Andi Makkasau, Datu Suppa, 1926-1938

– Sumber: Rahman Riski Bin Diab

Andi Makkasau putera kedua Parenrengi Daeng Pabeso Karaengta Tinggimae adalah seorang bangsawan tinggi, ayahnya Ishak Manggabarani Karaeng Mangeppe Arung Matoa Wajo, Datu Pammana, KaraEng Pabbicara Gowa, Jenderal Bone,Tellu Lattena Sidenreng. Ia keturunan langsung dari dua kerajaan utama di Sulawesi yaitu kerajaan Gowa dan kerajaan Sidenreng di kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan saat ini. Andi Makkasau dibesarkan dan dididik dalam lingkugan keluarga istana kerajaan Datu Suppa di Pinrang Sulawesi Selatan, terutama pendidikan agama Islam serta pendidikan etika, moral dan lainnya sebagaimana layaknya seorang putera raja.

Pada tahun 1926, Andi Makkasau dinobatkan sebagai Datu Suppa yang kemudian diberi gelar sebagai Datu Suppa Toa, penobatan rakyat kepada Andi Makkasau tampaknya amat membawa pengaruh yang amat besar terhadap rakyatnya, masyarakat Suppa semakin merasakan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan di kalangan mereka terutama dalam usaha mereka menentang kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di Parepare dan sekitarnya dengan demikian Andi Makkasau membentuk dan mempelopori organisasi kemasyarakatan dengan tujuan menggembleng kesadaran nasional dan mengobarkan semangat perjuangan rakyat menuju Indonesia merdeka, organisasi yang dibentuk diantaranya : Partai Sarikat Islam di Parepare dibentuk pada tahun 1927, Sumber Darah Rakyat (SUDARA) dibentuk tahun 1944, Penunjang Republik Indonesia (PRI) dan pada tanggal 28 Agustus 1945 dibentuk Pandu Nasional atau Pemuda Nasional Indonesia (PNI).

Datu Suppa (Andi Makkasau Parenrengi-Andi Wawo) periode 1926-1938

Andi Makkasau selama hidupnya diisi untuk berjuang melawan penjajah karena ia tidak mau melihat kebebasan dan kemerdekaan rakyat diinjak-injak oleh kekuasaan penjajah, hidupnya diakhiri di bawah kekejaman Belanda yaitu pada tanggal 28 Januari 1947 dengan cara ditenggelamkan di tengah laut dengan di ikatkan batu besar pada kakinya, kemudian tepatnya pada tanggal 30 Januari 1947 Andi Makkasau ditemukan oleh masyarakat Marabombang dalam keadaan terikat terdampar di pesisir pantai.Sedangkan Letjen TNI Andi Abdullah Bau Massepe adalah pejuang heroik dari Sulsel putera dari Andi Mappanyuki salah satu pahlawan nasional dari Sulawesi Selatan dari daerah Massepe Kabupaten Sidenreng Rappang (Massepe dulu pusat kerajaan Addatuang Sidenreng). Ketika tentara NICA berkuasa, Andi Abdullah Bau Massepe bersama pasukannya terus melakukan perlawanan terhadap tentara NICA. Andi Abdullah Bau Massepe wafat di tembak Belanda oleh pasukan Mayor Raymond Westerling (korps baret merah Belanda) pada tanggal 2 Februari 1947 setelah ditahan selama 160 hari. Tepatnya wafat 10 hari setelah konferensi Pacekke (20 januari 1947).
Dalam sambutan Pangdam VII/Wrb yang dibacakan oleh Kasdam VII/Wrb Brigjen TNI Supartodi menyampaikan bahwa Andi Makkasau Parenrengi dan Andi Abdullah Bau Massepe adalah pejuang dan pahlawan yang pantang menyerah memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai generasi penerus bangsa kita wajib mencontoh sikap heroik dan jiwa kepahlawanannya. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya, peringatan mengenang gugurnya pejuang kusuma bangsa asal kota Parepare ini adalah merupakan wujud dari penghargaan kita atas jasa dan pengorbanan yang selama hidupnya berjuang untuk mewujudkan kemerdekaan dan menjaga tetap utuhnya NKRI’.