Malayapura, kerajaan / Prov. Sumatera Barat – kab. Dharmasraya

Kerajaan Malayapura merupakan kelanjutan dari kerajaan Dharmasraya di Sumatera. Kerajaan ini didirikan oleh Adityawarman pada 1347 di bekas wilayah kerajaan Dharmasraya.  Dalam perjalanan sejarah kerajaan ini, Adityawarman kemudian memindahkan ibukotanya ke daerah pedalaman Minangkabau yang kemudian dikenal juga dengan kerajaan Pagaruyung.

Lokasi kab. Dharmasraya


Garis kerajaan-kerajaan di Sumatera: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link


Video sejarah kerajaan / kesultanan di Sumatera

* Video sejarah kerajaan di Sumatera, 75.000 SM – sekarang: link
* Video sejarah kerajaan di Sumatera Utara, 0 M – sekarang: link
*
Video sejarah kerajaan di Sumatera Barat, 0 M – sekarang, link


KERAJAAN MALAYAPURA

Sejarah kerajaan Malayapura, didirikan 1347

Umum

Kerajaan Dharmasraya (Malayu Muda), 1183–1347
Kerajaan Malayapura mulai tahun 1347

Kerajaan Malayapura merupakan kelanjutan dari kerajaan Dharmasraya. Nama Malayapura terpahat pada Arca Amoghapasa yang dibuat sejak zaman Adityawarman. Menurut teks yang terdapat pada arca tersebut, Malayapura disebut sebagai nama kerajaan Melayu yang didirikan oleh Adityawarman.

Adityawarman menjadi penguasa di Malayapura Swarnnabhumi atau Kanakamedini pada tahun 1347 dengan gelar Maharajadiraja Srimat Sri Udayadityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa, dan di kemudian hari ibu kota dari kerajaan ini pindah ke daerah pedalaman Minangkabau.

Mendirikan kerajaan Malayapura

Pada tahun 1339 Adityawarman dikirim sebagai uparaja atau raja bawahan Majapahit ke wilayah Swarnnabhumi ( Pulau Sumatera) untuk menjalankan beberapa misi penaklukkan.

Kemudian pada tahun 1347, Adityawarman mendirikan kerajaan baru bernama Malayapura sebagai kelanjutan kerajaan Melayu sebelumnya, sebagaimana seperti yang terpahat pada bagian belakang Arca Amoghapasa.

Dari prasasti Kuburajo di Limo Kaum yang menggunakan aksara Dewanagari juga menyebutkan bahwa Adityawarman menjadi raja di Kanakamedini (Swarnnadwipa).

Dari prasasti Suruaso yang beraksara Melayu menyebutkan Adityawarman menyelesaikan pembangunan selokan untuk mengairi taman Nandana Sri Surawasa yang senantiasa kaya akan padi yang sebelumya dibuat oleh pamannya yaitu Akarendrawarman yang menjadi raja sebelumnya.

Selain itu juga terlihat kepedulian Adityawarman untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakatnya dengan tidak bergantung kepada hasil hutan dan tambang saja.

Ia kemudian menjadi penerus tahta Dharmasraya dari pamannya, Srimat Sri Akarendrawarman lalu memindahkan ibu kota kerajaan daerah pedalaman (Pagaruyung atau Suruaso).

Kepindahan ini masih menjadi banyak pertanyaan, karena setelah Adityawarman menjadi raja Malayaputra hubungannya dengan Majapahit menjadi retak. Kemungkinan Adityawarman setelah mewarisi Dharmasraya ingin melepaskan diri dari pengaruh Majapahit hal ini bisa dilihat dari gelar yang dipakai Adityawarman, setara dengan dengan gelar raja di Majapahit.

Sistem kerajaan

Setelah memindahkan pusat kerajaan ke Pagaruyung. pada awalnya Adityawarman menyusun sistem kerajaan hampir sama dengan sistem kerajaan yang ada di Majapahit masa itu dan kemudian mengubah sesuai dengan struktur kekuasaan Kerajaan Dharmasraya dan Sriwijaya yang pernah berlaku pada masyarakat setempat.

Di mana ibu pejabat diperintah langsung oleh Raja, sementara kawasan pendukung tetap diperintah oleh datuk setempat. Dan kemudian Raja dibantu oleh empat orang menteri, dalam hikayat dikenal dengan Basa Ampek Balai (Empat Menteri Utama) yaitu:

  1. Bandaro di Sungai Tarab
  2. Makhudum di Sumanik
  3. Indomo di Saruaso
  4. Tuan Gadang di Batipuh

Kemunduran kerajaan Malayapura

Setelah Adityawarman meninggal dunia, ia digantikan oleh putranya yang bernama Ananggawarman, sebagaimana tersebut dalam Prasasti Batusangkar yang bertarikh 1375, yang menyebutkan Adiytawarman dan putranya Ananggawarman melakukan upacara hewajra, dalam ritual tersebut Adityawarman diibaratkan telah menuju kepada tingkat ksetrajna.

Masa Ananggawarman adalah masa kemunduruan Malayapura. Saat Majapahit diperintah Wikramawardhana dikirimlah pasukan ke Malayapura pada tahun 1409 dan 1411. Pertempuran kedua pasukan terjadi di Padang Sibusuk, (hulu sungai Batang Hari), di mana kedua- serangan pasukan kerajayaan Majapahit dapat dipukul mundur.

Namun akibat dari serangan tersebut, pengaruh kerajaan ini terhadap daerah jajahannya melemah, di mana daerah-dacrah jajahan seperti Siak, Kampar dan Indragiri melepaskan diri.Setelah Ananggawarman tidak diketahui lagi siapa yang menjadi raja di Malayapura.

Adityawarman, memerintah 1347–1375


Hubungan kerajaan Malayapura dan kerajaan Majapahit

Untuk hubungan kerajaan Malayapura dan kerajaan Majapahit, klik di sini


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


Sumber

– Adityawarman: https://id.wikipedia.org/wiki/Adityawarman
– Sejarah kerajaan Malayapura di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Malayapura
Sejarah kerajaan Malayapura: http://wartasejarah.blogspot.com/2013/10/kerajaan-malayapura.html
Hubungan kerajaan Malayapura dan kerajaan Majapahit: https://kumparan.com/potongan-nostalgia/hubungan-kerajaan-malayapura-dan-kerajaan-majapahit


Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: