Raja Batahi (1639-1678), Antara cinta, dendam dan perang

Oleh: Dirno Kaghoo
– Sumber: http://zonautara.com/blog/2017/11/16/datu-batahi-1631-1678-antara-cinta-dendam-dan-perang/


Batahi ialah putera kandung Datu Winsulangi (Datu ke 5) yang memerintah selama 40 tahun sejak tahun 1591 sampai tahun 1631. Ibunya ialah Puteri Tihuwang dari Kerajaan Salurang. Pada tahun 1631 disaat Datu Winsulangi meninggal dunia, tampuk kekuasaan kedatuan diwariskan kepada putera mahkota, Batahi. Putera Mahkota Batahi merupakan sosok lelaki tampan, cerdas dan sangat berwibawa. Sejak ia kuliah di Universitas Intramorus di Philipina, namanya bertambah panjang menjadi Don Xaverius Franciscus Batahi. Don Batahi muda seusai kuliah, kembali ke kampung halamannya.

Selang beberapa lama di tanah kelahirannya, berlabuhlah rombongan kapal Dalero di Pelabuhan Pehe. Dalero ialah putera Datu Uda  dari Tabukan. Saat itu Dalero dan rombongannya dalam perjalanan pulang dari Kesultanan Ternate menuju Kedatuan Tabukan. Ia baru saja menjemput Maimuna, adiknya yang dipaksa oleh Sultan Sibori menjadi isterinya. Berkat bantuan Dalero, Maimuna berhasil lolos dari Sultan Sibori yang tidak dicintainya itu. Dengan sentakan kaki sakti Dalero, mampu meruntuhkan istana Sultan Sibori. Sibori akhirnya merelakan Maimuna dibawah pulang Dalero dan singgah di Tanaki.

Batahi dan Maimuna berkenalan. Di mata kedua anak manusia itu terdapat bunga-bunga cinta. Batahi kepincut, Maimuna terpikat. Maimuna memberikan sebuah cincin emas kepada Batahi sebagai bukti cintanya. Cincin itu selalu dikenakan di jari manisnya. Batahi kemudian memperjuangkan cintanya. Ia berangkat ke Salurang, negeri ibunya menggunakan perahu bolotu. Kemudian pergi ke Kerajaan Tabukan, menyamar sebagai budak agar ia bisa dekat dengan Maimuna.

Maimuna satu-satunya orang yang mengenali Batahi dari cincin yang dikenakannya. Batahi membawa lari Maimuna ke Siau dijemput oleh Panglima Hengkenau di Tamako. Kejadian itu menimbulkan kemarahan pada diri Datu Udah di Tabukan. Tetapi karena diketahui bahwa Batahi dan Maimuna saling mencintai, maka redahlah amarah Datu Udah. Apalagi sesudah itu, Batahi dan Maimuna yang telah menjadi raja dan permaisuri, melahirkan dua orang anak laki-laki, pertama Monasehiwu dan kedua belum dinamai sampai pada Batahi dan Maimuna pergi ke Tabukan bersama puteranya yang masih bayi itu. Oleh raja Udah, kedatangan menantu, puteri dan cucunya disambut dengan sukacita. Raja Udah pun memberi nama kepada cucunya, yaitu: Rarame Nusa yang berarti “mendamaikan pulau”.

Datu Batahi memerintah sejak tahun 1631 sampai tahun 1678. Pada masa pemerintahan Datu Batahi, wilayah kekuasaan Kedatuan Siau menjadi luas. Kedatuan Siau memiliki aset tanah dari Kabaruan, Talaud Selatan, Tamako, beberapa bagian tanah di Salurang, Lembe, Bangka, Talise, Gangga, Siladen, Bunaken, Singkil, Kaidipan, sampai ke Leok Buol. Perluasan wilayah Kedatuan Siau itu tidak lepas dari peran strategis dari Panglima Perang Hengkenau yang aktif berekspansi sejak masa pemerintahan Datu Winsulangi.

Selama menjabat sebagai datu, Batahi pernah berkunjung ke Makasar. Saat itu sulit dicari seseorang yang dengan berani melakukan perjalanan jauh, sesudah Panglima Hengkenau meninggal dunia. Maka seorang pemuda pengarung laut, bernama Nangkoda menjawab keinginan rajanya. Sementara hubungan kedatuan Siau dengan Kesultanan Ternate buruk, akibat Maimuna gagal dinihaki Sultan Sibori. Dendam sang Sultan terus membara. Sultan Sibori meminta bantuan dari VOC (Belanda) untuk mengerahkan armada laut yang super canggih, agar bersekutu melakukan agresi militer dan dapat dengan mudah mengalahkan armada laut Kedatuan Siau, melumpuhkan kekuatan militer di balik Benteng Gurita di sebelah barat Pulau Siau, dekat dengan pusat pemerintahan dan Benteng Santarosa di sebelah timur dekat dengan pusat militer kedatuan Siau.

Hampir seluruh kerajaan-kerajaan di Kepulauan Nusa Utara kala itu berhasil menjadi sekutu Sultan Sibori dan VOC. Sekutu itu dua kali melakukan agresi militer. Agresi pertama gagal menghancurleburkan Siau. Tetapi sejak “saudara dekat” Kerajaan Tagulandang (Mandolokang) berhasil digaet menjadi sekutu baru pada agresi kedua, dan meninggalnya Panglima Perang Hengkenau, maka beberapa rahasia strategi perang dari Kedatuan Siau dibawah komando langsung Datu Batahi terkuak, dan akhirnya Kedatuan Siau dapat dilumpuhkan pada agresi militer kedua.

Namun Datu Batahi pantang menyerah dan tidak mau tunduk pada kekuasaan VOC dan Kesultanan Ternate. Ia dan pasukannya terus melakukan perlawanan. Sampai akhirnya Batahi diminta menandatangani Perjanjian dengan Pihak VOC yang kala itu berambisi menaklukan kawasan utara Nusantara menjadi jalur rempah. Sejak saat itu, Kedatuan Siau mengalami kemerosotan dari segi wilayah maupun perekonomiannya. Bagi VOC, wilayah Siau tidak lebih penting daripada menguasai Maluku yang merupakan pusat rempah-rempah. Tetapi dengan membantu kepentingan “dendam dan cinta” dari Sultan Sibori, maka VOC berhasil menerapkan misi politik Devide Et Impera. Sultan Sibori setelah melampiaskan dendam kesumatnya untuk melumpuhkan Siau, dirinya memilih kembali berkonsentrasi mengurus kesultanannya. Sejak saat itu, pemerintahan Kedatuan Siau mudah diintervensi oleh kepentingan Kolonial Belanda. Secara perlahan-lahan terjadi perubahan dalam masyarakat, termasuk terjadinya proses alkulturasi budaya dalam bidang keagamaan, dari Katolik menjelma menjadi Protestan.

Sistem pemerintahan pun mengalami perubahan dari sistem kedatuan berubah menjadi Sistem Kerajaan. Tetapi pihak Belanda tidak mengambil sikap berlebihan dengan melakukan intervensi pada sendi-sendi utama pemerintahan. Terbukti dengan berjalannya fungsi Komolang Bobatu Datu secara efektif sejak masa pemerintahan Datu Winsulangi sampai pada masa di pertengahan pemerintahan Datu Batahi. Batahi merupakan raja terakhir yang dibaptis oleh Paderi menurut tata cara Kristen Katolik. Hal yang berbeda dalam baptisan nama menurut versi Paderi Katolik ialah penambahan nama di depan nama aslinya. Sedangkan baptisan versi Penginjil Belanda dilakukan dengan mengganti nama lama dengan nama yang baru, seperti misalnya Jakobus.

Datu Batahi wafat pada tahun 1678 setelah memerintah selama 47 tahun. Datu Batahi dimakamkan di Ondong yaitu di kompleks pemakaman para datu yang kini sudah dibangun gereja GMIST Immanuel Ondong. Gedung gereja ini dahulu kala merupakan kompleks makam raja-raja yang memerintah di istana Ondong.


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: