OEnam, kerajaan / P. Timor – prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Oenam terletak di pulau Timor, Kab. Timor Tengah Selatan, provinsi Nusa Tenggara Timor. Didirikan pada abad ke-15.

kab. Timor Tengah Selatan

——————-
Lokasi pulau Timor


* Foto raja-raja sekarang di Timor: link
* Foto raja-raja dulu di Timor: link

* Foto situs kuno pulau Timor: link
* Foto suku Timor: link


Sejarah kerajaan Oenam

Mutis sendiri adalah cikal bakal pusat pemerintahan kerajaan Oenam. Didirikan oleh Nai Lele Sonba’I yg diperkirakan pada abad ke-15 dengan wilayah kekuasaan mulai dari Biboki, Insana, Miomafo, Fatule’u sampai Noel Sfebano (Tarus-Kupang). Nai Lele Sonba’I sendiri adalah anak dari Nai Faluk. Sedangkan Nai Faluk adalah cucu dari Nai Dawan.
Setelah kematian Nai Lele Sonba’i, raja berikutnya adalah Tuklua Sonba’i, berikutnya digantikan oleh Manas Sonba’i (yang masa pemerintahannya, Timor mulai didatangi Portugis yg awalnya ingin berdagang cendana dan lilin). Kedatangan Portugis diawali dengan datangnya pastur  Antoio Taveira (1522) di Lifau-Oekusi dari pulau Solor.
Secara de facto pemerintahan Portugis dimulai di Timor tahun 1656 atau lebih dari seabad kemudian ketika awal mula masuknya pastur-pastur Portugis.
Permulaan pemerintahan dengan menempatkan kapten Simao Louis ke Lifau-Oekusi. Semua terjadi pada masa pemerintahan Manas Son ba’i. setelah mangkat, Manas digantikan oleh Talus Sonba’i. Pemerintahan Talus sendiri mengalami perpecahan akibat kebijakan memasukan hasil panen rakyat kepada raja.
Penolakan itu datang dari Neno Sonbai kakak kandung raja Talus). Akhirnya Neno dan anaknya Nai Baki Sonba’I diusir dari kerajaan Oenam. Keduanya pun melarikan diri dan meminta perlindungan kepada marga Oematan (Saubaki Oematan).
Oleh Oematan keduanya disembunyikan di kaki gunung Mollo sebelum akhirnya mereka mengungsi ke Kupang (ke kerajaan Helong). Peristiwa ini diperkirakan terjadi pada tahun 1650. Oleh raja Helong mereka ditempatkan di daerah Bakunane.

Raja berikutnya yang memerintah kerajaan Oenam yakni Baob Sonbai. Baob sendiri adalah putra mahkota yg menjadi korban perang. Bersama ibunya Bi Lalan Mella, mereka diselamatkan Bahan dan Mambait dan disembunyikan di Laob (kini desa di kecamatan Mollo Selatan).
Raja Baob tinggal beberapa lama di Baob (dulu Mnesatfael) lalu berpindah ke Noenoni (kini desa Noenoni). Raja Baob Sonba’i kemudian diculik Belanda lalu diasingkan ke Batavia hingga wafat tahun 1685.

Raja Oenam selanjutnya adalah Tafin Sonba’i lalu digantikan oleh putra tunggalnya Kau Sonba’i. pada pemerintahannya ibu kota kerajaan dipindahkan ke Kuniki (di Fatule’u). setelah Kau Sonba’I berhenti sebagai Raja Kerajaan Oenam, ia digantikan oleh putra sulungnya Sobe Sonba’i II atau Sobe Besi. Setelah Sobe Besi, raja selanjutnya adalah Baob Sonba’i II yang diteruskan oleh Baob Sonba’i III. Pada masanya, terjadi perjanjian Lisabon yg isinya membagi pulau Timor menjadi 2 bagian, Timor Barat untuk Belanda dan Timor Timur untuk Portugis (ditambah Oekusi dan Noemuti).
Noemuti sendiri kemudian diserahkan kembali kepada Belanda pada 1 November 1916 dan menjadi bagian wilayah Miomafo. Baob Sonba’i III kemudian digantikan oleh Sobe Sonba’i III. Pada masa pemerintahannya terjadi perang Bipolo.
Raja Sobe Sonba’i III akhirnya ditangkap Belanda di Bes’ana akibat pengkhianatan dari marga Oematan di Bes’ana. Sang raja kemudian diasingkan ke Waingapu Sumba Timur. Wafat tahun 1922 dan dimakamkan di Fatufeto Kupang. setelah Sobe Sonba’i III meninggal, Belanda membagi-bagi wilayah kerajaan Oenam atas beberapa kerajaan kecil yaitu: kerajaan Miomafo, kerajaan Mollo, dan kerajaan Fatule’u.


Raja raja kerajaan Oenam

Baob Sonbai.
Raja yang memerintah kerajaan Oenam adalah Baob Sonbai. Baob sendiri adalah putra mahkota yang menjadi korban perang. Bersama ibunya Bi Lalan Mella, mereka diselamatkan Bahan dan Mambait dan disembunyikan di Laob (kini desa di kecamatan Mollo Selatan). Raja Baob tinggal beberapa lama di Baob (dulu Mnesatfael) lalu berpindah ke Noenoni (kini desa Noenoni). Raja Baob Sonba’i kemudian diculik Belanda lalu diasingkan ke Batavia hingga wafat tahun 1685.
Raja Baob tinggal beberapa lama di Baob (dulu Mnesatfael) lalu berpindah ke Noenoni (kini desa Noenoni). Raja Baob Sonba’i kemudian diculik Belanda lalu diasingkan ke Batavia hingga wafat tahun 1685.

Tafin Sonbai adalah raja Oenam selanjutnya.

Kau Sonbai. Kemudian raja ada putra tunggalnya Kau Sonba’i. Pada pemerintahannya ibu kota kerajaan dipindahkan ke Kuniki (di Fatule’u).

Sobe Sonbai II. Setelah Kau Sonba’I berhenti sebagai Raja Kerajaan Oenam, ia digantikan oleh putra sulungnya Sobe Sonba’i IIatau Sobe Besi.

Baob Sonbai II. Setelah Sobe Besi raja selanjutnya adalah Baob Sonba’i II yang diteruskan oleh Baob Sonba’i III.

Baob Sonbai III.
Pada masa Baob Sonba’i III. terjadilah perjanjian Lisabon yang isinya membagi pulau Timor menjadi 2 bagian, Timor Barat untuk Belanda dan Timor Timur untuk Portugis (ditambah Oekusi dan Noemuti). Noemuti sendiri kemudian diserahkan kembali kepada Belanda pada 1 November 1916 dan menjadi bagian wilayah Miomafo.

Sobe Sonba’i III
Baob Sonba’i III kemudian digantikan oleh Sobe Sonba’i III. Pada masa pemerintahannya terjadi perang Bipolo. Raja Sobe Sonba’i III akhirnya ditangkap Belanda di Bes’ana akibat pengkhianatan dari marga Oematan di Bes’ana. Sang raja kemudian diasingkan ke Waingapu Sumba Timur. Wafat tahun 1922 dan dimakamkan di Fatufeto Kupang. Setelah Sobe Sonba’i III meninggal, Belanda membagi-bagi wilayah kerajaan Oenam atas beberapa kerajaan kecil yaitu: kerajaan Miomafo, kerajaan Mollo, dan kerajaan Fatule’u.
– Sumber: https://nttbangkit.com/sejarah-singkat-kerajaan-oenam-dan-mollo-di-timor/


Sejarah kerajaan-kerajaan di pulau Timor

Pulau Timor dihuni sebagai bagian dari migrasi manusia yang telah membentuk Australasia secara lebih umum. Pada tahun 2011, bukti ditemukan pada manusia di Timor Timur pada 42.000 tahun yang lalu, di lokasi gua Jerimalai.
Sekitar 3000 SM, migrasi kedua membawa orang Melanesia. Orang-orang Veddo-Australoid sebelumnya mengundurkan diri saat ini ke pedalaman pegunungan. Akhirnya, proto-Melayu tiba dari Cina selatan dan Indocina utara.

Catatan sejarah paling awal tentang pulau Timor adalah Nagarakretagama abad ke-14, Canto 14, yang mengidentifikasi Timur sebagai pulau di dalam wilayah Majapahit. Timor dimasukkan ke dalam jaringan perdagangan Jawa, Cina, dan India kuno pada abad ke-14 sebagai pengekspor cendana aromatik, budak, madu dan lilin, dan diselesaikan oleh Portugis, pada akhir abad ke-16, dan Belanda, yang berbasis di Kupang, pada pertengahan abad ke-17.

Pulau Timor dijajah oleh Portugis pada abad ke-16; mengklaim pada tahun 1520. Para pelaut Portugis mungkin pertama kali tiba di Timor Timur sekitar tahun 1514. Penjelajah Eropa menemui beberapa kerajaan kecil di awal abad ke-16. Yang paling penting adalah Wehale di Timor Tengah.  Pada waktu itu, lereng-lereng bukit diliputi hutan kayu cendana. Perdagangan kayu cendana sangat menguntungkan, dan pohon-pohon ini saja sudah cukup menjadi alasan bagi orang Portugis untuk mendirikan pos perdagangan. Gereja Katolik juga berminat pada daerah itu dan ingin mengirim para misionaris untuk menobatkan penduduk pribumi. Kedua faktor ini menggerakkan orang Portugis untuk mulai menjadikan pulau ini jajahan mereka pada tahun 1556.
VOC Belanda tiba pada tahun 1640, mendesak Portugis ke Timor Lorosa’e dan bentuk koloni Belanda-Timor.
Pertengkaran antara Belanda dan Portugal akhirnya menghasilkan sebuah perjanjian tahun 1859 dimana Portugal menyerahkan bagian barat pulau tersebut ke Belanda.

 Zaman kebangkitan nasional (1900-1942)

Pada masa sesudah tahun 1900, kerajaan-kerajaan yang ada di Nusa Tenggara Timur pada umumnya telah berubah status menjadi status menjadi Swapraja. Swapraja-swapraja tersebut, 10 berada di Pulau Timor (Kupang, Amarasi, Fatuleu, Amfoang, Molo, Amanuban, Amanatun, Mio mafo, Biboki, Insana). Swapraja-swapraja tersebut terbagi lagi menjadi bagian-bagian yang wilayahnya lebih kecil. Wilayah-wilayah kecil itu disebut Kafetoran-kafetoran.

Zaman pemerintahan Hindia Belanda

Wilayah Nusa Tenggara Timur pada waktu itu merupakan wilayah hukum dari keresidenan Timor dan daerah takluknya. Keresidenan Timor dan daerah bagian barat (Timor Indonesia pada waktu itu, Flores, Sumba, Sumbawa serta pulau-pulau kecil sekitarnya seperti Rote, Sabu, Alor, Pantar, Lomblen, Adonara, Solor).

Keresidenan Timor dan daerah takluknya berpusat di Kupang, yang memiliki wilayah terdiri dari tiga afdeling (Timor, Flores, Sumba dan Sumbawa), 15 onderafdeeling dan 48 Swapraja. Afdeeling Timor dan pulau-pulau terdiri dari 6 onderafdeeling dengan ibukotanya di Kupang. Afdeeling Flores terdiri dari 5 onder afdeeling dengan ibukotanya di Ende. Yang ketiga adalah Afdeeling Sumbawa dan Sumba dengan ibukota di Raba (Bima). Afdeeling Sumbawa dan Sumba ini tediri dari 4 oder afdeeling.

Keresidenan Timor dan daerah takluknya dipimpin oleh seorang residen, sedangkan afdeeling di pimpin oleh seorang asisten residen. Asisten residen ini membawahi Kontrolir atau Controleur dan Gezaghebber sebagai pemimpin Onder afdeeling. Asisten residen, kontrolir dan gezaghebber adalah pamong praja Kolonial Belanda. Para kepala onder afdeling yakni kontrolir dibantu oleh pamong praja bumi putra ber pangkat Bestuurs assistant. (Ch. Kana, 1969,hal . 49-51).

Zaman kemerdekaan (1945-1975).

Setelah Jepang menyerah, Kepala Pemerintahan Jepang (Ken Kanrikan) di Kupang memutuskan untuk menyerahkan pemerintahan atas Kota Kupang kepada tiga orang yakni Dr.A.Gakeler sebagai walikota, Tom Pello dan I.H.Doko. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena pasukan NICA segera mengambil alih pemerintahan sipil di NTT, dimana susunan pemerintahan dan pejabat-pejabatnya sebagian besar adalah pejabat Belanda sebelum perang dunia II.
Dengan demikian NTT menjadi daerah kekuasaan Belanda lagi, sistem pemerintahan sebelum masa perang ditegakkan kembali. Pada tahun 1945 kaum pergerakan secara sembunyi-sembunyi telah mengetahui perjuangan Republik Indonesia melalui radio. Oleh karena itu kaum pegerakan menghidupkan kembali Partai Perserikatan Kebangsaan Timor yang berdiri sejak tahun 1937 dan kemudian berubah menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Perjuangan politik terus berlanjut, sampai pada tahun 1950 dimulai pase baru dengan dihapusnya dewan raja-raja. Pada bulan Mei 1951 Menteri Dalam Negeri NIT mengangkat Y.S. Amalo menjadi Kepala Daerah Timor dan kepulauannya menggantikan H.A.Koroh yang wafat pada tanggal 30 Maret 1951. Pada waktu itu daerah Nusa Tenggara Timur termasuk dalam wilayah Propinsi Sunda Kecil.


Sumber

– Sejarah kerajaan Oenam: https://www.kompasiana.com/dickysenda/secuil-sejarah-kerajaan-oenam-dan-mollo-di-timor_550059d08133110a1afa762c
– Sejarah lengkap kerajaan Oenam: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/timor-2/raja-of-oenam/sejarah-lengkap-kerajaan-oenam/



 

1 Comment

One thought on “OEnam, kerajaan / P. Timor – prov. Nusa Tenggara Timur

  1. OEnam ios other name of Sonbai;so w part of West-Timor.I hope to meet the 2 claimants of it soon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: