Nagekeo (Boawae), Kerajaan / Nusa Tenggara Timur – Flores

Kerajaan Nagekeo dibentuk 1919; terletak di pulau Flores. Kab. Nagekeo, Prov. Nusa Tenggara Timur.

The kingdom of Nagekeo was founded in 1919; located on Flores. District of Nagekeo.

Klik foto untuk besar !

Kabupaten Nagekeo

Prov. Nusa Tenggara Timur – Kabupaten Nagekeo (merah)

Pulau Flores

Pulau Flores


* Foto kerajaan / kingdom Nagekeo (Boawae): link

* Foto foto Flores dulu dan situs kuno: link


Sejarah / History kerajaan Nagekeo

Sumber: Penulis: Oga Ngole Ke Djuwa Dobe Ngole (dikirim kpd anak Estin Bii’i utk tugas akademik)

Sejarah kerajaan Nagekeo, terutama sistem pemerintahannya, tidak terlepas dari pengaruh/campur tangan pemerintah kolonial Belanda kala itu. Pemerintah Hindia Belanda membentuk sistem pemerintahan baru yang sangat berbeda dengan sistem tradisional yang ada. Sebelumnya, masyarakat hidup berkelompok dalam “ulu eko”, “ili woe”, “boa ola”, yang bersifat otonom dan tidak ada struktur yang lebih tinggi di atasnya. Namun, demi dan oleh kepentingan kolonial penjajahan Belanda, dibentuklah struktur baru di atasnya, yaitu “zelfbesturende Lanschap” atau “ Landschap Bestuur” yang dipimpin oleh seorang “zelfbestuurder”atau raja yang diangkat oleh Belanda dari antara pemuka masyarakat setempat yang paling berpengaruh.
Pengaruh pemerintah kolonial Belanda hingga terbentuknya kerajaan Nagekeo dapat diriwayatkan sebagai berikut :
— Tahun 1907, di bawah pimpinan Kapitan Christoffel, Pemerintah Kolonial Belanda berhasil menguasai Larantuka hingga Manggarai.
— Tahun 1909 pemberontakan Marilonga di Ende berhasil dilumpuhkan dan pada tahun 1910, Flores seluruhnya takluk kepada pemerintah kolonial Belanda
— Tahun 1912, dibentuklah 27 “Landschap Bestuur” di Flores, dan salah satunya adalah Landschap Bestuur Nage di bawah pimpinan Oga Ngole, berpusat di Boawae
— Pada tanggal 18 April 1917, terjadi pertemuan antara pemerintah Hindia Belanda dengan Raja Nage, Oga Ngole dan Raja Keo, Muwa Tunga di Boawae, untuk menggagas penggabungan swapraja Nage dan Keo. Gagasan ini tidak langsung terwujud, dan baru bisa terwujud setelah keduanya meninggal
— Pada tanggal 26 Januari 1931, Pemerintah Kolonial Belanda melantik Joseph Juwa Dobe Ngole, menjadi Raja Nagekeo, sekaligus sebagai simbol penggabungan swapraja Nage dan Keo menjadi Swapraja Nagekeo. Raja Josef Juwa Dobe Ngole, wafat pada 25 Desember 1972
Sistem Pemerintahan Swapraja ini tetap terpelihara hingga zaman kemerdekaan dan tanpa melalui pembubaran resmi, sistem kerajaan dengan sendirinya berakhir setelah adanya Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang pembentukan daerah-daerah tingkat II dalam wilayah daerah tingkat I Bali, NTB dan NTT. Kabupaten Ngada, yang didalamnya mencakup 3 swapraja yakni Nagekeo, Ngadha dan Riung termasuk salah satu dari 12 swatantra tingkat II NTT.

– Lihat pula: Kerajaan2 di Flores yang didirikan Hindia Belanda 1910-1918

klik peta di bawah untuk besar

Kerajaan-kerajaan di Flores abad ke-17/18

—————
Source: Autor: Oga Ngole Ke Djuwa Dobe Ngole (dikirim kpd anak Estin Bii’i utk tugas akademik):

The history of the kingdom of Nagekeo was influenced by the Dutch colonial government at the time. The Dutch East Indies founded a new government that was very different from the existing traditional system. Previously, the people lived in groups: “ulu eko”, “ili woe”, “boa ola”, which were autonomous and there was no higher structure on it. However, because of colonial Dutch colonial interests, there was formed a new structure on it, namely “zelfbesturende Lanschap” or “Landschap Bestuur” led by a “zelfbestuurders” or king, who was appointed by the Dutch from the most influential local leaders.
The influence of the Dutch colonial government until the formation of the kingdom of Nagekeo was as follows:
In 1907, under the leadership of Kapitan Christoffel, the Dutch colonial government seized the Larantuka to Manggarai.
1909 uprising of Marilonga in Ende; in 1910, whole Flores was entirely subject to the Dutch colonial government
1912, there were formed 27 “Landschap Bestuur” on Flores, and one of them was Landschap Bestuur Nage under the leadership of Oga Ngole, centered in Boawae.
On April 18, 1917, there was a meeting between the Dutch government with the King of Nage, Oga Ngole and King of Keo, Muwa Tunga in Boawae, to initiate the merger of the autonomous Nage and Keo. This idea however could only be realized after the kings died.
On January 26, 1931, the Dutch colonial government inaugurated Joseph Juwa Dobe Ngole, as King of Nagekeo, and as a symbol of the merger of the autonomous Nage and Keo to become Swapraja Nagekeo. King Josef Juwa Dobe Ngole, died on December 25, 1972
Autonomous Government System was maintained until the time of independence of Indonesia and without going through the formal dissolution, the imperial system itself ends after the Act No. 69 of 1958 on the establishment of areas in the region level II level region of Bali, NTB and NTT. Ngada, which also includes three self-government that is Nagekeo, Ngadha and Riung including one of the 12 autonomous level II NTT.


Daftar Raja / List of Kings of Nagekeo

Daftar 1

* Dapa Gu x Ngole Mola (Masa Sebelum Kolonial Belanda): melahirkan Oga Ngole
* Oga Ngole x Azi Bha (Raja Nage pada Masa Kolonial Belanda) melahirkan Teda Sada dan sdra/i
* Oga Ngole x Ea Tawa (Raja Nage pada Masa Kolonial Belanda) melahirkan Djuwa Dobe Ngole dan sdra/i
* Oga Ngole x Ule Eno (Raja Nage pada Masa Kolonial Belanda) melahirkan Kota Kile dan sdra/i
* Djuwa Dobe Ngole x Fatima Bay (Raja Nagekeo pada Masa Kolonial Belanda) melahirkan Lodoweyk Djago Dede dan sdra/i
* Lodoweyk Djago Dede x Imelda Nage Wona (Kepala Desa / Ketua Suku pada masa Kemerdekaan)
* Marselinus Adjo Bupu (Ketua Suku /Primus Interparens, Saat ini)

Daftar 2

Penguasa  Keo

  • Muwa Tunga, 1913-1920
  • Dato Bali, 1920-1931; regen 1920-1931
  • Keo masuk  Nagehu, 1931

Penguasa Nagehu

  • Roga Ngole, 1917-1928

Penguasa Nageh-Keo

  • Joseph Juwa Dobe Ngole, 1928-1962
  • Nageh-Keo masuk Indonesia 1962

– Sumber: https://pl.wikipedia.org/wiki/W%C5%82adcy_Flores#W.C5.82adcy_Nageh-Keo


Peta kuno Flores

Untuk peta kuno (1493, 1725, 1700-an, 1756), klik di sini

Flores, tahun 1725


Sumber

– Sejarah Kab. Nagekeo di Wiki: Wiki
Tentang Nage dan Keo:  http://woltmantuga.blogspot.co.id/2009/01/masa-pemerintahan-asli-ngada.html
Nagekeo, dari dua menjadi satu:  http://kupang.tribunnews.com/2010/05/10/nagekeo-dari-dua-menjadi-satu
————————-

Kerajaan2 di Flores yang didirikan Hindia Belanda 1910-1918: http://mbulinggela.blogdetik.com/2012/02/12/kerajaan-kerajaan-di-flores-yang-didirikan-hindia-belanda/
– Sejarah pulau Flores: http://pulau-flores.blogspot.co.id/2011/11/sejarah-pulau-flores.html
Sejarah pulau Flores: http://nusalale.com/detailpost/sejarah-pulau-flores
Sejarah dan kebudayaan Suku Flores: http://dunia-kesenian.blogspot.co.id/2016/01/sejarah-dan-kebudayaan-suku-flores-ntt.html
– Sejarah Flores memeluk Katolik: https://m.tempo.co/read/news/2015/11/21/204720937/wisata-pantai-sejarah-flores-memeluk-katolik
– Asal usul pulau Flores: http://desiran.blogspot.co.id/2014/01/asal-usul-pulau-flores.html
– Masyarakat Flores: http://florestrawang-letare.blogspot.co.id/

English

– History of Flores: Wiki
History of Flores: link


It is Raja Muda Marselinus/Selly Fabianus Adjo Bupu. He is one of the 2 chiefs of the raja dynasty of Nage and son of the former dynastychief Loduwek Djago Dede, who succeeded 1972-9 his father; last ruling raja, as dynastychief of Nage. Since 2014 (until 2019 ) he is chief of the DPRD/parlement of the kabupaten Nagekeo. Sumber: D. Tick, FB


 

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: