Parigi, kerajaan / Prov. Sulawesi Tengah – kab. Parigi Moutong

Kagaua Patanggota Parigi (kerajaan Parigi) adalah kerajaan di Sulawesi, Kab. Parigi Moutong, prov. Sulawesi Tengah. Kerajaan ini adalah kerajaan Suku Kaili.
Kerajaan ini berdiri abad ke-16.
Raja bergelar: Magau.

The kingdom of Parigi is a kingdom in the district Parigi Moutong. Central Sulawesi.
The title of the king is Magau.
For english, click here

Lokasi Kabupaten Parigi Moutong


* Foto kerajaan / kingdom Parigi: link

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link

* Foto kerajaan2 di wilayah Poso: link
* Foto suku Bugis: link
* Foto suku Toraja: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Tentang Raja (2020)

Raja bergelar: Magau.

Raja (Magau): Raja ke-20 Parigi: YM H Magau Andi Tjiembu Tagunu.
Pewaris: Madika Mahkota Andi Muhammad Oza Tagunu.

Raja ke-20 Parigi: YM H Magau Andi Tjiembu Tagunu

——————–

Pewaris: Madika Mahkota Andi Muhammad Oza Tagunu


Sejarah Kagaua Patanggota Parigi

Sebelum ditaklukkan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1904 wilayah Kabupaten Donggala adalah wilayah Pemerintah raja-raja yang berdiri sendiri-sendiri yaitu:
1. Kerajaan Palu
2. Kerajaan Sigi Dolo
3. Kerajaan Kulawi
4. Kerajaan Biromaru
5. Kerajaan Banawa
6. Kerajaan Tawaili
7. Kerajaan Moutong
8. Kerajaan Parigi

Kerajaan Parigi, adalah sebuah kerajaan Islam di Indonesia yang umumnya terletak di wilayah Parigi, Sulawesi Tengah. Kerajaan ini berdiri pada tahun 1515, dan raja pertama yang memerintah adalah Makagero yang di lantik oleh Francisco Lesa, seorang gubernur dari Portugis yang berkuasa di sebagian wilayah Sulawesi Tengah pada masa itu. Wilayah kerajaan ini umumnya terdiri dari empat wilayah; yaitu Lantibu, Masigi, Toboli, dan Dolago.

Wilayah Parigi sebelum di kuasai oleh Belanda lebih dulu disinggahi oleh para penjelajah dari Portugis dan Spanyol. Pembangunan benteng Portugis di Parigi dimulai pada tahun 1555. Pada awalnya, mereka datang untuk berdagang tetapi seiring berjalan waktu akhirnya mereka meninggalkan Sulawesi Tengah karena perdagangan tidak menguntungkan lagi. Spanyol mengadakan hubungan perdagangan dengan Kerajaan Parigi pada awal abad ke-17 hingga tahun 1663 setelah kedatangan VOC.

Belanda pertama kali tiba di wilayah Parigi pada tahun 1663, dengan tujuan awal untuk berdagang. Sejak tahun 1897, Raja Parigi yang bernama I Djengitonambaru (satu-satunya raja wanita yang pernah memerintah kerajaan ini) telah mengikat Korte Verklaring (perjanjian pendek) dengan Belanda. Seorang Putra Mahkota bernama Vinono dengan tegas menolak kehadiran mereka, dan menduga bahwa Belanda akan merebut kekuasaan di Parigi. Vinono adalah anak pertama dari Raja ke-13 Parigi, Sawali, yang seharusnya menjadikan Vinono sebagai pewaris sah takhta Kerajaan Parigi, namun dia menolak menjadi raja jika harus tunduk kepada Belanda.
Bersama putranya yang bernama Hanusu, ia memimpin para pengikutnya untuk melawan Belanda. Perlawanan tidak seimbang ini memakan banyak korban, karena pasukan Kerajaan Parigi masih menggunakan senjata yang sederhana. Dalam perang ini, Vinono mengucapkan sumpah, “mabula boga rivana, pade meta’a mbaeva Balanda” (Jika monyet di hutan rimba berubah menjadi putih, barulah saya akan berhenti melawan Belanda).

Perlawanan ini sendiri dapat ditekan oleh Belanda, dan akibatnya Hanusu dibuang ke Tondano di wilayah Minahasa. Ia baru dipulangkan pada tahun 1917, dan diangkat oleh Belanda menjadi Raja Parigi setelah menandatangani Korte Verklaring pada tanggal 5 Februari 1917.

Lihat pula:
– Jalan panjang Magau Mpoledo (1855-1880) melawan Belanda, klik di sini
– Hubungan Kerajaan Tavaili dan Kerajaan Parigi, klik di sini

Magau Parigi, Tagunu Hanusu (ujung kanan)


Perang Parigi di tahun 1914

Perang parigi di tahun 1914 tercatat merupakan perang yang mendatangkan kerugian besar bagi kompeni bahkan dalam suatu tulisan residen Menado saat itu untuk memadamkannya leutenat Vostkuil harus meminta tambahan pasukan dari Dongggala dan Menado, dan untuk menebus kerugian itu tercatat sejumlah nama baik magau sampai tadulako Parigi ditangkap dan diasingkan ke Menado, Kutai dan Bali.
Lantas apa hubungan perang parigi dan labuan?
Pemilihan magau Parigi saat itu mendapat intervensi Kompeni, Vinono sebagai calon magau yang akan meneruskan tahta bapaknya magau Sawali (bakapalo) memilih mengobarkan perlawanan dari pada harus didikte si “rambut putih”sehingga kemudian tahta diberikan kepada pamannya Radjalolo, karena dinilai lebih membantu perjuangan vinono maka belanda berencana menangkap Radjalolo, tetapi beliau lebih dulu melarikan diri ke Labuan dan mendapat perlindungan madika Labuan Djala Lembah, bahkan beliau dinikahkan dengan anaknya yang bernama Ronempeluru, dari keturunan beliau ikut diwariskan pula sikap yang keras dan teguh menentang belanda, sehingga tercatat dalam sejarah bahwa anak beliau yang bernama Lantigau dan Rusapalu bersama Hanusu anak dari Vinono mengobarkan perang rakyat Parigi di Pelawa [matelele] selain mereka tercatat juga saudara sepupu mereka yang merupakan keturunan dari madika Malolo Parigi subhana yang bernama radja pelava ikut dalam perang tersebut, akhir dari perang tersebut dengan ditangkapnya Hanusu lalu dibuang ke Menado, lantigau tertangkap di Labuan karena sempat meloloskan diri lalu dipenjara di Donggala dan selanjutnya di buang ke Kutai dan dieksekusi di sana sedangkan Rusapalu dan radja pelava dari Donggala dibuang ke pulau Bali sampai akhir hayatnya.
Sebagai penghormatan bagi mereka nama Lantigau saat ini ditetapkan mejadi nama jalan trans di desa Labuan.

Sumber: http://gospenlopito.blogspot.co.id/2016/06/parigi-labuan-dalam-silsilah-catatan.html

Prajurit Parigi di tahun 1920an, setelah ditaklukan belanda


Hubungan Kerajaan Tavaili dan Kerajaan Parigi

Untuk Hubungan Kerajaan Tawaeli dan kerajaan Parigi, klik di sini


Daftar raja kerajaan Parigi

  • Makagero alias Magau Lomba (1515-1533)
  • Boga (1533-1557)
  • Ntavu (1557-1579)
  • Sheikh Maliq Ash Shiddiq alias Langimoili (1579-1602) (Raja Parigi pertama yang memeluk Islam)
  • Sheikh Yussuf Maliq Maulana Ibrahim alias Tonikota 1602-1627)
  • Sheikh Machmud Maliq Maulana alias Magau Janggo (1627-1661)
  • Ntadu (1661-1690)
  • Palopo alias Kodi Palo (1690-1724)
  • Mansyur alias Bombo Onge (1724-1760)
  • Abduh alias Pangabobo (1760-1792
  • Puselembah alias Tedo (1792-1821)
  • Radjangguni (1821)
  • Sawali atau Radja Ali alias Baka Palo (1821-1855)
  • Radja Lolo alias Paledo (1855-1880)
  • I Djengitonambaru (1880-1898) (satu-satunya Raja perempuan yang memerintah Parigi)
  • Hanusu Vinono(1898-1927)
  • Tagunu Hanusu (1927-1960)

Jalan panjang Magau Mpoledo (1855-1880) melawan Belanda, klik di sini
– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Parigi#Daftar_Magau

Putri Mahkota Kerajaan Parigi Andi Indo Tjiela Tagunu Anak Ke-2 dari Raja Magau Tagunu Hanusu Raja Ke-17 Parigi.


Struktur Lembaga adat dan waris adat serta mahkota kerajaan Kagaua Patanggota Parigi

Klik foto untuk besar  !


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


Sumber / Source

– Website  Kerajaan Parigi (banyak info): kerajaan.parigi
– Kerajaan Parigi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Parigi
– Daftar raja kerajaan Parigi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Parigi#Daftar_Magau
– Sejarah Kabupaten Donggala di Wiki:
Wiki
Perang parigi di tahun1914: http://gospenlopito.blogspot.co.id/2016/06/parigi-labuan-dalam-silsilah-catatan.html
– Sejarah Kab. Donggala: http://donggala.go.id/sejarah/
– Suku Kaili:
https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sulawesi/kaili-kerajaan2-di-tanah-kaili/

Facebook


Kerajaan Tawaili, Parigi, Palu, Banawa, tahun 1916

—————————

Peta wilayah Kerajaan di Lembah Palu, pada lampiran besluit No.21, tahun 1908.

Bardasarkan Peta yang terlampir pada arsip Missive van asisten resident van midden celebes, 22 November 1907 , melalui besluit no. 4216 tertanggal 10 Maret 1908, Hindia Belanda menetapkan batas tiap Kerajaan di Lembah Palu.
Tampak secara kasar, beberapa kerajaan memiliki wilayah yang terpisah-pisah, tengok saja Kerajaan Banawa dan Kerajaan Tawaeli, justru Kerajaan Palu, memiliki Wilayah yang satu, dan jauh mengambil pegunungan barat Lembah Palu, sedangkan wilayah Pegunungan Timur dikuasai Kerajaan Tawaeli.


 

4 Comments

4 thoughts on “Parigi, kerajaan / Prov. Sulawesi Tengah – kab. Parigi Moutong

  1. tabeee….i’m sorry in i know the parigis structure kingdom there isn’t a madika mahkota, which exixst the madika malolo …songgom mpoasiii

  2. Yes,he is my friend.His uncle is the present magau of Parigi and he is one of the most hardworking royals regarding giving info on f.i. internet about his kingdom I met.

  3. Not “Madika Andi Baru Baru Tagunu <<<< But,
    "Madika Mahkota Andi Muhammad Oza Tagunu"
    Thank you Your Highness.
    Best Regards,
    Kagaua Patanggota Parigi

    • Sultans in Indonesia

      Your Highness,

      Thank you for your comment. We will update the site today, so it will be correct.
      If you have more comments, please let us know.

      Kind regards,
      Paul Kijlstra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

<span>%d</span> bloggers like this: