Pagatan, kerajaan / Prov. Kalimantan Selatan

Kerajaan Pagatan: 1775- 1908. Kerajaan ini adalah kerajamudaan sebagai bawahan kerajaan Banjar yang merupakan daerah otonomi bagi imigran suku Bugis di dalam negara Kesultanan Banjar.
1784: La Pangewa (Hasan Pangewa), pemimpin orang Bugis Pagatan, dilantik Sultan Banjar sebagai kapitan (raja) Pagatan yang pertama dengan gelar Kapitan Laut Pulo.
1861: Pada akhirnya wilayah kerajaan Pagatan dan kerajaan Kusan disatukan menjadi semacam federasi dengan sebutan kerajaan Pagatan-Kusan dan rajanya disebut Raja Pagatan dan Kusan.

Kingdom of Pagatan: 1775 – 1908. Located in south Kalimantan, the region of the sultanate of Banjar.
For english, click here

Lokasi Kabupaten Tanah Bumbu


* Foto kerajaan Pagatan: link


Garis kerajaan-kerajaan di Kalimantan: link


Foto kerajaan-kerajaan di Kalimantan

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Kalimantan: link
* Foto raja2 di Kalimantan dulu: link
* Foto istana kerajaan di Kalimantan: link

* Foto Kalimantan dulu: link
* Foto perang belanda di Kalimantan, abad ke-19: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Kalimantan

– Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan, 45.000 SM – 2017: link
Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan Barat, 45.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan Tengah / Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan Timur / Utara, 1M – 2020: link
– Video sejarah kesultanan Banjar: link


KERAJAAN PAGATAN

Keturunan raja Pagatan

Tentang keturunan raja Pagatan tidak ada info.


Lokasi kerajaan Pagatan dan Kusan

Lokasi kerajaan Pagatan dan Kusan berada di Desa Kampung Baru Mattone, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanahbumbu, Provinsi Kalimantan Selatan.
Lokasi itu kini menjadi rumah.
Hanya saja bangunan sudah tidak ada dan hanya lokasi dapur yang sudah di rombak total keturunan raja. Kini, lokasi itu ditinggali cicit dari Raja ke IX yaitu Andi Satria Jaya.
Berada di RT 1 Desa Kampung Baru, lokasi itu menjadi rumah Andi Satria Jaya yang kini menjadi Kepala Desa Kampung Baru Mattone.
Semua peninggalan raja-raja masih disimpan rapi di rumahnya dan rumah yang ditempatinya merupakan bagian dapur eks kerajaan Pagatan dan Kusan.

Tak heran, banyak yang datang ke rumah Andi S Jaya yang untuk mengetahui cerita-cerita kerajaan Pagatan. Terlebih, cukup banyak foto-foto peninggalan yang ada di rumahnya dan disimpan dengan rapi.
“Semuanya masih tersimpan rapi. Keturanan raja masih banyak bahkan ada di wilayah Martapura juga. Foto Raja IX pun sempat ditemukan di wilayah Banjar karena masih ada ikatan darah. Semua foto-foto itu kini dipajangnya di ruang tamu rumahnya,” kata Andi Satria Jaya. (BANJARMASINPOST.co.id/man hidayat.

Foto Raja Terakhir Pagatan, Andi Sallo atau yang dikenal dengan sebutan Arung Abdurrahim. Sumber: Keluarga Raja Pagatan.


Sejarah kerajaan Pagatan, 1775-1908

Tahun 1734 Puanna Dekke’ menuju Banjarmasin untuk meminta izin kepada Sultan Banjar yaitu Panembahan Batu untuk mendirikan pemukiman di wilayah tersebut, yang kelak menjadi Kerajaan Pagatan.
1784: La Pangewa (Hasan Pangewa), pemimpin orang Bugis Pagatan, dilantik Sultan Banjar sebagai kapitan (raja) Pagatan yang pertama dengan gelar Kapitan Laut Pulo.
1861: Pada akhirnya wilayah kerajaan Pagatan dan kerajaan Kusan disatukan menjadi semacam federasi dengan sebutan kerajaan Pagatan-Kusan dan rajanya disebut Raja Pagatan dan Kusan.

