Tinco cikal bakal kerajaan Soppeng

Sumber: balai arkeologi Makassar
https://www.facebook.com/groups/sejarahsulawesi/permalink/3353725871310054/

——————————————-

Pemikiran yang mendasari penelitian situs Tinco, salah satunya berasal dari kajian naskah lontara (filologi). Dalam naskah itu telah menunjuk eksistensi Tinco sebagai tempat awal perkembangan masyarakat Soppeng Riaja. Keberadaan Tinco sebagai kawasan aktivitas manusia masa lampau telah dipaparkan dalam lontara Attoriolonna Soppeng (naskah E=MAK 188, p.5.1-p.7.29 dari Ian Caldwell 1988) yang apabila diterjemahkan secara bebas bahwa masayarakat Soppeng berasal dari dua tempat yaitu Sewo dan Gattareng.

Orang-orang yang berasal dari Sewo menempati daerah yang disebut Soppeng Riaja (Soppeng Barat) dan yang berasal dari Gattareng menempati Soppeng Rilau (Soppeng Timur). Ada enam puluh kampung (wanua) yang dipimpin oleh orang yang bergelar Matoa.
Kampung-kampung yang termasuk Soppeng Rilau adalah Salotungo, Lompo, Kubba, Paningcong, Talagae, Attassalo, Mangkuttu, Maccile, Watuwatu dan Akkampeng.
Sedang yang termasuk Soppeng Riaja ialah: Pesse, Seppang, Pising, Launga, Mattabulu, Ara, Lisu, Lawo, Madello Rilau dan Tinco.
Cenrana, Salokaraja, Malaka, Mattoanging termasuk ke dalam Soppeng Rilau dan Soppeng Riaja. Tidak diketahui lagi berapa lama rakyat Soppeng tidak memiliki raja, setelah keturunan Sawerigading terakhir punah. Pada waktu itu, Soppeng hanya dikendalikan oleh para matoa yang berjumlah enam puluh, dan yang dianggap sebagai pemimpin adalah Matoa Bila, Matoa Botto dan Matoa Ujung. Para pemipin inilah yang mengayomi negeri Soppeng sampai datangnya Petta Manurunge (yang turun) di Sekkanyili.

Pada waktu Matoa Tinco mengetahui kedatangan Petta Manurunge di Sekkanyili, maka berita tersebut disampaikan kepada Matoa Botto, Matoa Ujung dan Matoa Bila, untuk diberitakan kepada orang-orang yang bermukim di Soppeng Rilau. Setelah mengetahui berita itu maka, orang-orang dari Soppeng Rilau dan Soppeng Riaja mengambil kesepakatan. Berkata Matoa Ujung bahwa “Dilain hari kita akan datang menjemputnya”. Ditimpali pula oleh Matoa Salotungo “Karena kita telah berkumpul, maka sebaiknya dan mengangkatnya sebagai raja yang menjaga dan membawa kita jauh maupun dekat hingga anak cucu kita nantinya”. Setelah itu berangkatlah para matoa menyampaikannya kepada Tomanurung. Berkatalah Matoa Ujung, Botto dan Bila, bahwa”Kami semua hambamu, mengharap belas kasihmu, janganlah engkau melayang, engkaulah pemerintah kami, yang menjaga kami, mengasihi kami dan membawa kami dekat maupun jauh sampai kepada turunan kami, pendapatmulah yang kami ikuti. Tomanurung berkata : “dari manakah kalian ? Berkata para matoa “saya datang untuk dikasihi, janganlah engkau menghilang, engkaulah yang kami pertuan dan yang akan menjaga kami, melidungi kami baik dekat maupun jauh sampai turunan kami. Kemudian apa yang kamu tidak setuju maka kami tidak akan menyetujui pula.” Dari dialog antara Petta Manurunge dengan para Matoa, terjadilah kesepakatan. Pada saat itu hadir semua para bissu meramaikan kerajaan, dan membawa Tomanurung ke Soppeng di rumah Matoa Tinco, bersama dengan itu diberikan sawah kerajaan di Lakelluaja.

Kapan kejadian yang digambarkan dalam lontara tersebut belum diketahui secara pasti, namun menurut perkiraan beberapa sejarawan bahwa peristiwa itu terjadi sekitar abad ke-12/13 Masehi. Demikian pula dengan tokoh yang disebut Tomanurung tidak diketahui asal usulnya, namun tokoh tersebut digambarkan sebagai sosok yang memiliki kelebihan dan keistimewaan yang akhirnya disepakati sebagai pemimpin masyarakat yang kemudian lebih dikenal dengan nama Latemmamala. Dalam mufakat antara Tomanurung Latemmamala dengan para Matoa yang berjumlah enam puluh, disepakati bahwa Tomanurung akan melindungi dan mangayomi serta berusaha memakmurkan rakyatnya. Setelah Latemmamala diangkat sebagai Datu (raja) Soppeng Riaja yang pertama, Latemmamala memberitahukan pula bahwa di Gowarie (sekitar 20 km di sebelah selatan Watansoppeng) muncul Tomanurung lain yang bernama Manurunge ri Gowarie. Dia merupakan seorang putri yang kemudian dijemput pula oleh para Matoa dan atas kesepakatan bersama, Latemmamala diangkat sebagai Datu Soppeng Riaja dan Tomanurunge ri Gowarie diangkat sebagai Datu Soppeng Rilau. Selanjutnya dalam silsilah raja-raja Soppeng yang dikenal hanya keturunan Latemmamala.

Keistimewaan Tinco dalam hal ini, digambarkan dalam cerita rakyat sebagai berikut, bahwa: Raja (datu) Soppeng pertama yaitu Tomanurung di Sekkanyili (sebuah tempat di Desa Leworong sekarang kira-kira 20 kilometer di sebelah utara Watansoppeng) yang bernama Latemmamala, beliau dibuatkan istana di Tinco sekitar 7 km di sebelah utara Watansoppeng. Bersamaan dengan itu dibuat pula sawah kerajaan di Lakelluaja.

Demikian lontara meriwayatkan asal muasal terbentuknya sistem pemerintahan Soppeng yang diawali turunnya seorang titisan dewa yang disebut Tomanurung (orang yang turun dari langit) di daerah Sekkanyili. Hal penting yang dapat ditangkap dalam uraian diatas bahwa pada umumnya tempat-tempat yang disebutkan, memiliki peninggalan artefaktual yang membutuhkan sinkronisasi dan interpretasi data sejarah dan arkeologis.

Daerah Tinco sebagaimana dilansir dalam naskah Lontara Attoriolonna Soppeng disebut sebagai wanua yang terjadi setelah masyarakat Soppeng berpindah dari Gattareng (daerah pegunungan) menuju permukiman di daerah-daerah di sekitar pinggir sungai atau kaki bukit yang datar. Selain itu, disebutkan pula bahwa Tinco sebagai ibukota kerajaan Soppeng Riaja dan suatu lokasi terdapatnya kisah mallajang (raib) Tomanurung Latemmamala yang kemudian diabadikan dalam bentuk monumental yang berupa penancapan batu andesit bercungkup (beratap) seng.

Dalam silsilah raja-raja Soppeng sebagaimana yang tertera dalam Lontara Geneologis Kerajaan Soppeng Naskah D=NBG 99, p.224.10-p.230.6 dari Cadwell 1988:118-127 (Kaluppa, 1989:79-82) diperoleh keterangan mengenai nama-nama raja Soppeng sebagai berikut:
1. Latemmamala,
2. La Marangcina,
3. La Bang,
4. We Tekkewanua,
5. La Makkanengnga,
6. La Karella,
7. La Pawiseang,
8. La Pasampoi,
9. La Manussaq,
10. La Den,
11. La Sakati,
12. La Mataesso,
13. La Mappalepeq,
14. Beoe,
15. La Tenribali,
16. We Ada,
17. We Tenri Senge,
18. La Patau,
19. La Pada Sajati,
20. La Pareppa,
21. Batari Toja,
22. To Wesa,
23. La Temma Senge,
24. La Tongeng,
25. La Mappajanci,
26. La Mappapoleonro,
27. We Tenriawaru,
28. We Tenriyampareng,
29. La Unru,
30. La Onrong,
31. To Lompeng,
32. Abdul Gani,
33. Hj. Sitti Saenab,
34. Hj. Andi Wana.

Latemmamala sebagai Raja (Datu) Soppeng Riaja pertama kawin dengan We Mapupu (Tomanurung ri Suppa). Dari perkawinan itu melahirkan seorang putra yang bernama La Marangcina yang pada masa berikutnya menggantikan ayahnya sebagai Datu Soppeng Riaja II. Pada masa pemerintahan Datu Soppeng Riaja I, rakyat mengalami kehidupan yang makmur. Dalam menjalankan pemerintahannya, Datu Soppeng Riaja dibantu oleh seorang pangepa. Demikian selanjutnya, hingga masa pemerintahan Datu Soppeng Riaja keempat yaitu We Tekkewanua yang berhasil memperluas wilayah kekuasaan Soppeng hingga ke pantai barat Sulawesi Selatan. Masa itu pula telah dibangun persawahan dan perikanan demi meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. We Tekkewanua mempunyai dua orang anak yaitu Lawadeng yang kemudian menjadi pangepa dan La Makkanengnga yang selanjutnya menggantikan ibunya sebagai Datu Soppeng Riaja.

Pada abad ke-16 Masehi, terjadi pertikaian antara La Mataesso (Datu Soppeng Riaja) dengan La Makkarodda (Datu Soppeng Rilaiu) yang berlanjut hingga terjadi perang saudara kedua belah pihak, namun kemudian La Makkarodda mengalami kekalahan, sehingga ia mengasingkan diri ke Bone. Ketika berada di Bone, ia mengawini We Tenri Pakkua (saudara perempuan Raja Bone, Bongkangnge). Berselang beberapa tahun kemudian La Mataesso memanggil La Makkarodda agar kembali ke Soppeng memimpin kerajaannya, namun La Makkarodda menolak untuk menjadi Datu Soppeng Riaja. La Makkarodda hanya bersedia menjadi panglima perang (watanglipu). Persyaratan itu disetujui oleh La Mataesso, dan sejak saat itu terjadi penggabungan antara wilayah Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau dan ibukota kerajaan dipindahkan dari Tinco ke Lalengbata (Lalabata).

Dalam perkembangan selanjutnya, Islam telah masuk pada periode awal abad ke-17 Masehi atas prakarsa raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin. Islam diterima sebagai agama resmi kerajaan Soppeng pada tahun 1609 pada masa pemerintahan Datu Soppeng ke-14 bernama Datu Beoe. Ketika itu, Sultan Alauddin sebagai Raja Gowa ke-14 mengajak seluruh raja-raja di daerah Bugis untuk memeluk ajaran baru (agama Islam), namun kerajaan-kerajaan Bugis seperti Bone, Soppeng, Wajo, Ajatappareng menolak ajakan tersebut, sehingga raja Gowa harus menempuh jalan lain, yaitu memerangi mereka. Peristiwa tersebut yang dikenal dengan musu assellengeng (periksa Andaya, 2004 : 24).

Meskipun dimaklumi bahwa masuknya Islam ke wilayah Soppeng agak terlambat jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Sulawsei Selatan, namun kini Islam justru telah menjadi identitas komunal bagi suku Bugis di Soppeng. Awalnya orang Sulawesi Selatan pada era sejarah masih tetap resisten dalam adaptasinya menghadapi transformasi idiologis dan sosial kultural, namun akhirnya Islam dapat diterima juga, bahkan pada perkembangan selanjutnya menjadi motor penggerak dalam kehidupan ekonomi dan pemerintahan bagi suku Bugis, Makassar, dan Mandar (Fadilla, 1999 : 99). Hal itu didorong oleh adaptasinya dalam interaksi sosial politik dengan etnik besar lainnya seperti Luwu dan Makassar yang telah lebih dahulu menerima Islam.

Diterimanya Islam sebagai agama resmi masyarakat berarti perubahan drastis telah menandai zamannya. Ada indikasi bahwa di Soppeng juga menerima Islam dan bahkan mengalami perkembangannya dengan bukti-bukti arkeologis berupa makam yang megah dan kaya akan ragam hias terutama terlihat pada kompleks maka raja-raja Soppeng di Jera Lompoe, Bila. Dalam persepktif masa kini, kehidupan masyarakat senantiasa ingin menunjukkan identitas budaya dan penghormatan yang tinggi kepada pemimpin atau raja mereka. Penataan makam yang terletak di dalam kompleks tersebut menunjukkan identitas penghormatan dan seakan-akan ada pembagian ruang bagi seorang tokoh yang kharismatik.

Para pemukim yang menganut Islam pada perkembangan kemudian tersebar pada beberapa karakter daerah yang beragam. Di sisi lain mereka memanfaatkan kondisi alam yang meskipun memiliki karakter yang berbeda, namun tetap konsisten dengan agama yang dianut dan sangat dimungkinkan untuk mengembangkan budaya yang diaplikasikannya dalam ajaran Islam sebagai anutan mereka. Masyarakat seolah-olah telah mengalami resistensi budaya yang panjang, namun hanya beberapa lama kemudian sejarah baru mulai diterapkan dan Islam sejak itu terintegrasi dalam budaya Bugis, Makassar dan Mandar (Fadillah,1999:106). Peranan penyebar Islam di daerah tersebut lebih menekankan pada praktek-praktek ritus dan pengukuhan syariah. Perilaku religius dan pengenalan ritus-ritus Islam seperti khitanan dan penamatan Al-Qur’an, pernikahan dan upacara Maulid. Penerapan ajaran Islam pun masih bersifat toleran dengan memberi kelonggaran dalam memasukkan budaya-budaya lokal sejauh hal itu tidak bertentangan dengan aqidah.