Barnusa, kerajaan / P. Pantar – Prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Barnusa terletak di bagian barat Pulau Pantar, Kab. Alor, Prov. Nusa Tenggara Timur.
Kekuasaan terpisah menjadi dua marga yaitu Baso dan Blegar.
Kerajaan Baranusa termasuk aliansi Galiau.

The kingdom of Barnusa is located on west Pantar Island.
The ruling power was split between 2 clans: Baso and Blegar.
For english, click here

Lokasi pulau Pantar

——————
Lokasi pulau Pantar


KERAJAAN BARNUSA

Tentang Raja (2020)

Bapak Mangkup Radja Baso. Beliau adalah Raja Baranusa ke-16.

Keluarga Blegur

Ada sebenarnya salah satu Raja penting dari Basodinasti, tapi di kerajaan ini di pulau Pantar (Utara Timor) ada keluarga lain yang berkuasa yang kuat, yang dapat dianggap sebagai wakil raja dengan gelar Kapitan. Di daerah lain di provinsi ini gelar Kapitan sebagian besar mengacu pada districtchief hanya tanpa sebagian besar setiap kekuasaan yang berdaulat, tetapi dalam Barnusa ini berbeda.
Blegur keluarga yang berkuasa memiliki bertanggungjawab sendiri di bagian Barnusa dan hanya bekerja sama kuat dengan dinasti Baso-raja.
Kapitan Bastian Blegur adalah cucu dari terakhir semi-berdaulat daerah Kalondama dan diberi judul Kapitan of Barnusa. Sudah lebih dari 35 tahun ia adalah pemimpin riil masyarakat.

Kapitan Bastian C. Blegur


Sejarah kerajaan Barnusa

Sebelum dikenal dengan nama Baranusa seperti sekarang ini, orang menyebutkan dengan istilah Bara saja, atau orang menyebutnya dengan nama Bara-merang/ Blangmerang, artinya orang-orang bara yang tinggal di dalam gubuk yang beratapkan alang-alang atau daun kelapa.
Dan dalam satu gubuk tersebut tinggallah beberapa keluarga bersama sanak familinya, mereka ini membentuk komune (klan) dan tinggal bersama. Tinggalnya orang dalam merang ini, kemudian orang gunung menyebut mereka dengan istilah Bara-merang/Blangmerang).

Menurut Bapak Basonden Mau bahwa nama Baranusa itu sudah digunakan pada saat mereka tinggal berdekatan dengan orang-orang Pandai di daerah Pantar bagian timur tepatnya di daerah Wai-Wagang, karena menurut sejarah lokal bahwa orang Pandai dan Baranusa merupakan satu keluarga dari satu keturunan yang sama yaitu keturunan Wae Wuno Sere.

Orang Baranusa yang mendiami tanah Baramerang saat ini merupakan keturunan dari Bara Mauwolang salah satu putra dari Wae Wuno Sere, yang menurut sejarah lokal, mereka bermigrasi dari tanah Wai Wagang hendak ke Pulau Jawa menggunakan perahu yang bernama Susundara, tapi ternyata perahu mereka rusak dan mereka singga di daerah Bagang bagian atas (Abbang Waiwasing), kemudian mereka diminta oleh raja Siggang yaitu Raja Rupa Take untuk menetap bersama mereka di kerajaaan Siggang.

Lokasi Barnusa

barnusa, p. pantar

Setelah itu keturunan Bara Mauwolang bersama sanak familinya yang tinggal di kerajaan Siggang bermigrasi lagi menempati tanah Pring Sina (Bayyang Onong) dan membangun kerajaan mereka sendiri yang diberi nama Kerajaan Baranusa yang dipimpin oleh Raja Boli Tonda, setelah itu mereka bermigrasi lagi ke Pulau Kura sebagai tempat tinggal sementara.

Rumah sederhana keluarga keturunan Raja Baranusa

Rumah sederhana keluarga keturunan Raja Baranusa. Bukan Istana bukan Keraton. (darso arif)

Baranusa tak lepas dari incaran pengembangan pengaruh Ternate atau Tidore. Belakangan, Ternate lebih besar pengaruhnya di Baranusa. Karena itu, Ternate merasa perlu mengirim dai-nya ke Baranusa untuk mengembangkan Islam di sana.
Di Baranusa, ternyata para dai dari Ternate ini tidak sekedar mengajarkan Islam tapi juga mengembangkan sistem politik yang ada di Kesultanan Ternate. Ini bisa dilihat dari catatan berdirinya Kerajaan Baranusa berdiri pada tahun 1520. Raja pertama Baranusa diketahui bernama Boli Tonda yang memerintah hingga tahun 1578. Sistem pemerintahan yang dikembangkan Boli Tonda diyakini mirip dengan sistem yang ada pada Kesultanan Ternate. Bahkan, nama Boli Tonda sendiri sangat berbau Ternate.

Pada masa kependudukan Belanda masyarakat yang menetap di Pulau Kura diperintahkan oleh belanda untuk datang menetap ditempat sekarang yang dinamakan Baranusa yang menjadi Ibu Kota Kecamatan Pantar Barat sekarang.
Awal abad ke-20 Alor terdiri dari 5 kerajaan, yaitu Kui, Batulolong, Kolana, Baranusa dan Alor. Kerajaan Alor wilayahnya meliputi seluruh jasirah Kabola (bagian utara pulau Alor).
– Sumber: http://www.dakwatuna.com/


Aliansi 5 kerajaan: Galiau

Kerajaan Barnusa termasuk aliansi Galiau yang terdiri dari 5 kerajaan, yaitu:
* Kui dan Bunga Bali dari P. Alor serta
* Blagar, Pandai dan Baranua (Barnusa) dari P. Pantar.

Sekitar awal tahun 1300-an, satu detasmen tentara bantuan kerajaan Majapahit tiba di Munaseli tetapi yang mereka temukan hanyalah puing-puing kerajaan Munaseli, sedangkan penduduknya telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alor dan sekitarnya. Para tentara Majapahit ini akhirnya banyak yang memutuskan untuk menetap di Munaseli, sehingga tidak heran jika saat ini banyak orang Munaseli yang bertampang Jawa.

Peristiwa pengiriman tentara Majapahit ke Munaseli inilah yang melatarbelakangi disebutnya Galiau (Pantar) dalam buku Negarakartagama karya Mpu Prapanca yang ditulisnya pada masa jaya kejayaan Majapahit (1367). Buku yang sama juga menyebut Galiau Watang Lema atau daerah-daerah pesisir pantai kepulauan.

Galiau yang terdiri dari 5 kerajaan, yaitu Kui dan Bunga Bali di Alor serta Blagar, Pandai dan Baranua (Barnusa) di Pantar. Aliansi 5 kerajaan di pesisir pantai ini diyakini memiliki hubungan dekat antara satu dengan lainnya, bahkan raja-raja mereka mengaku memiliki leluhur yang sama.

Pendiri ke 5 kerajaan daerah pantai tersebut adalah 5 putra Mau Wolang dari Majapahit dan mereka dibesarkan di Pandai. Yang tertua di antara mereka memerintah daerah tersebut. Mereka juga memiliki hubungan dagang, bahkan hubungan darah dengan aliansi serupa yang terbentang dari Solorsampai Lembata.

Sumur Wai Butu. Sebuah bantuan Kesultanan Buton untuk Baranusa


Daftar raja Baranusa

Bara Mauwolong (founding ancestor of the dynasty)
Mau Bara I
Boli Mau
Mau Boli I
Bara Mau
Mau Bara II
Tonda Boli I
Boli Tonda
Mau Boli II
Tonda Boli II
Boli Tonda (was in power in 1832)
Aku Boli (1848-1877)
Baso Aku (1878-1895)
Koliamang Baso (1896-1926)

Pemerintahan ditransfer pada 1926 ke Umar Watang Nampira, Kerajaan Alor.


Sejarah raja-raja kerajaan Barnusa dan kerajaan Blagar

Nenek moyang yang sama dari keluarga raja Pandai dan Barnusa diduga berasal dari Jawa. Namanya Mojopahit atau Aki Ai. Legenda yang dimaksud secara singkat diterjemahkan dalam Memorie van Overgave oleh mantan pengurus Alor, K. Rijnders.

Catatan yang lebih panjang, juga tentang bekas kapal raja tetangga Muna Seli di pantai timur Pantar, dapat diperoleh di kantor kecamatan, yang dikumpulkan oleh administra juru tulis A.B. Talib. Muna Seli, pada kesempatan perselisihan dengan Pandai, sepenuhnya porak-poranda, sedangkan penduduknya tersebar di seluruh Alor dan Pantar.

Nenek moyang yang sama dari keluarga raja Pandai dan Barnusa datang dari Jawa.

Dia melahirkan lima putra. Yang tertua, Baramauwolang, menetap di sekitar Blang sekarang Merang, dan merupakan nenek moyang keluarga raja Barnusa. Putra kedua, Daimauwolang, mendirikan kampung Dinanglain atau Pandai dan merupakan nenek moyang keluarga raja di sana. Tulimauwolang menetap di Alor-Besar. Dua bersaudara lainnya pergi ke Lomblen dan mendirikan jaga kampung Lewabala.

Raja Pandai pertama yang diakui oleh Portugis adalah Bapa Boka. Putranya Pela Boka adalah raja pertama yang diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda. Ia digantikan oleh adiknya Salama Boka. Putranya, Beng Hukung, menandatangani kontrak tentang hak penambangan pada 22 Juli 1898, dan menandatangani Deklarasi Timor pada 22 Agustus 1901 (disetujui dan dikukuhkan dengan keputusan pemerintah tanggal 3 April 1901. Dia juga akhirnya menandatangani pernyataan lain tentang pengenaan pajak, juga pada tanggal 22 Agustus 1901. kematian kekuasaan atas tanah Pandai dipercayakan kepada Sinung Maleng dari keluarga raja Pandai.

Sekitar tahun 1911 ia, karena sakit, digantikan oleh Kapitannya (bukan dalam arti kepala perang), Koliamang Wono yang menandatangani “Pernyataan Singkat” pada tanggal 2 November 1918 (disetujui dengan keputusan pemerintah pada tanggal 7 April 1919), sebagai penguasa negeri Pantar Matahari Naik, yang dibentuk oleh penggabungan antara tanah Pandai dan Blagar. Atas permintaan, Raja Koliamang diberhentikan dengan pensiun pada tahun 1926, dan kekuasaan atas tanah Pantar Matahari Naik itu, dengan keputusan Residen Timor en Onderhoorigheden tanggal 7 Juli 1926 No. 297, dipercayakan kepada Umar Watang Nampira, juru kunci raja dari tanah Alor.

Putra Raja Koliamang Wono, Anwar, diangkat menjadi Kapitan Pantar Matahari Naik pada tahun 1939. Namun ia harus digulingkan pada akhir tahun 1945 karena keluhan rakyat atas perilaku dirinya. Seorang putra Raja Blagar, Tahir Noke, sementara itu diangkat menjadi Kapitan Pantar Matahari Naik.

Makam Raja Aku Boli. Raja Baranusa yang diakui Belanda

Makam Raja Aku Boli. Raja Baranusa yang diakui Belanda. (darso arif)Raja Barnusa pertama yang diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda adalah Aku Boli. Ia digantikan oleh Baso Aku, putranya. Putranya Koliamang Baso menandatangani Deklarasi Timor pada tanggal 3 Juni 1896 (disetujui dan dikukuhkan dengan keputusan pemerintah tanggal 17 November 1896, No. 12), kontrak tentang hak penambangan pada 22 Juli 1898, dan deklarasi tentang pengenaan pajak pada tanggal 22 Agustus 1901. Atas permintaannya sendiri ia mengundurkan diri pada tahun 1926 dan menerima pensiun, dan pemerintahan atas tanah Barnusa dipercayakan kepada juru kunci raja Alor, Umar Watang Nampira (Keputusan Residen Timor 7 Juli 1926, No. 297).

Raja Koliamang Wono didukung dalam pemerintahannya atas tanah Barnusa oleh Kapitan Minta. Ia digantikan oleh kepala besar Amu Blegur dari penduduk pegunungan antara Blangmerang dan Kayang, yang disebut kelompok Lemma. Dia pada gilirannya digantikan oleh putranya Amu Blegur, seorang Kristen. Kekuasaannya di kampung pesisir Mohammedan Blangmerang adalah kecil. Di wilayah Blagar terdapat tiga permukiman pesisir, yaitu Bakalan, Kolijahi, dan Tua bang.

Pada saat kedatangan Portugis di Pandai, seorang kepala suku Tuaäbang adalah orang pertama yang melapor, dan sebagai imbalannya dia menerima bendera. Pada kedatangan kemudian Pemerintah Hindia Belanda, kepala Bakalan melaporkan, dan dia diakui oleh penduduk. Raja Salama Noke menandatangani Deklarasi Timor pada tanggal 3 Juni 1896 (disetujui dan dikukuhkan oleh keputusan pemerintah tanggal 17 November 1896, No. 12), kontrak tentang hak penambangan pada bulan Juli 22 Agustus 1898, dan pernyataan tentang pengenaan pajak pada 22 Agustus 1901. Dia diikuti oleh Raja Noke Salama. Dia diberhentikan dari pemerintahan karena sakit. Tanah Blagar kemudian digabung dengan Pandai, menjadi tanah Pantar Matahari Naik di bawah Raja Koliamang Wono.

Raja Blagar memiliki seorang Kapitan yang siap membantunya. Namun, para master ini harus berpose, satu demi satu, karena melakukan penindasan. Seorang putra Raja Noke Salama bernama Tahir Noke kini menjadi Kapitan Pantar Matahari Naik.

Sumber: Prof. Dr. Hans Hagerdal, penelitian sejarah budaya asal Swedia.
Naskah asli Prof. Dr. Hans Hagerdal.


DAFTAR DAN SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN DI P. PANTAR

Untuk daftar dan sejarah kerajaan-kerajaan di P. Pantar, klik di sini.

P. Pantar, 1330 M

Pantar, 1330 M


Sumber kerajaan Barnusa

Sejarah kerajaan Barnusa: http://www.dakwatuna.com/
– Sejarah kerajaan Barnusa: https://www.kompasiana.com/

Sumber kerajaan-kerajaan di P. Pantar / Alor

– Sejarah kerajaan-kerajaan di P. Alor / Pantar: http://inihari.co/blog/
– Sejarah kerajaan-kerajaan di P. Alor / Pantar: https://id.wikipedia.org/wiki/
– Sejarah kerajaan-kerajaan di P. Alor / Pantar: http://alorkab.go.id/

– Suku Alor: http://suku-dunia.blogspot.nl/


Kepulauan Sunda Kecil, tahun 1725 (incl. pulau Pantar)


1 Comment

One thought on “Barnusa, kerajaan / P. Pantar – Prov. Nusa Tenggara Timur

  1. Blegur is only the sub-raja dyansty of a part of Baranusa.Baranusa is the rajaship in the west of Pantasr,in the east there are the rajaships of Pandai and Blagar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: