Suku Asilulu – P. Ambon, prov. Maluku

Suku Asilulu adalah suku yang mendiami pulau Ambon, di desa Asilulu dan Ureng di daerah Leihitu kabupaten Maluku Tengah, provinsi Maluku. Populasi suku Asilulu ini diperkirakan lebih dari 12.000 orang.

Lihat juga: Negeri Asilulu

Pulau Ambon

AmbonSumber info di bawah: https://www.mail-archive.com/i-kan-buah-doa@xc.org/msg00017.html

Bagi masyarakat suku Asilulu penangkapan ikan merupakan matapencaharian pokok,
sebab di sini orang jarang mengusahakan ladang.
Namun demikian cengkeh dan pala merupakan hasil pertanian yang menjadi andalan mereka. Dalam penangkapan ikan ini tidak mengenal adanya upacara-upacara adat secara khusus, walaupun demikian telah menjadi kebiasaan bagi masyarakat untuk mendasarkan semua kegiatan/usaha dengan sembahyang sesuai keyakinan agama mereka.

Sebelum pergi ke laut seorang nelayan terlebih dahulu berdoa kepada Allah memohon berkat dan perlindunganNya. Hasil tangkapan biasanya dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari, kelebihannya baru dijual (Waesala, Mamala). Bagi desa Luha, Iha-Kulur dan Asilulu, ikan-ikan hasil tangkapan terutama dijual ke Hitu dan Ambon. Penangkapan ikan dengan menggunakan jaring dan rorahe dilakukan secara berkelompok, dipimpin seorang tonase dan para anggotanya disebut masnait. Sedangkan penangkapan ikan dengan jala dan bubu dilakukan secara pribadi.

Orang Asilulu umumnya menganut aturan agama dan adat yang cukup kuat dalam hal pernikahan, dan sunatan. Perayaan hari besar agama selalu digabungkan dengan adat dan kehidupan spiritual seperti: pengangkatan raja, pela gadong, pembangunan Masjid, kebudayaan dan kesenian “baku pukul menyapu” dan “bambu gila”. Acara “bambu gila” dan “baku pukul menyapu” adalah acara yang diperagakan pada waktu-waktu tertentu dengan menggunakan kuasa kegelapan, sebagaimana masyarakat Islam di Maluku. Agama yang mereka anut didasarkan pada agama suku dan dipadukan dengan agama Islam.

Untuk menjual hasil perdagangannya ke kota Ambon dan ke Hitu, mereka sangat membutuhkan sarana transportasi yang memadai, sehingga hasil perikanan dapat dengan cepat dipasarkan. Sarana dan prasarana sangat diperlukan karena telah terbakar habis khususnya pada saat setelah terjadi beberapa peristiwa antar suku dan agama di Ambon.