Cirebon, kesultanan / Prov. Jawa Barat – kab. Cirebon

كسولتانان سيربون


Kesultanan Cirebon, 1522 – 1677.
Terletak di Jawa Barat.
Kesultanan Cirebon didirikan pada tahun 1552 oleh panglima kesultanan Demak.
Tahun 1667 ada perpecahan kesultanan.
Pembagian terhadap kesultanan Cirebon secara resmi terjadi pada tahun 1679.

Pendahulu kesultanan Cirebon ada Caruban Nagari Cirebon.

The sultanate of Cirebon, 1552 – 1677. Located on West Java. This sultanate was split in 1667.
For english, click here

Lokasi kab. Cirebon


* Foto sultan dan raja, yang masih ada di Jawa: link
* Foto keraton di Jawa, yang masih ada: link
* Foto Batavia (Jakarta) masa dulu: link

* Foto Jawa masa dulu: link
* Penyerbuan Batavia oleh Sultan Agung, 1628/1628: link
* Foto perang Diponegoro, 1825: link

* Foto situs kuno di Jawa: link


Sejarah kesultanan Cirebon, 1522 – 1677

Pendahulu kesultanan Cirebon ada Caruban Nagari Cirebon.

Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau.

Ki Gedeng Tapa membangun Caruban, embrio Kota Cirebon. Pangeran Cakrabuana (Muslim), putra pertama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi sekaligus cucu Kigedeng Tapa mendirikan Istana Pakungwati yang berasaskan Islam. Ia disebut pendiri Kesultanan Cirebon.

Pangeran Cakrabuana (Walangsungsang) lalu membuat sebuah pedukuhan di Kebon Pesisir, membangun Kuta Kosod (susunan tembok bata merah tanpa spasi) mendirikan Dalem Agung Pakungwati serta dan membentuk pemerintahan di Cirebon pada tahun 1430 M. Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Pangeran Cakrabuana, yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman, tampil sebagai “raja” Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.
Pangeran Walangsungsang wafat pada tahun 1529.

1552: Kesultanan Islam Cirebon resmi berdiri di bawah kepemimpian Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, 1448 – 1568). Ia memerintah hingga 1568. Kesultanan ini berjaya di bawah kepemimpinannya.

Bendera kesultanan Cirebon

Cirebon, kesultanan 1552–1677 - Bendera kesultanan CirebonSetelah Fatahillah meninggal, ia digantikan oleh cucu Sunan Gunung Jati, yang bergelar Panembahan Ratu I. Panembahan Ratu I kemudian diganti oleh Pangeran Karim yang bergelar Panembahan Ratu II atau Panembahan Girilaya.
Pada masa Panembahan Girilaya, Cirebon berada diantara kekuatan Banten dan Mataram yang sama-sama menaruh curiga. Selain masih mempunyai ikatan darah dengan Banten, Panembahan Girilaya adalah menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma Mataram. Puncaknya, Panembahan Girilaya meninggal saat berkunjung ke Surakarta. Selain itu, kedua putranya yang bernama Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya juga ditahan.

Kekosongan kekuasaan di Cirebon membuat sultan Banten menobatkan Wangsakerta, putera ketiga Panembahan Girilaya, sebagai pengganti. Sultan Banten juga membantu memulangkan dua pangeran yang ditahan Mataram.

Pada tahun 1677, kesultanan Cirebon pecah menjadi tiga.
.
Perpecahan I, 1677

Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. Ini merupakan babak baru bagi keraton Cirebon, dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:
* Sultan Keraton Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703)
* Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723)
* Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677-1713).
Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai Kaprabonan (Paguron) yaitu tempat belajar para intelektual keraton.

Jawa, Cirebon, tahun 1700.

Jawa, Cirebon 1700.

Perpecahan II, 1807, berdirian Kacirebonan
Suksesi para sultan Cirebon pada umumnya berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803), dimana terjadi perpecahan karena salah seorang putranya, yaitu Pangeran Raja Kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan.
Kehendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan keluarnya besluit (Bahasa Belanda: surat keputusan) Gubernur-Jendral Hindia Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya tidak berhak atas gelar sultan, cukup dengan gelar pangeran. Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu Kesultanan Kacirebonan, pecahan dari Kesultanan Kanoman. Sementara takhta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811).

Akhirnya ada 4 Keraton di Cirebon:

* Keraton Kasepuhan,  Sultan sekarang (20177): Sultan Sepuh XIV
* Keraton Kanoman, Sultan sekarang (2017): Sultan Kanoman Cirebon 12 Kanjeng Gusti Muhammad Emirrudin
* Keraton Kaprabonan, Pangeran sekarang (2017): Pangeran Kaprabonan Cirebon X, Pangeran Hempi Raja Kaprabon
* Keraton Kacirebonan: Pangeran sekarang (2017): KGPH Abdulgani Nata Diningrat Dekarangga.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Cirebon


Daftar sultan Cirebon

* 1445-1479 Pangeran Cakrabuana (Sultan Cirebon I)
* 1479-1568 Sunan Gunung Jati (Sultan Cirebon II)
* 1568-1570 Fatahillah (Sultan Cirebon III)
* 1570-1649 Panembahan Ratu I (Sultan Cirebon IV)
* 1649-1677 Panembahan Ratu II (Sultan Cirebon V)
Kemudian Kesultanan Cirebon terpecah menjadi dua pada tahun 1677, yaitu Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman.


Peta kuno Jawa

Klik di sini untuk peta kuno Jawa tahun 1598, 1612, 1614, 1659, 1660, 1706, 1800-an, awal abad ke-18, 1840.

Jawa, awal abad ke-18

1234


Sumber

Kesultanan Cirebon

– Sejarah kesultanan Cirebon di: Wiki
Sejarah kesultanan Cirebon: http://buletinmadubranta.blogspot.co.id/2012/09/kesultanan-cirebon.html
– Sejarah kesultanan Cirebon: http://duniapusaka.com/index.php?route=product/product&product_id=816
Sejarah kesultanan Cirebon: http://www.bimbie.com/sejarah-kesultanan-cirebon.htm
– Caruban, cikal bakal kesultanan Cirebon: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/java-today/caruban-cikal-bakal-kesultanan-cirebon-jawa/

Nagari Caruban

Sejarah Nagari Caruban: http://buletinmadubranta.blogspot.co.id/2012/09/kesultanan-cirebon.html
– Sejarah Nagari Caruban: http://www.republika.co.id/berita/koran/islam-digest-koran/14/10/12/ndbu18-caruban-potret-kejayaan-islam-nusantara
– Sejarah Nagari Caruban: http://cirebonmasalalu.blogspot.co.id/2013/01/pangeran-walang-sungsang-sang-pendiri.html
– Caruban, cikal bakal Cirebon: http://urusandunia.com/kerajaan-cirebon/

Keraton Pakungwati

– Keraton Pakungwati: http://www.eviindrawanto.com/2012/05/sisa-keraton-pakungwati-kasepuhan-cirebon/
– Reruntuhan Keraton Pakungwati: http://www.eviindrawanto.com/2012/05/sisa-keraton-pakungwati-kasepuhan-cirebon/


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: