Raja Lohintundali (1716 – 1752)

Tulisan di bawah diambil dari: http://zonautara.com/blog/2017/11/29/raja-lohindtundali-1716-1752-si-david-jacobus-raja-paling-sopan-dan-taat-beragama-itu-meninggal-di-air-sentosa-ternate/

Lohindtudali sejak kecil dibaptis dengan nama David Jacobus. Isterinya bernama Mundulangkati, puteri raja Muhengkelangi dari kerajaan Tabukan. Raja Muhengkelangi adalah saudara laki-laki dari Maimuna, isteri Batahi. Raja Lohindtundali dan permaisurinya Mundulangkati memperanakkan seorang putera bernama Muhengkelangi, dihidupkan dari nama kakeknya. Muhengkelangi kemudian dibaptis dengan nama Ismael Jacobus. Selain Muhengkelangi, raja Lohindtundali juga memperanakan seorang puteri bernama Nurumalang.

Pada tanggal 23 Juli 1716, Lohindtundali menjadi Raja Siau. Ia raja yang tekun beragama sebagaimana pendidikan ayahnya. Kesopanan yang melekat pada diri Lohindtundali membuat dirinya dipertimbangkan oleh Gubernur Belanda di Ternate, untuk menyarankan kepada raja Raramenusa tentang perangai yang baik bagi pribadi seorang raja yang kelak menggantikannya, yaitu sosok seperti Lohindtundali yang santun.

Kesopan-santunan Lohindtundali diuji saat ia dan adiknya, Kansile sewaktu kecil diberikan masing-masing sekerat tebu untuk dimakan. Kansile melahap tebu langsung dengan kulitnya, sedangkan Lohindtundali terlebih dahulu mengupas kulit tebu. Ujian sederhana itulah yang membuat Raramenusa menetapkan Ismael sebagai penerus yang akan menggantikannya menjadi raja Siau berikutnya.

Raja Lohindtundali atau raja David Jacobus meninggal dunia pada tahun 1752 di Ternate, tepatnya di dekat tempat yang bernama “Air Sentosa”. Tempat lokasi pemakaman ini kemudian dihadiahkan oleh Sultan Ternate kepada Kerajaan Siau. Rambut dari jenazah raja digunting dan dikirim ke Siau sebagai simbol dari ungkapan duka, dan dimakamkan di dalam gereja di Kota Lama (Pehe).