Sejarah lengkap negeri Naku

Oleh Andrew Alfons, di ambil dari: https://www.facebook.com/notes/naku-village/sejarah-negeri-naku-berdasarkan-hasil-penelitian-bpk-nic-pesiwarissa/10154384961359018

——————————————————-

TERJADINYA  NEGERI  NAKU

Pada umumnya orang sukar mengetahui asal usul dari mana saat fam itu ada atau muncul, dengan demikian untuk menjelaskan hal  di atas maka perlu dilihat pada garis sejarah yang dimiliki oleh masing-masing untuk itu sejalan dengan penulis dapat membuat tugas yang telah diberikan yang mana menyangkut asal usul famnya.

Menurut cerita orang tua-tua bahwa asal fam Pesiwarissa adalah berasal dari Tuban (Jawa Timur) yang prosesnya sebagai berikut :

Pada masa keprintahan  Perabu Munding Sari pada tahun 1280, kemudian dalam tahun masehi tempat tinggalnya di Bogor dimana pada masa memerintah ada seorang lelaki yang bernama “ TUHENA HUMAANG” yang tugasnya sebagai tukang Faras, Tuhena Humaang dalam hidupnya telah merasa bahwa ia sudah mempunyai pekerjaan maka timbulah pemikiran untuk hidup yang bukan ditanggulangi oleh orang tuanya lagi, dengan maksud ia mau kawin.

Dalam perencanaan juga disetujui oleh orang tuanya, maka Tuhena Humaang pada tahun-tahun tersebut ia menikah dengan seorang gadis yang bernama “NYAI SERASA” nyatanya dalam rumah tangga yang baru ini waktu demi waktu berlalu keduanya telah memperoleh anak yang pertama bernama “ALI” dan yang kedua bernama “DJABAR”.

Dalam kehidupan rumah tangga mereka mendidik dan mendewasakan anak-anaknya dengan penuh tanggung jawab selaku pendidik yang utama, dimana didalamnya kebebasan hak yang diberikan juga oleh orang tua, tahun demi tahun maka tibalah si Ali pada usia 20 tahun, dimana dalam usia muda ini si Ali merasa bahwa ia sudah dewasa dan pandai dalam agamanya (Islam), walaupun dalam usia yang muda pada suatu waktu perencanaan yang timbul dalam hati si Ali bahwa ia akan pergi naik haji di tanah suci (Mekah). Si Ali mempunyai sifat terbuka maka hal itu juga disampaikan kepada orang tuanya dengan tujuan bahwa ayah dan ibunya harus memberikan izin untuk dia pergi ke Mekah, nyata permintaan si Ali ini benar-benar disetujui oleh orang tuanya, sejalan dengan rencana itu si Ali juga meminta izin dari Raja Perabu Munding Sari dengan demikian maka si Ali telah berangkat ke Mekah lalu belajar di sana.

Konsi dalam perjalanan si Ali ke Mekah juga aman, maka setibanya ia di Mekah hidupnya ramah , tekun dalam menghadapi semua cita-citanya, Ali adalah Ali, seorang yang berambisi untuk mendapat gelar ”Haji” ternyata dengan tekun untuk memikul pangkat haji, sewaktu Ali menyelesaikan cita-cita ia kembali pulang ke tanah Jawa (Tuban) dan bersama dengan temannya dari Ambon ( Kampung Ureng ) yang bernama “SALEH” nyatanya dalam perjalanan ke tanah airnya gagal, sebab pada waktu itu terjadi peperangan antara agama Islam dengan agama Hindu.

Dari hal yang demikian timbul lagi pemikiran dari si Ali, bahwa kalau saya tiba pada tempat kelahiranku pasti saya mati terlebih dahulu, karena hal tersebut yang diutamakan ialah orang-orang yang berpangkat Imam atau Haji harus dibunuh tanpa alasan, dengan adanya pendapat dari Ali maka Ali sendiri yang mengambil keputusan bahwa satu-satunya jalan ialah melarikan diri dalam arti bebas dari kematian.

Dengan demikian Ali melanjutkan perjalanannya ke Ambon bersama temannya si Saleh, dengan adanya situasi yang membahayakan si Ali menyebabkan harus berpisah dari orang tua dan saudarnya.

Haji Ali dan Haji Saleh dalam perjalanan menuju Ambon juga aman, disini suasana yang menarik bagi si perantau asal Jawa itu, sewaktu mereka tiba di Ambon mereka berdua bersama-sama ke Ureng. Haji Ali adalah si perantau asal Jawa kini telah menjadi penduduk yang baik pada masyarakat Desa Ureng yang mayoritasnya beragama Islam. Tahun demi tahun telah pudar Haji Ali juga masih tetap tinggal di Ureng, dari sinilah timbul pemikiran dari si perantau bahwa dari pada tinggal sendiri lebih baik saya kawin supaya hidup ini dapat baik (tidak tergantung pada orang lain) dan tidak lama pula ia menikah dengan gadis desa Ureng yang namanya “PIKAKUMBANG”.

Dalam rumah tangga yang baru mereka memperoleh kedua putera yang pertama bernama” SIBORIJ ” dan yang kedua bernama “DEPERMATA”. Dalam pendidikan orang tua terhadap kedua puteranya memang mantap dan cakap sehingga kehidupan dari kedua putera tidak jauh berbeda dari pendidikan kakek terhadap ayahnya, dan menurut ceritra Siborij putera yang pertama telah berumur 20 tahun juga ingin hidup sendiri, dengan demikian Siborij mengajukan permohonan kepada orang tuannya dengan maksud ayah dan ibunya boleh memberikan dia merantau (ingin hidup sendiri). Sewaktu permohonannya diterima oleh ayah dan ibunya, maka kembali Siborij menuntut haknya selaku anak yang sulung dengan catatan bahwa ayah harus membagi-bagikan harta pusakanya terhadap anak-anaknya. Dengan adanya penuntutan hak maka ayahnya terpaksa pasrah pada keadaan, sehingga Haji Ali berkata pada anaknya Siborij bahwa pilihlah apa yang engkau butuhkan, Siborij yang nasibnya ingin merantau tentu ia berpikir bahwa di tanah perantauan pasti banyak tantangan yang akan dihadapinya, untuk itu dalam pemilihan harta pusakanya dapat dikatakan bahwa pemilihan tersebut ialah merupakan benda-benda pelindung bagi dirinya atau dapat dikatakan benda-benda tersebut ialah merupakan alat-alat perang, yang terdiri dari :

  1. 4 buah Tombak
  2. 2 buah Kapaseti ( topi )
  3. 2 buah Salawaku (tameng)
  4. 1 buah Parang
  5. 1 buah Kampak
  6. 1 buah Kulit Bia (Huri)
  7. 1 buah Gendi
  8. 1 buah Gendi piring denga air
  9. Tali Kain
  10. Buku Jimat
  11. Seorang budak yang namanya “SLAMA”
  12. dan 7 ekor Anjing yang masing-masing dengan namanya :

1.      Tomarissa
2.      Merapi
3.      Sepagunung
4.      Souputi
5.      Waiputih
6.      Lekahena
7.      Lekalela

Akhirnya dari pemilihan harta pusaka ayahnya maka tidak lama Siborij meninggalkan orang tuanya serta saudaranya, Siborij yang hidupnya ingin merantau nyatanya sewaktu ia keluar dari Ureng ia memperoleh selembar daun seribu selaku perahu atau sampan, Siborij yang berlayar dengan selembar daun seribu  dan diikuti oleh apa yang dimilikinya di atas, ia tidak tau kemana tujuan perjalanannya dan dimana tempat dia akan beristirahat (singgah). Tiba-tiba dalam perjalanannya ia beristirahat pada sebuah labuhan/ pantai Kilang yang namanya ”SOHUSELA” pada malan hari. Untuk di ketahui juga bahwa sebelum Siborij tiba di Suhusela sudah ada orang yang mendahuluinya yang bernama ”LESATALATUNI” dan latar belakang kehadiran Lesatalatuni untuk berperang melawan siapa saja yang hadir. Tetapi realitasnya sewaktu Siborij hadir , Lesatalatuni telah melarikan diri karena takut dan bersembunyi di dalam sungga-sungga (tumbuhan yang hidup di atas batu karang) dan sungga-sungga itu Siborij beri nama Anurang artinya tempat bersembunyi. Tapi akhirnya Siborij tidak mau untuk menakuti dia maka Siborij memanggil Lesatalatuni dengan maksud jangan takut padaku, dengan demikian posisi perkelahian telah undur dari Siborij, maka dari Sohusela keduanya menelusuri (naik ikut air), untuk mencari tempat tinggal masing-masing dan ditengah-tengah perjalanan keduanya berpisah, dengan demikian episode yang terjadi ini Siborij berjalan pada sebelah Barat sedangkan Lesatalatuni berjalan kesebelah Timur.

Sewaktu Lesatalatuni tiba pada suatu tempat maka disitu ia beristirahat dan di tengah-tengah peristirahatan ia berteriak ”HOU” menurut ceritra bahwa kata Hou dari lesatalatuni suatu kata/kode yang serupa kode untuk mengetahui apakah sudah ada orang yang mendahuluinya atau belum, untuk diketahui juga bahwa tempat yang Lesatalatuni beristirahat itu adalah batas antara Naku dan Kilang dan tempat tersebut adalah milik Negeri Kilang sekarang.

Menurut ceritra bahwa selesai Lesatalatuni berteriak Hou maka Siborij juga membalasnya dengan berteriak ”HA”, dari kata Hou dan Ha nampaknya ada perbedaan dari pelakunya. Ha adalah juga batas antara kedua tokoh, dan Ha adalah milik Siborij dan hal itu masi sampai sekarang. Dari Ha Siborij serta Slama  dan benda-bendanya terus kesuatu tempat dan di tempat tersebut menyuruh budaknya Slama memberi makan anjing-anjingnya, setelah anjing-anjing selesai makan maka Siborij memberi nama pada tempat tersebut yaitu ”UKU” dari uku perjalanan si perantau masih mencari tempat tinggalnya, sewaktu tiba pada suatu tempat Siborij meniup ”HURI” (Kulit Bia)untuk mencari tau apa ada penghuni pada tempat tersebut atau belum, dan pada saat itu juga ia memberi nama pada tempat itu ”HAUSAHURI” yang artinya tempat tiup Huri.

Untuk peninggalan sejarah tersebut diatas masih tetap dipakai, baik generasi lalu, sekarang, dan mungkin yang akan datang. Hausahuri adalah milik Negeri Naku dan juga bagian kampung dari Negeri Naku.

Sewaktu Siborij selesai meniup Huri terdengarlah ia akan suara ayam berkokok di depan (sebelah Timur) dengan demikian untuk mengetahui penghuni yang mendahuluinya maka dengan segera Siborij menyuruh seekor anjing ( TOMARISSA )pergi untuk mencari tau siapa orangnya. Tidak lama kemudian anjing tersebut datang membawa seutas daun ketupat yang di gantung pada lehernya. Sehingga menurut Siborij bahwa hal yang demikian sudah ada penghuni yang mendahuluinya , realitasnya Siborij tidak puas dalam meneliti penghuni yang pertama maka Siborij juga memberi tugas untuk budaknya untuk pergi melihat siapa sebenarnya. Tiba-tiba budaknya kembali dengan berita bahwa ada seorang Kapitan Besar yang telah mendahuluinya ( UPU ) dan namanya ”LATITU PAULESY” yang tinggal di ”HAUKEKAR” didalam batu dalam mata-mata kekar” dengan ayam-ayamnya.

Berita dari budaknya dan perbuatan Latitu terhadap anjingnya telah membuat Siborij menjadi emosi, sehingga kriteria dari Siborij adalah Latitu mau supaya keduanya harus berperang. Dengan perbuatan tersebut maka terjadilah perkelahian sengit antara kedua penghuni yang hidup dengan mengadudombakan kekuatannya, akhirnya kerkelahian tersebut dapat di raih oleh Siborij, maka pada saat itu juga Siborij mengeluarkan/ mengusir Latitu dari tempat tinggalnya (Haukekar), suatu tempat yang namanya HUAMANU, artinya tempat ayam hua, dan saat itu juga tempat yang mereka bertengkar Siborij beri nama ”HATTUTOMAL” yang artinya Batu Tempat Berkelahi.

DIMENSI I. MASUKNYA SEORANG PERANTAU ASAL JAWA YANG

MEMBENTUK SOA PESSI

Menurut ceritra orang tua bahwa sewaktu Latitu pamrih dari tempat tinggalnya Haukekar ke Huamanu, maka saat itu juga Siborij kembali ke Hausahuri, dengan demikian Siborij mempunyai maksud bahwa sejarah hidupnya tidak boleh dilupakan  oleh turun-temurun  dan merupakan suatu sejarah pada masa lalu sekarang dan yang akan datang.

Siborij dalam hidupnya di hausahuri juga banyak karyanya untuk anak cucunya, antara lain :

– Siborij dengan tekat mendirikan sebuah ”TEUNG” dengan nama ” SOUWASA SIRILAHU” yang artinya Berkuasa

– Siborij juga menanam sebuah Kendi air untuk air minum (Perigi) yang diberi nama ” TESUTE TOMALARA” yang artinya tempat minum orang banyak

Siborij juga menanam satu latar sagu yang diberi nama ” PIKANUSA”. Selain itu juga bahwa peninggalan-peninggalan Siborij diatas juga ada mempunyai kekuatan-kekuatan gaib, misalnya:       1. Air Parigi
2. TEUNG (Pusat Tanah)
3. Kompor
4. Tali Kain
5. Buku Jimat
6. Anjing-anjing, dll

Dan fungsi dari air ialah setiap orang yang adalah keturunannya bila ia mau merantau air tersebut harus diikut sertakan (Mandi, Minum) dan untuk dapat menyelamatkan dia dari percobaan orang lain.

  • Kompor fungsinya bila ada orang yang mau berperang dia harus memanasi badan di depan kompor dengan api yang disediakan
  • TEUNG (Pusat Tanah) fungsinya sama dengan Air Parigi
  • Anjing-anjing yang menurut ceritra bahwa sampai saat ini juga menampakkan pada teman-teman yang merantau dengan maksud untuk menjaga.

Setelah Siborij menyelesaikan tugasnya, maka tidak lama siborij menikah dengan seorang gadis dari SOA PATTI yang bernama ”NYAI GOA” dan keduanya memperoleh 4 orang anak laki-laki yakni:

  1. Pessikoli Koda Maling
  2. Surnai Kapitan
  3. Kweru Kotasiwa Sitania Balente Bagus
  4. Pessy Kumbang Rele Mahu

PESSIKOLI KODA MALING : ialah anak pertama dari Siborij, dan sewaktu anak pertama anak pertama ini masih berada dalam pendidikan/ pelayanan orang tua, maka ayahnya memberi tugas/ pekerjaan sebagai nahkoda di laut. Dan sesuai dengan jabatannya maka ayahnya memberikan seluruh harta pusaka kepadanya khusus dalam bidang pelaut, maka dari anak pertama ini dialah yang membentuk fam ”PESIWARISSA” dan fam Pesiwarissa ini adalah asli Negeri Naku, dan untuk diketahui juga fam Pesiwarissa ini juga ada yang menetap di kampung/negeri, ada yang hidup di Ambon (Kota), ada juga yang ikut transmigran  di kecamatan TNS, ada juga di luar Maluku, dll.

SURNAI KAPITAN : ialah anak kedua yang mempunyai tugas untuk menjaga keamanan dalam negeri dan milik pusaka ayahnya khusus untuk bidangnya juga di berikan. Perlu diketahui juga bahwa anak kedua inilah yang menimbulkan fam ”WARELLA”

KWERU KOTASIWA SITANIA BALENTE BAGUS : ialah anak ketiga dari Siborij yang tugasnya sebagai ”MALESSY” atau pembantu Kapitan, dan anak inilah yang menurunkan fam ”ALFONS”dan mereka juga masi menetap di Negeri Naku.

PESSY KUMBANG RELE MAHU : ialah anak keempat dari siborij yang tugasnya sebagai tukang kayu, dan anak keempat ini dialah yang menurunkan fam ”POLWAY”, dan mereka ini juga masi tetap tinggal di Naku.

DIMENSI  II. MASUKNYA SEKELUARGA DARI BUTON YANG

MEMBENTUK SOA PATTI

Menurut catatan sejarah bahwa, asalnya keluarga Soa Patti adalah dari Buton, dimana pada saat itu ada seorang lelaki yang namanya ”PATTIWANE” bersama istrinya bernama ”NYAI ARIES PUTERI PATIMA”. Keduanya mempunyai 2 anak laki-laki dan 4 anak perempuan, kedua anak laki itu bernama ”PATTIREU” dan ”PATTILEUW., sedangkan 4 anak perempuan itu masing-masing bernama ”NYAI GOA, NYAI ARIS, NYAI MINA, dan NYAI KASUMBA”.

Untuk diketahui pada waktu ada 2 kerajaan yang berkuasa di Maluku, yaitu Kerajaan Ternate yang di kenal dengan nama ”ULILIMA” dan Kerajaan Tidore yang terkenal dengan nama ”ULISIWA”. Dengan demikian Buton termasuk kerajaan Ulilima yang berada di bawah kekuasaan Ternate.

Pada suatu hari turunlah perintah dari Sultan Ternate kepada sekalian orang di bawah pemerinthannya untuk membayar pajak (bea ) yang dimana besar bea pada setiap orang ialah 10 rupiah / tahun, nyatanya dalam hidup rakyat dengan pendapatan terbatas dalam menjalankan kewajiban untuk membayar pajak yang sedemikian besar, maka muncul rencana dalam pribadi-pribadinya bahwa mereka harus lari keluar tinggalkan tanah air yang hidup dengan memberatkan masyarakat. Maka tibalah saatnya Pattiwane melarikan diri bersama keluarga untuk meninggalkan Buton dengan sebuah ”PADEMAHU / PADEWAKANG” (sebuah perahu).

Setelah beberapa lama berlayar tibalah mereka di suatu tempat yang agak baik menurut mereka, maka disinilah mereka singgah setelah mereka berada di pantai, maka mereka mulai mencari tempat tinggal. Dengan demikian mereka juga berdiam disana, tempat dimana mereka tinggal adalah Negeri ”WAAI” yang sekarang adalah Kecamatan Salahutu. Pada waktu mereka di Waai, Pattiwane menanam air yang adalah bekal dari Buton dan air itu diberi nama ”WAISELAKA”, disamping menanam air mereka juga menanam setangkai Sukun yang berasal dari Buton dengan perjanjian bahwa hasil dari Waiselaka dan pohon sukun harus dimakan bersama oleh anak cucunya.

Setelah dalam hidupnya ( Pattiwane dan istrinya ) meninggal dunia, maka kedua anak laki mereka selalu hidup dalam pertentangan dengan buah hasil dari pohon sukun, maka biasanya dalam sebuah pertempuran pasti ada pengorbanan, maka timbulah pemikiran yang waras dari adiknya Pattileuw dan saudara-saudara perempuan, akhirnya mereka mengambil keputusan bahwa lebih baik kami merantau/ keluar dari tempat tinggalnya  (Negeri Waai) dengan selalu bertengkar tagal buah sukun. Dengan demikian niat dalam hati mereka telah digenapi (keluar dari negeri waai ), maka yang tinggal menjaga pohon sukun dan air adalah Pattireu.

Pattileuw dengan adik-adik perempuannya kini mereka berlayar dengan sebuah perahu dan singgah disuatu tempat yang pada saat itu mereka langsung memberi nama pada tempat tersebut yaitu”SALANGURU” yang artinya tempat singgah dengan banyak susah (sewaktu mereka berlabu / singgah , nampaknya ombak yang besar menghantam mereka dan juga membuat Pademahu terbalik. Pademahu menurut ceritra bahwa telah berubah wujudnya menjadi batu, dan tempat itu juga Pattileuw sudah menanam tiang layar dari kayu Galala dan Angker. Dari 2 pohon tersebut tumbuh dan masih berada sampai sekarang. Dari Salanguru mereka berbelok kesuatu tempat yang bernama ”NAMASUA” ( Pelabuhan Negeri Naku Sekarang ) dan dari Namasua mewreka berjalan terus dan tiba pada suatu tempat dan disini Patrtileuw mengasah parang, maka tempat tersebut di beri nama ”HAULOPU” ( batu gasah parang ), dari Haulopu mereka naik ikut air, maka sampai disuatu tempat untuk mereka mandi, sementara mandi mereka melihat tempayan mereka sudah berubah menjadi batu, yang ada sampai sekarang dan tinggal sebagai suatu peringatan di tempat yang sama. Juga cincin dari Nyai Mina jatuh dan hilang di dalam air , lalu tempat itu di namakan ”Uu” yang berarti cincin yang hilang.

Dari Uu mereka naik berjalan darat maka mereka sampai disuatu tempat, kemudian Pattileuw meniup Liu-liu untuk mencari tau apakah sudah ada penghuni disitu atau belum, maka tempat yang Pattileuw meniup Liu-liu itu diberi nama ”RIU” artinya tempat meniup Liu-liu. Dari Riu mereka berjalan kesuatu tempat untuk mengambil buah kelapa muda, sewaktu selesai minum air kelapa muda tempat itu diberi nama ”AMAHUAMUEL” artinya naik kelapa muda untuk minim air. Dari Riu mereka berjalan terus, dan mereka bertemu sebuah batu tempat babi mandi maka tempat itu diberi nama ”HAUTUMA” artinya batu babi punya tempat mandi. Dari Hautuma mereka melanjutkan perjalanan, dan sewaktu mereka berhenti disuatu tempat Pattileuw menanam air bekal yang asalnya dari Waiselaka, lalu Pattileuw memberi nama tempat itu  ” WAAI LILI LESISLAKA PUTIH ”, dari sini mereka meneruskan perjalanan. Dari tempat itu terdengar ayam berkokok sehingga mereka berjalan tunduk-tunduk, Uru-uru ke muka karena takut, maka tempat itu diberi nama ”URU RUANG” artinya berjalan uru-uru kemuka sebab takut.

Di suatu tempat mereka berhenti lalu mulai perusah tempat tinggalnya disini, kemudian Pattileuw mengambil sebuah batu dan meletakannya  di tengah-tengah mereka lalu Pattileuw menyuruh saudara-saudara perempuannya di atas batu, lalu berkata ’ Tempat ini beta perusah untuk kami punya tempat tinggal, maka tempat itu diberi nama ”HAULAUTU” artinya batu tempat bertelut.

Dari Haulautu ini menjadi Teung bagi mereka ( SOA PATTI ) dan hal ini masih tinggal sampai sekarang. Setelah Pattileuw meniup Huri  tidak berapa lama naiklah Siborij ( Kapitan dari Soa Pessi ) untuk cari tau siapa yang sudah tinggal disana, lalu ia mau mengusirnya, setelah Siborij bertemu dengan Pattileuw  maka Pattileuw menyembah Siborij dan minta izin supaya mereka dapat tinggal sama-sama dengan Siborij, dengan permintaan Pattileuw  itu Siborij mengabulkan permintaannya, lalu Siborij kembali lagi ketempatnya di Hausahuri sedangkan Pattileuw dan saudara-saudara perempuannya masih tetap tinggal di Haulautu.

Kemudian lama kelamaan Pattileuw kawin dengan seorang gadis dari Soa Pessi dan mereka telah memperoleh 4 orang anak laki-laki :

– Yang pertama bernama ”PATTILEU” juga, ialah yang menurunkan keluarga ”Pattileu” yang berdiam di Naku sampai sekarang, keluarga Pattileu ini pernah menurunkan 2 orang Patti yang memerinyah di Naku.

– Yang kedua bernama ” PATTI TRETE”, aialh yang menurunkan keluarga ”DE FRETES dan PIRIS ” yang berdiam di Naku sampai sekarang.

– Yang ketiga bernama ”MALITAMOUI”, ialah yang menurunkan keluarga”MUSKITA”, yang berdiam di Naku sampai sekarang , dan keluarga Muskita sudah menurunkan 6 orang Patti yang memerintah di Naku dan pernah melindungi kepala tongkat pesak dari pemerintah Belanda.

– Yang keempat bernama ”PATTI”, ialah yang menurunkan keluarga”GASPERZ”, yang juga berdiam di Naku sampai sekarang dan telah menurunkan 6 pemerintahan di Naku.

Sesudah adanya 2 SOA, yaitu Soa Pessi dan Soa Patti, maka dinamailah ”NAKU AMANG DUA” artinya tempat dimana 2 Soa. Negeri ini di perintah oleh seorang Patti, namanya ”Patti Pattileu” yang merupakan Patti yang I yang memerintah di Naku Amang Dua.

DIMENSI III. PERPINDAHAN ORANG-ORANG HUWAE KE NAKU AMANG DUA

Pengalaman dari waktu ke waktu menyebabkan bahwa hadirnya suatu fam / soa pada daerah  / negeri tentu mempunyai ciri-ciri sejarahnya yang pasti berbeda-beda.

Biasanya menurut ceritra bahwa yang dimaksudkan dengan ” SOA HUWAE” itu ialah orang-orang yang tadinya datang dari Halmahera, hadirnya Soa Huwae di sebabkan mereka lari dari Halmahera karena tekanan-tekanan dan perintah untuk membayar pajak yang besar dari Sultan Ternate.

Disini mereka lari dengan sebuah kapal yang penuh dengan perlengkapan ternyata dalam perjalanan mereka telah tiba pada suatu tempat ( Pelabuhan Naku Sekarang ) kemudian dalam perjalanan mereka telah menarik kapal kesuatu tempat yang tinggi yang di sebut   ” AMANGLARING ”artinya tempat tinggal sendiri-sendiri.

Untuk di ketahui bahwa kapal mereka yang di tarik ke darat telah berubah menjadi batu  dan perubahan itu masih ada sampai sekarang, dan di sebut ”Batu Kapal” dari kehadiran Soa Huwae juga bersama dengan Alifuru lagi binatang-binatang antara lain Lipan, Semut api-api, dan Seekor Buaya yang bernama ”BILORA”.

Dalam perjalanan mereka ini telah di kepalai oleh 3 bersaudara, yakni yang pertama bernama ” SITANIA LATU (yang menjadi raja pada mereka), yang kedua bernama ” SARA BESI JAMAN”, dan yang ketiga bernama ” MOENIPUTI JEHU ”.

Menurut ceritra pada suatu hari Sitania Latu pergi ke hutan untuk membersihkan tanah untuk kebun, dimana pekerjaan itu memakan waktu sampai gelap, maka segera pulang ke rumah, untuk besoknya akan kembali lagi.

Keesokan harinya ia tiba pada tempat semula, didapatinya tempat itu sudah bersih, kayu-kayunya sudah ditebang dan diatur seperti biasanya orang berkebun, ia segera pulang tanpa menceritrakan sesuatupun kepada saudara-saudaranya. Berulang-ulang sesudah itu ketika ia pergi untuk membesarkan kebun dan menanaminya, didapatinya semuanya sudah bersih, inilah suatu hal yang mengejutkan dalam pekerjaan, di sini juga ia heran dan tidak tau siapa yang mengerjakannya. Sitania Latu berpikir bahwa orang-orang itu tentu datang pada waktu malam untuk bekerja, untuyk itu pada waktu seusai ia bekerja, ia bermaksud untuk mencari taunya, ia tidak pulang tetapi ia bersembunyi di dekat kebun tadi. Ketika hari sudah malam / gelap, ia mendengar suara dari laut bagaikan banyak ikan yang datang ke darat maka ia memperhatikan sungguh-sungguh bunyi itu dan makin dekat dilihatnya ”IKAN KOMU” sebanyak 7 ekor, dengan tiba-tiba 7 orang puteri telah keluar dari sarung ikan lalu mereka berenang ke darat dan merapat ke tepi pantai. Dan untuk di ketahui puteri-puteri itu naik ke darat , maka sarungnya di tinggalkan di tepi pantai, maka mereka lalu bekerja di kebun itu. Dengan peristiwa itu Sitania Latu jadi takut lalu segera lari pulang meninggalkan mereka.

Sehingga nyatanya ia belum puas maka ia memberanikan diri lalu pergi mengambil salah satu dari 7sarung ikan komu tadi, kemudian ia bersembunyi dengan maksud menyaksikan yang akan terjadi, tidak lama kemudian terdengarlah suara kokok ayam dengan demikian 7 orang puteri itu berhenti bekerja lalu masing-masing kenakan sarungnya untuk berenang ke laut lagi, tetapi nyatanya yang ada hanya 6 sarung yang siap di pakai oleh 6 orang puteri, sesudah mereka memakai sarung meluncurlah keenam puteri itu kelaut dengan catatan supaya jangan siang yang mereka hadapi. Di sini puteri yang satu tidak turut serta karena sarungnya tidak ada  (disembunyikan oleh Sitania Latu), dengan demikian maka puteri yang ketinggalan itu berusaha untuk mencari sarungnya tetapi gagal , akhirnya puteri mendapat siang hari, dengan datangnya siang maka puteri tersebut tidak tau mau kemana (La – ang) disertai cucuran  air mata serta hati yang pilu, dengan demikian hal ini terjadi sebab puteri yang ketinggaln ini tidak cakap untuk menjawab tantangan yang di hadapinya.

Dengan kesedihan hati yang di hadapinya oleh puteri tersebut dan di pandang oleh Sitania Latu, maka puncak dari kesedihan adalah keberhasilan, akhirnya Sitania Latu muncul dari tempat bersembunyinya  datang menghadap puteri tersebut dan di bujuknya untuk pulang ke rumah. Maksudnya agar puteri ini dapat di jadikan istrinya, dengan demikian puteri itu ikut perintah Sitania Latu dan tidak lama keduanya memperoleh seorang anak laki-laki yang namanya ”JOELAWELI KOMOE” artinya yang terambil dari sang ikan komu. Waktu demi waktu berlalu, pada suatu saat Sitania Latu tidak ada di rumah (tidak tau kemana) istrinya tinggal sendiri dan saat itu ia membersihkan rumah maka kedapatan bahan dasar hidupnya sebagai seorang puteri laut yaitu sarung, maka segera ia membawa sarung itu ke pantai, lalu larilah ia berenang  ke laut dan tidak kembali lagi kepada Sitania Latu, dan nasib puteri selanjutnya tidak di ketahui.

Perpindahan Soa Huwae ke Naku Amang Dua

Menurut ceritra suatu saat Soa Huwae di bawah Sitania Latu yang mendiami Amanglaring maka di Negeri Naku Amng Dua memerintah seorang Patti yang bernama Patti Pattileu.

Pada suatu hari Patti Pattileu menyuruh panggil kepala-kepala Soa, yaitu ”TUKEY” dari Soa Pessi, dan ”Palangkiki” dari Soa Patti, serta orang tua-tua dan Meueng / Kepala adat / pendeta tanah semuanya berkumpul di ”BAILLEUW” untuk mengadakan rapat Saniri.

Dimana pemerintahan Patti Pattileu berhasil dalam arti semua kepala-kepala Soa dapat hadir dalam rapat pertemuan Saniri. Patti Pattileu mulai bicara dan menyatakan maksudnya yaitu ia minta persetujuan / keputusan bersama saniri ntuk memanggil orang-orang Soa Huwae  yang tinggal di Amanglaring  supaya naik tinggal bersama-sama dengan Soa Pessi dan soa Patti di Naku Amang Dua. Nyatanya maksud yang muncul dari Patti Pattileu dalam rapat saniri mendapat respon peserta saniri dalam Bailleuw, mereka setuju supaya Soa Huwae itu harus bersama dengan mereka.

Nyatanya dalam hal ini faktor yang dominan adalah bersifat sosial yang tinggi baik pada pemimpin maupun para peserta rapat, rupanya mereka mau agar Soa Huwae ini tidak hidup dengan menyendiri atau untuk membentuk negeri sendiri, di samping perintah, peserta saniri bahwa tentang kehidupannya nanti di atur oleh Soa Pessi dan Soa Patti, setelah usainya pertemuan saniri maka bebrapa hari kemudian akan di utus seorang Marinyo untuk pergi (turun) ke negeri Soa Huwae (Amanglaring) untuk bertemu dngan Sitania Latu dengan suruhan dari dewan saniri yang telah di tetapkan agar semua orang-orang Soa Huwae  mau naik (keluar) tinggal bersama-sama dengan Soa Pessi dan soa Patti di Naku Amang Dua. Dengan demikian utusan/ marinyo naik kembali dengan membawa jawaban dari Sitania Latu yang buruk terhadap pemerintah/ saniri negeri, sebab putusan dari Naku Amang Dua tidak diterima dan ditolak pula dengan sikap yang kasar dan bermusuhan ; jawaban dari Sitania Latu ini nampaknya orang yang hidup dengan egoisme. Dikatakan demikian sebab dia merasa dirinya mampu untuk menghadapi apa saja yang di hadapinya, jadi dia tidak mau tinggal atau berdiam dengan orang lain selain Soa Huwae sendiri.

Unsur penolakan yang sumbernya dari Sitania Latu ini telah menimbulkan amarah dari Patti Pattileu dan saniri negeri telah bertekat untuk menaklukkan orang-orang Soa Huwae, dengan gerakan yang diatur oleh raja dan rakyat disiapkan sementara beberapa orang intelejen di kirim untuk mencari tau sampai dimana kekuatan Soa Huwae itu, setelah kembalinya peninjauan dengan membawa laporan-laporan berita bahwa sewaktu Sitania Latu waktu mendengar berita dari Patti Pattileu dan saniri negeri, maka sudah menyiapkan alat-alat pertahanan mereka dengan kuat sehingga tidak mungkin dikalahkan atau di duduki. Di dalam meneliti laporan-laporan tersebut terpaksa Patti Pattileu mengadakan rapat saniri. Dengan jalan supaya mereka harus naik bersama dengan kami disini, dalam saniri negeri Patti Pattileu berkata kepada saniri bahwa saniri harus mencari akal sebagaimana mungkin supaya mereka dapat mengikuti kita, ternyata dalam saniri yang baru ini yang di turut ialah ”akal” maka dari pihak saniri kebetulan ada suatu akal yang mau direncanakan untuk mencari seorang gadis yang cantik dan pandai bernyanyi yang nanti di taruh di dekat perigi tempat orang-orang Soa Huwae biasa menimba air dan menjadi umpan untuk menangkap anak Sitania Latu (Jula Weli Komu).

Suatu maksud dari gadis yang menjadi umpan itu apabila anak Sitania Latu berhasil di tangkap mau tak mau Sitania Latu pasti mengikuti anaknya dan begitu pula rakyatnya Soa Huwae akan ikut bersama. Untuk melaksanakan rencana ”akal”  itu maka di pilih seorang gadis dari keluarga Polway yang namanya ”Robeka” dan beberapa orang laki-laki  yang kuat lalu pergi ke tempat umpan dekat perigi, Rebeka di dudukan diatas batang pohon bengkudung, sedangkan orang laki-laki itu bersembunyi berkeliling pohon dimana Rebeka duduk seraya menyanyi.

Kira-kira jam 4 petang datanglah orang-orang dari Soa Huwae menimba air, mereka sangat tertarik dengan suara menyanyi yang begitu merdu lalu segera mereka pulang dan memberitaukannya kepada anak Sitania Latu. Mendengar berita yang di sampaikan maka timbulah keinginan dari Jula Weli Komu untuk mendengar bahkan rindu melihat gadis cantik itu, ternyata dengan dorongan hati yang tinggi dari kata-kata yang membuatnya cenderung untuk gadis cantik itu. Setelah Jula Weli Komu pergi di lihatnya seorang gadis yang cantik dengan menyanyi sebuah lagu diatas pohon bongkudung, maka saat akhir dari itu Jula Weli Komu menjawab kata-kata gadis bahwa ia sangat tertarik pada gadis itu, lalu Jula Weli Komu mulai menghampiri gadis tersebut, maka ia mulai mengganggu gadis itu, tiba-tiba gadis itu jatuh dengan dahan pohon tadi, dengan keputusan terakhir dari Jula Weli Komu bahwa ia akan membawa lari gadis itu tetapi ternyata tidak berhasil oleh karena telah muncul pengawal-pengawal yang sama-sama dengan dia dan berhasil menangkap Jula Weli Komu dan segera pulang ke Naku Amang Dua.

Ketika tiba berita penangkapan pada orang tuanya Sitania Latu sangat berduka cita lalu menyuruh kumpulkan anggota saniri, dengan tangis ia menyampaikan bahwa ia akan ikut anaknya yang tunggal itu, agar jangan ia dibunuh, mendengar itu seluruh rakyat berkeinginan untuk naik bersama-sama dengan Upu Latunya, kemudian dalam keputusan yang bersifat prinsipil ia menyuruh seorang marinyo/ utusan pergi ke Naku Amang Dua untuyk menyampaikan maksud mereka itu dan agar di tentukan suatu waktu agar Patti Pattileu serta saniri dan rakyatnya Naku Amang Dua menanti di suatu tempat.

Setelah sudah siap persiapan pada hari yang di tentukan maka berangkatlah Sitania Latu  dengan rakyatnya dari Amanglaring menuju ke Naku Amang Dua dimana Patti Pattileu dari naku Amang Dua sudah menanti di suatu tempat yang bernama ”HAULUANG” artinya batu di muka, setelah bertemu maka bernyanyilah mereka sambil bersuka-sukaan sambil menuju ke Naku Amang Dua, setelah upacara selesai lalu nama Naku Amang Dua di ganti dengan nama ” NAKU ” saja, hal ini berdasarkan perjanjian yang di ikrar kan Patti Pattileu bersama saniri yang pertama. Dan sekarang nama Naku tetap, nyatanya dalam kehidupan bersama maupun kebebasan hak yang di berikan oleh Patti Pattileu bersama rakyat kepada Soa Huwae sehingga mereka dapat hidup dengan damai.

Sitania Latu kemudian mendirikan Teung bagi mereka yang di beri nama ” TOMA HUA SOULISA ” selai Teung ada juga mata air  yang di tanam oleh Sitania Latu kepada anak cucunya yang di beri nama ” TALAMASO TOUDUPA ” artinya kasih masuk dupa, rempah-rempah lalu air keluar, lalu sejalan dengan itu bahwa Soa Huwae di negeri Naku sudah tidak ada sehingga menurut ceritra mereka sudah lenyap.

PEPERANGAN-PEPERANGAN OLEH KAPITAN SIBORIJ

Peperangan dengan Lestauteru (Kapitan Besar Latuhalat)

Sebelum V.O.C menguasai kepulauan Maluku, khususnya kepulauan Ambon dan Lease, maka pada umumnya pada setiap negeri atau kampung pasti ada kekuasaan total yang berada pada seorang yang terkenal berani dan gagah perkasa, yang di sebut ”KAPITAN” dia itulah yang bertanggung jawab terhadap keamanan serta ketentraman dalam negeri teristimewa terhadap serangan-serangan musuh dari luar. Maka fungsi dari seorang kapitang adalah seorang kesatria yang rela berjuang sampai titik darah yang penghabisan, demi membela kebenaran dan keadilan serta rakyat yang kecil dan lemah.

Demikian di Naku Amang Dua seperti yang telah di ceritrakan Siborij sangat terkenal dalam perjuangan dalam pembrontakan untuk merampas hak milik kekuasaan kapitan yang berada pada kampung sekitarnya, hal ini disebabkan memiliki keberanian dan keperkasaan. Pada zamanya menurut ceritra bahwa ada seorang kapitan yang besar di pulau Ambon yaitu Kapitan Latuhalat yang bernama ” LESTAUTERU” rupanya nama Lestauteru ini merupakan nama seorang samaran, sedangkan nama aslinya ialah ”ORILATU” dan seorang budak yang tinggal bersama dia untuk melayani nya namanya ”SOMADADU”.

Menurut catatan lisan bahwa seorang perempuan yang bernama ” BOOI RATANG TIMBANG TANAH” yang berasal dari Seram pada hidupnya makan adalah suatu prinsip dasarnya dalam arti perempuan itru makannya sangat banyak. Tiba-tiba pada suatu saat keluarganya tidak sanggup lagi untuk membiayainya  untuk makan karena kehabisan makanan karena dengan dasar makan, maka keluarga tidak sanggup mengambil kosukwensi untuk mengatur hidupnya. Akhirnya dari ketidak mampuan dan keterbatasan maka keluarga mengambil sebuah keputusan yang pro dan kontra hal ini telah nampak dalam perkumpulan keluarganya, usul pertama ini di tolak mentah-mentah (tidak di terima) bahwa Booi Ratang Timbang Tanah ini akan di bunuh, ada kelompok yang menerima , alasan penolakan  di suatu pihak ialah membunuh saja.

Dan pulanglah kelompok yang mau supaya pembunuhan ini terjadi, menurut prediksi mereka bahwa kelompok yang menolak itu seolah-olah mereka membiasakan diri dengan catatan membuat keluarganya sengsara/ menderita. Usainya dalam mencari alat kodenya, dengan demikian usul pertama di ambil alih oleh pemimpin bahwa usul ini perlu di tampung, maka sejalan pemimpin memberikan kesempatan untuk anggota memberikan usul yang baru lagi. Ternyata muncul usul dari golongan yang menerima hal tersebut di atas, bahwa satu-satunya jalan untuk kita hanyalah memberi dia berlayar dengan perahu saja, dengan demikian usul yang mengembirakan itu semuanya setuju, maka mereka menaikan dia di atas perahu / kole-kole dengan persediaan makanan yang banyak lalu membawanya ke laut dan mereka membiarkan dia sendiri di sana menanti nasibnya.

Kemudian dari perjalanan laut yang di bawa omnak dan angin kole-kole tersebut tiba ( terdampar ) pada suatu tempat yang bernama ” UMPUTIH” atau ”LATUHALAT”, sewaktua dia kehabisan makanan dalam keadaan terpaksa ia pergi mencari-cari bia untuk mengisi perutnya karena lapar, nyatanya dalam mencari bia tiba-tiba muncul seekor ikan Hesil-hesil lalu di tangkapnya dan di masukan ke dalam mulut, maka ikan tersebut meluncur masuk ke dalam perut, tidak lama kemudian Booi Ratang Timbang tanah telah mengandung dengan perantaraan seekor ikan hesil-hesil, dan ia telah melahirkan seorang anak laki-laki yang langsung di beri nama ”ORI LATU” atau Lestauteru.

Menurut ceritra bahwa Lestauteru dia terkenal sebagai seorang Kapitan Besar dan amat perkasa sehingga di takuti oleh kapitan-kapitan yang lain, menurut sejarah bahwa pria asal dari ikan Hesil-hesil ini ia bertunangan dengan seorang gadis yang tinggal ( berdiam ) di Gunung Maut dekat dengan Hutumuri.

Pada suatu waktu ia mengeluarkan surat perintahnya untuk semua kapitan yang berada di selitarnya , yaitu kapitan dari Urimesing, Naku Amang Dua, Kilang, Ema, Hatalai, Hukurilla, Soya, dll. Dan maksud dari keprintahan itu supaya mereka dapat memikul Kapitan Besar ( Ori Latu ) menuju ketempat tinggal tunangannya. Selain itu juga ada syarat-syarat bahwa Kapitan siapa yang tidak sempat memikul dia pasti kena hukuman di bunuh dengan jalan dengan jalan di pancung kepala atau di gantung. Fonis yang begitu keras telah membuat mereka putus asa, dan akhirnya lebih baik pikul dari pada mati, di samping itu bila memikulnya harus melalui darat dan tidak boleh lewat air sebab pantang baginya. Sejalan dengan itu bagi setiap Kapitan yang hadir harus membawa Kepala Kanari satu piring dan air pinang putih untuk ia mandi. Perintah itu tiba pada kali ke dua oleh karena itu Siborij tidak mau untuk melaksanakannya dengan alsan bahwa perjalanan terlalu jauh, bagi Siborij apalagi kalau turun hujan, ia yakin bahwa pasti Ori latu pastidi kalahkan.

Mulai pad perintah yang pertama Siborij telah mendengar / mengikuti untuk memikulnya tetapi pada perintah yang kedua ini, Siborij tetap memegang pada prinsipnya bahwa Siborij tidak mau lagi memikul Lestauteru kepada perempuan tunangannya. Dengan pelanggaran itu maka Siborij dengan budaknya kemudian pergi untuk bertemu Kapitan Latuhalat tersebut. Dengan kedatangan Lestauteru pada jalannya yaitu pada suatu tempat yang namanya ” MARAWAI” (Mapaair) yang terletak pada Negeri Hatalai sekarang, sewaktu Siborij dan Slama tiba pada tempat tersebut dengan aman, maka terdengarlah bunyi tifa dan gong yang adalah musik-musik yang mengantarkan Lestauteru pada perempuan tadi. Siborij berkata ” Sopu Upu ” ia dan budaknya di sertai dengan 7 ekor anjing, maka turunlah Lestauteru dari usungannya ( kursinya ) dan dengan marah ia bertanya kepada Siborij apa sebab perintahnya tidak di turuti, maka Siborij dengan tegas menjawab ” Kalau beta pikul Upu siapa lagi yang memikul beta ? ” jawabn yang dapat membawa perkelahian Urat Syaraf cukup lama, akhirnya karena Lestauteru takut terlambat sampai kepada perempuannya maka Lestauteru berkata pada Siborij bahwa sediakan waktu ( hari ) untuk katong dua berkelahi, sebelum Lestauteru pergi meninggalkan Siborij, dengan tegas Siborij berkata kepada Lestauteru bahwa ” Kini Kani Saka, Kani Saka, Kani Laut ” artinya Kalau mau jadi, jadi saja. Setelah Lestauteru mendengar ucapan Siborij maka ia pergi meninggalkan Siborij, Slama dan 7 ekor anjingnya, kemudian Siborij kembali ke tempat tinggalnya Hausahuri ( Naku ).

Setelah Lestauteru bertemu dengan tunangannya maka ia segera kembali sebab ia teringat akan perjanjian perkelahiannya dengan Siborij. Dengan kembalinya Lestauteru ke Latuhalat tibalah saatnya untuk Siborij memperlengkapi dirinya dengan senjata, serta seluruh ilmunya ( palu 2 ) dengan demikian rencana untuk berkelahi akan dilaksanakannya. Untuk di ketahui juga bahwa keberangkatan Siborij dan Slama, serta alat-alat perangnya, maka tibalah mereka pada suatu tempat yang ada kalinya, maka Siborij menyuruh Slama untuk menyelam di air kali, dengan maksud ia mau mencoba sampai dimana kesaktiannya. Sewaktu budaknya menyelam dan timbul maka Siborij memotong kepala Slama. Beberapa jam kemudian Siborij berhasil menyambung dan menghidupkan budaknya lagi, maka tempat itu Siborij menamainya ” HUNIMAA ” dan setelah itu Siborij dan Slama meninggalkan tempat itu mereka segera naik menuju Latuhalat.

Setibanya Siborij dan Slama pada suatu tempat yang namanya Urimesing ada terdapat sarung Kapitan , maka disitu Kapitan tersebut mengundang Siborij untuk berkelahi, tetapi keberhasilan di raih oleh Siborij. Setelah usainya perkelahian Siborij dan Slama serta anjing-anjingnya sebelum memasuki Latuhalat Siborij berhenti pada suatu tempat untuk menyiapkan dirinya dengan Slama bersama anjing-anjingnya ( kasi pake ) dan disini ia mencoba kesaktiannya, ternyata alat-alat perang parang dan tombak untuk mampu membatasi  / melindunginya.

……………… tahu ( mawe ), di mana Kapitan Lestauteru  berada ternyata penyelidikan yang dengan mawe bahwa Lestauteru  masih ada duduk di atas jamban untuk membuang air ( to have a move ) maka Siborij mulai ( doti ), dan hasil dari dotinya itu Lestauteru  bersama sekeping batu karang jatuh ke dalam laut ( untuk di ketahui bahwa doti juga masih ada ) selama Lestauteru kembali lagi ke darat maka disitu Lestauteru meminta dari Siborij untuk berperang dengan alat-alat / senjata yang di bawanya, dan akhir dari perkelahian yang berlangsung di antara ke dua tokoh tadi tidak ada timbuk luka-luka pada ke dua belah pihak, tetapi yang berhasil hanya alat-alat perang tersebut mengeluarkan api sehingga keputusan terakhir untuk memperoleh kemenangan dalam perkelahian yang harus memerlukan pengorbanan jiwa, di sini keputusan yang di ambil oleh Lestauteru dalam perkelahian yang bersifat bergulat, dengan adanya permintaan Lestauteru itu telah membuat Siborij yang bertubuh kecil dan pendek menjadi ragu-ragu untuk menjawab dan menghadapi apa yang terjadi, namun semuanya itu Siborij tetap memberanikan diri untuk melawannya, ternyata dalam pergulatan keberhasilan belum juga nampak pada ke dua tokoh tersebut.

Kemudian di dalam pergulatan tersebut Siborij atau bertubuh kecil ini meminta untuk beristirahat supaya Siborij akan mawe lagi kekuatan dari Lestauteru, namun mawe itu menerangkan asal dari Lestauteru, dengan demikian mawe dari si tubuh kecil ini meminta supaya pergulatan harus terus di lanjutkan sekarang dan jangan di batalkan, setelah perkelahian pergulatan di babak ke dua berjalan maka langkah pertama Siborij segera membanting kaki, berdoa serta gosok badan dan berteriak ” Serumut berkat anggota hesil-hesil serta kata lalu jadi ”, maka disini Siborij membanting Kapitan besar itu lalu jatuh dan akhirnya tidak mampu lagi melawan Siborij, maka ia mengaku kalah dan sebagai tanda kekalahan Lestauteru menyerahkan sebuah bantal kepala yang adalah lambang dari kepala Lestauteru yang di potong oleh Siborij. Dan pada saat itu Siborij mendapat nama baru dari Lestauteru ialah ” LEBELAI SOU BESI ” artinya kuat seperti besi, dan menurut ceritra bahwa bantal yang ia terima itu ia lemparkan dari Latuhalat ke Naku ( Hausahuri ) dan bantal tersebut sudah berubah menjadi batu dan tetap berada sampi saat ini dan sebagai tanda peringatan dari peristiwa perkelahian antara Siborij dengan Lestauteru, untuk di ketahui juga bahwa tempat perkelahian itu tidak ada rumput yang tumbuh sampai sekarang.

Dengan peristiwa itu mak Siborij telah mengadakan suatu perjanjian bahwa yang bernama anak cucunya tidak boleh makan ikan hesil-hesil dan pertjanjian itu semacam sumpahan, apabila ada anak cucu yang melanggar perjanjian itu akan kena penyakit kulit ( kaskadu ) sampai mati. Dengan usainya perkelahian antara Siborij dan Lestauteru , kemudian Siborij, Slama serta anjing-anjingnya pulang kembali lagi ke Naku Amangdua, di tengah perjalanan ia terasa haus lalu menyuruh anjingnya yang bernama Tomarisa pergi mencari air ke suatu tempat lalu ia menggaruk-garuk tanah itu dengan kukunya tiba-tiba air keluar, lalu tempat itu di namainya ” Air Weir Hasu ” artinya air anjing gale, dan air tersebut masihy tetap mengalir sampai sekarang, sewaktu mereka bertolak dari Siwang ke Naku Amangdua, ketika tiba di Hausahuri mereka mendapat bantal yang tadinya ia lemparkan dari Latuhalat telah berubah menjadi batu maka ia naik serta menginjak-injak serta berkata ose punya kepala beta sudah injak jadi ose seng bisa lawan beta lagi.

TERJADINYA PELA ANTARA NAKU DAN EMA

Kemudian dari akhir hidupnya maka yang menetap hanya keempat anak tersebut, pada saat itu juga ada sekawanan orang yang namanya ” EMA” mereka ini tidak tau berasal dari mana. Menurut ceritra bahwa mereka hidup di perbatasan negeri Naku dan Urimesing amanglema atau batu jitam ( ema lama ). Orang-oranmg ini di perintahkan oleh seorang kapitan yang bernama Adim Adam Tanihatu Mesing dan pembatunya bernama Adim Adam Tanihatu Hila, pada keduanya juga terdapat seorang budak yang bernama Boi yang pekerjaannya menjaga babi sebanyak empat ekor, dan menurut ceritra bahwa pada suatu hari Kuweru Kota Siwa Sitania Balente Bagus pergi kehutan untuk menebang sepohon sagu di dusun Soreang yang dekat tempat tinggal orang Ema. Pada hari itu juga ia menebang pohon sagu dan langsung dibelah dengan catatan bahwa besoknya ia akan kembali untuk memukul, setibanya ia untuk pulang, maka ia pun menumpang batang sagu itu ( tutup ) lalu pulang kenegeri Naku, pada keesokan harinya ia kembali kira-kira sepuluh meter dari pohon sagu ia telah melihat bahwa sagu yang sudah belah itu terhambur dan sudah di makn oleh binatang ( babi ), yang makan meur sagu hanya orang Ema , maka tibalah dia untuk pulang ke rumah tetapi ia menyembunyikan diri dengan maksud untuk menjaga babi yang nanti kembali untuk makan sagu tersebut. Tidak lama kemudian babi itu muncul dan manggurebe untuk makan meur sagu sehingga menurut Kuweru bahwa babi yang hadir untuk makan sagu tidak lain adalah babi dari orang Ema.

Ketika babi tersebut makan sagu dengan cepat-cepat sehingga Kuweru mengganggap babi tersebut harus di bunuh, tiba-tiba dia menangkap satu babi tersebut dan dia berpikir apakah babi ini di bunuh atau di bawah pulang, namun bagi dia memotong kuping merupakan tanda bagi pemiliknya supaya dengan jalan ini mereka tidak membiarkan babi tersebut. Dan babi itu pulang ke rumah tapi tidak tinggal pada tempatnya, kemudian pemiliknya menyuruh boi untuk memberi makan kepada babi-babi. Sewaktu boi memanggil oci-oci kemudian babi yang hadir hanya tiga ekor sedangkan satu kehilangan. Dengan kehadiran ketiga ekor babi tersebut boi memberitaukan kepada Upunya, maka upu pada saat itu juga marah kepada boi maka boi menjawab ia tidak tahu, dengan demikian upu memukul dan langsung boi kembali memanggil uci-uci, maka tidak lama babi yang cacat itu datang, maka boi juga memberi tahukan kepada upunya , dengan demikian upu melihat hal itu lalu ia menjadi marah serta berkata ini perbuatan siapa namun boi bilang tidak lain dari pada orng Naku yang sedang memukul sagu di bawah, maka dengan segera kapitan dan malesinya turun dengan tombak-tombak untuk berkelahi dengan Kuweru. Sewaktu mereka tiba di batang sagu, Kuweru masi duduk sambil nani-nani sagu, kemudian dengan segera kapitan Ema berteriak ”Sopo Upu” lalu kapitan Ema menanyakan bahwa beta punya babi mungkin upu yang potong telinganya, lalu Kuweru menjawab upu mau apa itu beta punya perbuatan sebab upu piara babi tapi tidak tau kasi makan dan tidak tau kasi masuk dalam kandang sehingga dia turun makan beta punya sagu, dan untuk upu tau bahwa bukan satu ekor saja yang makan sagu tetapi ada empat ekor dan upu pikir kalau babi itu makan terus lalu beta mau makan apa lagi. Nyatanya pembicaraan dari kuweru tidak diterima oleh kapitan Ema, sehingga rupa-rupanya mereka mau berkelahi serta kuweru dapat ingat lalu ia ludah dan gosok badan dengan segera ia mengambil nani dan meletakan di atas paha, maka kuweru dengan marah mencincang-cincang nani tersebut dan di atas paha keluarlah api yang bernyala-nyala dengan demikian kapitan Ema dengan malesinya lari pulang kerumah karena mereka takut melihat api dari paha kuweru. Setelah mereka pulang maka tidak lama kemudian kuweru pulang ke Naku untuk melaporkan semua peristiwa yang dihadapinya kepada Surnai kapitan, dengan pemberitahuan tadi maka dengan segera mereka mengambil parang lalu pergi ketempat kejadian tersebut, ketika mereka mau keluar untuk berperang maka Latu Sama Sima sewaktu mereka tiba di sana ternyata kapitan Ema dan malesinya sangat takut untuk menghadapi kedua orang dari Naku, pada waktu itu Kuweru dan Surnai kapitan berkata dengan tegas bahwa upu dorang tidak boleh tinggal disini lagi supaya jangan turun temurun merampas hak miliknya dan kalau upu dorang tidak mau keluar pasti ada pembunuhan disini. Kapitan Urimesing mempunyai tujuan yang sama dengan Kuweru dan Surnai Kapitan.

Tetapi permintaan Kapitan Ema dan malesinya bersama rakyat bahwa sebelum kami keluar dari tempat ini kami minta supaya Surnai Kapitan mau angkat pela bersama kami, dengan tujuan kalau ada kami mendapat ancaman dari orang lain maka Surnai Kapitan dan Kuweru dapat membantu kami sebab kami melihat keperkasaan dari Kuweru. Dengan adanya suatu permintaan dari hati Kapitan Ema dan malesinya akhirnya Surnai kapitan dan kuweru tidak dapat menolaknya maka saat itu juga Surnai Kapitan dan Kuweru sudah tertekan atau tentukan hari dan tempat untuk mereka mengangkat pela dan tempat tersebut yaitu di ”AIR PASOANG DUA”, air pasoang dua yaitu satu dari Ema dan satu dari Naku Amang Dua, dengan angkat pela tersebut maka Surnai Kapitan juga turun. Dan kalau orang Ema turun mereka harus ambil kucing hitam satu ekor. Seusainya perjanjian maka Surnai Kapitan dan kuweru pulang kembali ke Naku Amang Dua, pada hari perjanjian telah tiba maka kapitan Ema dana rakyatnya turun ke air pasoang dua untuk menunggu Surnai Kapitan dan Kuweru maka tidak lama lagi surnai kapitan dan kuweru tiba. Sewaktu mereka tiba orang ema sudah tiba dan posisi penungguan adalah disebelah air Surnai kapitan dan Kuweru juga disebelah , sewaktu Surnai kapitan dan Kuweru tiba kapitan ema sudah sopo dan sebaliknya selesai sopo maka kedua kapitan duduk seketika sebelah-menyebelah lalu mereka itu makan pinang. Proses makan pinang adalah suatu proses yang memberi dan menerima dengan ujung parang, itu bertanda stu berdarah dua-duanya harus berdarah, setelah makan pinang mau selesai maka Surnai kapitan bertanya bahwa ada kucing hitam yang beta janji itu atau tidak, mak kpitan ema menjawab kami sudah menyediakan, rupanya kapitan ema merupakan kapitan yang turut dalam perintahnya, sewaktu Surnai kapitan mendengar perkataan tersebut maka dengan segera ia menyuruh kapitan ema untuk membawa kucing tersebut kepadanya. Setelah kucing itu tiba pada Surnai kapitan, setelah kucing itu tiba maka Surnai kapitan berkata beta mau bikin ini, ialah kucing punya leher harus diiris dan darahnya harus dan wajib kami minum ramai-ramai, maka Surnai kapitan berkata inilah tanda persekutuan antara beta dan upu dan hal ini menjadi perjanjian atau sejarah bagi keturunanku dan keturunanmu. Lalu Surnai kapitan mengiris kucing punya leher sedangkan kapitan ema menadahi darahnya disuatu tempat, sesudah itu darah kucing tersebut diedarkan dan sewaktu darah kucing tersebut dilayangkan atu diminum maka Surnai kapitan berkata atau janji satu harus tolong kalau yang lain ada susah, lain jatuh lain harus angkat.

Setelah upacara pela selesai Surnai kapitan dan Kuweru mau pulang ke Naku , maka kapitan ema bersama rakyatnya minta kalau boleh Surnai kapitan tunjuk atau berikan satu tempat untuk kami tinggal , sebelum kami keluar dari upu dorang punya batas dengan urimesing. Menurut ceritra bahwa besoknya Surnai kapitan dan Kuweru pergi ketempat tinggal orang ema ( batru hitam ) untuk melengkapi kapitan ema, setelah mereka tiba maka surnai kapitan meminta supaya kapitan ema harus memberikan tombak kepada Surnai kapitan. Tomar tujuan untuk meminta benda tersebut adalah sebagai penunjuk daerah baru untuk rakyat ema. Menurut ceritera hal yang dilakukan oleh Surnai kapitan adalah dengan jalan melempar, disamping itu Surnai kapitan bilang bahwa beta sekarang lempar ale dorang punya tombak dan ale dorang wajib pergi mencarinya, bila ale dorang dapat maka disitulah ale tinggal dorang tinggal. Setelah selesai maka Surnai kapitan pulang ke Naku dan tidak lama kapitan ema melaksanakan perintah Surnai kapitan dan dalam pencarian tersebut kapitan ema berhasil dan ia kembali laporkan kepada Surnai kapitan. Setelah beritanya disampaikan maka Surnai kapitan memberi nama tempat itu ”HAU SA SIWA” atau batu sembilan disebabkan karena tombak itu jatuh disebelah batu sembilan buah. Menurut ceritera bahwa dalam menemukan tombak tersebut kapitan ema mengambil isi tombak sedangkan anak tombak dari bulu tomar sudah bertunas, dan menurut ceritera juga beberapa lama orang ema tinggal disana sewaktu mereka tinggal ada seorang kapitan besar yang asalnya dari Haruku yang bernama ”MATAWARU” yang artinya mata delapan ke sirimau untuk tunangannya yang bernama ”SAPILA PATTIMAHU UPU LU MARUA LESI” sewaktu matawaru itu lewat ditempat tinggal orang ema ia terkejut karena banyak kotoran-kotoran babi. Sewaktu dia lewat ia berkata pada waktu-waktu yang lalu tidak ada orang dan babi-babi ditempat ini mengapa sekarang sudah ada ini orang-orang darimana. Saat itu juga ia naik untuk bertemu kapitan ema dan rakyatnya sangat takut sebab baru pernah mereka melihat manusia yang bermata delapan. Disini matawaru mengusir babi-babi serta berkata dorang harus sekarang harus keluar atau pindah dari tempat ini, kalau tidak pindah beta akan bunuh. Sesudah ini membuat perjanjian dengan rakyat ema ia naik ke sirimau untuk bertemu dengan tunangannya pada saat itu kapitan ema terus turun ke Naku untuk melaporka hal tersebut kepada Surnai kapitan dengan catatan supaya Surnai kapitan dapat menunjuk tempat yang lain lagi bagi rakyat ema. Dengan permintaan tersebut maka kapitan ema dan Surnai naik untuk menunjukan tempat yang baru lagi, dalam penunjukan tempat yang baru ini juga sama dengan hal yang pertama. Sewaktu Surnai kapitan melemparkan tombak dan menyuruh kapitan ema untuk pergi mencarinya, sewaktu mencari ia juga bertemu dan sekaligus ia beritahukan kepada rakyatnya harus cepat keluar dari hau sa siwa dan menuju ketempat yang baru, disitu mereka tinggal dan sudah diberi nama baginya ”EMA MAKAREMA LATU SAMA SIMA” selain itu pada tempat jatuhnya tombak tersebut mereka juga mendirikan sebuah Teung atau pusat tanah. Dan untuk lebih mempereratkan hidup persaudaraan antara kedua negeri tersebut ditetapkan agar setiap tiga tahun sekali diselenggarakan upacara panas pela antara Naku dan Ema secara bergiliran dan hal itu sudah pernah dilakukan.

Nama dan Tempat sebagai Peninggalan dari Datuk-Datuk sesuai dengan masing-masing SOA antara lain :

  1. SOA PESSI, Teungnya bernama SOUWASA SIRILAHU yang artinya BERKUASA, Mataruma bernama TUTULEPI, Air perigi bernama TESUTE TOMALARA artinya Tempat Minum Orang Banyak, Latar Sagu bernama PIKANUSA, Upu laki-laki adalah UPU PESI dan untuk wanita adalah UPI PIKA.
  2. SOA PATTI, Teungnya bernama HAULALUTU PALEMAHU yang artinya TEMPAT BERTELUT, Mata Rumah namanya SOUMAHU, Air Perigi namanya WAI LILI LESI LAKAPUTI, Latar Sagu bernama NUNUMETE, Upu untuk laki-laki adalah UPU PATI, dan untuk wanita adalah UPU SULI
  3. SOA HUWAE, Teungnya bernama TOMA HUA SOULISA, Air Perigi namanya TALAMASO TOUDUPA, Latar Sagu bernama ASARUHU, Upu untuk laki-laki adalah UPU HUA, dan untuk wanita adalah UPU MONI.

Nama-nama keluarga yang ada sekarang seperti Alfons, Gaspersz, Loppies, Muskita, de Fretes, Warella, Waas, Piries, jelaslah fam ini berasal dari nam keluarga portugis antara lain :

ALFONS        dari nama Portugis      ALFONSO

GASPERSZ    dari nama Portugis      GASPARSIS

LOPPIES        dari nama Portugis      LOPES

MUSKITA      dari nama Portugis      MOSQUITA

DE FRETES   dari nama Portugis      DE FREYTES

WARELLA    dari nama Portugis      VARELLA

WAAS          dari nama Portugis      VAS

PIRIES          dari nama Portugis      PIRES


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: