Masamba, katomakaan (kerajaan) / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Luwu Utara

Katomakaan (kerajaan) Masamba terletak di Kab. Luwu Utara, prov. Sulawesi Selatan. Pemimpin Masamba disebut Tomakaka. Wilayah yang dipimpin Tomakaka, disebut Katomakaan.
Katomakaan Masamba dibawah kerajaan Luwu dan Kemakolean Baebunta.

The kingdom (katomakaan) of Masamba is located on Sulawesi, Kab. Luwu Utara, prov. Sulawesi Selatan. The ruler is called Tomakaka.
For english, click here

Lokasi kabupaten Luwu Utara


* Foto kerajaan Masamba: di bawah


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


KATOMAKAAN MASAMBA

Tentang Tomakaka (raja) sekarang (2020)

17 Maret 2022
Aidar Idrus Lapapa dikukuhkan menjadi Tomakaka Masamba ke-29. Ia menggantikan Harris Kasmad yang meninggal beberapa waktu lalu.
Aidar Idrus dikukuhkan oleh Datu Luwu La Maradang Mackulau Opu To Bau di Rumah Adat Katokoan, Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

————————–

31 mei 2021
Tomakaka Masamba Harris Kasmad meninggal dunia.
Mantan Kepala Dinas Sosial Luwu Utara Haedar Idrus dinobatkan sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Tomakaka Masamba sebelum pelepasan jenazah Harris Kasmad, Selasa (1/6/2021).

Tomakaka Drs Haji Harris Kasmad dari Masamba, meninggal 31 mei 2021

———————–

Pemakaman Tomakaka Harris Kasmad 1 juni 2021


Sejarah Masamba

Tomakaka Masamba dalam struktur kerajaan Luwu adalah pemangku adat sebuah wilayah.
Dahulu, wilayah kekuasaan Tomakaka Masamba meliputi sebagian wilayah Masamba yang saat ini menjadi ibu kota Luwu Utara. Katomakakaan Masamba di bawah kerajaan Luwu dan kemakolean Baebunta.

Setelah Belanda menundukkan Luwu, mematahkan perlawanan Luwu pada pendaratan tentara Belanda yang ditantang oleh hulubalang kerajaan Luwu Andi Tadda bersama dengan laskarnya di Ponjalae pantai Palopo pada tahun 1905. Belanda selanjutnya mebangun sarana dan prasarana untuk memenuhi keperluan pemerintah penjajah diseluruh wilayah kerajaan Luwu mulai dari Selatan, Pitumpanua ke utara Poso, dan dari Tenggara Kolaka (Mengkongga) ke Barat Tana Toraja. Pada Pemerintahan Hindia Belanda, sistem pemerintahan di Luwu dibagi atas dua tingkatan pemerintahan, yaitu:

  • Pemerintahan tingkat tinggi dipegang langsung oleh Pihak Belanda.
  • Pemerintahan tingkat rendah dipegang oleh Pihak Swapraja.

Dengan terjadinya sistem pemerintahan dualisme dalam tata pemerintahan di Luwu pada masa itu, pemerintahan tingkat tinggi dipegang oleh Hindia Belanda, dan yang tingkat rendah dipegang oleh Swapraja tetapi tetap masih diatur oleh Belanda, namun secara de jure Pemerintahan Swapraja tetap ada. Menyusul setelah Belanda berkuasa penuh di Luwu, maka wilayah kerajaan Luwu mulai diperkecil, dan dipecah sesuai dengan kehendak dan kepentingan Belanda, yaitu:

  • Poso (yang masuk Sulawesi Tengah sekarang) yang semula termasuk daerah Kerajaan Luwu dipisahkan, dan dibentuk satu Afdeling.
  • Distrik Pitumpanua (sekarang Kecamatan Pitumpanua dan Keera) dipisah dan dimasukkan kedalam wilayah kekuasaan Wajo.
  • Kemudian dibentuk satu afdeling di Luwu yang dikepalai oleh seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Palopo.

Selanjutnya Afdeling Luwu dibagi menjadi 5 (lima) Onder Afdeling, yaitu:

  • Onder Afdeling Palopo, dengan ibukotanya Palopo.
  • Onder Afdeling Makale, dengan ibukotanya Makale.
  • Onder Afdeling Masamba, dengan ibukotanya Masamba.
  • Onder Afdeling Malili, dengan ibukotanya Malili.
  • Onder Afdeling Mekongga, dengan ibukotanya Kolaka.

Raja dan ratu Masamba, 1911


 Daftar Tomakaka dari Masamba

1. Monene Palajuk
2. Duri
3. Topawawoi
4. Bulawan Tandi Gau
5. Taro Gau”na

6. Rota Pa” dunna
7. Lallo Mananna
8. Bunga Lemo
9. Rinding Tana”na
10. Ponti Toiduri

11. Arrang Langi”na
12. Guri
13. Paentong
14. La Pondan ( Lallo Senga)
15. La Pacabbu ( Lallo Kuasa)

16. Nene” Mataran
17. La Padosa
18. H. Lapapa
19. Kadundung to Dungga
20. Lussa

21. H.Abdullah HR To Maranginang
22. HM. Jufri
23. 31 mei 2021: Tomakaka Drs H Harris Kasmad meninggal.
24. 17 Maret 2022: Aidar Idrus Lapapa, Tomakaka Masamba ke-29.

– Sumber: http://seputarmasamba.blogspot.com/2016/01/katomakakaan-masamba.html

Tomakaka, raja Masamba


Rumah kediaman Tomakaka (raja) di Masamba.

Rumah kediaman Tomakaka, Raja, di Masamba. 1909. Sumber: Weerzien met – Indië.


Tentang gelar tomakaka

Daftar katomakaan: klik sini

Tomakaka adalah pemimpin adat suatu kelompok entitas sosial di tanah Mandar lama yang konon sudah ada sejak zaman prasejarah. Namun, beberapa daerah masih mempertahankan kelembagaan adat Tomakaka hingga saat ini.

Tomakaka yang menjadi pemimpin tradisional, menjadi simbol pemersatu yang dipatuhi oleh masyarakatnya. Walaupun Tomakaka adalah elit lokal yang berasal dari keturunan pemimpin tradisional sebelumnya, tetapi pengangkatannya dilakukan secara demokratis oleh masyarakat. Jabatan sebagai Tomakaka adalah jabatan tertinggi dalam komunitas sehingga kepadanyalah masyarakat mengharap atau memperoleh perlindungan, rasa aman dan keadilan dalam menjalani hidup keseharian. Karenanya, ada beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan dalam pengangkatan Tomakaka, yaitu:
(1) Tomakaka harus berasal dari turunan Tomakaka atau kajajian,
(2) Tomakaka harus mempunyai kamatuaan,
(3) Tomakaka harus memiliki kekayaan atau kasugiran,
(4) Tomakaka memiliki kebijakan dan kepintaran atau kakainawaan,
(5) Tomakaka memiliki keberanian atau kabaranian,
(6) Tomakaka serta memiliki rumpun keluarga yang besar (ma’rapun).

Peran Tomakaka adalah pengayom yang brekewajiban memberi perlindungan kepada warganya. Ia wajib menegakkan keadilan sosial dan memberi rasa aman serta menjamin situasi dan kondisi masyarakat tetap harmonis. Untuk menjalankan pemerintahan tradisional tersebut, Tomakaka dibantu oleh aparatnya yaitu: Tomatua, Bungalalan, Tomateri, Tomewara, Pa’takin, dan Ana Tomakaka yang masing-masing memiliki funsi dan peranan yang harus dipertanggungjawabkan.

Pelantikan Tomakaka dilakukan oleh panitia adat yang dalam masyarakat Pattae disebut Ana’ Pattola Wali. Dihadiri Imang (Tokoh Agama), Kapala (Pemimpin Kampung) dan masyarakat adat. Barulah kemudian dilakukan pelantikan dengan mengucapkan ikrar/sumpah.


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


Sumber

– Sejarah Tanah Luwu: https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Tanah_Luwu


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: