Cirebon, kesultanan, 1522-1677 / Prov. Jawa Barat – Kab. Cirebon

Kesultanan Cirebon, 1522 – 1677. Terletak di Jawa Barat.

The sultanate of Cirebon, 1522 – 1677. Located on West Java.

Klik foto untuk besar !

Jawa, Cirebon 1700.

Jawa, Cirebon, tahun 1700.

Provinsi Jawa Barat

Provinsi Jawa Barat

——————————————————————————————————————
* Foto Jawa dulu, situs kuno dan Batavia: link
——————————————————————————————————————–
Sejarah kesultanan Cirebon

Dahulu Cirebon adalah sebuah desa kecil bernama Caruban yang dibuka oleh Ki Gedeng Tapa. Ki Gedeng Tapa adalah seorang Saudagar di pelabuhan Muarajati. Sejak ia membuka desa, mulai banyak orang yang ikut menetap di sana. Nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran) lama-kelamaan berganti dengan Cirebon (Bahasa Sunda: air rebon) karena banyak orang yang bermata pencaharian sebagai pencari ikan dan rebon (udang kecil). Orang pertama yang diangkat menjadi kuwu (kepala desa) adalah Ki Gedeng Alang-Alang dan wakilnya adalah Raden Walangsungsang, cucu Ki Gedeng Tapa yang juga putera Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran.

Setelah Ki Gedeng Alang-Alang meninggal, Raden Walangsungsang melanjutkan sebagai kuwu yang kedua bergelar Pangeran Cakrabuana. Ketika Ki Gedeng Tapa meninggal, Pangeran Cakrabuana tidak meneruskan jabatan itu, melainkan mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan Cirebon.

Pada tahun 1479 ia meninggal dunia dan kedudukannya digantikan oleh keponakannya yang bernama Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah yang juga dikenal sebagai Sunan Gunung Jati adalah putera dari Nyai Rara Santang dengan Syarif Abdullah dari Mesir. Kesultanan Cirebon banyak berkembang pada masa ini. Saat Syarif Hidayatullah meninggal, yang diangkat menjadi pengganti adalah Fatahillah, menantunya.

Pendirian kesultanan Cirebon sangat berkaitan erat dengan keberadaan Kesultanan Demak.
Kesultanan Cirebon didirikan pada tahun 1552 oleh panglima kesultanan Demak, kemudian yang menjadi Sultan Cirebon ini wafat pada tahun 1570 dan digantikan oleh putranya yang masih sangat muda waktu itu. Berdasarkan berita dari klenteng Talang dan Semarang, tokoh utama pendiri Kesultanan Cirebon ini dianggap identik dengan tokoh pendiri Kesultanan Banten yaitu Sunan Gunung Jati.

Pada tahun 1677, kesultanan Cirebon pecah menjadi tiga.
.
Perpecahan I, 1677

Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. Ini merupakan babak baru bagi keraton Cirebon, dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:
* Sultan Keraton Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703)
* Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723)
* Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677-1713).
Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai Kaprabonan (Paguron) yaitu tempat belajar para intelektual keraton.

Perpecahan II, 1807, berdirian Kacirebonan
Suksesi para sultan Cirebon pada umumnya berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803), dimana terjadi perpecahan karena salah seorang putranya, yaitu Pangeran Raja Kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan.
Kehendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan keluarnya besluit (Bahasa Belanda: surat keputusan) Gubernur-Jendral Hindia Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya tidak berhak atas gelar sultan, cukup dengan gelar pangeran. Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu Kesultanan Kacirebonan, pecahan dari Kesultanan Kanoman. Sementara takhta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811).

Akhirnya ada 4 Keraton di Cirebon:

* Keraton Kasepuhan,  Sultan sekarang (20177): Sultan Sepuh XIV
* Keraton Kanoman, Sultan sekarang (2017): Sultan Kanoman Cirebon 12 Kanjeng Gusti Muhammad Emirrudin
* Keraton Kaprabonan, Pangeran sekarang (2017): Pangeran Kaprabonan Cirebon X, Pangeran Hempi Raja Kaprabon
* Keraton Kacirebonan: Pangeran sekarang (2017): KGPH Abdulgani Nata Diningrat Dekarangga.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Cirebon

—————————————————————————————————————–
Daftar sultan Cirebon

* 1445-1479 Pangeran Cakrabuana (Sultan Cirebon I)
* 1479-1568 Sunan Gunung Jati (Sultan Cirebon II)
* 1568-1570 Fatahillah (Sultan Cirebon III)
* 1570-1649 Panembahan Ratu I (Sultan Cirebon IV)
* 1649-1677 Panembahan Ratu II (Sultan Cirebon V)
Kemudian Kesultanan Cirebon terpecah menjadi dua pada tahun 1677, yaitu Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman.
—————————————————————————————————————————–
Denah Kesultanan Cirebon

————————————————————————————————————-
Sumber

– Sejarah kesultanan Cirebon di: Wiki
Sejarah kesultanan Cirebon: http://buletinmadubranta.blogspot.co.id/2012/09/kesultanan-cirebon.html
– Sejarah kesultanan Cirebon: http://duniapusaka.com/index.php?route=product/product&product_id=816
Sejarah kesultanan Cirebon: http://www.bimbie.com/sejarah-kesultanan-cirebon.htm
– Caruban, cikal bakal kesultanan Cirebon: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/java-today/caruban-cikal-bakal-kesultanan-cirebon-jawa/
——————————————————————————————————————

Cirebon, kesultanan 1552–1677 - Bendera kesultanan Cirebon

Cirebon, kesultanan 1552–1677 – Bendera kesultanan Cirebon

————————————————————————————————————-

 

Advertisements

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: