Dewa Awan Mas Kuning, kedatuan / P. Sumbawa – Prov. Nusa Tenggara Barat

Kedatuan Dewa Awan Mas Kuning terletak di pulau Sumbawa, di daerah Selesek. Prov. Nusa Tenggara Barat. 1520: terbentuknya pemerintahan kedatuan Dewa Awan Mas Kuning.

Kedatuan Dewa Awan Mas Kuning is located on the island of Sumbawa, in the region of Selesek. Prov. Nusa Tenggara Barat. 1520: foundation of this kingdom.
For english, click here

Lokasi pulau Sumbawa

————————
Wilayah Dewa Awan Mas Kuning di P. Sumbawa


Foto kerajaan-kerajaan di P. Sumbawa

* Foto raja-raja dulu di P. Sumbawa: link
* Foto raja-raja yang masih ada di P. Sumbawa: link
* Foto istana di P. Sumbawa: link

* Foto situs kuno di P. Sumbawa: link


* Video sejarah Sumbawa dan NTB, 40.000 SM – sekarang: link


* Garis kerajaan-kerajaan di Sumbawa: link


KEDATUAN DEWA AWAN MAS KUNING

Sejarah kedatuan Dewa Awan Mas Kuning dan daftar Datu

-1512 seluruh komunitas harus meninggalkan lokasi. Usaha budidaya pertanian mereka diserang oleh hama kodok berduri dan tikus besar.
– 1520: Terbentuknya pemerintahan kedatuan Dewa Awan Mas Kuning.
Pada tahun 1520 terbentuklah sistem pemerintahan dengan nama Pemerintahan kedatuan Awan Mas Kuning yang membawahi 7 kelompok pemukiman. Kepala pemerintahan dipimpin langsung oleh Dewa Datu Awan Kuning dan wakilnya adalah Cek Bocek.
– 1622: Wasiat Dewa Datu Awan Mas Kuning
– 1623: Upaya Kerajaan Goa mempersatukan kerajaan-kerajaan Sumbawa
– 1628: Dewa Datu Awan Mas Kuning meninggal dunia.
– 1628-1692: Kemudian pemerintahan dilanjutkan oleh putra pertamanya, yaitu Dato M Hatta. Pemerintahan Dato M Hatta berjalan selama 62 tahun.
– 1692-1728: Tahun 1692, Dato M. Hatta meninggal dunia, kemudian pemerintahannya dilanjutkan oleh putra pertamanya yang bernama Pua’ Dayu Usman. Pemerintahan Pua’ Dayu Usman (Pua Adat) hanya berjalan dari tahun 1692 hingga tahun 1728.
– 1728-1814: Kemudian pemerintahannya dilanjutkan oleh putranya yang bernama Ne’ adat Tunru bin Usman.
– 1814-1912: Setelah meninggalnya Ne’ adat Tunru bin Usman diteruskan oleh putranya yang bernama Ne’ adat H.  Damhudji dari tahun 1814-1912.
Selama Ne’ adat H. Damhuji menjalankan pemerintahannya banyak mengalami tantangan dan cobaan, datangnya tidak saja dari luar Samawa, tapi juga datang dari Samawa. Kesultanan Samawa nampaknya sudah mengingkari perjanjian tahun 1623 yang isinya saling menghormati kedaulatan masing-masing. Kesultanan Samawa terpengaruh hasutan dan bujuk rayu Kolonial Belanda serta memanfaatkan Kesultanan Samawa untuk mengusir seluruh masyarakat komunitas yang dipimpin oleh Ne’ adat H Damhudji.
– 1912-1959: ne’ adat H Damhuji. Kolonial Belanda berhasil mengadu domba antara Kesultanan Samawa dengan Komunitas Ne’ adat H Damhudji.
Pada tahun 1959 ne’ adat H Damhuji meninggal dunia, dan warisannya diserahkan kepada Tuan Raja Hasbullah untuk melanjutkan perjuangan leluhurnya.

Perkembangan zaman mulai berubah, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya, hal inilah yang mempengaruhi kepemimpinan Tuan Raja Hasbullah. Nilai dan norma yang selama ini melekat pada diri komunitas lambat laun mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Disamping itu, 6 komunitas selama beberapa abad hidup berdampingan, kini  mulai ada jarak dan penghalang.
– Sumber dan lengkap: http://cekbocek.blogspot.nl/2011/09/sejarah-dan-situs-peninggalan-leluhur.html

* Untuk sejarah lengkap, klik di sini


SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN DI P. SUMBAWA

Untuk sejarah kerajaan-kerajaan di P.Sumbawa, klik di sini

Kerajaan-kerajaan di pulau Sumbawa, 1550 M

Sumbawa, 1550 M


Peta kuno pulau Sumbawa (Cambaua)

Klik di sini untuk peta pulau Sumbawa tahun 1598, 1606 Sumbawa / Nusantara, 1614, 1615, 1697 Sumbawa / Nusantara 1800-an, 1856, 1856, 1910.

Pulau Sumbawa 1615


Sumber Dewa Awan Mas Kuning

Sejarah Dewa Awan Mas Kuning: http://cekbocek.blogspot.nl/

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: