Terbentuknya kerajaan Soppeng

Di ambil dari : Sejarah Sulawesi
Sumber: https://www.facebook.com/groups/sejarahsulawesi/permalink/2964984896850822/

——————————————-

La Temmamala dan Usia Kedatuan Soppeng

Siapa itu LA TEMMAMALA? Tak Banyak orang yang mengenalnya, tapi jika pertanyaan ini diajukan kepada To Soppeng (Orang Soppeng), maka dapat dipastikan hampir semua masyarakatnya mengenalnya. La Temmamala adalah identitas Kabupaten Soppeng. La Temmamala adalah Datu (Raja) pertama Soppeng. Masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Soppeng merayakan hari jadi daerahnya ke 758 tahun, suatu usia sejarah daerah yang dirujuk dari usia kedatuan (kerajaan) Soppeng.

Kabupaten Soppeng adalah salah satu Kabupaten dalam lingkup Propinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis terletak pada koordinat antara 4o 6′ sampai 4 o 32′ Lintang Selatan dan 119 o 42′ 18″ sampai 121 o 6′ 13″ Bujur Timur. Di Sebelah Utaranya berbatasan dengan Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Wajo, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bone, Sebelah Timur: Kabupaten Bone dan Wajo dan sebelah baratnya berbatasan dengan Kabupaten Barru.

Sumber-sumber tertulis mengenai penamaan Soppeng di zaman Prasejarah belum ditemukan. Salah satu sumber sejarah yang bisa menelusuri asal usul nama Soppeng adalah lontara’, yang merupakan warisan leluhur orang Bugis Makassar.
Dalam lontara nama Soppeng selalu disebut – sebut, meskipun tidak menguraikan pengertian dan asal mula nama Soppeng. Seperti diuraikan dalam lontaraq Soppeng sebagai berikut:

“Iana sure’ poada -adaenngi tanaE ri – Soppeng . . . . . nawelainna Sewo. Gattareng. Noni mabbanua. Tauwe ri Soppeng. Naia to SewoE. Iana ri aseng to Soppeng Riaja ia to GattarenngE. Iana poaseng Soppeng Rilau . . . .”

Artinya (terjemahan bebas) :

(Inilah kitab / bagian yang mewartakan tentang daerah Soppeng . . . . Pada saat ditinggalkannya negeri Sewo dan Gattareng, maka turunlah orang – orang bermukim di suatu tempat, yaitu negeri Soppeng. Adapun orang – orang yang berasal dari Sewo disebut orang Soppeng Riaja, sedangkan mereka yang berasal dari Gattareng disebut kemudian sebagai orang Soppeng Rilau” .

Dari penjelasan dalam lontara Soppeng, disebutkan bahwa penduduk Soppeng pada awalnya berasal dari dua wilayah, yaitu “Sewo” dan “Gattareng”. Tapi tidak menyebutkan mengapa dinamakan Soppeng wilayah itu.
Dari cerita-cerita rakyat yang diperoleh secara turun temurun, menjelaskan bahwa pemberian nama Soppeng itu diambil dari nama pohon yang mempunyai buah seperti anggur dan oleh orang Bugis dan khusus Bugis Soppeng menyebutnya “Caloppeng” atau “Coppeng”. Karena di dekat istana Kerajaan Soppeng tumbuh sebuah pohon coppeng yang besar.

Perubahan kata Coppeng menjadi Soppeng, karena pengaruh dialek bahasa Bugis Soppeng. Banyak kata yang diawali huruf C oleh orang Bugis Soppeng mengubahnya menjadi sebutan S atau sebaliknya. Seperti kata Salo menjadi calo – calo, atau Sappo menjadi Cappo.

Di Soppeng juga banyak tumbuh pohon “Caloppeng” (Coppeng). Ada pula pendapat yang menyebutkan kata “Soppeng” berasal dari penggabungan dua kata. Kata tersebut ialah Sosso dan Lappeng. Kata “Sosso” berarti turun dan “Lappeng” adalah tempat. Ketika itu orang – orang Sewo (di Soppeng Riaja) meninggalkan wilayahnya menuju ke Lappeng, sebuah tempat di dekat istana Datu Soppeng. Setelah melalui proses penyederhanaan bahasa menjadi kata “Soppeng”.

Jauh sebelum terbentuknya Kerajaan Soppeng telah ada kekuasaan yang mengatur jalannya Pemerintahan berdasarkan kesepakatan 60 Pemuka Adat bergelar Arung, Sullewatang, Paddanreng, dan Pabbicara yang mempunyai daerah kekuasaan sendiri yang dikoordinir oleh Lili – Lili, meski begitu dalam suatu masa yang lama, sering terjadi kekacauan dan perang, tidak ada hukum yang berlaku, sehingga yang terjadi apa yang dalam narasi tutur dan lontaraq sebut sebagai “sianre balei tauwe” (saling memakan bagai ikan), akibatnya kemiskinan dan kelaparan berkepanjangan melanda daerah itu.

Masa “Sianre balei tauwe” ini dijelaskan dalam lontaraq Soppeng sebgai berikut:

“. . . . dena ganre’ riaseng arung agatettassisenna tauwe siewa ada. Pada marana’ – ana’mani tauwe. Nasianre balena nasiabelli bellayanna tauwe. Detoni ade’e apagide’ arung siaganiro ittana siyanre bale tauwe. Tekkeade tekkebicara . . . . “.

Artinya (terjemahan bebas) :

” . . . . . . Tiada lagi penguasa yang dipertuan sehingga orang – orang sama sekali tiada lagi saling memberi kabar berita, kecuali kepada sanak keluarga / anak isteri. Hidup bagaikan ikan, saling makan antara satu dengan yang lainnya, saling mengkhianati, tidak ada saling mengharap. Tidak ada aturan dan hokum, apalagi yang namanya peradilan. Dikatakan bahwa selama tujuh turunan tidak dikenal adanya penguasa dan selama itu terjadi kekacauan tanpa aturan dan peradilan . . . . “.

Kondisi mengenaskan tersebut nanti berubah setelah salah seorang pemuka adat, Arung Bila mengambil inisiatif mengadakan musyawarah besar yang dihadiri 30 orang matoa dari Soppeng Riaja dan 30 orang Matoa dari Soppeng Rilau untuk mengatasi kemiskinan dan kelaparan berkepanjangan tersebut.

Pada saat musyawarah berlangsung, muncul dua burung kakatua menganggu sehingga Arung Bila memerintahkan untuk menghalau burung tersebut. Setelah diikuti, akhirnya burung kakatua itu terbang sampai di Sekkanyili dan ditempat inilah ditemukan Tomanurung, seorang yang dipercaya “turun dari kayangan/langit”. Maka digelarilah Tomanurung tersebut sebagai “Manurungnge Ri Sekkanyili”. Maka bermufakatlah ke 60 matoa ini untuk mengangkat Manurungnge ri Sekkanyili’ sebagai pemimpin dan raja mereka.

Demikianlah, dengan merujuk kepada sejarah terbentuknya Kedatuan Soppeng tersebut, sehingga pada akhirnya dalam suatu seminar sejarah yang pernah diselenggarakan pada tanggal 11 Maret 2000, dengan dihadiri sejarawan, budayawan, tokoh adat dan tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan elemen masyarakat lainnya, disepakati Hari Jadi Kabupaten Soppeng merujuk kepada masa awal kekuasaan Datu Soppeng pertama, La Temmamala Tomanurungnge ri Sekkanyili, tahun 1261 berdasarkan perhitungan Backward Conting.

Dalam rapat paripurna DPRD Kabupaten Soppeng, Tanggal 12 Maret 2001 akhirnya disahkan Peraturan Daerah Kabupaten Soppeng, Nomor 9 Tahun 2001 tentang Penetapan Hari Jadi Kabupaten Soppeng yang jatuh pada Tanggal 23 Maret 1261.