Kesiman, Puri Agung Kesiman / Bali – kota Denpasar

Puri Agung Kesiman terletak di desa Kesiman, Denpasar, prov. Bali.
Puri Kesiman didirikan tahun 1617.

The Palace Puri Agung Kesiman, is located in the village of Kesiman, Denpasar. Province of Bali.
For english, click here

Lokasi Kesiman

—————
.Lokasi pulau Bali


* Foto Puri Agung Kesiman: link
* Video Puri Kesiman: link

* Foto foto Bali dulu: link
* Foto foto situs kuno di Bali: link
* Foto foto puputan Denpasar, 1906: link
* Foto foto puputan Klungkung, 1908: link


Tentang Raja Puri Agung Kesiman

Sejak 29 mei 2016: Pelingsir Puri Agung Kesiman: Anak Agung Ngurah Kusumawardhana.


Sejarah Puri Agung Kesiman

Puri Agung Kesiman dibangun pada tahun 1779 oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan setelah Puri Satria dihancurkan oleh I Gusti Ngurah Rai, adik dari I Gusti Ngurah Made Pemecutan. Namun sumber lain mengatakan bahwa Puri Agung Kesiman didirikan oleh I Gusti Gede Kesiman pada abad ke-19 usai I Gusti Ngurah Made Pemecutan membagi daerah kekuasaan kepada kedua anaknya, I Gusti Ngurah Gede dan I Gusti Gede Kesiman.

Awal kejatuhan Bali di tangan Belanda berawal dari Puri Agung Kesiman pada tahun 1841 di mana Raja Badung dari Puri Kesiman awalnya melarang rakyatnya di Serangan untuk melakukan tawan karang terhadap kapal Belanda Overijse yang terdampar walau pada akhirnya Raja Badung berpihak pada rakyatnya. Belanda melalui perwakilannya di Batavia tidak senang dengan pelaksanaan hukum tawan karang menafsirkan kegiatan tersebut sebagai sebuah perampokan. Hal ini membuat Belanda berupaya semakin keras agar juga mendapat keuntungan dari Bali. Perwakilan Belanda membuat naskah perjanjian yang menyatakan bahwa Kerajaan Badung merupakan milik pemerintah Belanda.
Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Raja Badung dari Kesiman dan Pemecutan pada 30 Juli 1841 tetapi tidak diketahui apakah kedua Raja Badung berada di bawah tekanan politik atau tidak saat menandatangani perjanjian tersebut. Dari sana Belanda perlahan berhasil menguasai kerajaan-kerajaan lainnya di Bali.

Pendudukan Belanda dan Perang Puputan Badung   

Pada 18 September 1906 Puri Agung Kesiman diduduki Belanda setelah Raja Badung dari puri tersebut tewas dibunuh oleh mata-mata Belanda, seorang pembelot dari Kerajaan Badung yang tidak setuju dengan kebijakan Raja Badung tersebut untuk berperang melawan Belanda. Pendudukan Puri Agung Kesiman berlatarkan penolakan para Raja Badung terkait pembayaran ganti rugi kepada Belanda atas hilangnya muatan kapal dagang berbendera Belanda Sri Kumala yang terdampar di Sanur. Para Raja Badung sebagai konsekuensinya harus menerima ganjaran dari Belanda dan sepakat untuk memerangi Belanda demi mempertahankan kedaulatan Kerajaan Badung. Perang ini kemudian dikenal sebagai Puputan Badung.

Puri Agung Kesiman sesaat setelah jatuh di tangan pasukan Hindia Belanda tahun 1906

Afbeeldingsresultaat voor puri kesiman hancur belanda


Istana / Palace: Puri Agung Kesiman

Puri Kesiman merupakan satu kesatuan dengan Puri di Kabupaten Badung. Didirikan oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan setelah Puri Satria dihancurkan oleh adiknya I Gusti Ngurah Rai pada tahun 1779. Setelah reruntuhan bangunan itu tak memungkinkan lagi untuk dibangun kembali akhirnya diputuskan untuk memindahkan lokasi pembangunan ke Desa Kesiman Denpasar.

Puri Agung Kesiman

Kesiman Castle At Denpasar,Bali Stock Photo, Picture And Royalty ...


Daftar Raja / List of kings

1) Garis sejarah / line of history

c. 1600     Badung or Pinatih state are founded. Later called Pamecutan.
c. 1800     State split into Pamecutan, Badung (Denpasat) aand Kesiman.
20 sept. 1906  State extinguished by Netherlands power.
1929         Ruling line nominally restored.

2) Penguasa / rulers (Cokorda)

1813 – 1863 Gusti Ngurah Kesiman
1863 – 1904 Gusti Ngurah Ketut
1904 – 1906 Anak Agung Ngurah Mauun
1906 – 1927 Interregnum
1927 – 1954 Gusti Ngurah Made
1954 – 1989 Interregnum
1989 – Anak Agung Ngurah Kusuma Wardhana

– Sumber: http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states1.html

Tjokorda Sakti Kesiman (1862).


Puri di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Puri Agung Kesiman

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.


Sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali

Kerajaan Bali merupakan istilah untuk serangkaian kerajaan Hindu-Budha yang pernah memerintah di Bali, di Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan tersebut terbagi dalam beberapa masa sesuai dinasti yang memerintah saat itu. Dengan sejarah kerajaan asli Bali yang terbentang dari awal abad ke-10 hingga awal abad ke-20, kerajaan Bali menunjukkan budaya istana Bali yang canggih di mana unsur-unsur roh dan penghormatan leluhur dikombinasikan dengan pengaruh Hindu, yang diadopsi dari India melalui perantara Jawa kuno, berkembang, memperkaya, dan membentuk budaya Bali.

Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.

Karena kedekatan dan hubungan budaya yang erat dengan pulau Jawa yang berdekatan selama periode Hindu-Budha Indonesia, sejarah Kerajaan Bali sering terjalin dan sangat dipengaruhi oleh kerajaan di Jawa, dari kerajaan Medang pada abad ke-9 sampai ke kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15. Budaya, bahasa, seni, dan arsitektur di pulau Bali dipengaruhi oleh Jawa. Pengaruh dan kehadiran orang Jawa semakin kuat dengan jatuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15.
Setelah kekaisaran jatuh di bawah Kesultanan Muslim Demak, sejumlah abdi dalem Hindu, bangsawan, pendeta, dan pengrajin, menemukan tempat perlindungan di pulau Bali. Akibatnya, Bali menjadi apa yang digambarkan oleh sejarawan Ramesh Chandra Majumdar sebagai benteng terakhir budaya dan peradaban Indo-Jawa.
Kerajaan Bali pada abad-abad berikutnya memperluas pengaruhnya ke pulau-pulau tetangga. Kerajaan Gelgel Bali misalnya memperluas pengaruh mereka ke wilayah Blambangan di ujung timur Jawa, pulau tetangga Lombok, hingga bagian barat pulau Sumbawa, sementara Karangasem mendirikan kekuasaan mereka di Lombok Barat pada periode selanjutnya.

Sejak pertengahan abad ke-19, negara kolonial Hindia Belanda mulai terlibat di Bali, ketika mereka meluncurkan kampanye mereka melawan kerajaan kecil Bali satu per satu. Pada awal abad ke-20, Belanda telah menaklukkan Bali karena kerajaan-kerajaan kecil ini jatuh di bawah kendali mereka, baik dengan kekerasan atau dengan pertempuran, diikuti dengan ritual massal bunuh diri, atau menyerah dengan damai kepada Belanda. Dengan kata lain, meskipun beberapa penerus kerajaan Bali masih hidup, peristiwa-peristiwa ini mengakhiri masa kerajaan independen asli Bali, karena pemerintah daerah berubah menjadi pemerintahan kolonial Belanda, dan kemudian pemerintah Bali di dalam Republik Indonesia.

Lambang Puri Kesiman


Sumber Puri Agung Kesiman

– Sejarah Puri Agung Kesiman: http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.co.id/2011/03/sejarah-puri-kesiman.html
Sejarah Puri Agung Kesiman: https://werdiprawerti.wordpress.com/2012/09/14/sejarah-puri-agung-kesiman/
– Sejarah Puri Agung Kesiman: https://id.wikipedia.org/wiki/Puri_Agung_Kesiman
Daftar Raja  Bali di Wiki: link

Intervensi Belanda di Bali, 1846, 1848, 1849, 1906, 1908

– 1846: Perang Bali I: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-i-1846/
– 1848: Perang Bali II: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-ii-1848/
– 1849: Perang Bali III: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-iii-1849/
– 1906: Intervensi belanda di Bali / Puputan 1906: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-bali-1906/
– 1908: Intervensi Belanda di Bali / Puputan 1908: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-klungkung-1908/


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s