Sejarah lengkap kerajaan Manado

Sumber: https://manadoks.wordpress.com/2017/12/30/sejarah-para-raja-manado/

————————————————-

Kerajaan berpusat di pulau Manado, yang kemudian namanya berubah menjadi Manado Tua, yang berdiri sekitar abad ke-13 Kerajaan disebut Kolano Bowontehu. Kemudian Kerajaan Bowontehu sekitar tahun 1400-1500  lebih dikenal dengan nama kerajaan Manado, dengan pusat Pulau Manado tua, bukan di Manado daratan yang sebelumnya bernama Wenang.

Catatan sejarah yang mencatat nama Manado atau Kerajaan Manado pertama kali di catat oleh pelaut Portugis Simao d’Abreu pada tahun 1523. Kerajaan Manado pada waktu itu meliputi pulau-pulau sekeliling Minahasa dan sepanjang pantai Minahasa.

Raja-raja yang pernah memerintah antara lain : Raja Don Fernando pada tahun 1644; raja Laloda Mokoagouw pada tahun 1644-1670, sebagai raja terakhir.

Penduduk kerajaan Manado ialah suku Sangihe Sesuai pemberitaan Graafland, 1867.

Kerajaan Manado hilang diakibatkan oleh peperangan yang terjadi dengan raja-raja Bolaang, serta persengketaan-persengketaan dan juga kekurangan bahan makanan yang diakibatkan oleh merajalelanya kera, sesuai memori Padtbrugge 1682. sebagian besar penduduk berpindah ke pulau Sangihe dan yang lainnya berpindah ke Bitung kecil dekat Kiama dan sekitar Singkil sekarang ini yang sejak jaman itu disebut menurut nama asalnya Manado Tua. Pulau-pulau sekeliling Minahasa yang masuk kerajaan Manado Tua yaitu: P. Manado Tua, p. Siladeng, p. Bunaken, p. Mantehage, p. Nain, p. Talise, p. Bangka dan p. Lembeh.

Nama Manarow dicantumkan dalam peta dunia oleh ahli peta dunia, Nicolas_Desliens‚ pada 1541. Manarouw menjadi pintu gerbang transit kawasan timur Indonesia bagi kapal-kapal dagang bangsa asing, sehingga menjadi daya tarik bagi pedagang Cina.

Pada tahun 1563 Peter Diego de Magelhaes dari Portugis berangkat dari Ternate menuju Manarouw mengajarkan pokok-pokok iman Kristen. Lalu Raja Manarouw bersama rakyatnya 1500 orang dibaptis kesemuanya adalah orang Sangir. Baptisan dilakukan di muara sungai Tondano yakni Raja Siauw(Manarauw) bernama Possuma. Raja Possuma lalu diberi nama baptis dengan nama Hyronymus (nama portugis) Kemudian Peter Diego de Magelhaes ke Kaidipan (pesisir utara Gorontalo) membaptis 2000 orang selama 8 hari.

Tahun 1570 Bulango dari kerajaan Bowontehu (pulau Manarouw) berlayar menuju Tagulandang. Bulango mempunyai seorang anak perempuan bernama Lohoraung mendirikan kerajaan Taghulandang atau Kerajaan Mandorokang di pulau itu bersama para pengikutnya. Bulango adalah saudara kandung dari Lokongbanua II dimana keduanya adalah keturunan ke tujuh dari raja Humansaduluge dengan Boki Tendensehiwu dari kerajaan Bowontehu.

 

Pada tahun 1585 Peter lain mengunjungi Manarouw ternyata iman Kristen telah lenyap kembali menjadi kafir. 1606 Spanyol merebut kembali Maluku Utara maka penyebaran agama Kristen kembali dilakukan di Ternate.

Pada tahun 1614 Spanyol memusatkan kekuatannya di Manarouw untuk menghadapi serbuan Belanda, dibangun sebuah benteng dipesisir kota itu yang berhadapan dengan pulau Manado Tua .

1619 Penduduk Manarouw sebagian besar telah beralih agama menjadi islam dan sebagian kembali ke agama suku yaitu “kepercayaan Mana”(medaroro). Oleh karena itu Misi Injil mengalihkan penyebaran ke pegunungan yaitu orang-orang dari suku pedalaman yang disebut alifuru lalu tiba Tomohon dan Tondano. Namun misi ini gagal, karena kedatangan misionaris dihubungkan dengan hasil panen. Saat itu panen tidak berhasil sehingga dikatakan dewa telah murka, para misionaris di usir. Seperti dalam surat Pater Blas Palomino tanggal 8 Juni 1619. Sebelum dia terbunuh di Minahasa pada tahun 1622, dia menulis mengenai sikap permusuhan para Walian pemimpin agama suku terhadap para Missionaris asal Spanyol. Juga Walian Kali yang menghasut kepala Negeri Kali bernama Wongkar untuk menolak dan melarang para Missionaris Spanyol untuk masuk ke pedalaman Minahasa.

Pada tahun 1623 Kerajaan Bawontehu yang berpusat di pulau Manarouw (Manado Tua) dipindakan ke Gahenang/Mahenang nama kuno Wenang berasal dari bahasa Sangir artinya api yang menyala atau bersinar (Suluh,obor), oleh karena dialek bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda mereka mengucapkan Wenang atau Benang demikian juga dengan Manarouw disebut Manado. Kemudian Bowontehu/Wowontehu berubah menjadi Kerajaan Manarouw dengan raja bernama Laloda Daloda Mokoagow pada kurun waktu tahun 1644-1674. Penduduk kerajaan ini adalah orang sangihe (Graafland, Minahasa masa lalu dan masa kini, terjemahan Joost Kulit). Raja Loloda Daloda Mokoagow ini adalah anak dari Raja Tadohe. Sedangkan Tadohe sendiri adalah cucu dari Raja Siauw yang bernama Possuma dan cicit dari raja Tabukan (Rimpulaeng) Don Francesco Macaapo Juda I. Kerajaan Manarouw adalah sebagai kerajaan terjauh dari wilayah toritorial kerajaan Sangihe. Setelah Raja Laloda Daloda Mokoagow kemudian menjadi raja adalah Donangbala yang memiliki pedang sakti.

Kerajaan Manado pada waktu itu meliputi pulau-pulau sekeliling Minahasa dan sepanjang pantai Minahasa.

Kerajaan Manado hilang diakibatkan oleh peperangan yang terjadi dengan raja-raja Bolaang, serta persengketaan-persengketaan dan juga kekurangan bahan makanan yang diakibatkan oleh merajalelanya kera, sesuai memori Padtbrugge 1682.

Pada era pemerintah kolonial Belanda, kota Manado ditetapkan sebagai keresidenan (residency). Keresidenan Manado terdiri dari Minahasa, Bolaang Mongondow, Gorontalo, dan pusatnya adalah Manado sebagai bagian dari wilayah Minahasa. Pada tahun 1824, berdasarkan keputusan gubernur jenderal Van der Cepellen, tanggal 14 Juni 1824, Nomor 10 (stblt 28 a), Manado ditetapkan menjadi keresidenan defenitif yang lepas dari Ternate; Johanes Wensel ditunjuk sebagai residennya.

Kerajaan Manado hilang diakibatkan oleh peperangan yang terjadi dengan raja-raja Bolaang, serta persengketaan-persengketaan dan juga kekurangan bahan makanan yang diakibatkan oleh merajalelanya kera.

Suku Bantik bukan penduduk pertama yang mendiami Manarow menurut cerita. Salah satu kerajaan di Sangir yakni kerajaan Malingaheng Kendahe yang dipimpin oleh Raja Sahmensi Arang (Syam Syach Alam)mempunyai seorang anak bernama Putri Bulaeng Tanding. Kerajaan ini dengan wilayah bagian barat pulau sangihe, pulau Kaluwurang, Maluku Utara bahkan hingga sampai ke Mindano Selatan. Kerajaan ini tenggelam oleh karena peristiwa Dimpuluse (air jatuh dari langit) mereka terdampar di tempat yang bernama Panimbuhing.

Bukti peristiwa ini adalah Tanjung Maselihe di dalam terkubur kursi emas dan makota raja konon katanya di jaga oleh ikan hiu. Dari peristiwa tersebut sebagian selamat termasuk seorang yang bernama Bantik. Kemudian mereka mengangkat Bantik sebagai pemimpin lalu berihkrar menjadi satu suku yang baru yaitu Suku Bantik, dengan catatan mereka tidak boleh hidup bersama dalam satu wilayah, agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Maka diatur kelompok-kelopok berlayar dengan perahu menuju ke Mindanao,ke Beo, ke kema, ke Belang,ke Manaraw, Leok-Buol sedangkan Bantik sendiri pergi ke Mongondow. Bahasa suku Bantik, menurut Ernst Kausen 2005, termasuk dalam AUSTRONESISCH,MALAYO-POLYNESISCH[1123, † 18; 295.3 Mio] WEST-MALAYO-POLYNESISCH PHILIPPINEN[6, † 0; 600 Tsd] kelompok Sangir (280 T)(D Tahulangdan, Lembeh, Siau, Karikitang, Tamako,Manganitu, Tahuna, Kandar, Tabukang, Sangil)Talaud (60 T)(D Kaburuang, Lirang, Karakelong, Beo, Awit, Dapalan,Arangka’a, Essang, Miangas) Ratahan (30 T), (D Ratahan, Bentenan, Pasan), Bantik (10 T),Tondano (100 T) (D Remboken, Ka’kas),Tonsea (90 T) (D Kalabat-Atas, Maumbi, Airmadidi, Likupang,Kauditan)Jadi Etnis Bantik merupakan anak suku Sangir Talaud.

Dalam surat Pater Juan Yranzo yag ditulis di Manila tahun 1645 menyebutkan tentang pengusiran Spanyol dari tanah Minahasa pada tanggal 10 Agustus 1644. Pengusiran tersebut mengakibatkan terbunuhnya Pater Lorenzo Garalda. Para Walian Minahasa menghasut masyarakat untuk membunuh semua Missionaris Spanyol. Rencana para walian bocor hingga para Missionaris Spanyol sempat mengungsi ke tepi pantai dan berperahu ke Siauw.

Tahun 1655 Pembangunan Benteng ‘De_Nederlandsche_Vastigheit‚’ dari kayu-kayu balok sempat menjadi sengketa sengit antara Spanyol dengan Belanda. Kos berhasil meyakinkan pemerintahannya di Batavia bahwa pembangunan benteng sangat penting untuk mempertahankan posisi Belanda di Laut Sulawesi. Dengan menguasai Laut Sulawesi akan mengamankan posisi Belanda di Maluku dari Spanyol. Setelah memperoleh dukungan sepenuhnya dari Batavia, Awal Tahun 1661 Kos dari Ternate berlayar menuju Manarouw disertai dua kapal perang Belanda, Molucco dan Diamant. Kekuatan ini mengalahkan Spanyol di Manarow. Tahun 1673 Belanda memapankan pengaruhnya di Manarouw dan merubah benteng semula dengan bangunan permanen dari beton. Lalu Benteng ini diberi nama baru, ‘Ford Amsterdam‚’ dan diresmikan oleh Gubernur VOC dari Ternate. Cornelis Francx‚ pada 14 Juli 1673 (Benteng terletak dikota Manado dibongkar oleh Walikota Manado pada 1949 – 1950).

Tahun 1675 Pendeta J. Montanus mendapati bahwa jemaat-jemaat di Manado sudah sangat lemah. Tahun 1677 VOC menetapkan Pendeta Zacharias Cacheing di Manado. Sampai tahun 1700 tidak banyak lagi pendeta yang mau datang ke Indonesia. Kekristenan pada masa VOC terjadi bukan karena keimanan tetapi karena tekanan politik. (Prof.Dr.I.H.Enklaar.Sejarah gereja ringkas,81,1966)

Pada tahun 1677 Compeni mengadakan perjanjian dengan Raja Siau dengan persaratan kesepakatan bahwa Raja serta rakyat harus beralih agama dari Kristen Katolik menjadi Protestan.

Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1332.

Manado bukan Minahasa,(sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679 hal 61). Minahasa itu Malesung, disebut oleh orang Sangir Tau Kaporo (orang yang hidup digunung), sehingga kini orang Minahasa disebut orang gunung. Manarauw adalah wilayah toritorial dari kerajaan Sangihe-Talaud.

Perserikatan Pekabaran Injil Belanda Van der Kamp mendirikan NZG Tahun 1797. Tahun 1817 Pendeta Josep Kam berkunjung ke Minahasa. Tahun 1819 Lenting berkunjung ke Minahasa.Pendeta Josep Kam dan Ds. Lenting mendapati orang Kristen tidak ada pelayanan lagi,lalu mereka melaporkan keadaan itu pada NZG di Belanda. Pada tahun 1822 atas laporan diatas maka NZG mengirim 2 orang berkebangsaan Swiss, L.Lamers di Kema ( meninggal 1824 di Kema ) W. Muller di Manado (meninggal 1827 di Manado) Mereka meninggal karena penyakit Typus.Dalam pelayanan, mereka mengalamai banyak hambatan dan tantangan terutama dari kalangan turunan Eropa.Tahun 1827 pelayanan manado diganti oleh Ds. G. J. Helendoorn. 4 tahun kemudian tahun 1831 dikirim lagi 2 Orang pelayan yaitu : Johann Friedrich Riedel dan Johann Gottlieb Schwars. Tahun 1855, NZG mengutus S.D. van der Velde van Capellen dari Minahasa ke Sangihe dan membaptis 5033 orang.Ketika itu S.D. van der Velde van Capellen sedang bertugas di Tareran,Minahasa.

Menurut Catatan Robertus Padburgge,1867, kerajaan Manarouw hancur akibat perang berkepanjangan dengan kerajaan Bolaang. Perang ini menyebabkan penduduk berserak sebagian ke pulau Sangir, Likupang dan Bitung. Menurut penuturan tua-tua bahwa sebagian orang sangir meninggalkan Manarouw akibat kekurangan makanan karena diserang oleh gerombolan kera serta adanya wabah penyakit. Penduduk yang kuat pergi ke Sangir, Likupang dan Bitung sedangkan yang sakit-sakitan mereka tetap tinggal menetap di Manarouw. Manarauw(Manado)wilayah kerajaan terjauh dari kerajaan Sangihe sejak purbakala di Molibagu,Ratahan,Bentenan,Lembe,pulisang,Lokon dan Manado Tua, Gahenang/Mahenang (wenang).

Wilayah Sulawesi Utara dalam wilayah Kerajaan ini disebut dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Empu Prapanca pada tahun 1365 dengan sebutan Uda Makataraya dan pulau-pulaunya (terjemahan Moh. Yamin 1969). Letak udamakatraya berada di Talaud. Menurut para ahli khususnya penguasaan Uda Makata Raya bahkan Indonesia Timur, baru merupakan wacana dari Pati Gajah Mada, dengan alasan tidak ada bukti peninggalan berupa candi, prasasti, ataupun pajak/upeti seperti ditemukan pada wilayah kekuasaan lainnya. Penguasaan Majapahit itu kemungkinannya hanya dalam penguasaan wilayah perdagangan (Berniaga).

Menurut penuturan orang tua Sangihe bahwa dahulukala Kerajaan Majapahit pernah berlabu di tanjung Pulisang, kemudian di ijinkan masuk ke Manado Tua lalu berangkat menuju pelabuhan Petta Tabukan. Dengan seizin raja Gumansalangi kerajaan Tampungang Lawo, maka kerajaan Majapahit menjadikan Makatara di pulau Karakelang (Talaud) sebagai pangkalan armada perang untuk menyerang kerajaan Solok atau Sulu atau Sulug dalam bahasa sangir disebut Suluge sekarang masuk wilayah Negara Philipina.