Sejarah lengkap kerajaan2 dan sistem pemerintahan di Kep. Sangihe

Sumber: http://melayanibersama.blogspot.com/2016/06/sistem-pemerintahan-suku-sangihe-zaman.html

——————————————————-

Umum

Sangihe sudah mengenal  sistim  pemerintahan dalam  kehidupan bermasyarakat  dengan   bentuk  pemerintahan   kerajaan.  Sistim  pemerintahan   kerajaan  yang  dianut  oleh  kerajaan-kerajaan  di Sangihe merupakan  bawaan  dari  sistim  pemerintahan  kesultanan  yang ada  di Philiphina. Kerajaan  mula-mula di bangun  atas  dasar kemonarkian  atau  wangsa, monarki  artinya dipimpim  oleh  satu  orang. Kepemimpinan  kerajaan dilakukan  oleh  satu  keluarga  yang  menurun  keanak  cucu,  berdasarkan  garis keturunan  laki-laki.

Tampungang Lawo, muncullah para  kulano dan Bahaning. Sejak  saat itu kedudukan  raja  diambil  alih  oleh  pemberani,  dalam  bahasa  sangihe  di sebut Kulano  atau  Bahaning  beo’ e. (di kepulauan  Maluku,  Kulano  adalah raja).

Jika dilihat  dari  kata  “Tampungang Lawo”  secara  luas berarti  tempat dimana  terhimpun  banyak  orang, menunjukkan sebuah demokratisasi  telah dibangun sejak  kerajaan  tua. Meskipun  kekuasaan  raja-raja  berdasarkan  wangsa tetapi harus  menghadirkan banyak orang dalam setiap  keputusan. Perubahan  sistim  sosial  kekerabatan masyarakat Sangihe mengalami  beberapa perubahan  mulai dari  sistim patrilineal sejak Gumansalangi  sampai  ke  Makaampo, sistim bilateral  sejak awal  kerajaan  Tabukan sampai masa  kolonial  belanda awal tahun 1800. Tetapi  ada  satu  masa  bersamaan  dengan pengaruh kuasa ampuang – ampuang perempuan,  Sangihe  pernah  menganut  sistim  kekerabatan matrilineal  yang  mengikuti  garis keturunan Ibu.  Meskipun sistim  kekerabatan  pernah  berubah-ubah  tetapi  tanggung jawab setiap   keluarga batih ada pada  gaghurang (orang tua) dimana  suami  ataupun  isteri  bertanggungjawab bersama dalam  keluarga. Diperkirakan sistim  kekerabatan  dengan  mengikuti  garis  keturunan ayah (patrilineal) mulai  berlaku sejak ada  pengaruh  eropa  di  sangihe.

Penggunaan  marga atau fam mulai  berlaku sejak  diberlakukannya hukum atas tanah. Banyak  tanah  di Sangihe  yang  tidak  bertuan. Hal ini  dipengaruh olah sistim  perbudakan dan  kekuasaan raja  yang mutlak  dimasa lalu sampai kemudian  muncul tanah-tanah family. (di Minahasa dikenal  dengan tanah  Kalakeran). Masyarakat Sangihe  hanya  mengenal  tanah family  berdasarkan marga keturunan,  tanah  family  kerajaan  dan  tanah – tanah  bebas  (tidak  bertuan).

Tingkatan  sosial masyarakat Sangihe menurut D. Brillman  adalah:
* Bangsawan, terdiri  dari raja-raja, jogugu dan keluarganya.
* Warga-warga yang bebas
* Budak  yang dimerdekakan
* Para budak.

Keturunan raja  termasuk  dalam golongan Hokowalumpulo, keturunan bangsawan termasuk  dalam golongan  Hokolimampulo, rakyat biasa termasuk dalam golongan Hokotalumpulo, budak digolongkan sebagai allangga.

Struktur  pemerintahan kerajaan  Sangihe  adalah:
* Tingkatan  paling  tinggi  raja yang  disebut datu.
* Tingkatan  kedua  adalah bobato pimpinan  daerah dibawah  kerajaan  atau  setingkat  dengan adipati.  (adipati  adalah  jabatan  setingkat bupati dalam  tradisi  jawa).
* Tingakatan  ke tiga  Opo Lao  atau Kapiten Laut (ensiklopedia  Indonesia)

Struktur pemerintahan kerajaan di Sangihe pada masa VOC, mulai dari  yang tertinggi  sampai yang  terendah.

Raja  yang  disebut  datu
Bobato  (termasuk presidenti raja /pejabat raja sementara)
Jogugu
Presidensi  Jogugu (bila diperlukan)
Kapiten laut  (laksamana)
Mayore  (Mayore gaguwa atau Mayore labo)
Hukum  Mayore
Sadaha
Kapita
Sangaji
Kumelaha
Sawehi  (dukun)
Mihinu ( Tukang  palakat)

Kekuasaan raja – raja di Sangihe mengalami beberapa bentuk pemerintahan yaitu:

* pemerintahan raja-raja  asli  Sangihe  berdasarkan wangsa/ keturunan  yang  terwaris  dalam  keluarga,
* pemerintahan raja-raja  Sangihe  berdasarkan pengaruh Spanyol dan  Portugis,
* pemerintahan raja-raja  Sangihe  berdasarkan pengaruh VOC dan  pemerintahan  colonial   hindia belanda,
* pemerintahan raja-raja Sangihe  berdasarkan pengangkatan penguasa  jepang.

Sebelum  pengistilahan  raja digunakan dalam sistim   pemerintahan  kerajaan  Sangihe, sudah didahului penggunaan kata  datu’  untuk  kedudukan raja. Pengistilahan ini  hadir  bersamaan  waktunya dengan  kerajaan mula-mula  di wilayah kepulauan  Sangihe  yang  disebut  Kedatuan. Wilayah kepulauan  Sangihe mulai dari pulau-pulau  di sekitar  Kepulauan Saranggani  Philiphina, kepulauan Talaud, kepulauan  Sangihe, kepulauan Siau dan  Taghulandang, dan  pulau-pulau  yang  ada  disekitar  jazirah Minahasa.  Kerajaan  Sangihe  melewati  masa  pemerintahan   panjang   mulai dari  kekuasaan dinasty  Gumansalangi yang berakhir  pada   masa VOC.

Masa  kedatuan tua

Kerajaan yang   mula-  mula   berdiri  di  wilayah  teritorial  Sangihe dikelompokan dalam  masa  kedatuan,  karena  pada  saat itu istilah  Datu digunakan  untuk pimpinan tertinggi kerajaan. Kedatuan tua yang  berdiri   mula – mula  adalah sebagai  berikut.

Kedatuan Bowontehu.

Bowontehu  diambil  dari  bahasa  sangihe  Bowongkehu yang secara  harafiah berarti  diatas atau dipuncak  hutan. Wilayah kerajaan ini adalah salah satu  dari 10  lanskap (kerajaan  kecil) yang diserahkan oleh sultan  Ternate kepada  VOC bersama dengan  kerajaan Tubuguo (Tabukan) tahun 1609. (Sejarah Minahasa, Kontrak 10 Januari 1679, hal.61). Berdasarkan sastera lisan Sangihe,   kerajaan ini  didirikan  oleh  datu Mokodoludugh yang  oleh  orang  Mongondow  disebut Mokoduluduth pada abad ke – 10.  Kerajaan   ini dianggap sebagai  kerajaan  tertua yang  menjadi bagian  dari wilayah  territorial  Sangihe. Mokodoludugh memperisteri Baunia dan  memperanakan Lokongbanua, Yayukbongkai, Uringsangiang dan Sinangiang.  Lokongbanua  kemudian  menjadi Raja  kerajaan Siau  pertama. Bowontehu pada  masa kekuasaan  raja Pasibori (sultan  dari Ternate), ditaklukan  oleh  raja dari  kerajaan  Bolaang  bernama Damopolii (kinalang). (sejarah  kerajaan  Mongondow,Tabloid Media Edukasi, Nov.2009)

Kedatuan Tampungang Lawo

Didirikan  pada  kurun waktu tahun 1300 (dijelaskan dalam sejarah kerajaan Tampungan  Lawo).

Kedatuan Tampungan  Lawo sudah melegenda  karena  diceritakan  secara  turun-temurun  oleh  orang  Sangihe  sebagai  sastera  lisan,  baik  itu  melalui  sasalamate, papantung, tatinggung  ataupun  lagu-lagu  masamper.  Tampungang  Lawo  merupakan  bagian  yang  tidak  dapat dipisahkan dari  sejarah Sangihe, meskipun belum  ditemukan bukti  berupa benda sejarah  yang  berhubungan dengan kerajaan Tampungang Lawo.

Kedatuan Tampungang Lawo pertama, abad ke-13

Konon, Kedatuan  Tampungang  Lawo  didirikan  oleh  Gumansalangi   pada tahun 1300  sampai 1400 yang  berpusat  di Manuwo, kini  disebut  kampung Salurang.  Diperkirakan masa Gumansalangi dimulai akhir tahun 1200 sampai awal tahun 1300. Pada  masa  ini  dimulailah  sistim  pemerintahan  monarkih kerajaan pertama  Sangihe. Gumansalangi  yang memperisteri Sangiang Konda Wulaeng  memperanakan Melintangnusa  dan Melikunusa.  (D.B. Adrian  “Renungan  kisah Sangihe  Talaud”  dalam Toponimi, cerita rakyat dan  sejarah dari  kawasan Nusa  Utara, Diknas Tahuna).

Wilayah  kekuasaan  kerajaan  Tampungang  Lawo membentang  dari  Mindanao  sampai  ke  Bolaang  Mongondow.  Panglima  perang  kerajaan  Tampungan  Lawo  adalah Melintangnusa yang  memperisteri Sangiang Hiabe puteri Abubakar (seorang  pemberani  dari  Tugis,  Philliphina). Melikunusa  berlayar  ke  wilayah  Mongondow dan  mempersunting Menong Sangiang.

Gumansalangi  mewariskan  kerajaan pada anaknya Melintangnusa tahun 1350. Menjelang akhir hidup Melintangnusa  berlayar ke Mindanao  dan  meninggal  disana. Sejak meninggalnya Melintangnusa,  kerajan  diserahkan  kepada  anaknya Bulegalangi dan Pahawonseke. Sejak saat  itu  pusat  kerajaan  terbagi  dua:
* Kerajaan  Tampungang Lawo dengan  pusat  kerajaan di Sahabe
* Kerajaan  Tampungang Lawo dengan pusat  kerajaan di Salurang.

Kekuasaan  kerajaan yang berpusat di Salurang  diserahkan  kepada  anaknya  bernama Bulegalangi. Dalam  menjalankan  pemerintaha Bulegalangi  dibantu oleh  anaknya bernama Matandatu. Saudara laki-laki Bulegalangi bernama Pahawongseke pindah  ke Sahabe (Tabukan Utara  sekarang),  dan  membentuk  pemerintahan baru. Pemerintahan  dibantu  oleh anaknya Pangatorehe. Setelah raja Bulegalangi meninggal,  puterinya bernama  Sitti Bai dipersunting  oleh Balanaung sedangkan  Puteri Aholiba dipersunting oleh Mengkangbanua dan berpindah  tempat  tinggal  ke  Tariang  tebe (sekarang kampung Tariang Lama).

Kedatuan Tampungan Lawo di Sahabe (1400-1530)

Kerajaan  Tampungan Lawo di Sahabe  didirikan   oleh Kulano Pahawongseke (putra  dari Melintangnusa).  Pusat  kerajaan  adalah  Limu (dekat kedang atau  sahabe behu). Kerajaan  Tampungan  Lawo di sahabe  kemudian  dikenal  dengan nama kerajaan Sahabe, juga  dinamakan  kerajaan  Limu.  Wilayah  kekuasaannya dari  tanjung Salimahe sampai  ke tanjung Lehe, termasuk pulau nusa, bukide, dan  buang  (sekarang Tabukan tengah). Pahawongseke diganti  oleh puteranya Pangalorelu. Pangalorelu diganti  oleh Mamatanusa. Mamatanusa kemudian  menjadi  raja  terakhir di  kerajaan Sahabe.  Mamatanusa  memperisteri  Neneukonda dan memperanakan  dua orang  puteri  bernama Somposehiwu dan Timbangsehiwu.  (Dari  sumber  cerita lisan  lain, Raja  terakhir  kerajaan Sahabe  adalah Pontowuisang, yang  memperisteri Belisehiwu.  Pontowuisang adalah raja Siau yang  menyuruh Hengkengunaung untuk membunuh  Makaampo).

Kedatuan Tampungang Lawo di Salurang  (1400 – 1500 an)

Kerajaan  ini didirikan  oleh Kulano Bulegalangi (putra dari Melintangnusa),  yang  berpusat  di Salurang.  Wilayah  kekuasan  kerajaan  Tampungang  Lawo di Salurang mulai  dari  tanjung Lehe ke Pungu  Watu, termasuk  pulau-pulau Marore, Kawio, Kemboleng, Memanu, Matutuang, dan Dumarehe.
Pemerintahan  Bulegalangi  dibantu oleh anaknya  bernama Matandatu yang juga  sebagai panglima  perang. Setelah  wafatnya  Bulegalangi,  kekuasaan raja  diganti  oleh puteranya Matandatu .Pemerintahan  Matandatu dibantu  oleh  anak-anaknya, Makalupa, Ansiga, Tangkaliwutang dan saudara  perempuan mereka Talongkati.  Talongkati  adalah  anak  yang  paling  berani  sehingga  mendapat  gelar Bawu Mahaeng.

Salah  satu  anak  dari Matandatu bernama Tangkuliwutang kemudian memperanakan Makaampo Wewengehe. Makaampo  lahir pada  tahun 1510 di  Rainis (Talaud) dari ayah  bernama Tangkuliwutang  dan ibu  bernama Nabuisang (dari Talaud). Nabuisang  adalah anak  dari Saselabe (di Taghulandang) dengan isterinya  Putri Din (perempuan dari  bangsa jin). Makaampo  dilahirkan  kembar, dan  kembarannya  adalah  seekor  ular bernama Uri Makaampo. Isteri pertama Makaampo adalah  Marinsai.

Setelah dewasa Makaampo memperisteri  Marinsai orang  Bowongkalumpang anak  dari Bolinsangiang, Makaampo meninggalkan  perempuan  tersebut karena  kedapatan  berselingkuh  dengan  laki-laki lain. Seterusnya Makaampo memperisteri Rampeluseke seorang  perempuan  dari Salurang, kemudian  memperisteri  dua orang kakak beradik Somposehiwu dan  Timbangsehiwu. Sejak memperisteri  Somposehiwu dan  Timbangsehiwu berakhir pula  kerajaan Tampungan Lawo di Salurang.

Latar  belakang  meluasnya   wilayah  kerajan Tampungang  Lawo di Salurang  adalah  sebagai  berikut:
Makalupa (anak dari Matandatu) mengambil  Kindi  Sangiang  sebagai  isteri  ketika Kindi Sangiang sedang  melingkarkan  kain sehabis mandi,  itulah  sebabnya  tempat  tersebut  dinamakan  Pendarehokang. Setelah memperisteri Kindi Sangiang anak  dari Menentonau,(kulano  di Kauhis) wilayah  kekuasan Menentonau yang meliputi Lelapide sampai ke Pendarehokang  diserahkan  kepada  anaknya Kindi Sangiang.

Ansiga (anak dari Matandatu ) memperisteri Gaupang (Raupang)  anak  dari Panglima perang Dagho bernama Ansaaralung.  Kekuasaan  Ansaaralung  di dagho  yang  meliputi  Toade  Manandu sampai ke pulau-pulau Mahengelang diserahkan kepada anaknya Gaupang.

Wilayah dari Toade Manandu  sampai ke  Tanjung Lelapide termasuk Tamako diserahkan ke kerajaan  Tampungang  Lawo di Salurang  atas  isin  dari Kelungsanda panglima  perang  Tamako.  Isteri dari  Kelungsanda  adalah Taupangkonde. Taupangkonde adalah  saudara kandung  dari Gaupang (isteri dari Ansiga)

II  Kedatuan Tampungan Lawo kedua

(lahirnya  Kerajaan Tabukan besar yang disebut  Rimpulaeng) .

Kedatuan Tampungang  Lawo  yang  dulunya  terpisah kemudian lenyap, dipersatukan  lagi menjadi  sebuah  kedatuan besar. Kedatuan  ini  didirikan  pada tahun 1530 oleh Makaampo  Wewengehe yang berpusat  di Limu atau  sahabe Behu di daerah bekas  pusat  kedatuan Tampungan  Lawo  Sahabe.

Wilayah  kekuasaan  kedatuan  Tampungan Lawo kedua meliputi Tanjung Salimahe  ke Pendarehokang sampai  ke  pulau  Marore, Mahengetang  dan  kepulauan  Talaud.  Pada   masa pemerintahan Makaampo Wewengehe di Sahabe Behe, dia didampingi  oleh  permaisuri  Sompo  sehiwu. Sedangkan permaisuri Sompo Sehiwu tinggal di Salurang.

Makaampo  Wewengehe dikenal  sebagai  raja perkasa, yang  memerintah  dengan kejam. Akibat kekejamannya  itu dia  dibunuh  oleh seorang  pemberani  dari  Tamako  bernama  Ambala  yang  bersekutu  dengan  panglima  laut  kerajaan  Siau  bernama Hengkeng u’ naung  di  pantai  Batu keti’ pada tahun 1575. Leher Makaampo  dipotong  dan  kepalanya  di antar  ke pehe – siau. Lalu kemudian  di ambil  oleh  Ansiga dan  Makalupa  dan  dikuburkan di Salurang. Makaampo adalah  datu terakhir  kedatuan Tampungang Lawo  yang  mendirikan  dasar  atas  kerajaan  Tampungang Lawo  baru  dengan nama Tabukan. Setelah Makaampo meninggal, kedudukan  datu diganti  oleh  anaknya Wuateng Sembah. Sejak saat itu mulai dikenal  kerajaan  Tabukan yang berpusat di Salurang.

Kedatuan Mangsohowang

Wilayah   kedatuan  ini  berada  di  kaki  gunung  awu, pulau  sangihe. Kedatuan  ini  hilang  akibat  letusan gunung  api  Awu.

Kedatuan  Karangetang

Kedudukan  kedatuan  ini  berada  di  pulau  Siau. Didirikan  oleh pangeran Kedatuan  Bowontehu bernama Lokongbanua. Lokongbanua  adalah anak  tertua  dari Mokodaludugh yang  lahir di gunung Lokon. Kekuasaan  Lokongbanua  atas kedatuan  Karangetang berlaku pada tahun 1510 – 1540 (meninggal).  Pusat pemerintahannya di  Katutungang (sekarang bernama Paseng). Lokongbanua  memperanakan Passuma dan Angkumang.

Masa sesudah kedatuan (masa awal hubungan Eropa dengan kepulauan Sangihe)

Pada   masa  ini semakain  nyata  keberadaan  bangsa  Eropa di daerah  utara  Nusantara. Kerajaan –  kerajaan   di Sangihe  pada   waktu   itu   mengalami berbagai  situasi  dan tekanan akibat   perebutan   wilayah   kekuasaan oleh  Kerajaan – kerajaan dari  Eropa.

Portugis berhubungan dengan Sangihe sejak tahun 1563.

Tahun 1563, Raja Siau bernama  Possuma dibaptis di Manado oleh Pater Diego de Magelhaes dari Portugis. Sejak  saat  itu  terbukalah  hubungan  portugis  dengan Kepl. Sangihe  Talaud.

Spanyol menguasai Sangihe pada tahun 1565.

Hubungan  Spanyol  dengan Kepulauan Sangihe sudah   dimulai  tahun 1521. Gugusan kepulauan  Philliphina yang  bertetangga  telah diduduki Spanyol tahun 1565, pada  saat   itu  raja  yang  berkuasa di kerajaan  Siau  adalah Raja  Jeronimo.

VOC 

Berdiri tahun 1602 dan memulai kekuasaannya di Sangihe tahun 1677.

Pada tanggal 1 November 1677, Raja Amsterdam dari Ternate ( Kaitjil Sibori )  merebut  benteng Spanyol “Sancta Rosa” di Siau dan  menyerahkannya  pada Gubernur  Jenderal Robertus  Paddbrugge atas  nama  VOC. Pada  saat  itu  pula  ditandatangani perjanjian  antara  VOC dengan Raja Siau  Franciscus  Xaverius   Batahi. Perjanjian  yang  sama  juga  berlaku   terhadap kerajaan Tabukan,Tahuna dan Kendahe dan  Taghulandang.

Pembubaran VOC tanggal 31 Desember  1799. Sejak  saat  itu  daerah  kekuasaan VOC  di ambil  alih  oleh Pemerintah  Belanda,  tetapi  kekuasaan  VOC atas Sangihe  nanti  berakhir  tahun 1789.

Awal dimulainya pengaruh kekuasan pemerintahan  hindia  Belanda di  kepulauan  sangihe  yaitu  pada tahun 1821 dengan dikirimnya Zendeling J.C. Jungmichel  dari Ambon  oleh Pendeta  Joseph Kam.

Dari  penjelasan  diatas   dapatlah ditarik kesimpulan  bahwa sejak  tahun 1563, kerajaan – kerajaan disangihe sudah  berhubungan  dengan Portugis, Spanyol dan  VOC.  Sejak  tahun 1821 kekuasaan  kerajaan  di Sangihe  mulai  di  pengaruhi  oleh  pemerintah  Hindia  Belanda. Pada   masa  pemerintahan  Hindia  Belanda  sejak  tahun 1821,  sistim  pemerintahan  kerajaan   tidak lagi  berdasarkan  wangsa  tetapi berdasarkan kehendak  Pemerintah Hindia Belanda.

Pada masa itu di  wilayah  teritorial Sangihe  sudah ada keraajaan-kerajaan yang dipengaruhi oleh Eropa.  Kerajaan –  kerajaan tersebut adalah:

Periode Pertama

Kerajaan Manarou (Manado).

Manarou bukanlah Minahasa.  (sejarah  Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679). Manarou  diambil dari  kata bahasa sangihe  Mararau, marau  yang  berarti  jauh. Kerajaan  ini berpusat di Pulau Menado  Tua tepatnya di  tempat  yang bernama negeri  (desa menado tua – I, sekarang).  Kerajaan Manarou didirikan  oleh Daloda Loloda Mokoagow pada kurun waktu tahun 1644-1674.  Penduduk  kerajaan  ini adalah  orang Sangihe (Graafland, Minahasa  masa  lalu   dan masa kini, terjemahan  Joost Kulit.) Menurut  Catatan Robertus Padburgge,1867, Kerajaan  ini  hancur  akibat perang berkepanjangan  dengan Kerajaan Bolaang.

Kerajaan Kolongan.

Kerajaan  ini menggantikan  kedudukan kedatuan Mangsohoang. Diawal kedatangan Eropa, kerajaan ini diperintah  oleh  raja Pontoralage pada pertengahan  tahun 1500.

 Kerajaan Siau.

Diawal kedatangan Bangsa  Eropa, Kerajaan  ini  dibawah kekuasaan Raja Passuma. Masa pemerintahan Pasumah tahun 1540-1575. Raja  Passuma  meninggal  tahun 1587, dan diganti  oleh   anaknya Don Jeronimo  (Pontowuisang / Betewiwihe)Tanggal 16 Agustus 1593, Don Jeronimo mengucapkan  sumpah  setia  kepada pemerintah Spanyol di Manila melalui gubernur  Spanyol Gomez Perez Dasmarinas.  Don Jeronimo memperanakan Winsulangi. Tahun 1619, Raja Winsulangi  dibaptis di Paseng dan  menjadi Don Jeronimo Winsulangi. (D.Brillman,Zending di Kepl.Sangi  dan Talaud). Don Jeronimo  Winsulangi  diganti  oleh  anaknya Batahi, 1642-1678. Pusat   kerajaan  dipindahkan  dari Paseng ke Pehe.

 Kerajaan Tabukan,

Raja yang  memerintah  kerajaan Tabukan  dimasa awal kedatangan bangsa  Eropa adalah raja Wuateng sembah (Pahawuateng). Kerajaan  ini  berpusat di Sahabe. Wuateng  memperisteri Tasikoa, putri Ratu  Lohoraung  dari Taghulandang. Wuateng  sembah  diganti  oleh anaknya Markus Vasco da Gama. (Gamang Banua). Raja  ini   memerintah  disaat  Spanyol  masuk di Tabukan.

 Periode ke dua

Kerajaan Tahuna

Kerajaan Tahuna dengan  nama lain Malahasa, berpusat di bukide Tahuna. Kerajaan Tahuna didirikan  oleh  raja  Tatehewoba (Ansawuwo) putra  raja Pontoralage tahun 1580 – 1625. Tatehe memperisteri Doloweli anak dari Makaampo dengan  isteri Timbangsehiwu. Tatehewoba diganti  oleh anaknya Buntuang,  lau diganti lagi  oleh anaknya  Don Marthin Tatandangnusa.

Kerajaan Kendahe

Kerajaan Kendahe dengan nama lain Malinggaheng, berpusat di Makiwulaeng. Raja  pertama  kerajaan  Kendahe  bernama  Egaliwutang (Mehegalangi) putra  dari  Sultan Ahmad di  Mindanao. Memerintah tahun 1600-1640. Egaliwutang  diganti  oleh anaknya Wuisan.  Raja  Wuisan  pindah   ke Minahasa sejak  kembali  dari Mindanao setelah  mengetahui   isterinya sudah  kawin  dengan   orang lain. Keberadaannya di Minahasa tidak  diketahui. Kedudukan  raja  Wuisan diganti  oleh anaknya Syam Syach Alam.

Kerajaan Tagulandang

Kerajaan Taghulandang dengan  nama  lain Mandolokang, berpusat di  Tulusan. Raja pertama  kerajaan Taghulandang  adalah seorang  perempuan  bernama Lohoraung. Masa pemerintahannya  1570-1609.

Kerajaan Manganitu

Kerajaan  Manganitu dengan  nama lain Maobungang, Kerajaan  Manganitu didirikan oleh Tolosang (liung tolosang) dengan  nama  kerajaan Kauhis, pada  tahun 1600. Kekuasaannya  berlangsung sampai  tahun 1645. Pemberian  nama Maobungang  diambil  dari  kisah seorang  pemberani  dari Barangkalang  bernama Lumanu yang  memiliki  ilmu  sakti  dari  asap  rokok. Ilmu  tersebut  kemudian  terwaris  kepada  Raja  Manuel Hariraya  Mokodompis (tanawata).  Pusat  kerajaan  pertama  terletak  di Bowongtiwo (kampung Kauhis  sekarang). Tolosang adalah  anak  dari Jogugu Naleng dari Manganitu dengan isterinya Kaeng (lekung) Patola. Kaeng patola  adalah anak dari Kulano Makalupa dan Kindi Sangiang. Tolosang kemudian  memperisteri Ahungsehiwu dan memperanakan Tompoliu dan Lembungsengsale. Tahun 1645 sampai 1670,  Tompoliu  menjadi  raja  atas kerajaan Manganitu dan  memindahkan  pusat  kerajaan  dari Bowongtiwo ke Tatahikang.   Tompoliu memperisteri Lawewe dan memperanakan Bataha Santiago, Charles Diamanti, Sapelah, Apueng dan Gaghinggihe.

Sejak  Tompoliu  meninggal, kekuasaan raja  di  ganti oleh Bataha Santiagho. Santiago  adalah  raja Sangihe  pertama  yang  menentang   VOC  dimasa  akhir kekuasaan VOC.  Sejak di bunuhnya  Santiago  oleh  VOC,  kekuasaan  raja  tidak  lagi  berdasarkan  kemonarkian keluarga  raja  tetapi  berdasarkan  keinginan VOC dan  berlangsung  terus  sampai  masa Kolonialisme  bahkan sampai  pada  masa  pendudukan Jepang. Pada  masa  pemerintahan Willem  Manuel  Pandensolang  Mokodompis, raja  ini  berkuasa  atas  tiga wilayah   yaitu   kerajaan  Tahuna,  Kerajaan  Manganitu  di  Karatung  soa  dan Kerajaan  Manganitu  di Tamako. Hal ini  terjadi karena  pengaruh kekuasan  Belanda.

Sistem Monarki kerajaan-kerajaan Sangihe berakhir

Sistem Monarki kerajaan-kerajaan Sangihe berakhir sejak dimulainya pemerintahan Kolonial  Belanda. Kekuasaan  belanda mulai  menguat  di Sangihe   setelah  beberapa  Raja  menandatangani  perjanjian  persahabatan  (Lange Verklaring Contrac) mulai  dari tahun 1677.  Raja – raja  yang tunduk  adalah:
* Fransiscus Makaampo Juda – I Raja Tabukan,
* Don Marthin Tatandangnusa – raja Tahuna,
* Takaengetang (Djoutulung) – Raja Manganitu.
* Wuisan – Raja  Kendahe,
* Philips Anthoni Aralungnusa – Raja Taghulandang,
* Don Jeronimo Winsulangi – Raja  Siau.
Sejak saat itu pengangkatan raja dilakukan tidak lagi berdasarkan garis keturunan waris raja kepada anak laki-laki tertua tetapi diangkat berdasarkan kepentingan Belanda.