————————-

Wilayah tenggara Kalimantan semula merupakan satu wilayah kerajaan Tanah Bumbu yang diperintah oleh keturunan Sultan Banjar dengan pusat kerajaan kemungkinan dahulu terletak dekat perbatasan kerajaan Pasir yaitu di negeri Cengal (Pamukan) seperti halnya kerajaan Kotawaringin yang berdiri dekat perbatasan kerajaan Tanjungpura.
Raja kerajaan Tanah Bumbu yang terkenal adalah Ratu Intan I (1780-1800), dalam perkembangannya kemudian terbagi menjadi beberapa kerajaan kecil atau kepangeranan, karena rajanya hanya berhak bergelar Pangeran atau Ratu seperti gelar putra/putri Sultan Banjar, karena sebenarnya wilayah tersebut merupakan cabang kesultanan Banjar yaitu keturunan Pangeran Dipati Tuha bin Sultan Saidullah.
Belakangan juga berdiri beberapa kerajaan kecil seperti kerajaan Kusan, Sabamban, Batoe Litjin, Poelau Laoet dan kerajaan Pagatan yang diperintah oleh keturunan Dinasti Tamjidullah I dan sekutunya. Kalau dilihat luas wilayahnya, semua kerajaan-kerajaan ini dapat disamakan dengan sebuah lalawangan (distrik) yang ada di kesultanan Banjar pada kurun waktu yang sama.

Daerah Pagatan baru ada sekitar tahun 1750 dibangun oleh Puanna Dekke’, hartawan asal Tanah Bugis tepatnya dari daerah kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan. Puanna Dekke’ berlayar menuju kesultanan Pasir, hatinya tidak berkenan sehingga menyusuri kerajaan Tanah Bumbu (sekarang Kabupaten Kotabaru) dan belum menemukan daerah yang dapat dijadikan permukiman sampai dia menemukan sungai yang masuk dalam wilayah kesultanan Banjar. Selanjutnya bertolaklah Puanna Dekke’ menuju Banjarmasin untuk meminta izin kepada Sultan Banjar (1734) yaitu Panembahan Batu untuk mendirikan pemukiman di wilayah tersebut, yang kelak menjadi Kerajaan Pagatan.
Pada akhirnya wilayah kerajaan Pagatan dan kerajaan Kusan disatukan (1861) menjadi semacam federasi dengan sebutan kerajaan Pagatan-Kusan dan rajanya disebut Raja Pagatan dan Kusan.

Raja Pagatan yang pertama adalah bernama Hasan Pangewa/La Panggewa Kapitan Laut Pulo.
Selama satu setengah abad terbagi 4 empat periode system pemerintah, yaitu:

  1. Periode ke I: Pra kerajaan di Pimpin Puanna Dekke sebagai pendiri kerajaan Pagatan, dengan mengerahkan seluruh daya upaya beserta pengikutnya membabat hutan belantar, kemudian jadilah pemukiman baru yang kemudian diberi nama Kampoeng Pegatang, selanjutnya Puanna Dekke mempersiapkan cucunya untuk jadi Pemimpin kerajaan Pagatan. Sementara Puanna Dekke yang dikenal pendiri Kerajaan Pagatan tidak mau jadi Raja.
  2. Periode ke II: Puanna Dekke memproklamirkan kerajaan Pagatan, dengan menobatkan cucunya bernama La Panggewa sebagai raja pertama di kerajaan Pagatan. Diperkirakan berlangsung dari tahun 1761-1861.
  3. Priode ke III: Kerajaan Pagatan mengalami perluasan wilayah kekuasaan dengan bergabung kerajaan Kusan, sehingga menjadi kerajaan Pagatan-Kusan. Berlangsung dari tahun 1861 – 1908.
  4. Priode ke IV: Kerajaan Pagatan-Kusan pada tahun 1908-1912 M telah mengalami perubahan pemerintahaan, kalau sebelumnya beerdaulat terhadap kerajaan Banjar, maka sejak tanggal, 1 Juli 1908 diserahkan kepada pemerintahan Hinda Belanda.

Periode Integrasi kerajaan Pagatan-Kusan tahun 1861-1908

Pada periode ini, kerajaan Pagatan di perintah oleh Arung Pagatan ke-3, yakni Arung Abdul Karim Bin Abdul Rahim pada tahun 1855-1871. Arung Abdul Karim dinobatkan menjadi raja Pagatan ketiga pada tahun 1855 dengan gelar Arung La Mattunru. Menurut Nagtegaal, pada masa pemerintahannya terjadi perluasan wilayah kerajaan Pagatan dengan bergabung kerajaan Kusan tahun 1861, sehingga menjadi kerajaan Pagatan-Kusan.
Sewaktu Arung Abdul Karim memerintah, baginda dianugerahi sebuah bintang Ridderkruis vd Militaire Willemsorde 4e Klas dari pemerintah Belanda. Pada tanggal 2 Agustus 1861, kerajaan Pagatan digabung dengan kerajaan Kusan, yang selanjutnya pada tanggal 22 November 1861, Arung Abdul Karim menandatangani Politiek Contract dengan Pemerintah Hindia Belanda yang disahkan oleh Gouverneur Genera l GG pada tanggal 7 Agustus 1862.

Sejarah lengkap: Wiki


Raja kerajaan Pagatan

* 1755-1800: Raja Pagatan ke 1, La Pangewa; saat itu berhasil memimpin orang Bugis Pagatan dan akhirnya dilantik Sultan Banjar sebagai Kapitan (Raja) Pagatan dan Kusan dan diberi gelar sebagai Kapitan Laut Pulo.
Jasa-jasa La Pengewa dan pasukannya menggempur pasukan Pangeran Amir bin Sultan Kuning yang menjadi rival dari Sultan Tahmidullaj II dalam perebutan mahkota Banjar.
La Pangewa diberi gelar Kapitan Laut Pulo yang artinya semacam panglima laut yang menjaga perairan setempat hingga menjadi raja Pagatan dan Kusan.
Kapitan Laut Pulo menjabat sebagai raja hingga 1800, kemudian tahta itu diwariskan kepada anaknya:
* 1830-1838: Raja ke 2: Arung Abdul Rahim atau La Palebbi.
* 1838-1855: Raja ke 3: Arung Abdul Rahman atau La Paliweng.

1861: Pada akhirnya wilayah kerajaan Pagatan dan kerajaan Kusan disatukan menjadi semacam federasi dengan sebutan kerajaan Pagatan-Kusan dan rajanya disebut Raja Pagatan dan Kusan.

Raja kerajaan Pagatan-Kusan

1855-1863: Raja ke 4: La Matunra, Arung Abdul Karim.

1863-1871: Raja ke 5: turun kepada anaknya, La Makkarau.
1871-1875: Raja ke 6: Abdul Jabbar,
1875-1883: Raja ke 7: Ratu Sengeng atau Daeng Mangkau.
1883-1893: Raja ke 8: Andi Tangkung (Petta Ratu).
1893-1908: Raja ke 9: Andi Sallo atau Arung Abdurrahim.
Andi Sallo ini lah menjadi raja terakhir yang kini sudah meninggalkan banyak cicit.
Satu di antaranya adalah Andi Satria Jaya yang saat ini menjadi kepala Desa Kampungbaru Mattone Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu.

Berdiri kanan: Andi Sallo, raja IX Pagatan dan Kusan


Baju raja Pagatan


Istana / Palace

Lokasi kerajaan Pagatan dan Kusan zaman dulu berada di Desa Kampung Baru Mattone, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanahbumbu, Provinsi Kalimantan Selatan.
Lokasi itu kini menjadi rumah. Hanya saja bangunan sudah tidak ada dan hanya lokasi dapur yang sudah di rombak total keturunan raja.
lokasi itu ditinggali cicit dari Raja ke IX yaitu Andi Satria Jaya. Berada di RT 1 Desa Kampung Baru, lokasi itu menjadi rumah Andi Satria Jaya yang kini menjadi Kepala Desa Kampung Baru Mattone.

Sisa Istana Pagatan

Istana Pagatan


Makam raja-raja Pagatan dan Kusan

Makam raja-raja Pagatan dan Kusan yang ada di RT 1 Kampung Baru, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanahbumbu, Kalimantan Selatan, masih terawat baik.

Kompleks pemakaman Raja Pagatan dan Kusan di Desa Kampungbaru, menjadi situs yang sering dikunjungi pelajar untuk kegiatan studi banding.
Meski hanya sebagian makam saja yang ada, namun tetap menjadi pembelajaran bagi siswa-siswi di kalimantan Selatan.
Pasalnya, pelajar dan anggota Pramuka sering datang untuk berziarah dan mengetahui makam peninggalan Raja Pagatan dan Kusan.


Sisa-sisa peninggalan Raja Pagatan dan Kusan

Peninggalan zaman kerajaan Pagatan dan Kusan yang tak banyak yang tahu.
Beberapa peninggalan itu kerajaan Pagatan dan Kusan itu masih tersimpan rapi di kediaman cicitnya, Andi Satria Jaya, yang tinggal di Desa Kampungbaru Matoone, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanahbumbu.

Beberapa peninggalan seperti guci berukuran cukup besar dan berbentuk belimbing masih tersimpan baik di rumah Andi Jaya.
Berulangkali pihak museum datang untuk membawanya, namun Andi S Jaya menolak.
Selain guci atau tajau itu, juga ada beberapa stempel kerajaan milik raja IX yaitu Raja Arung Abdurrahim atau Andi Sallo.
Ada sebanyak 7 stempel yang terbuat dari sebuah tanduk, perak, kuningan, tembaga hingga batu alam yang sudah diukir berbentuk stempel.
Selain itu ada baju kebangsaan milik raja ke 9 tersebut dengan baju warna kuning dan celana warna agak kecoklatan.
Belum diketahui persis itu pakaian untuk apa, namun baju tersebut merupakan baju resmi raja. (BANJARMASINPOST.co.id/man hidayat)

Stempel Raja Pagatan dan Kusan

Pagatan dan kerajaan-kerajaan kecil yang dibawah kekuasaan Kesultanan Banjar.

Dalam Kesultanan Bandarmasih sebenarnya juga terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang tersebar diwilyahah kekusaan Kesultanan Bandar, seperti diwilyah Tanah Bumbu dan Pulau Laut. Namun kedudukan Kerajaan-kerjaan tersebut secara politik berdaulat dalam wilayah kekusaan Kesultanan Bandar. Hanya karena pelayan pemerintahan tidak terjangkau oleh pelayanan Kesultanan maka ada beberapa kerjaan-kerajaan kecil tersebut diberikan wewenang untuk mengatur pemerintahan sendiri dalam kelompok komunitasnya, kemudian juga ada yang dengan sengaja berdiri karena adanya latar belakang perebutan kekusaan dari Kesultanan Banjar sendiri.
Adapun kerajaan-kerajaan kecil yang dibawah kekuasaan Kesultanan Bandarmasih yang ada di Wilyah Tanah Bumbu dan Pulau Laut adalah:

1. Kerajaan Pagatan,
2. Kerajaan Kusan,
3. Kerajaan Cenggal, Manunggal dan Bangkalaan,
4. Kerajaan Cantung dan Sampanahan,
5. Kerajaan Sebamban,
6. Kerajaan Batulicin,
7. Kerajaan Pasir,
8. Kerajaan Kotabaru.
Adapun kerajaan-kerajan tersebut diatas yang pernah berdiri diwilayah Tanah Bumbu dan Pulau Laut mempunyai pertalian yang erat dalam menjalin hubungan. Dalam kesempatan ini yang dapat diuraikan hanya Kerajaan Pagatan, Kerajaan Kusan dan Pulau Laut karena mempunyai latar belakang dan saling keterkaitan dalam sejarahnya. Sementara yang lainnya belum dapat diuraikan dengan baik mengingat minimnya informasi dan data yang diperlukan dalam penulisan.

– Sumber:http://faisalbatennie.blogspot.com/2010/07/kerajaan-di-tanah-bumbu.html


Peta Kalimantan kuno

Untuk peta-peta Kalimantan kuno (1570, 1572, 1594, 1601, 1602, 1740, 1747, 1760, 1835), klik di sini.

Peta Kalimantan (Borneo) tahun 1601


Sumber / Source

– Sejarah kerajaan Pagatan di Wiki: link
Sejarah kerajaan Pagatan:  http://www.area.web.id/ind/1197-1094/Pagatan_41748_umj_area.html
– Sejarah kerajaan Pagatan:http://faisalbatennie.blogspot.co.id/2010/07/kerajaan-di-tanah-bumbu.html
– Sejarah kerajaan Pagatan: https://situsbudaya.id/kerajaan-pagatan-kalimantan-selatan/
Daftar Raja Pagatan dan Kusan: Wiki

– Kerajaan kecil yang dibawah kekuasaan Kesultanan Banjar: link

——————————–

– Kerajaan Tanah Bumbu: link
Kerajaan Cantung: link
Kerajaan Kusan: link
Kerajaan Bangkalaan: link
Kerajaan Sampanahan: link
– Kerajaan Sebamban: link
.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: