Lewa Kambera, kerajaan / P. Sumba – prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Lewa Kambera terletak di pulau Sumba, Kab. Sumba Timur, prov. Nusa Tenggara Timur.

Lokasi pulau Sumba

———————-

Lokasi Lewa di p. Sumba.


Kerajaan-kerajaan di P. Sumba

* Foto raja-raja di P. Sumba yang masih ada: link
* Foto raja-raja dulu di P. Sumba: link
* Foto situs kuno / megalitik di pulau Sumba: link


KERAJAAN LEWA KAMBERA

Raja kerajaan Lewa Kambera sekarang (2022)

Raja kerajaan Lewa Kambera sekarang (2022): Raja Umbu Pingi Ai.

Raja Pingi Ai. Sumber foto: donald tick, Facebook

Kerajaan Lewa Kambera: Raja Pingi Ai. Sumber foto: donald tick, Facebook


Sejarah kerajaan Lewa Kambera

Ada:
kerajaan Kambera,
kerajaan Lewa dan
kerajaan Lewa Kambera.
Kapan saja muncul kerajaan Lewa Kambera. Tentang kemunculan kerajaan Lewa Kambera tidak ada data.

—————————-

Tidak ada info tentang sejarah kerajaan Lewa Kambera.

Ada kerajaan Lewa dan kerajaan Kambera.
Kapan muncul kerajaan Lewa Kambera, tidak jelas. Tentang kemunculan kerajaan Lewa Kambera tidak ada data.


Sejarah raja kerajaan Kambera dan kerajaan Lewa

Pada zaman dulu masyarakat Sumba sangat menghormati para raja (Maramba) atau Bangsawan. Orang Kambera pada saat itu mempunyai raja namun tidak memiliki wibawa atau pengaruh sehingga kabihu (suku) yang berada di Paraing Lambanapu minta raja dari Lewa untuk mendampingi raja Kambera untuk memimpin masyarakat Kambera dan menempati Paraing Lambanapu. Karena mendengar permintaan dari kabihu tersebut maka raja Mbatakapidu, yaitu Umbu Nggau Nday Liti Ata merasa tersinggung karena masyarakat Kambera meminta raja dari tempat lain, yaitu Lewa.
Untuk melampiaskan kemarahan atau kejengkelannya maka Umbu Nggau Nday Liti Ata memperalat keponakannya yaitu Umbu Tunggu Namupraing alias Pindingara untuk memerangi raja Lewa Kambera dan membakar Paraing Lambanapu serta mengambil panglima perangnya dari orang Kambera itu sendiri dan panglima perangnya terdiri dari 3 orang yaitu:
Ruangga Yina,
Patimuluk dan
Huangawai.
Yang berasal dari Kabihu (Suku) Kokur Pandak, mereka diperalat Umbu Tunggu Namupraing untuk mencuri hewan orang Kambera yang berada di Paraing Lambanapu dan hewan-hewan curian tersebut dibawa ke gunung Uttamanu (Tanundang) tempat kediaman Umbu Tunggu Namupraing dan Panglima perangnya.
Setelah dua kali Paraing Lambanapu dibakar oleh Ruangga Yina maka raja Lewa Kambera menyuruh kabihu Kokur Pandak untuk memberikan wanita (istri) yaitu: Rambu Mbati Mbana, beserta hambanya yaitu: Kalamak kepada Ruangga Yina dengan harapan Ruangga Yina tidak lagi membakar Paraing Lambanapu tetapi hal tersebut tidak membuat Ruangga Yina berhenti membakar Paraing Lambanapu yang ke tiga kalinya.
Akhirnya raja Lewa Kambera merasa berang (marah) kemudian menggundang kabihu-kabihu untuk bersama-sama melakukan penyerangan di gunung Uttamanu atau Tanundang. Pada saat penyerangan Umbu Tunggu Namupraing dan panglima-panglimanya tidak berada ditempat karena sedang bepergian ke Tabundung (Paraingkareha) dalam rangka mengikuti acara kebaktian, maka yang ditemui di Uttamanu atau Tanundang adalah istri dari Umbu Tunggu Namupraing, yaitu Rambu Konda Ngguna dan istri dari Ruangga Yina, yaitu Rambu Mbati Mbana, kedua anaknya dan Hambanya Kalamak.
Mereka mau dibunuh dan disiksa tetapi tidak mampan oleh siksaan karena mereka cape dan merasa letih maka Istri dari Ruangga Yina, anaknya dan hambanya memberitahukan kelemahan mereka agar terbunuh yaitu dengan cara mengikat ibu jari kaki dengan tali dari kedua arah kemudian menusuk dengan pisau maka mereka akhirnya meninggal.
Tetapi istri dari Umbu Tunggu Namupraing tidak dibunuh namun dibawa pulang ke Paraing Lambanapu untuk dijadikan istri oleh raja Lewa Kambera tetapi Rambu Konda Ngguna menolak untuk dijadikan istri maka akhirnya dibunuh dengan cara diikatkan tali pada lehernya dari dua arah dan ditarik secara serentak atau biasa disebut: Habattal.
Berita kematian Rambu Konda Ngguna terdengar oleh suaminya Umbu Tunggu Namupraing maka marahlah Umbu Tunggu Namupraing lalu mengumpulkan panglima-panglima perangnya untuk menyusun kekuatan menyerang raja Lewa Kambera dan khususnya Umbu Tunggu Namupraing dan Ratu Maikit mengumpulkan pemuda-pemuda untuk ikut serta dalam perang dengan cara menjanjikan pada para pemuda bahwa dengan memukul tambur kecil (Katitik) akan mengeluarkan percikan api sampai kelangit maka kemenangan berada dipihak mereka dan para pemuda bebas untuk memilih wanita untuk dijadikan istrinya.

Raja Umbu Pingi Ai dari Lewa Kambera (Sumber: D. Tick, Facebook)

Kerajaan Lewa Kambera - RAJA TAMU UMBU PINGI AI OF LEWA KAMBERA (Sumber: D. Tick, Facebook)


Daftar raja kerajaan Lewa Kambera

c.1750 Kerajaan Lewa dibentuk.
c.1750 – 1756: Pura
1756 – …. Umbu Hina Hanggu Wali
…. – …. Umbu Nggala Lili Kani Paraingu
…. – 1874: Umbu Diki Kama Pira Ndawa I
1874 – 1891: Umbu Tunggu Maramba Namu Paraingu

1892 – 1917: Umbu Jawa Karai Manjawa (Umbu Bidi Tau)
1902 – 1913: Umbu Tunggu Namu Paraing –Regent
1917 – 1924: Umbu Nggaha Hau Mara (d. 1924)
1924 – 1940: Umbu Diki Kama Pira Ndawa II (Umbu Rarameha)
1924 – 1930: Umbu Nggaba Hunga -Regent (d. 1930)
1940 – 1965: Umbu Nggaba Hungu Rijhi Eti (b. 1901)
1965 – c.2002: Masa peralihan pemerintahan
c.2002 – Umbu Ndjaka

 – Sumber: http://jacktenabolo18.blogspot.com/

Oemboe Nggaba Haoemaoe (tengah), yang dikemudian hari menjadi Raja terahir Lewa Kambera (yang memerintah sampai tahun 1962) berfoto bersama dengan dua pengikutnya pada saat pemerintahan ayahnya, Oemboe Rarameha (1924-1940). Foto diambil tahun 1927. [Sumber foto Koleksi L.C. Heyting pada KITLV-Leiden University].

Oemboe Nggaba Haoemaoe (tengah)

Oemboe Nggaba Haoemaoe (tengah), yang dikemudian hari menjadi Raja terahir Lewa Kambera (yang memerintah sampai tahun 1962)


DAFTAR DAN SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN DI P. SUMBA

Untuk daftar dan sejarah kerajaan-kerajaan di P. Sumba, klik di sini

P. Sumba dan Nusa Tenggara Timur, 1650 M

Nusa Tenggara Timur, 1650 M


Peta kuno pulau Sumba

Klik di sini untuk peta kuno pulau Sumba

Sumba (Subao) abad ke-15

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: