Kesiman, Puri Agung Kesiman / Bali – kota Denpasar

.
Puri Agung Kesiman
terletak di desa Kesiman, Denpasar, prov. Bali.
Puri Kesiman didirikan tahun 1779.

The Palace Puri Agung Kesiman, is located in the village of Kesiman, Denpasar. Province of Bali. This palace was founded in 1779.
For english, click here

Lokasi Kesiman

—————
.Lokasi pulau Bali


Puri Agung Kesiman

* Foto Puri Agung Kesiman: link
* Video Puri Kesiman: link


Foto kerajaan-kerajaan di Bali

* Foto raja-raja Bali, yang masih ada: link
* Foto raja-raja Bali masa dulu: link
* Foto Bali dulu: link
* Foto situs kuno di Bali: link
* Foto puputan Denpasar, 1906: link
* Foto puputan Klungkung, 1908: link


* Video sejarah kerajaan-kerajaan di Bali, 45.000 SM – sekarang: klik


* Garis kerajaan-kerajaan di Bali: klik


PURI AGUNG KESIMAN

Tentang Raja Puri Agung Kesiman

Sejak 29 mei 2016: Penglingsir Puri Agung Kesiman: Anak Agung Ngurah Kusumawardhana.

7890

Tentang Penglingsir

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.


Sejarah Puri Agung Kesiman, didirikan 1779

Puri Agung Kesiman dibangun pada tahun 1779 oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan setelah Puri Satria dihancurkan oleh I Gusti Ngurah Rai, adik dari I Gusti Ngurah Made Pemecutan. Namun sumber lain mengatakan bahwa Puri Agung Kesiman didirikan oleh I Gusti Gede Kesiman pada abad ke-19 usai I Gusti Ngurah Made Pemecutan membagi daerah kekuasaan kepada kedua anaknya, I Gusti Ngurah Gede dan I Gusti Gede Kesiman.

Awal kejatuhan Bali di tangan Belanda berawal dari Puri Agung Kesiman pada tahun 1841 di mana Raja Badung dari Puri Kesiman awalnya melarang rakyatnya di Serangan untuk melakukan tawan karang terhadap kapal Belanda Overijse yang terdampar walau pada akhirnya Raja Badung berpihak pada rakyatnya. Belanda melalui perwakilannya di Batavia tidak senang dengan pelaksanaan hukum tawan karang menafsirkan kegiatan tersebut sebagai sebuah perampokan. Hal ini membuat Belanda berupaya semakin keras agar juga mendapat keuntungan dari Bali. Perwakilan Belanda membuat naskah perjanjian yang menyatakan bahwa kerajaan Badung merupakan milik pemerintah Belanda.
Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Raja Badung dari Kesiman dan Pemecutan pada 30 Juli 1841 tetapi tidak diketahui apakah kedua Raja Badung berada di bawah tekanan politik atau tidak saat menandatangani perjanjian tersebut. Dari sana Belanda perlahan berhasil menguasai kerajaan-kerajaan lainnya di Bali.

Pendudukan Belanda dan Perang Puputan Badung   

Pada 18 September 1906 Puri Agung Kesiman diduduki Belanda setelah Raja Badung dari puri tersebut tewas dibunuh oleh mata-mata Belanda, seorang pembelot dari kerajaan Badung yang tidak setuju dengan kebijakan Raja Badung tersebut untuk berperang melawan Belanda. Pendudukan Puri Agung Kesiman berlatarkan penolakan para Raja Badung terkait pembayaran ganti rugi kepada Belanda atas hilangnya muatan kapal dagang berbendera Belanda Sri Kumala yang terdampar di Sanur. Para Raja Badung sebagai konsekuensinya harus menerima ganjaran dari Belanda dan sepakat untuk memerangi Belanda demi mempertahankan kedaulatan kerajaan Badung. Perang ini kemudian dikenal sebagai Puputan Badung.

Puri Agung Kesiman sesaat setelah jatuh di tangan pasukan Hindia Belanda tahun 1906

Afbeeldingsresultaat voor puri kesiman hancur belanda


Istana: Puri Agung Kesiman

Puri Kesiman merupakan satu kesatuan dengan Puri di Kabupaten Badung. Didirikan oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan setelah Puri Satria dihancurkan oleh adiknya I Gusti Ngurah Rai pada tahun 1779. Setelah reruntuhan bangunan itu tak memungkinkan lagi untuk dibangun kembali akhirnya diputuskan untuk memindahkan lokasi pembangunan ke Desa Kesiman Denpasar.

Puri Agung Kesiman

Kesiman Castle At Denpasar,Bali Stock Photo, Picture And Royalty ...


Daftar Raja

1) Garis sejarah

c. 1600     Badung or Pinatih state are founded. Later called Pamecutan.
c. 1800     State split into Pamecutan, Badung (Denpasat) aand Kesiman.
20 sept. 1906  State extinguished by Netherlands power.
1929         Ruling line nominally restored.

2) Penguasa / rulers (Cokorda)

1813 – 1863 Gusti Ngurah Kesiman
1863 – 1904 Gusti Ngurah Ketut
1904 – 1906 Anak Agung Ngurah Mauun
1906 – 1927 Interregnum
1927 – 1954 Gusti Ngurah Made
1954 – 1989 Interregnum
1989 – Anak Agung Ngurah Kusuma Wardhana

– Sumber: http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states1.html

Tjokorda Sakti Kesiman (1862).


Puri (istana) di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.

Puri Agung Kesiman


Pura (tempat ibadah) di Bali

Pura adalah istilah untuk tempat ibadat agama Hindu di Indonesia. Pura di Indonesia terutama terkonsentrasi di Bali sebagai pulau yang mempunyai mayoritas penduduk penganut agama Hindu.
Tidak seperti candi atau kuil Hindu di India yang berupa bangunan tertutup, pura di Bali dirancang sebagai tempat ibadah di udara terbuka yang terdiri dari beberapa zona yang dikelilingi tembok. Masing-masing zona ini dihubungkan dengan gerbang atau gapura yang penuh ukiran. Lingkungan atau zonasi yang dikelilingi tembok ini memuat beberapa bangunan seperti pelinggih yaitu tempat suci bersemayam hyang, meru yaitu menara dengan atap bersusun, serta bale (pendopo atau paviliun). Struktur tempat suci pura mengikuti konsep Trimandala, yang memiliki tingkatan pada derajat kesuciannya.

Pura Besakih

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar.


SEJARAH SINGKAT KERAJAAN-KERAJAAN DI BALI

Untuk sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali, klik di sini

Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.


Sumber Puri Agung Kesiman

– Sejarah Puri Agung Kesiman: http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.co.id/2011/03/sejarah-puri-kesiman.html
Sejarah Puri Agung Kesiman: https://werdiprawerti.wordpress.com/
– Sejarah Puri Agung Kesiman: https://id.wikipedia.org/wiki/
Daftar Raja  Bali di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/

Intervensi Belanda di Bali, 1846, 1848, 1849, 1906, 1908

– 1846: Perang Bali I: Intervensi belanda, 1846
– 1848: Perang Bali II: Intervensi belanda, 1848
– 1849: Perang Bali III: Intervensi belanda, 1849
– 1906: Intervensi belanda di Bali / Puputan 1906: Intervensi belanda, 1906
1908: Intervensi Belanda di Bali / Puputan 1908: Intervensi belanda, 1908


Bali, 1830 M

Bali, 1830 M


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: