Tidore, kesultanan / P. Tidore – prov. Maluku Utara

كسولتانن تيدور


Kesultanan Tidore, 1081–1950.
Terletak di pulau Tidore, provinsi Maluku Utara.
Kerajaan ini adalah kerajaan Islam yang berpusat di wilayah Kota Tidore, Maluku Utara, Indonesia sekarang. Pada masa kejayaannya (sekitar abad ke-16 sampai abad ke-18), kerajaan ini menguasai sebagian besar Pulau Halmahera selatan, Pulau Buru, Pulau Seram, dan banyak pulau-pulau di pesisir Papua barat.

Sultanate of Tidore, 1081–1950: From the 13th century untill today. Located on the island of Tidore.
The Tidore Sultanate is an Islamic kingdom centered in the Tidore City area, North Maluku. In its heyday (around the 16th century to the 18th century), this kingdom controlled most of southern Halmahera Island, Buru Island, Seram Island, and many islands off the coast of West Papua.
For english, click here

Lokasi pulau Tidore

————————-
Lokasi pulau Tidore


Foto kesultanan Tidore

* Foto kesultanan Tidore: link
* Foto Kedaton (Istana) kesultanan Tidore: link


Video kesultanan Tidore

* Video sejarah kesultanan Tidore dan Maluku, 1500 SM – sekarang: link
* Video kedaton kesultanan Tidore: link


KESULTANAN TIDORE

1 Tentang Sultan 
2 Sejarah kesultanan Tidore
3 Uli Lima dan Uli Siwa

4 Daftar Sultan 
5 Istana kesultanan Tidore
6 Singgasana dan mahkota kesultanan
7 Peta kuno Ternate, Tidore dan Halmahera
8 Sumber / Source


1) Tentang Sultan Tidore

June 2014
Husain Alting Shah, dipilih sebagai Sultan baru, Sultan ke-37 Tidore.

April 2012
Sultan Tidore ke-36, Haji Djafar Syah wafat. (1999–2012).

Juni 2014: pelantikan Sultan Tidore ke-37, Husain Alting Shah

——————-

April 2012: Sultan Tidore ke-36, Haji Djafar Syah, wafat


2) Sejarah kesultanan Tidore, 1081–1950

Ada 5 kesultanan di Maluku Utara: Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo dan Loloda.

Sumber: https://tirto.id/sejarah-kesultanan-tidore-pendiri-kejayaan-daftar-raja-sultan-gag2

Kejayaan kesultanan Tidore berlangsung dari abad ke-16 sampai abad ke-18. Masa ini ditandai dengan wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore yang luas, dari sebagian besar pulau Halmahera Selatan, Pulau Buru, Pulau Seram, hingga pulau-pulau di sekitar Papua Barat. Kesultanan Tidore menjalani peradaban yang cukup lama dan melalui berbagai tahapan dalam riwayat sejarah Nusantara bahkan hingga Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Sejak tahun 1999 atau setelah Reformasi 1998 yang meruntuhkan rezim Orde Baru, Kesultanan Tidore dihidupkan kembali dalam konteks melestarikan warisan budaya serta sejarah dan masih eksis hingga saat ini.

Sejarah awal kerajaan Tidore

Raja pertama Tidore adalah Sahajati yang merupakan saudara Mayshur Malamo, raja pertama kerajaan Ternate. Berdasarkan berbagai sumber, tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa Sahajati telah memeluk agama Islam. Hamka dalam sejarah Umat Islam (1981:14) menguatkan pendapat tersebut dengan menyebutkan bahwa saat itu di Maluku ada kepercayaan Symman yaitu memuja roh-roh leluhur nenek moyang.
Penguasa Tidore yang pertama masuk Islam adalah Ciriliyati dengan gelar Sultan Jamaluddin (1495-1512). Sejak saat itu, kerajaan Tidore pun berubah menjadi kesultanan atau kerajaan bercorak Islam.
Sepeninggal Sultan Jamaluddin, kesultanan Tidore dipimpin oleh Sultan Al Mansur (1512-1526). Kala itu, pengaruh asing mulai masuk ke Maluku Utara, termasuk Tidore. Tidore kedatangan bangsa Spanyol yang diterima dengan baik.

Sebelumnya, kerajaan tetangga yakni kesultanan Ternate telah terlebih dulu menjalin relasi dengan bangsa Portugis. Pada masa itu, Spanyol dan Portugis sedang bersaing menanamkan pengaruh di kawasan timur Nusantara. Suasana persaingan pun semakin panas. Portugis berambisi merebut Tidore dari pengaruh Spanyol.
Darmawijaya dalam Kesultanan Islam Nusantara (2010:135) menyebutkan, terjadi beberapa kali peperangan dengan Portugis dan Tidore. Pertikaian ini berakhir dengan perjanjian damai. Portugis bersedia menarik armadanya dari Tidore namun dengan syarat. Syaratnya adalah semua hasil rempah-rempah dari Tidore hanya boleh dijual kepada Portugis dengan harga seperti yang dibayarkan Portugis kepada Ternate.

Masa kejayaan kesultanan Tidore

Kejayaan Kesultanan Tidore terjadi pada masa Sultan Saifuddin (1657-1689) yang berhasil membawa kemajuan hingga Tidore disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di Kepulauan Maluku. Masa keemasan kesultanan Tidore juga dirasakan di era kepemimpinan Sultan Nuku pada awal abad ke-19.
Sultan Nuku memperluas wilayah kekuasaan Tidore sampai ke Papua bagian Barat, Kepulauan Kei, Kepulauan Aru, bahkan sampai Kepulauan Pasifik. Sejarah hidup Sultan Nuku (1797-1805) amat heroik. Memimpin kesultanan Tidore di Maluku Utara, ia berulangkali mengalahkan VOC atau Belanda. Sultan Nuku tak pernah kalah. Lahir pada 1738 dengan nama Muhammad Amiruddin di Soasiu, Tidore, Maluku Utara, Pangeran Nuku adalah pangeran putra kesayangan Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin yang bertakhta sejak 1757. Tanggal 11 November 1781, Pangeran Nuku diangkat sebagai pemimpin oleh para pendukungnya di tanah pelarian, Halmahera bagian selatan, dengan gelar Sri Maha Tuan Sultan Amiruddin Syaifuddin Syah Kaicil Paparangan.
Pangeran Nuku -yang seharusnya menjadi pewaris takhta yang sah- kala itu memang dalam pelarian akibat polemik internal yang terjadi di kesultanan Tidore dan diperkeruh dengan campur tangan VOC.

Nuku tidak hanya dibantu oleh raja-raja kecil di sebagian kawasan Indonesia timur saja. Ia juga melibatkan orang-orang Mindanao (kini termasuk wilayah Filipina) dan mendapat bantuan dari Inggris yang memang menjadi pesaing terkuat Belanda. Gelar “Kaicil Paparangan” berarti “Raja Perang” tersemat dalam nama Nuku. Itu berarti bahwa Nuku siap berperang demi menuntut haknya dan mengusir kaum penjajah dari Maluku Utara. Tak hanya itu, Sultan Nuku juga berhasil menyatukan Ternate dan Tidore untuk menghadapi penjajah Belanda yang dibantu Inggris. Kegemilangan mengusir bangsa asing membuat kesultanan Tidore mencapai kemajuan dengan pesat.

Runtuhnya kesultanan Tidore

Di tengah suasana damai dan makmur, Sultan Nuku berpulang pada 14 November 1805 dalam usia 67 tahun. Pemimpin berjuluk The Lord of Fortune mewariskan masa-masa emas kesultanan Tidore sebagai negeri yang diberkati dan berdaulat. Sepeninggal Sultan Nuku, Belanda berusaha kembali mengincar Tidore. Hal ini diperparah dengan banyanya polemik internal yang membuat kesultanan Tidore akhirnya jatuh dalam penguasaan Belanda.
Seiring kemerdekaan Indonesia pada 1945, Kesultanan Tidore bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tidore, tepatnya Sofifi, ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Maluku Utara.
Beberapa peninggalan sejarah kesultanan Tidore yang masih tersisa adalah Istana Kadato Kie serta Benteng Torre dan Tahula.

Sultan Saifuddin (1657-1674)


3) Uli Lima dan Uli Siwa

Wilayah Maluku bagian timur dan pantai-pantai Irian (Papua), dikuasai oleh Kesultanan Tidore, sedangkan sebagian besar wilayah Maluku, Gorontalo, dan Banggai di Sulawesi, dan sampai ke Flores dan Mindanao, dikuasai oleh Kesultanan Ternate. Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Baabullah (memerintah 1570 – 1583) , sedangkan Kerajaan Tidore mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Nuku (memerintah 1797–1805).

Persaingan di antara kerajaan Ternate dan Tidore adalah dalam perdagangan. Dari persaingan ini menimbulkan dua persekutuan dagang, masing-masing menjadi pemimpin dalam persekutuan tersebut, yaitu:

Uli-Lima (persekutuan lima bersaudara) dipimpin oleh Ternate meliputi Bacan, Seram, Obi, dan Ambon. Pada masa Sultan Baabulah, Kerajaan Ternate mencapai aman keemasan dan disebutkan daerah kekuasaannya meluas ke Filipina.

Uli-Siwa (persekutuan sembilan bersaudara) dipimpin oleh Tidore meliputi Halmahera, Jailalo sampai ke Papua. Kerajaan Tidore mencapai aman keemasan di bawah pemerintahan Sultan Nuku.

Peta wilayah Uli Lima dan Uli Siwa

Image result for uli-lima


4) Daftar sultan Tidore

– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Tidore#Daftar_Raja_dan_Sultan_Tidore

1) Kolano Syahjati alias Muhammad Nakil bin Jaffar Assidiq
2) Kolano Bosamawange
3) Kolano Syuhud alias Subu
4) Kolano Balibunga
5) Kolano Duko adoya
6) Kolano Kie Matiti
7) Kolano Seli
8) Kolano Matagena
9) 1334-1372: Kolano Nuruddin
10) 1372-1405: Kolano Hasan Syah

11) 1495-1512: Sultan Ciriliyati alias Djamaluddin
12) 1512-1526: Sultan Al Mansur
13) 1526-1535: Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnaen
14) 1535-1569: Sultan Kiyai Mansur
15) 1569-1586: Sultan Iskandar Sani
16) 1586-1600: Sultan Gapi Baguna
17) 1600-1626: Sultan Mole Majimo alias Zainuddin
18) 1626-1631: Sultan Ngora Malamo alias Alauddin Syah; memindahkan pemerintahan dan mendirikan Kadato (Istana) Biji Negara di Toloa.
19) 1631-1642: Sultan Gorontalo alias Saiduddin
20) 1642-1653: Sultan Saidi

21) 1653-1657: Sultan Mole Maginyau alias Malikiddin
22) 1657-1674: Sultan Saifuddin alias Jou Kota; memindahkan pemerintahan dan mendirikan Kadato (Istana) Salero, di Limau Timore (Soasio)
23) 1674-1705: Sultan Hamzah Fahruddin
24) 1705-1708: Sultan Abdul Fadhlil Mansur
25) 1708-1728: Sultan Hasanuddin Kaicil Garcia
26) 1728-1757: Sultan Amir Bifodlil Aziz Muhidin Malikul Manan
27) 1757-1779: Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin
28) 1780-1783: Sultan Patra Alam
29) 1784-1797: Sultan Hairul Alam Kamaluddin Asgar
30) 1797-1805: Sultan Syaidul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mab’us Kaicil Paparangan Jou Barakati, Nuku

31) 1805-1810: Sultan Zainal Abidin
32) 1810-1821: Sultan Motahuddin Muhammad Tahir
33) 1821-1856: Sultan Achmadul Mansur Sirajuddin Syah. Pembangunan Kadato Kie
34) 1856-1892: Sultan Achmad Syaifuddin Alting
35) 1892-1894: Sultan Achmad Fatahuddin Alting
36) 1894-1906: Sultan Achmad Kawiyuddin Alting Alias Shah Juan. Setelah wafat, terjadi Masa awal konflik internal, (Kadato kie dihancurkan) hingga vakumnya kekuasaan.
37) 1947-1967: Sultan Zainal Abidin Syah; pasca wafat, vakumnya kekuasaan.
38) 1999-2012: Sultan Hi. Djafar Syah. Pembangunan Kadato Kie kembali

39) 2014: H. Husain Alting menjadi Sultan Tidore ke-37.

Peta  Ternate dan Tidore tahun 1760


5) Istana / Palace

Kedaton Kie pada saat pertama didirikan belum dalam bentuk permanent tetapi di buat dari bambu (dinding) dan alang-alang (atap), dalam perkembangan selanjutnya yaitu pada masa pemerintahan Sultan XXX (Sultan Muhiddin Muhammad Taher) tahun 1811-1831, beliau menggantikan Kedaton bambu dengan permanent. Pembangunan Kedaton permanen di mulai pada tahun 1811 Masehi dan berakhir pada tahun 1861 Masehi (50 tahun). Arsitektur atau tukang (Kipu) bernama “Belo Tuduho”.

* Tentang Istana: link
* Foto Kedaton (Istana) kesultanan Tidore: link


6) Singgasana dan mahkota kesultanan

Singgasana kesultanan Tidore

———————

Mahkota kesultanan Tidore


7) Peta kuno Tidore 

Tidore dan Halmahera, 1740


8) Sumber / Source

Sejarah kesultanan Tidore di Wiki: link
– Sejarah kesultanan Islam Tidore: http://kota-islam.blogspot.co.id/2014/04/sejarah-kerajaan-islam-kesultanan-tidore.html
– Sejarah kesultanan Tidore: http://mujtahid269.blogspot.co.id/2013/07/kerajaan-tidore.html
Jejak jejak sejarah kesultanan Tidore: http://yusransejarah032.blogspot.co.id/
– Daftar raja dan sultan Tidore: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Tidore#Daftar_Raja_dan_Sultan_Tidore

– Sultan meninggal (april 2012): link
Sultan meninggal (april 2012): link


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: