Kalingga (Ho-Ling), kerajaan / Jawa Tengah

Kerajaan Kalingga (Ho-Ling) abad ke 6 – abad ke 7, terletak di Jawa tengah.
Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6.
Setelah Ratu Shima (674-695 M) wafat, kerajaan Kalingga dibagi menjadi dua kekuasaan:
– Kalingga bagian selatan.
– Kalingga bagian utara.

The kingdom of Kalingga, 6 – 7 th century, located on central Jawa.
Kalingga or Ho-ling (Chinese sources) is a Hindu-style kingdom, that emerged in Central Java around the 6th century.
After Queen Shima (674-695 AD) died, the Kalingga kingdom was divided into two powers: Southern Kalingga and North Kalingga.
Forr english, click here

Lokasi prov. Jawa Tengah

Provinsi Jawa Tengah.


* Foto kerajaan Kalingga: di bawah


Garis kerajaan-kerajaan di Jawa: link


Foto sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

* Foto sultan dan raja, yang masih ada di Jawa: link
* Foto keraton di Jawa, yang masih ada: link
* Foto Batavia (Jakarta) masa dulu: link
* Foto Jawa masa dulu: link
* Penyerbuan Batavia oleh Sultan Agung, 1628/1628: link
* Foto perang Diponegoro, 1825: link
* Foto situs kuno di Jawa: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

– Video Penguasa Monarki kesultanan Jawa Mataram, 1556 – 2020: link
– Video sejarah kesultanan Mataram, 1576-2020: link
– Video sejarah kerajaan Medang Mataram Hindu: link
– Video sejarah kerajaan Majapahit, 1293 sampai 1527: link
– Video raja-raja Majapahit hingga ke Mataram, 1293 – 1587: link
– Video sejarah kerajaan Jawa, 10.000 SM – 2017: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Timur, 1.5jt SM sampai 2020: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Barat, 3000 SM sampai 2020: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Tengah, 1.5jt SM sampai 2020: link


KERAJAAN KALINGGA (HO-LING)

Sejarah kerajaan Kalingga (Ho-Ling), abad ke 6 – abad ke 7

Sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/20/162857279/kerajaan-kalingga-raja-raja-kehidupan-politik-dan-peninggalan?page=all

Kerajaan Kalingga atau Kerajaan Holing adalah kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Jawa yang berdiri pada abad ke-6 hingga abad ke-7. Letak kerajaan ini berada di pantai utara Jawa Tengah, antara Kabupaten Pekalongan dan Jepara. Pendiri kerajaan Kalingga adalah keturunan Dinasti Syailendra, yang nantinya menjadi penguasa kerajaan Mataram Kuno.
Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Ratu Shima yang berkuasa antara 674-695 M. Tidak banyak cerita maupun keterangan mengenai kerajaan Kalingga. Bukti-bukti yang menyebutkan keberadaannya lebih banyak berasal dari Tiongkok, salah satunya berasal dari pendeta bernama Hwi-ning yang mengunjungi Kerajaan Kalingga pada 664-667 M.

Kehidupan politik kerajaan Kalingga

Meski hanya berdiri sekitar satu abad, kerajaan Kalingga pernah membawahi 28 kerajaan kecil yang diberi kebebasan dalam mengatur pemerintahannya sendiri. Akan tetapi, kerajaan-kerajaan tersebut harus tunduk pada peraturan kerajaan, menyerahkan upeti tahunan, dan mengakui sebagai bawahan kerajaan Kalingga. Penguasa kerajaan kecil tersebut adalah kerabat dekat penguasa Kalingga.

Kehidupan ekonomi kerajaan Kalingga Perekonomian

Kerajaan Kalingga bertumpu pada sektor perdagangan dan pertanian. Letaknya yang berada di pesisir utara Jawa menyebabkan sektor perdagangan maritim dapat berkembang pesat. Komoditas perdagangan Kalingga antara lain, kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading. Sementara itu, wilayah pedalaman yang subur dimanfaatkan untuk mengembangkan kegiatan pertanian dengan hasil utama berupa padi. Selain itu, sebagian penduduknya pandai membuat minuman dari bunga kelapa dan bunga aren.

Masa kejayaan dan keruntuhan kerajaan Kalingga

Salah satu raja terkenal kerajaan Kalingga adalah Ratu Shima, yang berkuasa antara 674-695 M. Pemimpin kerajaan Kalingga inilah yang berhasil membawa kerajaan mencapai puncak kejayaan. Ratu Shima memerintah dengan sangat keras, tegas, tetapi juga adil, sehingga rakyatnya hidup dengan aman, tertib, dan teratur.
Pada masa kejayaannya, kerajaan Kalingga menjadi pusat agama Buddha di Jawa. Sepeninggal Ratu Shima, kerajaan Kalingga ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Kalingga kemudian dibagi menjadi dua, yaitu kerajaan Keling yang diperkirakan di sekitar Magelang dan kerajaan Medang yang diperkirakan di sekitar Yogyakarta.

Peta wilayah kerajaan Kalingga


Daftar raja kerajaan Kalingga

594-605 M: Wasumurti.
Berkuasa selama 11 tahun. Memiliki dua orang anak, yaitu: Wasugeni dan Dewi Wasundari (menikah dengan Kiratasingha). Setelah ia wafat, takhta diteruskan oleh Wasugeni.

605-632 M: Wasugeni.
Berkuasa selama 27 tahun. Ia menikah dengan Dewi Paramita, sebagai permaisuri. Dewi Paramita adalah putri raja dinasti Pallawa dari India. Mereka dikaruniai dua orang anak, yaitu: Wasudewa dan Dewi Wasuwari (Ratu Shima), yang menikah dengan Kartikeyasingha. Setelah ia wafat, takhta diteruskan oleh Wasudewa.

632-652 M: Wasudewa.
Berkuasa selama 20 tahun. Ia memerintah bersama dengan adiknya, Dewi Wasuwari. Ia memiliki seorang putra bernama Wasukawi. Setelah ia wafat, takhta diteruskan oleh Wasukawi.

652-??? M: Wasukawi.
Berkuasa hanya sebentar karena usianya yang masih mudah. Kemudian, takhta digantikan Kiratasingha.

632-648 M: Kiratasingha.
Berkuasa selama 20 tahun. Ia adalah menantu Wasumurti dan merupakan ayah dari Kartikeyasingha, putra yang berasal dari istri Melayu. Kiratasingha diketahui adalah seorang bangsawan dari Kerajaan Melayu yang mengungsi ke Jawa karena ekspansi dari Kerajaan Sriwijaya.

648-674 M: Kartikeyasingha.
Berkuasa selama 26 tahun bersama istrinya, Ratu Shima. Ia merupakan menantu Wasugeni setelah menikahi Dewi Wasuwari (Ratu Shima). Kartikeyasingha dari pihak ibunya masih keturunan raja Kerajaan Melayu, karena ibunya adalah adik raja Melayu yang ditumpas oleh Sri Jayanasa dari Kerajaan Sriwijaya.

674-695 M: Wasuwari (Ratu Shima).
Berkuasa selama 21 tahun, menggantikan suaminya yang wafat. Ia memiliki dua orang anak, yaitu: Dewi Parwati dan Rakryan Dewasingha. Dewi Parwati kelak menikah dengan Rahyang Mandiminyak, yang menjadi raja kedua di kerajaan Galuh. Kemudian memiliki anak bernama Dewi Sannaha. Kelak Dewi Sannaha menikah dengan Bratasenawa, raja ketiga Kerajaan Galuh.

Setelah Ratu Shima wafat, kemudian kerajaan Kalingga dibagi menjadi dua kekuasaan. Kalingga bagian selatan dipimpin oleh Dewi Parwati bersama Rahyang Mandiminyak, raja kedua Galuh. Sedangkan Kalingga bagian utara dipimpin adiknya, Rakryan Dewasingha. Berikut ini nama raja-raja yang berkuasa di kedua pecahan kerajaan Kalingga.

Daftar raja Kalingga Utara

695-742: Rakryan Narayana, bergelar Prabu Iswarakesawalingga Jagatnata Bhuwanatala.
742-760: Rakryan Dewasingha, bergelar Prabu Iswaralingga Jagatnata.
760-789: Rakryan Limwana, bergelar Prabu Gajayanalingga Jagatnata

Daftar raja Kalingga Selatan

695-709: Dewi Parwati, bergelar Sri Maharani Parwati Tunggalpratiwi.
709-716: Dewi Sannaha.
716-746: Rakryan Sanjaya, bergelar Prabu Harisdharma Ksatrabhimaparakrama Yudhenipuna Bratasennawaputra

Sejak pemerintahan Rakryan Sanjaya, terjadi pemberontakan Purbasora di kerajaan Galuh, yang dipimpin ayahnya, Bratasenawa. Ia kemudian mendirikan kerajaan Mataram Kuno di daerah selatan dan mendirikan wangsa Sanjaya.

– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kalingga


Peninggalan kerajaan Kalingga (Ho-Ling)

Peninggalan kerajaan Kalingga: prasasti Sojomerto, (abad ke-7).
Karena ditemukan di desa Sojomerto, maka prasasti peninggalan Kerajaan Kalingga ini diberi nama prasasti Sojomerto. Isinya adalah tentang Raja Dapunta. Di mana lebih jelasnya berisi tentang silsilah keluarga Dapunta.

Kerajaan kuno Kalingga; prasasti ——————–
Peninggalan kerajaan Kalingga: Prasasti Tukmas (abad ke-7).

Ini adalah prasasti penting yang juga menjadi peninggalan sejarah Kerajaan Kalingga. Di mana prasasti Tukmas ini masih menggunakan huruf Pallawa dan menggunakan Bahasa Sansekerta.

Kerajaan kuno Kalingga; prasasti tukmas.——————–

Peninggalan kerajaan Kalingga: Candi Angin
Menurut para penelitian Candi Angin lebih tua daripada Candi Borobudur, Candi Angin di sinyalir adalah peninggalan Kerajaan Kalingga. Bahkan ada yang beranggapan kalau candi ini buatan manusia purba di karenakan tidak terdapat ornamen-ornamen Hindu-Budha.

Menurut para penelitian Candi Angin[2] lebih tua daripada Candi Borobudur, Candi Angin di sinyalir adalah peninggalan Kerajaan Kalingga. Bahkan ada yang beranggapan kalau candi ini buatan manusia purba di karenakan tidak terdapat ornamen-ornamen Hindu-Budha. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Angin——————–

Peninggalan kerajaan Kalingga: Candi Bubrah
Candi Bubrah merupakan peninggalan Kerajaan Kalingga. Candi Bubrah ini Ditemukan tidak begitu jauh dari lokasi Candi Angin. Dinamakan “Candi Bubrah” karena ketika ditemukan candi ini sudah dalam kondisi luluh lantah. Dimana, ketika pertamakali ditemukan, Candi Bubrah ini hanya tinggal reruntuhan setinggi 2 meter saja.


Peta kuno Jawa

Klik di sini untuk peta kuno Jawa tahun 1598, 1612, 1614, 1659, 1660, 1706, 1800-an, awal abad ke-18, 1840.

Jawa, awal abad ke-18

Jawa, awal abad ke-18


Sumber / Source

– Sejarah kerajaan Kalingga di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kalingga
Sejarah kerajaan Kalingga: http://www.wacananusantara.org/kerajaan-kalingga/
Sejarah kerajaan Kalingga: http://sorayadwikartika.blogspot.co.id/2013/09/kerajaan-kalingga.html
– Sejarah kerajaan Kalingga: http://www.portalsejarah.com/sejarah-kerajaan-kalingga-kerajaan-hindu-budha-pertama-di-jawa-tengah.html
Peninggalan dari kerajaan Kalingga: http://pengayaan.com/peninggalan-dari-kerajaan-kalingga/
Daftar raja: Wiki


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: