemerintahan Raja Kecil ditandai dengan pembuatan landasan sistem pemerintahan, militer, dan sistem perekonomian untuk menentang monopoli Belanda dan Bugis. Beliau juga mengarahkan sistem pemerintahan untuk menjalin hubungan dengan luar khususnya negeri Islam, seperti negeri-negeri Islam Minangkabau, Turki, Arab, dan Mesir. Seperti disebutkan dalam buku Sejarah Riau (2004), untuk membangun kekuatan di bidang militer, Raja Kecil memerintahkan kepada Datuk Laksmana Raja Di Laut untuk membangun armada laut yang kuat. Perintah ini dilaksanakan oleh Laksmana Raja Di Laut dengan menjadikan Bintan sebagai tempat pembuatan kapal-kapal perang di mana persenjataan kapal-kapal tersebut didatangkan dari negeri-negeri Islam.
Sedang dalam bidang perekonomian, Raja Kecil memanfaatkan Bandar Sabah Auh untuk melakukan hubungan dagang dengan negeri pesisir timur Sumatera sampai Aceh dan Minangkabau. Raja Kecil juga memberlakukan pajak yang dinamakan pancung alas (pajak atas hasil hutan) dan tapak lawang (pajak kepala).
Setelah kekuatan militer, pemerintahan, dan ekonomi telah memadai, Raja Kecil kembali menyerang Kesultanan Johor pada 1724-1726. Dalam sebuah pertempuran diKedah, Raja Kecil berhasil membunuh Daeng Parani akan tetapi tidak berhasil menguasai Kedah. Tetapi keberhasilan penyerangan ini dapat dilihat dari masuknya wilayah Rokan, Tanah Putih, Bangka, dan Kulo ke dalam wilayah Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Selepas penyerangan ke Kesultanan Johor, Raja Kecil yang kini telah bekerjasama dengan orang-orang Bugis, berkali-kali muncul di Selat Malaka untuk mengacaukan alur perdagangan Belanda. Kejadian ini berlangsung antara 1740-1745. Pada 1746, Raja Kecil wafat dan dimakamkan di Buantan.
Sebagai pengganti Raja Kecil, tampuk kekuasaan dipegang oleh Tengku Buang Asmara bergelar Sultan Muhammad Abdul Jalil Jalaluddin MuzafarSyah

Perpindahan kekuasaan dari Raja Kecil ke Sultan Muhammad Abdul Jalil Jalaluddin Muzafar Syah sebenarnya diwarnai dengan sengketa perebutan tahta. Hal ini terjadi karena sultan pengganti merupakan anak bungsu dari Raja Kecil. Raja Kecil sebenarnya mempunyai 3 orang putera, yaitu Tengku Alamuddin, Tengku Muda, dan Tengku Buang Asmara.

Perebutan tahta terjadi antara Tengku Buang Asmara dan Tengku Alamuddin. Sedangkan Tengku Muda telah meninggal dunia di usia yang masih sangat muda. Akhirnya perebutan tahta dimenangkan oleh Tengku Muda, sedangkan Tengku Alamuddin mengundurkan diri ke Johor.

Pemerintahan Sultan Muhammad Abdul Jalil Jalaluddin Muzafar Syah ditandai dengan perpindahan pusat kekuasaan dari Buantan ke Mempura pada 1760 dan penggantian nama Sungai Jantan menjadi Sungai Siak. Oleh karena itu dinamakan pula Kesultanan Siak dan pusatnya bernama Siak Sri Indrapura. Sejak saat itulah, Kesultanan Siak resmi memakai nama Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Selain itu, pemerintahan Sultan Muhammad Abdul Jalil Jalaluddin Muzafar Syah juga ditandai dengan konfrontasi secara langsung dengan Belanda untuk pertama kalinya. Perang terjadi di daerah Guntung pada 1760. Inilah kemenangan terbesar Kesultanan Siak Sri Indrapura atas Belanda. Atas kekalahan ini, Belanda mundur dan untuk sementara menghentikan upaya penaklukan Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Pada 1765 Sultan Muhammad Abdul Jalil Jalaluddin Muzafar Syah wafat dan dimakamkan di Mempura. Sebagai pengganti naiklah puteranya bernama Tengku Ismail bergelar Sultan Ismail AbdulJalil Jalaluddin Syah (1765-1767). Pergantian pemegang kekuasaan di Kesultanan Siak Sri Indrapura membuat keinginan Belanda untuk menaklukkan Kesultanan Siak Sri Indrapura muncul kembali.
Dengan memperalat Tengku Alamuddin, Belanda kembali menyerang Kesultanan Siak Sri Indrapura dan berhasil menaklukkannya pada 1766. Pada 1967 bertahtalah Tengku Alamuddin dengan gelar Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah. Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, pusat pemerintahan Kesultanan Siak Sri Indrapura berpindah ke Senapelan. Beliau membuat sebuah pekan (pasar) untuk perdagangan.Tempat tersebut kini dikenal sebagai Pekanbaru. Selama memerintah beliau memperbesar pusat perdagangan dan membuka alur perdagangan dengan daerah pedalaman yang menghubungkan dengan Senapelan.

Kebijakan untuk memelihara dan mengembangkan perdagangan di Senapelan tetap dilanjutkan pada masa pemerintahan Tengku Muhammad Ali Panglima Besar bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (1780-1782). Akan tetapi kegemilangan menjadikan Senapelan sebagai pusat perdagangan mulai goyah, ketika terjadi perpindahan pusat kekuasaan dari Senapelan ke Mempura. Perpindahan ini terjadi pada masa pemerintahan Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah (1782-1784).
Perpindahan pusat kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura dilakukan karena terjadi perebutan tahta sultan antara Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah dan Said Ali. Perebutan tahta sebenarnya dimulai ketika Sultan Muhammad Ali selaku pemegang tahta Kesultanan Siak Sri Indrapura berhasil dikalahkan oleh Sultan Ismail yang dulu pernah dikalahkan oleh Sultan Alamuddin (ayah dari Sultan Muhammad Ali) dan menyingkir ke Pelalawan hingga keLangkat. Ketika Sultan Ismail wafat, beliau telah menyiapkan pengganti yaitu Sultan Yahya. Akan tetapi karena Sultan Yahya masih kecil, tampuk kekuasaan diserahkan kepada Tengku Muhammad Ali yang sebelumnya telah mendapat pengampunan oleh Sultan Ismail dan diangkat sebagai Raja Muda. Setelah dewasa Sultan Yahya akhirnya naik tahta pada 1782. Naiknya Sultan Yahya ditandai dengan perebutan tahta antara Sultan Yahya dengan keturunan dari Sultan Alamuddin yaitu Said Ali (cucu dari Sultan Alamuddin).

Kedudukan Sultan Yahya sebagai pemegang tampuk kekuasaan ternyata tidak berlangsung lama karena terus menerus mendapat tekanan dari Said Ali. Sultan Yahya akhirnya menyingkir ke Kampar kemudian ke Trenggano dan akhirnya ke Dungun dan wafat di sana pada 1784 . Said Ali akhirnya naik sebagai pengganti dari Sultan Yahya. Said Ali yang bergelar Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Baalawi (1784-1810) adalah putra dari Tengku Embung Badariah dan Said Syarif Usman, seorang bangsawan Arab, sehingga beliau merupakan Sultan Siak pertama berdarah Arab. Pada masa pemerintahannya Kesultanan Siak Sri Indrapura memiliki 12 daerah jajahan, di antaranya: Kotapinang Pagarawan, Batubara, Bedagai, Kualuh, Panai, Bilah, Asahan, Deli, Serdang, Langkat, dan Temiang.

Masa pemerintahan Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Baalawi ditandai dengan kembali berpindahnya pusat kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura dari Mempura ke Kota Tinggi.

Kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura mulai pudar pasca turunnya Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Baalawi dan digantikan oleh putera beliau, Tengku Said Ibrahim bergelar Sultan Assyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin (1810-1827). Kemunduran Kesultanan Siak Sri Indrapura dipengaruhi oleh beberapa factor:
Pertama, penduduk Kesultanan Siak Sri Indrapura mulai banyak yang berpindah tempat ke Lingga, Tambelan, Trenggano, bahkan Pontianak.
Kedua, masuknya intervensi Barat seperti perjanjian dengan Kolonel William Farquhar (Kepala Perwakilan Kompeni Hindia Inggris di Penang) dan Belanda, turut memberikan andil mundurnya Kesultanan Siak Sri Indrapura. Perjanjian dengan kedua belah pihak ini (Inggris dan Belanda) merupakan perjanjian yang mengikat dan tidak jarang merugikan Kesultanan Siak Sri Indrapura. Seperti tertulis di dalam buku Sejarah Riau (2004), kemunduran Kesultanan Siak Sri Indrapura semakin parah ketika terjadi pemberontakan dari dalam ketika Kesultanan Siak Sri Indrapura diperintah oleh Tengku Said Ismail bergelar Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Syarifuddin (1827-1864). Perselisihan ini dimulai ketika Sultan Assyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin mengalami gangguan jiwa dan terpaksa meletakkan tampuk kekuasaan.

Para Dewan Kesultanan akhirnya berunding dan disepakati untuk mengangkat Tengku Said Ismail sebagai pengganti sultan. Padahal jika dirunut dari garis keturunan, Tengku Said Ismail adalah anak dari Tengku Muhammad dengan saudara perempuan sultan, yaitu Tengku Mandah. Naiknya Tengku Ismail sebagai pengganti sultan praktis membuat garis keturunan langsung dari Sultan Assyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin terputus karena terjadi alih keturunan. Beberapa kalangan yang tidak sependapat dengan pengangkatan ini akhirnya melancarkan pemberontakan. Mereka di antaranya adalah Tengku Do yang bergelar Yam Mertuan Raja Di Laut dari daerah Bangko, Kubu, dan Tanah Putih, serta pemberontakan yang berasal dari dalam kalangan istana yang dipimpin oleh Tengku Putera. Di luar Kesultanan Siak Sri Indrapura, ternyata Aceh mengambil keuntungan dengan merebut daerah jajahan Kesultanan Siak Sri Indrapura di Temiang dan Kualuh. Atas dasar pemberontakan ini, Sultan Assyaidis SyarifIsmail Abdul Jalil Syarifuddin meminta bantuan dari pihak Inggris yang dipimpin oleh Wilson. Wilson menghalau pemberontakan dan meminta upah dengan menduduki Bengkalis. Tindakan Wilson tidak berkenan di hati Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Syarifuddin, sehingga beliau meminta bantuan Belanda untuk mengusir Wilson dari Bengkalis. Belanda menyanggupinya dan berhasil mengusir Wilson dari Bengkalis. Sebagai balas jasa, Belanda mengadakan perjanjian kepada Kesultanan Siak Sri Indrapura. Perjanjian kemudian dilakukan pada 1 Februari 1858 yang dikenal dengan Traktat Siak.

Penandatangan Traktat Siak justru semakin memperparah kemunduran Kesultanan Siak Sri Indrapura. Baik dilihat dari sistem pemerintahan maupun wilayahkekuasaan, Kesultanan Siak Sri Indrapura berada dalam pengaruh kekuasaan Belanda. Akan tetapi masuknya kekuasaan Belanda di dalam Kesultanan Siak Sri Indrapura, menjadi tanda bahwa kehidupan modern mulai berlaku di Kesultanan Siak Sri Indrapura. Kehidupan modern, khususnya di dalam lingkungan istana dimulai ketika Tengku (Panglima Besar) Said Kasim I bergelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syarifuddin naik tahta pada 1864-1889. Beliau berhasil mendirikan Masjid Syahabuddin, Qubbah Kasyimiah, membuat mahkota kesultanan, memulai modernisasi pendidikan, pemerintahan, dan ekonomi.

Kehidupan modern di Kesultanan Siak Sri Indrapura berlanjut ketika Tengku Putera (Ngah) Said Hasyim bergelar Sultan Assyaidis Syarif Hasim Abdul Jalil Syarifuddin naik tahta pada 1889-1908. Seperti tertulis di dalam buku Siak Sri Indrapura (2005), beliau meneruskan modernisasi dalam pendidikan, meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memperkaya kesultanan dengan eksport hasil bumi Siak.
Beliau juga membangun Balai Kerapatan Tinggi (Balai Rung Sari) dan Istana Asserayah Hasyimiah yang diisi dengan perlengkapan Eropa (di antaranya tempat cerutu yang terbuat dari perak, tempat gula yang khusus dipesan dari Limoges, Perancis, dan alat musik Gramafon dan Komet buatan Jerman), membangun percetakan, dan menyusun AlQawa‘id atau Babul Qawa‘id (konstitusi tertulis Kesultanan Siak Sri Indrapura).
Khususnya di bidang pendidikan, beliau berupaya menandingi dominasi pendidikan Belanda lewat HIS (Hollandsche Inlandsche School atau sekolah dasar) Sekolah yang didirikan oleh Belanda ini seluruh pembiayaannya dibebankan kepada Kesultanan Siak Sri Indrapura. Sekolah ini hanya menampung anak-anak pembesar kesultanan, kaum bangsawan, dan anak-anak hartawan Cina ,Arab, serta India.
Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi rakyat yang tidak tertampung dalam HIS, Sultan Assyaidis Syarif Hasim Abdul Jalil Syarifuddin mendirikan Madrasah Taufiqiyah al Hasyimiah untuk anak laki-laki dengan lama pendidikan 7 tahun. Sedangkan Tengku Agong, permaisuri pertama mendirikan sekolah kepandaian puteri, Latifah School. Sepeninggal permaisuri pertama pada 1927,
Tengku Maharatu yang merupakan permaisuri kedua mendirikan asrama puteri bernama Istana Limas yang menampung anak-anak yatim piatu yang disekolahkan di Latifah School dan diberi tugas di lingkungan istana membantu semua kegiatan istana, seperti menerima tamu, memasak, dan membersihkan istana. Di samping itu didirikan pula Madrasyahtul Nisak untuk kaum perempuan dengan lama pendidikan7 tahun, serta sebuah Taman Kanak-kanak.

Sultan terakhir Kesultanan Siak Sri Indrapura adalah Tengku (Putera) Said Kasim II bergelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syarifuddin (1908-1946). Ketika Sultan Said Kasim II memerintah, beliau melakukan beberapa hal, antara lain: penanaman kapuk, pembukaan jalan raya Tratak Buluh-Si Malinjang-Gunung Sahilan-Teluk (Sumatera Barat), peningkatan jalan Siak-Pekanbaru-hulu Sungai Siak, pembukaan bank kredit rakyat di Bagansiapi-api atas nama Bank Bagan Madjoe pada 1917, dan membentuk Dewan Kesultanan Siak yang telah dihapuskan Belanda sejak Traktat Siak ditandatangani pada 1 Februari 1858.

Selain memberikan perhatian dibidang perekonomian, pembangunan, dan kesenian, Sultan Said Kasim II juga merupakan seorang nasionalis. Hal ini dibuktikan ketika terjadi Revolusi Sosial di sebagian wilayah Sumatera Timur pada minggu pertama bulan Maret 1946, lima istana kesultanan yang ada di pantai timur Sumatera dibakar, kecuali Istana Maimoon di Medan dan Istana Asserayah Al Hasyimiah di Kesultanan Siak Sri Indrapura. Penyebab utama tidak ikut dibakarnya Istana Asserayah Al Hasyimiah di Kesultanan Siak Sri Indrapura adalah tindakan Sultan Said Kasim II yang dengan tegas telah menunjukkan keberpihakan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sikap sang sultan juga diwujudkan secara nyata dengan pemberian dukungan dari pihak Kesultanan Siak Sri Indrapura kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak awal kemerdekaan 17 Agustus 1945. Bahkan pada bulan Oktober 1945, Sultan Said Kasim II membentuk Komite Nasional Indonesia (KNI) di Siak yang segera disusul dengan pembentukanTentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan upacara pengibaran Bendera Merah-Putih di halaman istana. Sebagai tanda menjadi bagian dari Republik Indonesia, Sultan Said Kasim II menyerahkan mahkota dan pedang Kesultanan Siak yang kini menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah) dan menyerahkan sebagain hartanya untuk membantu perjuangan kemerdekaan.