Aru / Gontar, kerajaan / Prov. Sumatera Utara – kab. Deli Serdang

Kerajaan Aru: abad ke-13 sampai awal abad ke- 17. Terletak di Sumatera, wilayah Kab. Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Raja Gontar IV merupakan keturunan ke-17 dari kerajaan Aru.
Dalam 1613 Aru digantikan dengan nama Kesultanan Deli.
Kerajaan Aru: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumatera/aru-kerajaan/

Kab. Deli Serdang


Garis kerajaan-kerajaan di Sumatera: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link

* Foto Istana kerajaan di Sumatera: link


KERAJAAN ARU / GONTAR

Tentang raja sekarang (2022)

Raja Gontar IV, DR. Drs. H. Syafri Fadillah Marpaung, SE, M.Pd merupakan keturunan ke-17 dari kerajaan Aru yang pernah ada di Sumatera Utara.


Sejarah kerajaan Aru / Gontar

Sejarah kerajaan Aru

Berdasarkan cacatan China, Arab, Eropah dan Lokal, kerajaan Aru  telah berdiri sejak abad ke-13 sampai abad ke-17 M.

Pada abad akhir ke-16 kerajaan Aru hanyalah menjadi bidak dalam perebutan pengaruh antara Aceh dan Johor.

Kemerdekaan Aru baru benar-benar berakhir pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dari Aceh, yang naik tahta pada 1607. Dalam surat Iskandar Muda kepada Best bertanggal tahun 1613 dikatakan, bahwa Raja Aru telah ditangkap; 70 ekor gajah dan sejumlah besar persenjataan yang diangkut melalui laut untuk melakukan peperangan-peperangan di Aru. Dalam masa ini sebutan Haru atau Aru juga digantikan dengan nama Deli.
1612 – Aru berganti nama dengan Guri dan berganti nama pula dengan Deli, menjadi Kesultanan Deli.

Sejarah lengkap kerajaan Aru: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumatera/aru-kerajaan/

Kerajaan Aru / Gontar

– Sumber: https://warisanbudayanusantara.com

Raja terakhir kerajaan Aru adalah sultan Husin yang menikah dengan Tok Puteh putri raja Malaka Sultan Mahmud Syah dan memiliki 3 orang anak. Anak pertama bernama Tuan Alasa (Tualang), anak kedua Gontar dan anak ketiga adalah seorang wanita yang namanya tidak diketahui, berdasarkan cerita bahwa ia menjadi permaisuri di kerajaan Tamiang.

Tuan Alasa mengubah namanya menjadi Tualang, nama Tualang sebagai putra mahkota. Sultan Husin meninggal ketika diserang oleh Panglima Perang Aceh bernama Gocah Pahlawan. Tuan Alasa (Tualang) sebagai putra mahkota memiliki 13 generasi, pada generasi ke-13 Tualang berganti nama menjadi Gontar, berlanjut hingga hari ini, Gontar IV (2022). Anak kedua Sultan Husin raja Aru yang bernama Gontar melarikan diri ke NTB Sumbawa karena sultan Husin tewas dalam penyerangan oleh Gocah Pahlawan. Sedangkan anak ketiga yang namanya tidak diketahui adalah seorang wanita yang dikabarkan menjadi permaisuri di Tamiang.

Sultan Husin meninggal pada tahun 1612 M setelah itu diturunkan dari generasi ke generasi kepada Raja Gontar. Budaya yang digunakan oleh Raja Gontar adalah budaya tradisional Melayu Kuno, di mana semboyannya tertulis pada adat berbagai suku dan Tan Hana Dharma Mangrwa berarti tidak ada pengabdian yang ambigu. Ia melanjutkan ini semata-mata untuk melestarikan adat budaya nusantara.
Menurutnya adat dan budaya merupakan perekat yang mengikat anak bangsa Indonesia saat ini, karena hanya adat dan budaya yang dapat mengikat dari Sabang sampai Merauke, dengan demikian pelestarian adat dan budaya dilakukan oleh Raja Gontar IV dan keluarganya.

Raja Gontar IV, tahun2020

———————–
Raja Gontar bersama keluarganya, tahun 2020

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: