Tegeh Kori, kerajaan / Bali

Kerajaan Tegeh Kori 1378 – pertengahan abad ke-17. Terletak di Tegal, sebuah daerah di sebelah selatan setra Badung sekarang. Kerajaan Tegal Kori berakhir pertengahan abad ke-17.

Lokasi kab. Badung

Lokasi pulau Bali


Foto kerajaan-kerajaan di Bali

* Foto raja-raja Bali, yang masih ada: link
* Foto raja-raja Bali masa dulu: link
* Foto Bali dulu: link
* Foto situs kuno di Bali: link
* Foto puputan Denpasar, 1906: link
* Foto puputan Klungkung, 1908: link


* Video sejarah kerajaan-kerajaan di Bali, 45.000 SM – sekarang: klik


* Garis kerajaan-kerajaan di Bali: klik


KERAJAAN TEGEH KORI

Sejarah kerajaan Tegeh Kori, abad ke-17

Kerajaan Tegeh Kori berdiri sejak tahun 1378 dengan penguasa (anglurah) pertama ialah Kyai Anglurah Tegeh Kori, beliau adalah putra ketiga dari Sri Arya Kenceng. Istana atau puri beliau terletak di Tegal, sebuah daerah di sebelah selatan setra Badung sekarang.

Sri Arya Kenceng punya tiga putranya. Putra beliau yang sulung Sri Megadhaprabu memilih kehidupan mengarah kepada kepanditaan, sementara putra kedua Sri Megadhanata akan menggantikan ayahndanya di Puri Pucangan, maka tinggal putra yang ketiga Kyai Tegeh mendapat tugas untuk mengisi kekosongan di Kerajaan Kertelangu.
Setelah segala sesuatunya dipersiapkan maka berangkatlah Kyai Tegeh diiringi oleh Ki Bendesa Manik Mas beserta para pemuka masyarakat Kertelangu menuju Puri Samprangan untuk melaporkan kembali hasil mereka menghadap Sri Arya Kenceng di Puri Pucangan.
Dalam pertemuan kerajaan yang diselenggarakan di Puri Samprangan mengenai masalah pengganti Kyai Anglurah Agung Pinatih, Adipati memutuskan serta mengesahkan bahwa Kyai Tegeh ditetapkan dan diangkat menjadi pengganti Kyai Anglurah Agung Pinatih dengan gelar Kyai Anglurah Tegeh. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1378.
Dengan keputusan Adipati di atas Kyai Tegeh yang telah diangkat menjadi anglurah atau penguasa di bekas wilayah kekuasaan Kyai Anglurah Agung Pinatih, tidak mau tinggal di wilayah Kertalangu akan tetapi lebih memilih tempat purinya di sebelah atau tepi barat Tukad Badung di daerah Tegal sekarang. Menurut ceritera orang yang tahu bekas lokasi Puri Agung Tegeh Kori dan beberapa bukti fisik yang masih ada, maka dapat dipastikan puri dimaksud terletak disebelah selatan Balai Banjar Tegal Gede yang ada sekarang membujur keselatan sampai pada perbatasan Pura Majapahit di desa Munang-maning, batas barat sepanjang jalam Imam Bonjol dan batas timur sepanjang Tukad Badung.

Kerajaan Tegal Kori berakhir pertengahan abad ke-17.

Puri Tegal Kori


Raja raja kerajaan Tegeh Kori

* Raja Tegeh Kori I: Kyai Anglurah Tegeh Kori.

* Raja Tegeh Kori II: Kyai Anglurah Tegeh Kori digantikan oleh putranya Kyai Gede Tegeh sebagai Raja Tegeh Kori II.

* Raja Tegeh Kori III: Kyai Gede Tegeh Kori digantikan oleh putranya sebagai Raja Tegeh Kori III, dimana keadaan pemerintahan berjalan biasa-biasa saja tiada peristiwa atau gejolak yang berarti.

* Raja Tegeh Kori IV: Kyai Anglurah Tegeh Kori III, digantikan oleh putranya yang bergelar Kyai Anglurah Tegeh Kori IV. Pada masa pemerintahan Kyai Anglurah Tegeh Kori IV, keadaan pemerintahan mengalami banyak peristiwa seperti adanya penyerangan ke Lombok, dalam peristiwa penyerangan Kebo Mundar dimana Kyai Tegeh Kori IV di Tegal dan juga Kyai Telabah III di Kuta wajib membantu Dalem Sagening (1580 – 1620 ) untuk mengirimkan prajurit tempurnya ke Sasak Lombok membantu pasukan Gelgel.


Puri Agung Tegaltamu

Setelah Kyai Anglurah Agung Tegeh Kori IV menetap di Desa Tegaltamu Batubulan, pada pertengahan abad ke-17 bersama sanak keluarga dan pengikutnya seperti para Bendesa Mas, Waisnawa dan sebagainya, beliau mulai menata tempat permukiman. Lokasi Puri dikelilingi oleh para Bendesa dan para Waisnawa, sedangkan sanak saudara dan pengikut setia lainnya menyebar di sekitar Puri.
Tidak lama berselang, Kyai Anglurah Agung Tegeh Kori IV wafat, digantikan oleh putra mahkota yang pertama yaitu Kyai Anglurah Gede Tegeh bergelar Kyai Anglurah Agung Tegeh Kori yang ditetapkan sebagai Penglingsir Puri Tegaltamu (I).

– Lihat juga: Puri Agung Tegaltamu


Puri (istana) di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.

Puri Agung Susut Bangli


Pura (tempat ibadah) di Bali

Pura adalah istilah untuk tempat ibadat agama Hindu di Indonesia. Pura di Indonesia terutama terkonsentrasi di Bali sebagai pulau yang mempunyai mayoritas penduduk penganut agama Hindu.
Tidak seperti candi atau kuil Hindu di India yang berupa bangunan tertutup, pura di Bali dirancang sebagai tempat ibadah di udara terbuka yang terdiri dari beberapa zona yang dikelilingi tembok. Masing-masing zona ini dihubungkan dengan gerbang atau gapura yang penuh ukiran. Lingkungan atau zonasi yang dikelilingi tembok ini memuat beberapa bangunan seperti pelinggih yaitu tempat suci bersemayam hyang, meru yaitu menara dengan atap bersusun, serta bale (pendopo atau paviliun). Struktur tempat suci pura mengikuti konsep Trimandala, yang memiliki tingkatan pada derajat kesuciannya.

Pura Besakih

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar.


SEJARAH SINGKAT KERAJAAN-KERAJAAN DI BALI

Untuk sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali, klik di sini

Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.


Intervensi Belanda di Bali, 1846, 1848, 1849, 1906, 1908

– 1846: Perang Bali I: Intervensi belanda, 1846
– 1848: Perang Bali II: Intervensi belanda, 1848
– 1849: Perang Bali III: Intervensi belanda, 1849
– 1906: Intervensi belanda di Bali / Puputan 1906: Intervensi belanda, 1906
1908: Intervensi Belanda di Bali / Puputan 1908: Intervensi belanda, 1908

Sumber Tegeh Kori

– Sejarah kerajaan Tegeh Kori: https://agung759.wordpress.com/
Tentang Arya Kenceng: http://www.wikiwand.com/id/Arya_Kenceng
– Cikal bakal Puri Tegaltamu: http://bali.tribunnews.com/


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: