Fansur, kerajaan / Prov. Sumatera Barat – kab. Tapanuli Selatan

Kerajaan Fansur berdiri pada abad ke-6. Terletak di provinsi Sumatera Barat, kab. Tapanuli Selatan.
Barus sebelumnya dikenal dengan Fansur.

Kabupaten Tapanuli Tengah, prov. Sumatera Barat


Garis kerajaan-kerajaan di Sumatera: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link


Video sejarah kerajaan / kesultanan di Sumatera

* Video sejarah kerajaan di Sumatera, 75.000 SM – sekarang: link
* Video sejarah kerajaan di Sumatera Utara, 0 M – sekarang: link
*
Video sejarah kerajaan di Sumatera Barat, 0 M – sekarang, link


KERAJAAN  FANSUR

Sejarah kerajaan Fansur, abad ke-6

Meski Prasasti Lobu Tua ditulis pada abad ke-11, namun kemunculan Fansur diperkirakan dua ratus tahun sebelum itu. John Miksic menyebutkan, dalam berita-berita Arab nama Fansur sudah muncul sejak tahun 851. Berdasarkan catatan Munoz dalam bukunya Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula, Fansur merupakan kerajaan merdeka yang tak pernah menjadi bagian Sriwijaya.

Disamping komunitas Tamil, masyarakat Persia dan Arab juga banyak yang bermukim di Fansur. Guillot menjelaskan bahwa orang-orang dari Khorasan, Fars, Oman, dan Mesopotamia, telah ada disana bersamaan dengan kehadiran komunitas Tamil. Hal ini dibuktikan dengan adanya sebuah cap dari kaca bertuliskan “Allah Muhammad” yang berasal dari abad ke-10 atau ke-11.

Meski Fansur telah menjadi kota perdagangan yang terkemuka, namun kerajaan ini tak memiliki kekuatan militer yang memadai. Kehadiran Pasai dan Malayu — yang kemudian diteruskan oleh Pagaruyung — di abad ke-13, telah mengancam kedudukan mereka. Menurut Hikayat Raja Pasai, di abad ke-13 dan ke-14 Fansur telah mengakui keunggulan Pasai. Daniel Perret dalam bukunya La Formation d’un Paysage Ethnique : Batak & Malais de Sumatra Nord-Est mengungkapkan, di abad ke-14 Malayu yang berpusat di tanah Minangkabau telah menguasai Fansur beserta wilayah selatan Danau Toba. J.

Ada banyak buku yang menceritakan kedatangan orang-orang Minangkabau ke Fansur. Diantaranya yang cukup populer adalah karya Jane Drakard, A Malay Frontier : Unity and Duality in a Sumatran Kingdom. Dalam buku tersebut diceritakan bahwa masyarakat Minangkabau yang datang ke Fansur berasal dari Tarusan, Pesisir Selatan. Mengutip Sejarah Tuanku Batu Badan, sekelompok orang pimpinan Ibrahimsyah bin Tuanku Sultan Muhammadsyah dari Kesultanan Indrapura, telah pergi merantau ke utara dan kemudian mendirikan kesultanan baru di atas reruntuhan Kerajaan Fansur. Kesultanan ini kemudian diberi nama mengikuti kampung kecil mereka di Tarusan: Barus.
– Sumber: https://afandriadya.com/2018/11/27/seribu-tahun-pesisir-barat-sumatera/


Dari kerajaan Fansur ke kesultanan Barus

Ada banyak buku yang menceritakan kedatangan orang-orang Minangkabau ke kerajaan Fansur. Diantaranya yang cukup populer adalah karya Jane Drakard, A Malay Frontier : Unity and Duality in a Sumatran Kingdom. Dalam buku tersebut diceritakan bahwa masyarakat Minangkabau yang datang ke Fansur berasal dari Tarusan, Pesisir Selatan.
Mengutip Sejarah Tuanku Batu Badan, sekelompok orang pimpinan Ibrahimsyah bin Tuanku Sultan Muhammadsyah dari Kesultanan Indrapura, telah pergi merantau ke utara dan kemudian mendirikan kesultanan baru di atas reruntuhan Kerajaan Fansur. Kesultanan ini kemudian diberi nama mengikuti kampung kecil mereka di Tarusan: kerajaan Barus.
– Sumber: https://afandriadya.com/2018/11/27/seribu-tahun-pesisir-barat-sumatera/


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707



Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: