Tentang masyarakat negeri Ureng

Info di bawah di ambil dari: http://ichalltuharea.blogspot.com/2013/04/sejarah-negeri-ureng.html

————————————–

HUBUNGAN SOSIAL

Nilai budaya lain yang masih dipegang selama ini adalah :

¨        Pemandian atau penyucian Mahkota tiang Alip Mesjid dan Pemasangan Mahkota 7 susun pada raja yang mangkat jabatan Raja dengan ritual adat

¨        Masohi  adalah bentuk kerjasama antara warga masyarakat yang sifatnya membantu warga yang berhajat melaksanakan sesuatu kegiatan,misalnya membangun rumah.

¨        Badati bermakna kerja sama saling membantu dalam satu urusan pekerjaan yang harus dikerjakan secara bersama-sama Dalam suatu tradisi pembangunan masjid misalnya, biasanya negeri-negeri lain bahkan non muslim menawarkan untuk menanggung bahan-bahan lokal yang diambil di negerinya.

¨        Ma’ano : adalah bentuk kerja sama bagi hasil, sebuah kebiasaan saling membantu dan menanggung atas suatu pekerjaan yang hasilnya dibagi bersama mereka yang bersepakat.

¨        Sasi  hukum adat yang berkaitan dengan larangan untuk mengambil, baik hasil hutan atau hasil laut dalam jangka waktu tertentu yang ditetapkan pemerintah setempat

¨        Kewang : polisi hutan yang mengawasi hutan / laut agar tidak diambil hasilnya oleh masyarakat sebelum saat dibukanya sasi.

¨        Marinyo :  membantu raja melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan penyampaian atau memberikan informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan negeri kepada masyarakat (tabaos)

¨        Makan patita : tradisi yang biasanya dilakukan pertemuan orang basudara

¨        Hadrat dan Tari Sawat ; Tarian adat yang mengandung nilai adat dan agama

¨        Tarian Tiki – Taka merupakan tariann adat yang akan di adakan saat pelantikan raja

¨        Pasowale pada saat hajatan adat/kumpul bersama

Istilah-istilah dalam Kelembagaan Adat Negeri Ureng

  1. Hena yaitu seluruh masyarakat adat yang terbagi atas beberapa Luma Tau/ Mata rumah yang terbentuk dari penggabungan beberapa keluarga inti  yang diperluas, tetapi berasal dari satu garis keturunan dan memiliki sifat dasar yaitu geneleogis;
  2. Raja yaitu Kepala Pemerintahan Negeri yang memimpin dan mengatur segala bentuk pranata kehidupan  komunitas dalam negeri adat yang keturunannya turun temurun dari pada leluhur yang telah diwariskan kepadanya, dengan tetap bekerja bersama-sama Saniri Negeri, Tokoh Agama, Tokoh Adat dan Tokoh Pemuda;
  3. Upu Latu Marayase; yaitu sebuah nama gelar dari Raja Ureng, yang mengandung nilai sejarah dan warisan turun temurun dari para leluhur negeri Ureng;
  4. Tukang Mena adalah kepala tukang dari mata rumah raja dipilih oleh anak soa laitupa raja
  5. Tukang muli adalah mata rumah tukang
  6. Tukang Husal Lua; yaitu sekelompok orang yang mempunyai hak penuh untuk mengatur semua bentuk pekerjaan di masjid yang berjumlah 12 orang dan dipimpin oleh Tukang Elak (Tukang Besar), dan diangkat  berdasarkan garis keturunan secara turun temurun
  7. Tukang sunat yang terdiri dari sunat mena muli yang diangkat oleh mata rumah tertentu berdasarkan garis turunan dan bertugas untuk melaksanakan sunat/hitanam
  8. Imam Elak yaitu satu-satunya yang menjadi pemimpin keagamaan di negeri Ureng yang mempunyai tugas  di bidang keagamaan dan memimpin jamaah di Masjid Besar (Almubaarak) . Diangkat oleh Raja dengan memperhatikan garis keturunan
  9. Khatib yaitu melaksanakan khotbah di masjid pada setiap hari Jumat dan diangkat oleh Raja berdasarkan hak turun temurun dengan memperhatikan usulan mata rumah
  10. Modim yaitu pembantu Imam dan Khatib di masjid, yang tugasnya memandu waktu shalat di Masjid yang diangkat oleh raja berdasarkan usulan tiga anak soa yang terdiri dari sekumpulan beberapa mata rumah
  11. Marbot yaitu penjaga masjid yang diambil oleh Raja
  12. Kepala Dati yaitu seorang kepala Luma Tau yang bertugas mengatur dan memimpin segala bentuk pekerjaan dalam Luma Tau /Rumah Tua Adat serta berhak mengontrol dati / tanah dati  yang dukasai demi kesejahteraan anak cucu dati.
  13. Kepala Soa sebagai pemimpin Soa yang bertugas  mengatur  anak  soa.  Kepala Soa  diangkat  dalam   musyawarah soa yang dihadiri oleh semua anak soa.
  14. Pencucian negeri dapat dilakukan pada acara-acara tertentu.

TARIAN NEGERI URENG

Tarian Tiki-Taka

Nama Tiki-Taka ini diambil dari bahasa gunung dan bahasa pantai dalam perpaduan bahasa yang selaras dengan momentum pertemuan antara penghuni Negeri Nakalale dengan penghuni Negeri Urehena dalam perpaduan budaya. Kata Tiki-Taka yang berasal dari bahasa gunung dan bahasa pantai mengandung arti tersendiri :

Tiki yang artinya Petik, dari bahasa gunung dengan Parang dan Salawaku Putih. Taka artinya Kedamaian, dari bahasa pantai dengan tarian Tamil.

Secara lengkap sebutan Tiki-Taka berarti Petik Kedamaian dalam satu kesatuan makna.Pemimpin tarian Tiki-Taka adalah Raja Tombak aliran putih (Latu Tupa Putih) yaitu suatu kedigdayaan aliran para Wali.

Tarian Tiki-Taka ini dirancang oleh seorang Maulana Asal Baghdad (Penyiar Agama Islam) dizaman awal masuknya Agama Islam di Jazirah Mulok atau wilayah Maluku, yang bernama Amrullah Al-Fatani yang kemudian dinobatkan menjadi Raja dengan gelar Upu Latu Marayase di Negeri Ureng dan memangku jabatan kepala adat diwilayah Uli Ala Nurwa Itu Sopa Barakate dengan gelar Siwa Lete yang artinya sembilan tertinggi pada sembilan Uli di Jazirah Leihitu.

Tombak berwarna putih melambangkan kualitas / kedigdayaan aliran putih dari golongan para Wali. Tarian ini dilakukan saat awal pertemuan antara penghuni Negeri Nakalale dengan Urehen, yang menandakan bahwa telah terjadi perubahan kualitas tombak warna hitam dari para kapitan, menjadi kualitas tombak kapitan berwarna putih, sebagai simbol penyatuhan ketahanan adat yang selaras dengan Agama, maka tokoh pancetus perubahan warna tombak itu diberi marga Lelitupa kemudian menjadi Laitupa, setelah mengalami degradasi bahasa.

Parang dan Salawaku putih dengan dua bulu ayam jantan pada kopiah/peci melambangkan sikap satria dengan simbol ayam jantan putih, memandakan bahwa telah terjadi perubahan warna satria ayam jantan hitam (Manu Tula Miten) menjadi satria ayam jantan putih (Manu Tula Putih).

Gerakan miring Salawaku (Leli Awen) memberi isarat bahwa semua penyaluran kekuatan dan kedigdayaan haruslah lebih peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan dalam hubungan horizontal antara sesama manusia serta melindungi dan menghormati hak asasi manusia.

Tarian Tamil dengan pakaian para Wali yang menari dan bersukaria, menandakan bahwa para penghuni pantai sedang bersukaria menyambut kehadiran para penghuni Negeri Nakalale untuk hidup berdampingan secara rukun dalam nuansa kedamaian.

Pukulan gong dua kali dalam irama tarian Tiki-Taka, dan dua kali pukulan dari penari Tamil, serta dua kali hentakan kaki dari gerakan Parang Salawaku, semua penyaluran kekuatan dan kedigdayaan harus berlandaskan kepada ketahanan Dua Kalimat Syahadat.

TEMPAT-TEMPAT PAMALI DI NEGERI URENG

Tempat-tempat pamali yang berada di Negeri Ureng yaitu :

–          Gunung Eli Manurihu yang tempatnya tepat berada di belakang negeri ureng

–          Waepeka yang tempatnya  berada di unjung kampung berbatasan dengan assilulu

–          Talaga yang tempatnya berada di dalam negeri ureng negeri ureng

Ketiga tempat di atas sangat pamali dan apabila ada orang yang melanggar aturan yang telah ada pada adat, akan terjadi kematian pada orang yang melanggarnya

BAILEO

Negeri Ureng memiliki Baileo yang di bangun pada tahun 2011. Bentuk baileo negeri ureng yaitu patalima.