Barnusa, kerajaan / P. Pantar – Prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Barnusa terletak di bagian barat Pulau Pantar, Kab. Alor, Prov. Nusa Tenggara Timur.
Kekuasaan terpisah menjadi dua marga yaitu Baso dan Blegar.
Kerajaan Baranusa termasuk aliansi Galiau.

The kingdom of Barnusa is located on west Pantar Island.
The ruling power was split between 2 clans: Baso and Blegar.
For english, click here

Lokasi pulau Pantar

Lokasi pulau Pantar


Tentang Raja / About the king

Ada sebenarnya salah satu Raja penting dari Basodinasti, tapi di kerajaan ini di pulau Pantar (Utara Timor) ada keluarga lain yang berkuasa yang kuat, yang dapat dianggap sebagai wakil raja dengan gelar Kapitan. Di daerah lain di provinsi ini gelar Kapitan sebagian besar mengacu pada districtchief hanya tanpa sebagian besar setiap kekuasaan yang berdaulat, tetapi dalam Barnusa ini berbeda.
Blegur keluarga yang berkuasa memiliki bertanggungjawab sendiri di bagian Barnusa dan hanya bekerja sama kuat dengan dinasti Baso-raja.
Kapitan Bastian Blegur adalah cucu dari terakhir semi-berdaulat daerah Kalondama dan diberi judul Kapitan of Barnusa. Sudah lebih dari 35 tahun ia adalah pemimpin riil masyarakat.

Present Raja (2008): Kapitan Bastian C. Blegur


Sejarah kerajaan Barnusa

Sebelum dikenal dengan nama Baranusa seperti sekarang ini, orang menyebutkan dengan istilah Bara saja, atau orang menyebutnya dengan nama Bara-merang/ Blangmerang, artinya orang-orang bara yang tinggal di dalam gubuk yang beratapkan alang-alang atau daun kelapa.
Dan dalam satu gubuk tersebut tinggallah beberapa keluarga bersama sanak familinya, mereka ini membentuk komune (klan) dan tinggal bersama. Tinggalnya orang dalam merang ini, kemudian orang gunung menyebut mereka dengan istilah Bara-merang/Blangmerang).

Menurut Bapak Basonden Mau bahwa nama Baranusa itu sudah digunakan pada saat mereka tinggal berdekatan dengan orang-orang Pandai di daerah Pantar bagian timur tepatnya di daerah Wai-Wagang, karena menurut sejarah lokal bahwa orang Pandai dan Baranusa merupakan satu keluarga dari satu keturunan yang sama yaitu keturunan Wae Wuno Sere.

Orang Baranusa yang mendiami tanah Baramerang saat ini merupakan keturunan dari Bara Mauwolang salah satu putra dari Wae Wuno Sere, yang menurut sejarah lokal, mereka bermigrasi dari tanah Wai Wagang hendak ke Pulau Jawa menggunakan perahu yang bernama Susundara, tapi ternyata perahu mereka rusak dan mereka singga di daerah Bagang bagian atas (Abbang Waiwasing), kemudian mereka diminta oleh raja Siggang yaitu Raja Rupa Take untuk menetap bersama mereka di kerajaaan Siggang.

Setelah itu keturunan Bara Mauwolang bersama sanak familinya yang tinggal di kerajaan Siggang bermigrasi lagi menempati tanah Pring Sina (Bayyang Onong) dan membangun kerajaan mereka sendiri yang diberi nama Kerajaan Baranusa yang dipimpin oleh Raja Boli Tonda, setelah itu mereka bermigrasi lagi ke Pulau Kura sebagai tempat tinggal sementara.

Rumah sederhana keluarga keturunan Raja Baranusa

Rumah sederhana keluarga keturunan Raja Baranusa. Bukan Istana bukan Keraton. (darso arif)

Baranusa tak lepas dari incaran pengembangan pengaruh Ternate atau Tidore. Belakangan, Ternate lebih besar pengaruhnya di Baranusa. Karena itu, Ternate merasa perlu mengirim dai-nya ke Baranusa untuk mengembangkan Islam di sana.
Di Baranusa, ternyata para dai dari Ternate ini tidak sekedar mengajarkan Islam tapi juga mengembangkan sistem politik yang ada di Kesultanan Ternate. Ini bisa dilihat dari catatan berdirinya Kerajaan Baranusa berdiri pada tahun 1520. Raja pertama Baranusa diketahui bernama Boli Tonda yang memerintah hingga tahun 1578. Sistem pemerintahan yang dikembangkan Boli Tonda diyakini mirip dengan sistem yang ada pada Kesultanan Ternate. Bahkan, nama Boli Tonda sendiri sangat berbau Ternate.

Pada masa kependudukan Belanda masyarakat yang menetap di Pulau Kura diperintahkan oleh belanda untuk datang menetap ditempat sekarang yang dinamakan Baranusa yang menjadi Ibu Kota Kecamatan Pantar Barat sekarang.
Awal abad ke-20 Alor terdiri dari 5 kerajaan, yaitu Kui, Batulolong, Kolana, Baranusa dan Alor. Kerajaan Alor wilayahnya meliputi seluruh jasirah Kabola (bagian utara pulau Alor).
– Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/03/23/66142/baranusa-sejarah-dan-tradisi-islam-yang-tersembunyi/#axzz4OjxNTV3t

Aliansi Galiau

Kerajaan Barnusa termasuk aliansi Galiau yang terdiri dari 5 kerajaan, yaitu:
* Kui dan Bunga Bali dari P. Alor serta
* Blagar, Pandai dan Baranua (Barnusa) dari P. Pantar.
Aliansi 5 kerajaan di pesisir pantai ini diyakini memiliki hubungan dekat antara satu dengan lainnya, bahkan raja-raja mereka mengaku memiliki leluhur yang sama.
Untuk lengkap, klik di sini

Lokasi Barnusa, P. Pantar


Daftar raja Baranusa

Bara Mauwolong (founding ancestor of the dynasty)
Mau Bara I
Boli Mau
Mau Boli I
Bara Mau
Mau Bara II
Tonda Boli I
Boli Tonda
Mau Boli II
Tonda Boli II
Boli Tonda (was in power in 1832)
Aku Boli (1848-1877)
Baso Aku (1878-1895)
Koliamang Baso (1896-1926)

Pemerintahan ditransfer pada 1926 ke Umar Watang Nampira, Kerajaan Alor.


Kerajaan-kerajaan di P. Pantar

Kerajaan Barnusa,
Kerajaan Blagar,
Kerajaan Munaseli,
Kerajaan Pandai.


Sejarah kerajaan2 di P. Pantar dan P. Alor

Menurut ceritra yang beredar di masyarakat Alor, kerajaan tertua di Kabupaten Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaan Munaseli di ujung timur pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerajaan ini terlibat dalam sebuah Perang Magic. Mereka menggunakan kekuatan-kekuatan gaib untuk saling menghancurkan. Munaseli mengirim lebah ke Abui sebaliknya Abui mengirim angin topan dan api ke Munaseli. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Munaseli.

Konon, tengkorak raja Abui yang memimpin perang tersebut saat ini masih tersimpan dalam sebuah goa di Mataru. Kerajaan berikutnya yang didirikan adalah kerajaan Pandai yang terletak dekat kerajaan Munaseli dan Kerajaan Bunga Bali yang berpusat di Alor Besar. Munaseli dan Pandai yang bertetangga, pada akhirnya juga terlibat dalam sebuah perang yang menyebabkan Munaseli meminta bantuan kepada raja kerajaan Majapahit, mengingat sebelumnya telah kalah perang melawan Abui.

Sekitar awal tahun 1300-an, detasmen tentara bantuan kerajaan Majapahit tiba di Munaseli, tetapi yang mereka temukan hanyalah puing-puing kerajaan Munaseli, sedangkan penduduknya telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alo. Para tentara Majapahit ini akhirnya banyak yang memutuskan untuk menetap di Munaseli, sehingga tidak heran jika saat ini banyak orang Munaseli yang bertampang Jawa. Peristiwa pengiriman tentara Majapahit ke Munaseli inilah yang melatarbelakangi disebutnya Galiau (Pantar) dalam buku Negarakartagama karya Empu Prapanca yang ditulisnya pada masa jaya kejayaan Majapahit (1367). Buku yang sama juga menyebut Galiau Watang Lema atau daerah-daerah pesisir pantai kepulauan.
Galiau yang terdiri dari 5 kerajaan, yaitu Kui dan Bunga Bali di Alor serta Blagar, Pandai dan Baranua di Pantar. Aliansi 5 kerajaan di pesisir pantai ini diyakini memiliki hubungan dekat antara satu dengan lainnya. Bahkan raja-raja mereka mengaku memiliki leluhur yang sama.
Pendiri ke 5 kerajaan daerah pantai tersebut adalah 5 Putra Mau Wolang dari Majapahit dan mereka dibesarkan di Pandai. Yang tertua diantara mereka memerintah daerah tersebut. Pada masa ini ada sebuah perjanjian yang disepakati,dimana perjanjian itu dinamakan perjanjian Lisabon pada tahun 1851.

Berdasarkan catatan Antonio Pigafetta, seorang ilmuwan dan penjelajah asal Venesia, pada 9 sampai 25 Januari 1522, pulau Alor-Pantar dikunjungi oleh kapal Victoria, yakni sisa terakhir dari armada Magellan. Antonio menulis bahwa ketika sampai ke Alor-Pantar, ia menemukan penduduk pulau ini buas seperti hewan dan makan daging manusia. Mereka tidak mempunyai raja dan tidak berpakaian. Mereka hanya memakai kulit kayu, kecuali kalau pergi ke medan perang.

Makam Raja Aku Boli. Raja Baranusa yang diakui Belanda

Makam Raja Aku Boli. Raja Baranusa yang diakui Belanda. (darso arif)

Berdasarkan sejarah, pada masa kekuasaan Portugis, Portugis di Alor hanya terbatas pada pengibaran bendera pada beberapa daerah pesisir, seperti di Kui, Mataru, Batulolong, Kolana, dan Blagar. Begitu pula pada masa awal pendudukan Belanda, hanya terbatas pada pengakuan atas penguasa-penguasa yang berada di pesisir dan pada penempatan seorang Posthouder di Alor Kecil, tepatnya di pintu teluk Kabola pada tahun 1861.

Dengan Perjanjian Lisabon pada tahun 1851, kepulauan Alor diserahkan kepada Belanda dan pulau Atauru diserahkan kepada Portugis. Orang-orang Portugis sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar menduduki Alor, walaupun masih ada sisa-sisa dari zaman Portugis seperti sebuah jangkar besar di Alor Kecil.

Pada tahun 1911, Pemerintah colonial Belanda memindahkan pelabuhan laut utama dan pusat Pemerintahan Alor dari Alor Kecil ke Kalabahi. Kalabahi dipilih karena datarannya lebih luas dan lautnya lebih teduh. Kota Kalabahi artinya pohon kusambi, yang mana dulunya memang menghutani dataran ini. Dengan pemindahan pusat kekuasaan ke Kalabahi, Pemerintah colonial Belanda menempatkan Mr. Bouman sebagai Kontroler pertama di Alor. Sebelumnya tanda kehadiran colonial belanda di Alor, hanya terdiri dari seorang penjaga pos dan seorang serdadu berpangkat letnan.

Pada masa kontroler Bouman, beberapa pegawai pemerintah Belanda didatangkan. Upaya-upaya mengkristenkan para penganut animismepun mulai dilakukan. Baptisan pertama dilakukan pada tahun 1908 di pantai Dulolong. Pada masa ini Alor terdiri dari 5 kerajaan, yaitu Kui, Batulolong, Kolana, Baranusa dan Alor. Kerajaan Alor wilayahnya meliputi seluruh jasirah Kabola (bagian utara pulau Alor).

Pada tahun 1912 terjadi pengalihan kekuasaan raja dari dinasti Tulimau di Alor Besar kepada dinasti Nampira di Dulolong. Pemerintah colonial Belanda lebih cenderung memilih Nampira Bukang menjadi raja Alor sebab beliau berpendidikan dan fasih berbahasa belanda. Sebagai kompensasi, putra mahkota Tulimau ditunjuk sebagai kapitan Lembur. Pengalihan kekuasaan ini menyebabkan terjadinya beberapa pemberontakan namun dapat diredam dengan bantuan Belanda, sehingga sehingga secara tidak langsung pengalihan kekuasaan ini telah menjadi bibit salah satu lembaran hitam sejarah Alor dengan terbunuhnya Bala Nampira.

Di masa pendudukan Belanda di tahun 1910 -1916, Belanda banyak mendapat tantangan dari rakyat Alor-Pantar. Kerajaan-kerajaan yang terkenal sering melakukan perlawanan adalah Kerajaan Bunga Bali, Kerajaan Kui, Kerajaan Kolana, Kerajaan Pureman, Kerajaan Mataru, Kerajaan Batulolong, Kerajaan Baranusa, Kerajaan Pandai, dan Kerajaan Blagar. Namun, Belanda dengan devide et impera (Politik pecah belah atau politik adu domba) dan Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) akhirnya berhasil menaklukkan para raja tersebut. Dari 9 kerajaan yang sering melakukan perlawanan, Belanda akhirnya melakukan perampingan hingga tertinggal 4 kerajaan, yakni Kerajaan Kui, Kerajaan Alor Pantar, Kerajaan Kolana, dan Kerajaan Batulolong. Dengan demikian, Belanda semakin mudah melakukan pengawasan.

Sumur Wai Butu. Sebuah bantuan Kesultanan Buton untuk Baranusa.

Sumur Wai Butu. Sebuah bantuan Kesultanan Buton untuk Baranusa. (darso arif)


Kepulauan Sunda Kecil, tahun 1725 (incl. pulau Pantar)


Sumber / Source

Sejarah kerajaan Barnusa: http://www.dakwatuna.com/2015/03/23/66142/baranusa-sejarah-dan-tradisi-islam-yang-tersembunyi/#axzz41dZkijjs
– Sejarah kerajaan Barnusa: https://www.kompasiana.com/ibnurusid/5c4e77bd6ddcae3b1b0b9e33/sekilas-tengtang-alor-baranusa?page=1

– Sejarah kerajaan2 P. Alor: http://inihari.co/blog/2019/03/03/sekilas-tentang-sejarah-alor/
– Sejarah kerajaan2 P. Alor: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Alor#Sejarah
– Sejarah kerajaan2 P. Alor: http://alorkab.go.id/new/index.php/profil/sejarah1

– Suku Alor: http://suku-dunia.blogspot.nl/2014/08/sejarah-suku-alor-di-nusa-tenggara.html

– Aliansi Galiau: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/pantar-island/galiau-5-lima-kerajaan-pantar-dan-alor-p-pantar-dan-p-alor-nusa-tenggara-timur/


 

1 Comment

One thought on “Barnusa, kerajaan / P. Pantar – Prov. Nusa Tenggara Timur

  1. Blegur is only the sub-raja dyansty of a part of Baranusa.Baranusa is the rajaship in the west of Pantasr,in the east there are the rajaships of Pandai and Blagar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s