Purwwa, kerajaan / Prov. Jawa Timur – Malang

Kerajaan Purwwa terletak di kab. Malang, prov. Jawa Timur.
Kerajaan ini berdiri abad ke-11.

Lokasi Kab. Malang


Sejarah kerajaan Purwwa

Sebelum masa kejayaan Kerajaan Tumapel (Singhasari), sejatinya di Malang lebih dahulu ada Kerajaan Purwwa. Kerajaan ini disebut-sebut sebagai cikal bakal Kerajaan Tumapel yang memunculkan nama Ken Arok dan Ken Dedes.

Sebuah situs bernama Purwwa, yang letaknya diperkirakan membentang dari daerah di sekitar Polowijen, Tasikmadu, Balearjosari, Bejisari, Bioro, Panggung, dan Bukur menyebutkan adanya keterkaitan Kerajaan Purwwa dengan kekuasaan pra-Tumapel. Meski Pararaton dalam rangka memuliakan Raja Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi memaparkan bahwa pendiri Tumapel adalah Ken Arok atau Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi dan sekedar menuturkan bahwa Ken Dedes hanyalah putri seorang pendeta bernama Pu Purwa dari Panawijen, namun beberapa hal tidak bisa diingkari bahwa sebelum kekuasaan Tumapel ditegakkan oleh Ken Arok pada dasarnya di Malang sudah ada kekuasaan yang sangat kuat.

Prasasti Kemulan yang berasal dari tahun 31 Agustus 1194 M, dan ditemukan di Desa Kemulan, Trenggalek, menyebutkan nama Sri Maharaja Sri Sarwweswara Triwikramawataranindita Srnggalancana Digwijayottunggadewanama, yang tiada lain adalah Maharaja Kertajaya dari Kadiri. Diuraikan bahwa samya haji Katandan Sakapat (raja bawahan) dengan perantara pengalasan bernama Geng Adeg menghadap raja dengan membawa prasasti rontal yang telah diterima dari Aji Tumandah yang dicandikan di Jawa dan anugerah Sri Rajakula, dengan harapan disalin ke atas prasasti batu dengan cap Kertajaya (mapratista ring linggopala tandan krtajaya).

Permohonan tersebut pun dikabulkan oleh Kertajaya dengan tambahan beberapa pembebasan pembayaran pajak. Anugerah yang diterima samya haji Katandan Sakapat itu berdasarkan kesetiaan mereka terhadap raja hingga berhasil kembali menduduki tahta di kerajaan Kadiri (Bhumi Kadiri). Sebelumnya, raja telah diserang oleh bala tentara musuh dari timur yang bernama Kerajaan Purwwa (tka ni satru wadwa sangke purwwa), sehingga dengan terpaksa raja meninggalkan istananya di Katang-katang (tatkala ni n kentar sangke kadatwan ring katang-katang deni nkin malr yatik kaprabhun sri maharaja siniwi ring bhumi kadiri).

Bala tentara dari timur atau Purwwa yang menyerang Maharaja Kertajaya yang bertahta di Katang-katang di Bhumi Kadiri itu diartikan sebagai penguasa dari daerah Malang, yang letak geografisnya di timur Kadiri. Sedangkan menurut Prasasti Sukun bertahun 1161 M yang tersimpan di Museum Pu Tantular Surabaya disebutkan bahwa Sri Maharaja Jayamerta mengukuhkan desa Sukun menjadi daerah sima yang bebas pajak. Fakta ini menunjukkan bahwa di Malang pada pertengahan abad ke-12 terdapat kerajaan besar yang dipimpin oleh raja yang bernama Jayamerta.

Mengaitkan data pada Prasasti Kemulan dan Prasasti Sukun, tidak bisa dipungkiri bahwa di daerah Malang saat itu terdapat sebuah kerajaan besar di mana rajanya menggunakan gelar Sri Maharaja yakni raja yang berkuasa atas sejumlah kerajaan-kerajaan yang lebih kecil wilayah kekuasaannya. Itulah alasan penamaan Pu Purwa untuk orang tua laki-laki Ken Dedes sebagaimana disebut Pararaton dapat ditafsirkan sebagai pengungkapan kembali akan hal tersebut oleh penyusun Pararaton yang samar-samar masih sanggup mengingat akan adanya kekuasaan pra-Tumapel, meski tak terlalu mampu lagi merekonstruksinya secara benar, lantaran kurangnya data, hingga kawasan itu digambarkan sekedar pertapaan yang dipimpin oleh Pu Purwa.

Adanya fakta kekuasaan Purwwa pra-Tumapel di Malang yang sempat menyerang Maharaja Kertajaya hingga penguasa Kerajaan Kadiri itu mengungsi, tampaknya tidak bisa dipungkiri. Setidaknya, hal itu didukung oleh Pararaton yang menyebut Ken Dedes sebagai perempuan Nareswari (permaisuri atau raja putri). Pararaton juga menyebut bahwa Ken Dedes yang putri Pu Purwa dari Panawijen sengaja dibawa lari, lalu dikawin oleh Tunggul Ametung yakni akuwu Tumapel, bawahan Maharaja Kertajaya.


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: